
Wanita berambut hitam sebahu dibalut dress ketat warna navy memperlihatkan lekuk tubuhnya. Wedges yang ia kenakan semakin membuat posisi dada dan pinggulnya semakin tegak. Laki-laki mana yang tak tahan akan pemandangan tersebut, tak terkecuali dengan Devin.
Harus diakui Devin lelaki normal, tentunya naluri lelakinya berdesir saat melihat pemandangan seperti ini. Apa lagi wanita itu tidak lain mantan kekasihnya dulu. Jauh sebelum Devin menjalin pernikahan dengan Adriana.
"Sibuk banget Dev."
Ujar Jesika saat melenggangkan langkahnya, mencoba memasuki ruangan Devin.
Tubuh ramping Jesika tanpa canggung ia hempaskan ke sofa tamu yang sudah tersedia di dalam ruangan Devin. Dengan perasaan canggung Devin menatap mantan kekasihnya yang dengan santainya memasuki ruangan.
Tingkah Jesi sedikitpun tak berubah, masih sama seperti dulu saat berstatus pacaran dengan Devin. Jesika seenaknya datang keluar masuk ke kantor Devin.
"Aku sibuk Jes. Tolong kamu ngertiin aku. Lagi pula keadaan kita sudah berubah."
Devin mencoba beranjak dari kursi kebesarannya, kehadiran Jesika seolah tak diharapkan oleh Devin.
Kedatangan Jesi hanya akan memicu berita buruk di kantor dan berita itu bisa saja sampai ke telinga Hans.
Devin tidak ingin semua itu terjadi. Apa lagi ada perasaan Adriana yang harus ia jaga.
"Berubah yang seperti apa Dev?"
Tanya Jesika yang masih tak ingin mengerti posisi Devin.
"Keadaan bahwa kamu adalah bapak dari Rania tetap tidak akan berubah."
Tukas Jesi lagi.
Tuturan kalimat Jesi seolah menampar lubuk hati Devin.
Anak itu bernama Rania, lalu dimana putrinya sekarang?
Batin Devin semakin berkecamuk seolah mengingat kejadian di masa lalu.
"Pertemukan aku dengan putriku Jes, aku mohon."
Ucapan Jesika berhasil membuat Devin tampak memelas di hadapannya. Kini mereka duduk berdua dalam posisi bersebarangan di sofa. Devin sengaja masih memberikan jarak, tidak ingin dekat-dekat dengan Jesika lagi.
__ADS_1
"Rania setiap hari selalu menanyakan dimana sosok ayahnya. Begitupun aku Dev, aku sangat membutuhkanmu ada di sampingku."
Nada bicara Jesi kini melemah. Hatinya masih ingin tetap bersama Devin seperti dulu lagi.
"Jesi. . . harus berapa kali aku bilang sama kamu? Keadaan kita sudah berubah. Aku sudah menikah dengan Adriana, dia istriku."
Entah ke berapa kalinya Devin harus menjelaskan pada Jesika kalau dia sudah beristri.
Jesi pun memalingkan pandangannya, tak ingin mendengar kalimat yang diucapkan Devin. Kalimat itu terasa menusuk hati Jesi.
"Kamu menikahi perempuan itu cuma karna harta ayahmu kan?"
Kedua bola mata Jesi menelisik raut wajah Devin.
"Menikahinya tanpa dasar cinta. Hati kamu masih untukku Dev, akui itu!"
Jesika semakin murka dan semakin mencecar Devin. Sementara Devin hanya terdiam sesaat.
"Jawab Dev!"
Kembali Jesi menegaskan
Penuturan Devin barusan sungguh membuat hati Jesi mencelos. Terasa menyesakkan dadanya.
"Aku mengandung anakmu berjuang sendirian, ternyata ini balasan kamu terhadapku Dev."
Jesika mulai mengungkit-ngungkit pengorbanannya selama berpisah dengan Devin.
"Aku akan tanggung jawab akan kehidupan Rania. Kamu jangan khawatir."
Kalimat Devin seketika menghentakkan tatapan Jesi.
"Dengan apa?"
Tanya Jesi penasaran.
"Aku siap untuk membiayai kehidupan Rania dan pendidikan untuk Rania kelak, tapi setidaknya kamu harus pertemukan aku dengannya. Dia masih darah daging ku Jes."
__ADS_1
Mendengar jawaban Devin, Jesi hanya tersenyum masam.
"Ceraikan istrimu!"
Permintaan yang tak disangka-sangka oleh Devin sebelumnya.
"Gila kamu! Aku harus menceraikan Adriana? Itu tidak mungkin terjadi Jes."
Memang permintaan yang sangat gila menurut Devin apalagi kondisi Adriana yang tengah mengandung darah dagingnya.
"Adriana kini tengah mengandung anakku Jes. Tolong pahami situasinya."
Jesika hanya mencibir ucapan Devin.
"Dulu kamu tega banget ninggalin aku dalam kondisi hamil. Sekarang buat ninggalin Adriana kamu bilang tidak bisa. Tega kamu Dev!"
Devin hanya menghela nafasnya dalam, mencoba berbicara dengan nada yang lebih lembut, karena Devin melihat wajah Jesi yang mulai melemah dengan mata berkaca-kaca.
Posisi duduk Devin berpindah ke samping Jesi, mencoba menenangkan hati Jesi. Diraihnya jemari sang mantan kekasih oleh Devin.
"Jes tolong ngertiin aku. Kehamilan kamu dulu kondisinya berbeda dengan kehamilan Adriana. Aku saat ini sudah menemukan kebahagiaan dengan cinta yang damai bersama restu kedua orang tuaku. Kamu wanita cantik, di luar sana pasti banyak lelaki yang jauh lebih baik dariku yang akan mencintaimu dan menyayangimu. Tentang Rania aku sama sekali tidak akan mengabaikannya Jes."
Nada bicara Devin kini lebih lembut, membuat Jesi menatap Devin penuh harap, lalu wanita itu menangis ke dalam pelukan Devin.
Pintu ruangan Devin kembali terbuka. Sosok wanita anggun berbalut celana jeans hitam serta kaos sweater casual berwarna abu dengan paduan hijab nampak berdiri mematung disana. Kedua bola matanya seakan tak percaya saat menyaksikan pandangan yang berhasil dilihatnya di sofa kepemilikan sang suami.
Menu makan siang yang ia siapkan dari rumah kini terjatuh bebas di lantai. Adriana tak kuasa menyaksikan sepasang pria dan wanita tengah berpelukan. Ironisnya pria itu adalah suaminya sendiri.
Jesika yang menyadari kehadiran Adriana dengan sengaja mencium pipi kiri Devin dengan begitu mesra, seolah mengatakan bahwa Devin adalah miliknya.
Adriana menghambur keluar ruangan tanpa sepatah kata pun. Hanya sesaat menatap Devin dengan perasaan kecewa. Air matanya sudah tak sanggup lagi ia tahan. Linangan air mata itu tiba-tiba saja sangat deras mengalir di pelupuk matanya.
Lina sekertaris Devin hanya menatap iba pada nyonya bosnya yang kebetulan berjalan melewati meja kerjanya. Langkah Adriana begitu cepat hingga sulit Lina kejar.
Sementara Jesi tersenyum puas penuh kemenangan saat melihat ekspresi Adriana yang penuh emosi. Mungkin sudah saatnya bagi seorang Jesika Fransiska datang untuk merebut kembali cintanya, untuk menuntut janji Devin di masa lalu.
••••
__ADS_1
Hancur sudah hati Adriana
😢