Takdir Kedua Adriana

Takdir Kedua Adriana
Adriana Larasati


__ADS_3

Tepat pukul lima sore jam kerja sudah selesai, namun tidak untuk Adriana. Tangannya begitu cekatan meraih dokumen-dokumen yang akan ia bawa untuk menemui kliennya.


Adriana sore ini sudah membuat janji bersama Frans perihal kendala-kendala yang menjadi projeknya, dengan harapan Frans akan menerima solusi alternatif yang Adriana tawarkan.


Adriana segera meraih tas tangan warna hitam beserta kunci mobil dan dokumen yang sudah ia siapkan, langkahnya begitu cepat meninggalkan kantor Permata Gallery.


Frans meminta Adriana untuk menemui di rumahnya. Alamat rumah Frans sudah Adriana dapatkan via whatsapp yang telah dikirimkan


oleh sang pemilik rumah.


Sekitar setengah jam perjalanan Adriana mulai menurunkan laju mobilnya. Kedua bola matanya mencari-cari rumah besar yang bercat pagar warna putih sebelah kanan jalan kalau dari arah kantor Adriana. Sesuai petunjuk yang Frans berikan.


Tak lama Adriana menemukan rumah tersebut. Adriana langsung menepikan mobilnya, lalu turun dari mobil dan menekan bell di samping pintu gerbang.


Tak lama muncul seorang laki-laki yang kemungkinan tukang kebun yang bekerja di rumah tersebut, laki-laki itu datang membukakan pintu gerbang untuk Adriana.


"Selamat sore neng, ada perlu apa ya?"


Begitu sopan laki-laki paruh baya itu menyapa Adriana.


"Sore pak, apa betul ini rumah pak Frans?"


Adriana mencoba memastikan alamat yang ia tuju.


"Betul neng, ada perlu apa ya?"


"Saya ada perlu perihal pekerjaan pak. Saya sudah buat janji dengan beliau sore ini. Apa bapak Frans ada?"


"Ada neng ada. Ayo masuk biar mobilnya bawa masuk saja neng."


Dengan begitu sopan laki-laki paruh baya itu mempersilahkan Adriana untuk memarkirkan mobilnya di halaman rumah besar milik Frans.


Langkah Adriana kini menuju teras rumah. Dari jarak pandang lima meter Adriana sudah menyaksikan Frans yang tengah bercengkrama dengan gadis kecil yang usianya sekitar usia tiga tahunan.


Bocah itu sangat menggemaskan, kulitnya putih, hidung mancung dan alis tebal dengan pipi yang menggembung.

__ADS_1


"Assalamualaikum pak Frans. . ."


Adriana menyapa Frans di ujung teras.


"Eh nak Adriana, walaikumsalam. Ayo masuk sini."


Frans begitu antusias menyambut kedatangan wanita cantik yang berbalut hijab warna mocca, lalu ia mempersilahkan masuk ke ruang tamu dengan desain warna yang senada dengan hijab Adriana.


"Opa opa. . . tante tantik. . "


Gadis kecil itu menunjuk-nunjuk Adriana, seperti ingin berkenalan dengan Adriana.


"Kenalan dulu dong sama tantenya."


Ujar Frans pada sang cucu.


"Hay. . . cantik, namanya siapa?"


Adriana lebih dulu mengawali percakapannya dengan bocah bermata hitam pekat yang menggemaskan.


"Lania tante..."


"Rania. . ."


Ujar Frans membenarkan kata sang cucu.


Tiba-tiba Rania langsung menghampiri Adriana meminta duduk di pangkuannya dengan begitu manja.


"Tante tantik emen Lania."


Adriana kebingungan akan bahasa bocah ini. Mata Adriana mengisyaratkan Frans untuk menjelaskan.


"Tante cantik temen Rania katanya."


Sungguh membuat Adriana tertawa akan kelakuan bocah itu.

__ADS_1


"Iya sayang, kita berteman."


Adriana mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking mungil milik Rania.


Bocah itu pun merasa begitu senang akan kehadiran Adriana. Selama ini tak pernah Rania rasakan bermain bersama teman seusianya, ibunya selalu sibuk sendiri, sering mengabaikan keberadaan Rania yang hanya diasuh oleh pengasuhnya.


Frans dan Adriana memulai mebicarakan kendala projek bisnisnya. Beberapa alternatif property yang tak tersedia di Permata Gallery mencoba Adriana tawarkan, mencari solusi dari Pratama Group karena menurut Adriana skala bisnis property Pratama Group yang tidak lain milik sang suami cukup besar,namun entah kenapa mendengar nama perusahaan Pratama Group membuat Frans menghentakkan bibirnya dengan kata


"Tidak!"


Ada gurat kebencian di sorot mata Frans saat mendengar nama perusahaan tersebut.


"Maaf pak Frans kalau kata-kata saya menyinggung bapak."


Adriana sangat merasa bersalah akan solusi yang ia tawarkan pada Frans.


"Tidak apa-apa nak Adriana, nanti kita cari solusi lain yang pas."


Tiba-tiba derap langkah terdengar dari teras sampai tepat di pintu masuk.


Wanita cantik bertubuh ramping dalam balutan dress dan tas tangan begitu mempesona memasuki ruang tamu dimana Adriana dan Frans berada. Sementara Rania masih setia dalam pangkuan Adriana.


Mata Adriana terbelalak melihat wanita cantik yang masih berdiri di depan pintu masuk itu, begitupun dengan wanita itu. Matanya menatap tajam dengan kebencian yang tertuju pada Adriana, lalu wanita itu segera meraih Rania dalam pangkuan Adriana.


"Anak papah sudah pulang, tumben sekali"


Ujar Frans menyindir kepulangan putrinya yang tak biasanya pulang cepat.


"Adriana kenalkan ini anak saya,Jesika Fransiska, mamahnya Rania."


Sungguh terasa begitu menyesakkan hati Adriana saat mendengar pengakuan Frans. Sebisa mungkin emosi dan perasaannya ia tahan.


Tiba-tiba terlintas kejadian di ruang kerja Devin yang selalu membuat batin Adriana sesak.


Adriana menghela nafasnya begitu berat, menahan buliran air mata yang tak ingin ia jatuhkan di hadapan Frans. Sampai akhirnya Adriana menyodorkan tangan kanannya di hadapan Jesi.

__ADS_1


"Adriana Larasati."


••••


__ADS_2