Takdir Kedua Adriana

Takdir Kedua Adriana
Ketulusan Adriana


__ADS_3

Waktu sudah menujukkan pukul sembilan malam. Devin masih mencari cara untuk mendapatkan golongan darah yang cocok untuk Rania. Walau hati kecil Devin mengatakan bahwa Rania bukanlah anaknya, namun ikatan batin antara mereka sudah terlanjur menyatu.


Devin sudah cukup merasa kehilangan sosok Adriana bersama kandungannya, membuatnya menyesali apa yang telah ia perbuat pada Adriana. Apa lagi kini Devin harus kehilangan Rania, batin Devin tak sanggup membayangkan semua itu, karena Rania yang selalu membuat hidup Devin lebih semangat, walau tanpa dukungan dari Hans dan Marisa lagi.


Mengingat penyesalan Devin akan Adriana tiba tiba ia teringat pada golongan darah yang Adriana miliki. Adriana memiliki golongan darah yang sama dengan Rania, terbesit dalam hati Devin untuk memohon bantuan pada Adriana, namun Devin begitu malu untuk meminta pertolongan pada wanita yang sudah sering ia sakiti dulu.


"Tuan, hubungi saja non Adriana. Mbok yakin non Adriana pasti akan datang."


Mbok Yum menyarankan pada majikannya untuk segera meminta Adriana mendonorkan darah untuk Rania. Mbok Yum juga paham betul sifat Adriana yang selalu memiliki rasa empati tinggi.


"Tapi mbok, aku malu. Rasanya sudah terlalu banyak aku menyakiti Adriana."


"Untuk apa rasa gengsi dan malu tuan Devin pertahankan jika taruhannya nyawa non Rania. Mbok yakin non Adriana pasti mau, dia wanita yang berhati mulia tuan. Percayalah sama mbok, ayo telpon."


Kemudian mbok Yum menyodorkan handphone miliknya, mbok Yum mengerti jika yang menelpon Adriana memakai nomor Devin, sudah dipastikan Adriana tidak akan mau menjawab. Lagi pula Adriana sudah memblokir semua akses komunikasi dengan Devin.


Akhirnya Devin mau menerima saran mbok Yum, lalu ditekannya panggilan untuk Adriana yang masih belum terjawab.


Selang beberapa detik terdengar jawaban dari Adriana.


"Assalamualikum mbok Yum, tumben telpon Adriana malam malam begini."


Suara Adriana begitu terasa manis di telinga Devin. Kelembutan yang tak pernah ia dapatkan dari sosok Jesi seakan mengingatkan masa indah rumah tangga saat masih bersama Adriana, namun sapaan lembut itu bukan untuknya, melainkan untuk mbok Yum.


"Adriana aku mohon jangan matikan telponnya."


Devin seperti mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Adriana setelah mendengar suaranya.


"Adriana aku mohon padamu untuk sekali ini saja kamu lupakan masalah diantara kita. Aku mohon."

__ADS_1


Adriana menghela nafasnya dalam, berusaha mengumpulkan keberanian untuk berbicara dengan Devin, walau hanya via telepon.


"Apa maksudmu Devin?"


Adriana masih tak mengerti dengan permohonan Devin.


"Saat ini Rania dalam kondisi kritis masuk ICU, Rania membutuhkan transfusi golongan darah AB untuk proses operasi."


Tanpa penjelasan panjang dari Devin dapat Adriana mengerti maksud dan tujuan Devin menghubunginya.


"Aku siap mendonorkan darahku untuk Rania, sekarang aku siap siap ke sana."


Adriana tidak ingin terlalu banyak obrolan yang lebih panjang lagi dengan Devin. Pikiran Adriana hanya tertuju pada keselamatan Rania.


Hati Adriana tak kuasa mendengar Rania dalam kondisi kritis, keguguran yang pernah Adriana alami membuatnya selalu merasa bahwa kehadiran seorang anak adalah segalanya.


•••


Mbok Yum yang melihat Adriana lunglai segera menggandeng lengan Adriana dengan penuh perhatian.


"Mbok bantu ya non."


Mbok Yum meraih lengan Adriana untuk membantunya duduk di depan ruang rawat Rania.


"Mbok Yum apa kabar?"


Saat Adriana tiba di rumah sakit sekitar jam 12 malam, tidak melihat keberadaan Mbok yum. Untuk pertama kalinya mereka bertemu kembali setelah perceraian Adriana bersama Devin.


"Baik non, mbok baik baik ajah. Non sendiri gimana? Mbok kangen banget sama non."

__ADS_1


"Alhamdulillah mbok aku juga baik baik ajah. Oya jangan panggil aku non lagi mbok, aku sudah bukan majikan mbok Yum lagi."


Devin mendengar obrolan diantara mereka, membuat hati Devin begitu sesak akan permintaan Adriana pada mbok Yum.


"Gak mau non, bagi mbok non Adriana majikan mbok yang terbaik."


Mbok Yum mengeratkan pelukannya di bahu Adriana.


"Panggil aku Rana saja mbok."


Si mbok menggelengkan kepalanya.


"Kalau nak Rana gimana? Anggap saja aku ini anak mbok."


Mbok Yum merasa terharu akan sikap Adriana yang tak pernah ada gurat keangkuhan padanya.


"Gara gara mbok yang lalai, non Rania jadi bagini."


Mbok Yum masih tak bisa melupakan kejadian itu. Wanita paruh baya itu masih tetap menyalahkan dirinya.


"Sudah mbok jangan merasa bersalah. Hidup, mati semuanya takdir. Tinggal kita terima dengan ikhlas, dan yang penting sekarang kita sudah berusaha. Apapun hasilnya kita pasrahkan pada Allah."


Jarak duduk antara mbok Yum dan Devin tidak jauh, membuat percakapan kedua wanita itu semakin menusuk hati Devin. Betapa mulianya hati Adriana, dengan lapang dada Adriana menerima semua takdir dan cobaan yang telah menimpanya.


Sesaat Devin teringat akan ucapan Tegar di pameran desain, ia sudah menggoreskan luka yang begitu dalam di hati Adriana, namun luka yang ia berikan justru membuat Adriana semakin kuat untuk menghadapi kenyataan yang ada.


Memang tidak mudah bagi Adriana untuk berdamai dengan takdir yang sulit Adriana terima.


••••

__ADS_1


Klik like ya 😉


__ADS_2