
Satu minggu sudah Adriana berpisah dengan Devin. Adriana kembali tinggal seorang diri di rumah orang tuanya yang sudah tiada. Rasa kesepian dan kesedihan selalu ia rasakan di saat semua aktivitas kerjanya selesai.
Dalam satu minggu ini Adriana lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor. Hampir tiap hari Adriana pulang malam hanya demi mengalihkan perhatiannya akan persoalan perpisahannya bersama Devin.
Adriana menjadi sosok wanita yang semakin gila kerja, ia butuh aktivitas lebih untuk melupakan masalah yang kini menjadi beban hidupnya. Tak ada seorang pun yang Adriana percaya untuk meluapkan isi hatinya. Biarkan hanya Adriana dan Tuhan yang tahu semua keresahannya.
Nafsu makan Adriana dropp selama satu minggu ini, berat badannya semakin berkurang, padahal seorang ibu hamil hatusnya butuh asupan nutrisi lebih untuk tumbuh kembang janinnya.
Di tiap sepertiga malam Adriana selalu memohon ampunan pada Tuhan atas keputusannya meninggalkan Devin. Adriana tahu bahwa perceraian tidak lah diharamkan oleh agama, tapi Adriana sadar kalau perceraian adalah salah satu perbuatan tercela di mata Allah. Adriana memang tak pandai ilmu agama, akan tetapi ia tahu saat dimana ia harus tetap menjadi pribadi yang baik dan harus tetap tegas dalam mengambil keputusan.
Semua pekerjaan Adriana jalani seprofesional mungkin, ia tidak ingin mencampur adukkan antara masalahnya dengan pekerjaan. Entah terbuat dari apa mental dan hati Adriana yang begitu kuat di saat cobaan menghampirinya, tidak semua perempuan akan mampu melalui masa ini.
Menangis boleh saja namun bukan berarti harus terus larut dalam kesedihan. Batin Adriana mengatakan bahwa hidupnya harus tetap berjalan. Adriana tak ingin membiarkan hidupnya hancur hanya karena satu nama (Devin Aditya Pratama).
Di bawah langit ini jutaan manusia hidup, jangan frustasi hanya karena kehilangan satu laki-laki penghianat.
Adriana yakin Tuhan pasti memiliki rencana indah dibalik perpisahannya, walau entah apa rencana indah itu? Seperti apa rencana Nya, hanya Tuhan yang tahu. Yang terpenting untuk saat ini Adriana bisa kembali seperti Adriana yang dulu. Sosok Adriana yang selalu semangat dalam meniti karir dan cita-cita.
•••
__ADS_1
Adriana pergi ke rumah sakit untuk mengecek kandungan. Nyeri yang begitu hebat ia rasakan sejak sepulang kerja. Adriana memutuskan untuk mendatangi rumah sakit dan memeriksakannya pada dokter Chandra.
"Ibu Adriana sebenarnya ada masalah apa yang sedang ibu Adriana pikirkan?"
Dokter tampan itu mencoba memberanikan diri bertanya hal pribadi mengingat kondisi kandungan Adriana yang semakin memburuk.
"Tidak ada masalah apa-apa dok. Saya cuma stres sama target perusahaan."
Sebisa mungkin Adriana menutupi apa yang menjadi beban pikirannya.
"Jangan terlalu stres bu, kasihan bayi yang ada di perut ibu Adriana."
Dokter tampan itu merasa tidak tega untuk menyampaikan kondisi kandungan Adriana, apa lagi sang suami tidak ada di sampingnya membuat Chandra semakin enggan mengungkapkan kondisi kandungan Adriana. Kalau kondisi ini dianggap sepele, cepat atau lambat Adriana akan mengalami keguguran akibat lelah dan stres.
"Jawab dok."
Adriana menegaskan pertanyaannya pada Chandra. Dokter tampan itu hanya menatap Adriana penuh rasa iba.
"Ibu Adriana terpaksa saya harus bilang kondisi terburuk yang akan ibu alami jika kondisi ibu terus dropp seperti ini. Cepat atau lambat ibu akan mengalami keguguran jika kondisi fisik dan psikis ibu tidak stabil. Saya mohon ibu Adriana jangan terlalu larut dalam masalah yang ibu hadapi saat ini. Walau saya tidak tahu masalah yang tengah ibu alami, tapi saran saya ini demi keselamatan ibu dan kandungan ibu Adriana."
__ADS_1
Penjelasan dokter Chandra begitu membuat dada Adriana sesak, membuat Adriana menghela nafasnya dalam.
"Apapun yang terjadi saya sudah pasrahkan pada Tuhan dok."
Kesabaran Adriana semakin membuat Chandra mengaguminya.
"Ibu Adriana yakin dengan ucapan ibu barusan?"
"Hidup, mati, bahkan jodoh adalah takdir dok. Jika anak saya ditakdirkan untuk melihat dunia pasti semuanya akan baik-baik saja."
Penuturan Adriana tampak begitu pasrah di hadapan dokter Chandra. Entah kenapa membuat hati Chandra begitu nyeri menatap wajah Adriana yang berbicara dengan tatapan kosong.
"Semangat ya bu Adriana. Nanti minggu depan ibu harus cek lagi kandungan ibu kesini, biar saya tahu perkembangannya dalam satu minggu ini."
"Iya dok, saya pasti akan datang lagi. Terimakasih ya, saya pamit dok. Assalamualaikum."
Adriana berlalu dari ruang praktek dokter Chandra dengan langkah yang begitu cepat mengingat waktu yang hampir maghrib. Adriana tak ingin tertinggal melakukan ibadah shollat maghrib.
Sementara Chandra baru menyadari bahwa handphone milik Adriana tertinggal di meja kerjanya. Chandra mencoba mengejar Adriana namun tidak ia temukan. Akhirmya Chandra memutuskan untuk mengantarkan handphone pasiennya ke rumah selepas jam praktek rumah sakit.
__ADS_1
••••