
Seorang pria tampan dalam balutan kemeja berwarna biru dongker tengah asyik tersenyum-senyum sendiri di balik kursi direktur kebesarannya.
Pria beralis tebal dengan mata coklat itu masih tersenyum sendiri dengan ponsel yang ia genggam, kedua bola matanya sibuk mencari media sosial wanita pujaan hatinya.
Tingkahnya sudah seperti anak belasan tahun yang sedang dilanda asmara, dan akhirnya ia berhenti di salah satu akun instagram.
Dilihatnya foto profil Adriana yang begitu cantik tengah duduk di taman dengan mengenakan kaos hitam dan rok payung warna hijau botol.
Kacamata hitam yang Adriana letakkan di atas kepalanya menjadi pelengkap pemandangan foto tersebut, menampakkan Adriana yang terkesan bak model hijab kekinian.
Tegar Prasetya adalah direktur utama dari Prasta Corp. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang property yang selalu menyaingi pencapaian Pratama Group di bidang bisnis property.
Persoalan bisnis Tegar kesampingkan terlebih dahulu setelah bertemu kembali dengan Adriana di Bandung beberapa waktu lalu. Rasa bahagia selalu menyelimuti hatinya setelah pertemuan itu.
Sudah lama Tegar mencari Adriana, pria itu rupanya ingin mengenal Adriana lebih jauh sejak pertemuan pertama. Sayangnya saat wanita pujaan hatinya itu berada di Jakarta, Tegar tak pernah bertemu kembali dengan Adriana.
Kini saat Tegar pergi untuk urusan meeting di Bandung, rupanya Tuhan sengaja mempertemukannya kembali dengan wanita ayu berhijab yang telah mencuri hatinya sejak pandangan pertama.
"Adriana, tak akan aku biarkan kamu lolos lagi."
Bisik Tegar penuh senyum yang merekah dari bibirnya.
Tegar tak pernah merasa sesemangat ini dalam menjalani aktivitas kerjanya. Pencapaian karirnya kini sedang naik daun, banyak wanita cantik yang menghampiri dirinya untuk merebut perhatian Tegar, tapi entah kenapa selalu Tegar tolak.
Tegar masih setia dengan status single. Walau usianya sudah 33 tahun tetap tak memudarkan ketampanan yang ia miliki.
"Hayo ngayal jorok ya? Senyum-senyum sendiri."
Sesaat Bryan membuyarkan lamunan Tegar. Pria itu seenaknya memasuki ruangan atasan yang sekaligus sahabatnya sejak kuliah.
"Sialan lo! Asal ajah kalo ngomong."
Nada bicara Tegar sedikit membentak Bryan.
"Bryan lo inget kaga waktu gue cerita ada bidadari berhijab menyanyikan lagu di sebuah caffe?"
Tegar sangat antusias ingin menceritakan pertemuan keduanya di Bandung pada Bryan.
"Yang mana sih? Lo mah kebanyakan cewek."
Seperti biasanya Bryan selalu mengejek Tegar.
"Sembarangan lo kalo ngomong. Ada juga ceweknya yang banyak deketin gue."
Kilah Tegar yang tak mau kalah.
Bryan pun mencoba mengingat apa yang telah diceritakan Tegar beberapa bulan lalu padanya.
__ADS_1
"Ya ya ya gue inget yang lo bilang namanya Ra. . , Rana"
"Yap bener! Kemaren gue ketemu doi bro."
Tegar semakin antusias untuk bercerita.
"Serius? Bukannya kemaren lo meeting di Bandung."
"Iya gue meeting bareng investor di Bandung dan gak tahunya emang udah jodoh kali ya, gue nginep di hotel milik dia."
Bryan tak pernah menyangka bahwa sahabatnya akan segirang ini pada perempuan. Sudah lama hati Tegar rapuh akan cinta dan semua ini kembali oleh Rana.
"Terus, terus, terus?"
Bryan semakin kepo dan nyerocos.
"Trus gue samperin dia pastinya. Gak mau gue sia-siain, kesempatan emas cuy."
Dengan seringai bahagia Tegar melanjutkan ceritanya.
"Terus lo dapet kontak whatsapp nya?"
Sejenak Tegar terdiam mendengar pertanyaan Bryan.
"Kaga. Lupa gue kaga kepikiran"
Potong Bryan dan hanya satu kata yang terucap dari bibir Bryan.
"Gimana lo mau kawin bro! Soal kaya gini ajah gak kepikiran saat mau deketin cewek. Soal bisnis ajah lo jago, giliran soal cewek cemen."
Bryan semakin memaki Tegar.
"Eitssss tunggu dulu, seenggaknya lihat dulu nih."
Tegar memberikan handphone miliknya pada Bryan yang menampilkan akun medial sosial Adriana.
"Cakep kan?"
Tegar seolah ingin membanggakan paras Adriana pada Bryan.
"Lumayan bro."
Jawaban Bryan hanya itu.
"Lo bilang lumayan? Brati gak cakep-cakep amat dong."
Bryan targelak akan respon sahabatnya yang menurutnya seperti anak kecil saat jatuh cinta, ekspresi ini telah lama hilang dari sosok Tegar Prasetya.
__ADS_1
"Dengerin dulu penjelasan gue kenapa gue bilang lumayan, cewek cewek yang deketin lo high level semua bro. Model-model sexy pada klepek-klepek sama lo."
"Halah... Palingan klepek-klepek sama duit gue, sama wajah ganteng gue. Gue bosen modelan cewek-cewek yang ngumbar rambut dan pahanya kemana-mana"
Pernyataan Tegar kembali membuat Bryan tergelak.
"Oh jadi tipe lo sekarang ganti modelan ya? Yang kaya Rana begini?"
"Iya lah, gue udah tua mau hijrah ke jalan yang bener Yan. Udah bosen gue jadi anak nakal terus."
Keduanya tertawa seolah teringat akan masa sekolah dan kuliah, bahkan di awal masa kerja. Bryan dan Tegar sahabat sejak masih SMA yang sudah tahu kenakalan masing-masing.
"Eh tunggu dulu Bro, lo udah selidikin belum tuh cewek?"
Pertanyaan Bryan menghentikan aktivitas tawa mereka.
"Maksud lo?"
"Maksud gue lo udah pastiin belum Rana cewek single? Nanti tahu-tahu bini orang gimana? Sakit-sakit dah lo."
Pernyataan Bryan menghentakkan pikiran Tegar.
"Iya ya Bro. Gue keduluan seneng banget sih sampe lupa nyari info begitu."
"Disini nih bodohnya lo! Gak jeli kalo soal cewek."
Bryan semakin membodohi Tegar.
"Sialan lo. Ya udah gue kasih lo cuti satu hari buat nyelidikin tentang Rana."
Mata Bryan membulat menyesali usulan yang sudah ia sampaikan yang ujung-ujungnya hanya akan menyusahkan dirinya sendiri. Padahal ini urusan pribadi sama sekali bukan jobdesk Bryan.
"Plisssss Yan. . Gue minggu ini sibuk banget banyak projek dan meeting."
"Oke, asal komisi yang gede cuy"
"Siap"
Jawab Tegar dengan mengacungkan ibu jarinya.
"Tapi saran gue sekarang lo jangan terlalu berharap dulu sebelum ada hasil penyelidikan yang pasti. Kalau nyatanya Rana bini orang, minimalnya lo gak akan sakit sakit banget."
Bryan tertawa tanpa henti setelah mengatakan kalimat tersebut. Ia mengelus-elus perut ratanya, apa lagi saat menyaksikan ekspresi Tegar yang begitu takut bahwa Adriana sudah dimiliki laki-laki lain.
••••
Jangan lupa komen dan vote ya 😘
__ADS_1