
Devin dan jesi masih setia menjaga buah hatinya yang terbaring lemah di rumah sakit. Walau Rania sudah sadarkan diri namun kondisinya masih terkulai lemah. Sejak usia dua tahun Rania sudah divonis mengidap penyakit infeksi saluran pernafasan atas yang sering disebut ispa dalam dunia medis. Rupanya pola hidup yang tidak sehat dari Jesi memberikan pengaruh buruk pada kesehatan Rania.
Jemari Devin masih terkait dengan jemari kecil Rania. Ia menatap buah hatinya dengan penuh rasa iba. Sudah dipastikan malam ini Devin tidak akan pulang. Devin akan tetap menemani Rania sampai kepulangannya dari rumah sakit.
"Sayang mending kita pindah rumah, jangan tinggal di apartemen, udaranya kurang bagus untuk kesehatan Rania."
Jesi sudah pernah mengajukan permintaan pada Devin untuk membelikan rumah baru di sekitar komplek yang cukup elit. Jesi sangat merasa penat dan sesak jika harus terus tinggal di apartemen. Menurut Jesi apartemen tidak baik untuk tumbuh kembang Rania.
"Iya sayang nanti aku pikirkan untuk pindah rumah."
"Jangan lama-lama ya sayang mikirnya."
Jesi bergelayut manja melingkari ceruk leher Devin kemudian mengecup pipi Devin.
Dering telpon dari handphone Devin melepaskan pelukan Jesi, dilihatnya nomor telpon rumah terpampang di layar handphone Devin, kemudian Devin segera keluar dari ruang rawat Rania.
"Hallo."
Jawab Devin setelah menekan layar hijau di ponselnya.
"Tuan Devin, anu. . ."
"Ada apa mbok Yum? Bicara yang jelas."
"Non Adriana, non Adriana mengemasi barang-barangnya. Dia mau pergi dari rumah ini tuan."
Dengan nada terbata mbok Yum memberitahukan aktivitas Adriana yang sedang sibuk mengemasi bajunya ke dalam koper.
"Aku minta tolong sama mbok sebisa mungkin tahan Adriana sebelum aku datang. Tolong ya mbok."
Devin mulai panik akan informasi yang diberikan oleh mbok Yum.
Waktu sudah pukul sembilan malam, Devin tidak akan tega melepaskan istrinya pergi malam-malam dari rumah.
__ADS_1
Setelah mengakhiri panggilan dari mbok Yum, Devin kembali memasuki kamar Rania.
"Maaf sayang papa ada urusan sebentar, nanti papa balik lagi."
Devin pamit pada Rania dengan wajah tergesa-gesa.
"Sayang aku harus pulang dulu mengecek keadaan Adriana. Kata mbok Yum Adriana mengemasi barang-barang. Aku takut dia sudah mengetahui hubungan kita."
Tutur Devin pada Jesi. Informasi Devin barusan membuat hati kecil Jesi sangat bahagia mendengarnya.
Jesi tersenyum penuh dengan seringai licik, dia berpikir kalau sebentar lagi Devin akan menjadi miliknya seutuhnya.
•••
Baru saja Adriana menarik koper dari kamarnya, tiba-tiba Devin datang menghalau jalan Adriana.
"Apa maksudnya semua ini sayang?"
"Masa lalu kamu belum selesai, biarkan aku yang menyelesaikannya."
Devin masih tak mengerti akan kalimat yang disampaikan oleh Adriana.
"Maksudmu apa Adriana?"
Devin masih berpura-pura tidak mengerti.
"Gak usah pura-pura bodoh atau memang aku yang bodoh? Yang baru mengetahui pernikahan sirih kalian di belakangku."
Mata Adriana dengan tajam memandang Devin. Pernyataan Adriana barusan tak pernah terduga sebelumnya oleh Devin kalau Adriana yang tak lepas dari hijab akan berlaku keras seperti ini terhadapnya.
"Maafkan aku Adriana. Aku akan jelaskan semuanya."
"Jangan terlalu banyak minta maaf Devin. Mau sampai kapan kamu minta maaf lagi dan menghancurkan lagi. Aku lelah akan semua alasan yang kamu buat."
__ADS_1
Devin terdiam sesaat, harus ia akui kalau akhir-akhir ini sudah banyak kebohongan yang telah ia buat.
"Aku mohon Adriana berikan aku waktu."
Devin memohon dengan menangkupkan kedua tangannya di hadapan Adriana.
"Waktu apa? Menunggu waktu Jesi mati! Baru kamu kembali lagi menjadi milikku seutuhnya?"
Kata-kata Adriana begitu menohok batin Devin. Tak pernah Devin saksikan istrinya berkata sekeras dan sepedas ini.
"Tidak ada satupun wanita yang mau dimadu Vin. Yang ada hanyalah kebodohan wanita yang mau memaafkan lagi lalu disakiti lagi. Aku bukan tipikal wanita yang seperti itu, kepercayaan yang aku berikan padamu sudah kamu siakan. Gelas retak tidak akan pernah kembali semulus semula. Begitupun dengan kepercayaan yang sudah aku berikan padamu. Maaf kalau selama pernikahan kita aku tak bisa memberikan apa yang Jesi berikan. Aku akui waktuku terbagi dengan karirku karena aku tak memiliki sosok Frans seperti ayah Jesi yang menjamin semua kehidupan Jesi, dan aku pun tak ingin menggantungkan hidupku sepenuhnya di tanganmu Devin, karena aku tahu cinta itu fana. Terbukti kini kamu sudah merusaknya."
Dengan lantang Adriana berbicara panjang di hadapan Devin, menohok hati Devin dan membuat Devin berdiri mematung di depan pintu kamar.
"Bagaimana dengan kandungan kamu?"
Devin berusaha mencari-cari alasan untuk menahan kepergian Adriana.
"Tanpamu aku bisa Vin. Bahkan harus hidup tanpa sosok ayah pun aku bisa."
Sudah tergambar jelas keinginan Adriana untuk berpisah dengannya.
"Perceraian akan aku urus setelah aku melahirkan anakku. Kamu jangan khawatir, bahagialah bersama keluarga kecilmu. Aku pamit, Assalamualaikum."
Adriana kembali menarik kopernya dibantu oleh Mbok Yum, lalu memasukkannya ke dalam mobil.
Hati mbok Yum begitu merasakan rasa sakit akan majikan perempuannya. Mbok Yum tidak tega melihat Adriana mengemasi barang barangnya. Mbok Yum masih menatap mobil milik Adriana yang sudah melaju meninggalkan rumah Devin, tanpa terasa air matanya berderai melihat sosok Adriana majikan yang sangat ramah dan lembut, yang memperlakukannya seperti orang tua sendiri telah pergi.
"Mbok yakin non wanita yang kuat."
Bisik mbok Yum yang masih meneteskan air matanya. Hatinya tak kuasa menahan gejolak rumah tangga yang menerpa majikannya. Kemudian wanita paruh baya itu kembali memasuki rumah Devin.
••••
__ADS_1