
Sepasang suami istri tengah bertengkar hebat mempertahankan ego masing-masing. Devin kini menuntut Jesi untuk sepenuhnya menjadi sosok ibu rumah tangga yang harus membimbing dan menemani Rania, namun kenyataannya gaya hidup Jesi semakin parah setelah dinikahi sah secara hukum.
Kini Jesi semakin berani pada Devin, waktu Jesi hanya dihabiskan untuk shopping dan bermain dengan teman temannya. Sementara Devin sudah tidak menjabat lagi sebagai direktur Pratama Group setelah kedua orang tua Devin mengetahui bahwa pernikahannya bersama Adriana sudah kandas.
Secepat kilat Hans mencabut semua nama kepemilikan asetnya untuk Devin. Hans tidak akan membiarkan Devin menikmati hartanya bersama Jesi.
Faktor inilah yang membuat Jesi semakin berani pada Devin, bahkan sudah tak menghargai Devin lagi.
Hans benar benar kecewa akan perilaku putranya, biarlah perusahaan Hans sepenuhnya dikelola oleh dirinya lagi. Hans mengisyaratkan semuanya akan ia kembalikan seperti dulu pada Devin, jika saja Devin mau berpisah dengan Jesi.
Sayangnya, bujukan Hans sia-sia, Devin masih tetap dengan keputusannya menikmati rumah tangga bersama Jesi dan sang putri kecil Rania.
Devin kini hanya mampu merintis perusahaaan milik Frans, sang ayah mertua yang tidak tega melihat kondisi menantunya didepak oleh ayahnya sendiri dari kursi kepemimpinan.
Hal ini lah yang membuat Jesi semakin berani akan Devin, semakin merasa besar kepala. Menurut Jesi, tanpa bantuan ayahnya Devin hanya akan hidup menjadi seorang pengangguran.
Walau tabungan Devin banyak, cepat atau lambat akan terkuras habis juga.
"Jesi, aku mohon berikan sedikit waktumu untuk Rania." ucap Devin yang melihat istrinya sudah bersiap dandan dengan polesan make up merona, serta dress ketat yang menampakkan lekuk tubuhnya.
"Hadeuh makin hari kamu tuh makin bawel Dev!" bentak Jesi, tak pernah mendengarkan ucapan Devin lagi.
"Rania butuh seorang ibu yang selalu ada di sisinya selama masa tumbuh kembangnya Jes." ucap Devin lagi, kali ini dengan nada bicara sedikit meninggi.
"Berani kamu sekarang ngatur ngatur aku, bentak bentak aku. Ingat Dev kamu cuma numpang di perusahaan papahku!" pekik Jesi kesal. Kemudian Jesi berlalu dengan membawa tas tangannya setelah puas menghina Devin.
Hati kecil Devin sedikit teringat akan istri yang sudah ia ceraikan dulu.
Devin memejamkan matanya mengingat masa masa bersama Adriana yang tak pernah sedikitpun berkata keras padanya, saat rumah tangga mereka baik baik saja, jauh sebelum Jesi hadir kembali.
Devin merindukan rasa dihargai dan dihormati sebagai laki-laki. Ia teringat saat Adriana selalu menyambut kepulangannya dengan penuh kelembutan sebagai istri, bahkan saat Devin membohonginya pun Adriana masih tetap berlaku seperti biasanya, tanpa mengurangi rasa hormat kepada suami.
Bayangan Adriana segera Devin tepiskan, mengingat dugaannya yang begitu kuat bahwa Adriana berselingkuh dengan Chandra.
Kenangan manis bersama Adriana ia tepiskan hanya untuk mengingkari hatinya yang masih merindukan Adriana.
"Tuan. . .Tuan. . . Non kecil asmanya kambuh lagi." teriak mbok Yum.
__ADS_1
Teriakan mbok Yum membuyarkan semua lamunan Devin, kemudian ia secepatnya melihat kondisi Rania.
Devin langsung meraih tubuh Rania dalam gendongan untuk dibawa ke rumah sakit, Devin pun meminta mbok Yum untuk ikut bersamanya menjaga Rania.
•••
Rania sudah mendapatkan perawatan medis, hati Devin begitu nyeri melihat putri kesayangannya terbaring lemah. Sudah dari tadi Devin mencoba menghubungi Jesi untuk mengabarkan kondisi Rania, namun sayang telpon Devin berkali-kali tak pernah Jesi jawab.
"Ibu macam apa kamu Jesi!" gumam Devin kesal, lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celana.
Kemudian Devin berjalan ke lorong rumah sakit, menuju kantin terdekat untuk membeli air mineral untuk dirinya dan mbok Yum.
Tiba-tiba Devin berpapasan dengan laki-laki yang pernah ia hantam di rumah Adriana. Rupanya dokter Chandra yang sedang berjalan menuju ruang praktek, sesaat Devin menghentikan langkah dokter tersebut.
"Dokter Chandra." sapa Devin.
Dokter tampan bermata sipit itu seketika menghentikan langkahnya.
"Bapak Devin, ada apa pak?" sahut Chandra.
"Boleh, kita ngobrol di ruangan saja Pak Devin."
Devin pun berbalik arah, langkahnya kini mengikuti arah dokter Chandra.
"Saya minta maaf atas kejadian waktu itu."
Devin mencoba membuka pembicaraan, seolah mengingatkan Chandra pada kejadian saat dirinya memukul wajah Chandra di rumah Adriana.
"Saya sudah lama memaafkan dan melupakan kejadian itu Pak Devin." ungkap Chandra dengan tenang.
Setelah enam bulan lamanya Devin baru meminta maaf pada Chandra, dan baru menyesali perbuatannya.
"Apa kabar dengan ibu Adriana ya Pak Devin?"
Devin merasa terkejut dengan pertanyaan Chandra.
"Bukannya dokter yang lebih dekat dengan mantan istri saya, kenapa dokter menanyakan kabarnya ke saya?" respon Devin masih terdengar seperti mencurigai Chandra.
__ADS_1
Mendengar Devin yang masih mengira bahwa Chandra memiliki hubungan spesial dengannya, membuat Chandra tersenyum menggelengkan kepala sesaat.
"Pak Devin sudah berpikir terlalu jauh. Saya dengan ibu Adriana tidak memiliki hubungan apapun selain hubungan antara pasien dengan dokter." tutur Chandra. Sementara Devin sejenak terdiam mendengar penuturan Chandra.
"Saya akui kalau saya menyukai ibu Adriana. Wanita yang begitu hebat dalam berkarir, tanpa menghilangkan kodratnya sebagai wanita dibalik paras ayu dan hijabnya, tapi perasaan suka saya hanya sebatas suka, sama sekali tidak ada maksud untuk merusak rumah tangga Pak Devin. Bahkan ibu Adriana sampai detik ini pun beliau tidak pernah tahu akan perasaan saya."
Dengan tenang Chandra menjelaskan perasaannya untuk Adriana pada Devin.
"Lalu apa maksudnya malam malam dokter bertamu ke rumah Adriana?"
"Berpelukan pula!" Devin masih ingin menuntut.
"Sore itu ibu Adriana mengecek kandungannya ke sini. Perutnya merasakan nyeri kram yang luar biasa, dan sore itu juga handphone ibu Adriana tertinggal di meja saya. Akhirnya, sepulang dari rumah sakit saya antarkan handphone ibu Adriana ke alamat rumah Pak Devin, tapi asisten rumah tangga Pak Devin bilang kalau ibu Adriana sudah satu minggu tidak tinggal di rumah Pak Devin lagi, lalu beliau memberikan alamat rumah ibu Adriana." sesaat Chandra memberikan jeda kalimatnya.
"Adapun pelukan yang Bapak Devin saksikan itu bukan pelukan seperti yang Bapak duga, saya hanya menahan tubuh ibu Adriana yang sudah tak kuasa menahan sakit di kepalanya, membuat tubuh ibu Adriana oleng, dan mau tidak mau saya sebagai laki-laki harus segera menahannya agar ibu Adriana tidak terjatuh."
Penuturan Chandra semakin membuat hati kecil Devin menyesali prasangka buruknya selama ini.
"Bapak Devin harus tahu apa yang terjadi setelah kepergian Bapak Devin yang meninggalkan talak untuk ibu Adriana."
"Apa dokter?" potong Devin penasaran.
"Kandungan ibu Adriana mengalami pendarahan hebat akibat stres dan emosi yang tidak stabil di malam itu. Saya segera membawa ibu Adriana ke sini, akhirnya kenyataan pahit harus ia terima. Sebagian janinnya sudah luruh, dalam artian keguguran, dan mau tidak mau mengharuskan saya bersama team dokter melakukan operasi pengangkatan janin dalam kandungan ibu Adriana."
Hati Devin semakin tak kuasa mendengar cerita dokter Chandra, betapa bodohnya Devin yang telah menyangka kandungan Adriana adalah hasil perselingkuhannya dengan Chandra.
"Apa Bapak Devin menyesal?" pertanyaan Chandra membuyarkan lamunan Devin.
"Penyesalan tidak akan mengembalikan kesempatan yang sudah hilang dok." jawab Devin singkat dengan tatapan nanar.
Hati Devin merasakan sakit dan perih yang luar biasa, prasangka buruknya terhadap Adriana sudah membutakan segalanya. Menyesal pun sudah tak berguna bagi Devin.
••••
Penyesalan tidak akan pernah mengembalikan semua yang hilang.
Miss Viona
__ADS_1