Takdir Kedua Adriana

Takdir Kedua Adriana
Permintaan Cika


__ADS_3

Adriana berlari menuju area parkir kantor Pratama Group. Hatinya tak kuasa menahan sekilas kejadian Devin yang memeluk Jesi dengan erat. Hati Adriana berbisik seolah kenapa harus wanita itu lagi dan lagi.


Langkah Adriana dengan cepat memasuki mobilio putih miliknya, Devin berusaha mengejar menghentikan langkah istrinya,namun terlambat. Mobil Adriana kini sudah melesat jauh dari hadapan Devin. Entah kemana Adriana akan pergi.


Devin dengan sigap melangkah menuju mobilnya, untuk segera menyusul laju mobil Adriana. Matanya mencari-cari mobil yang dikendarai sang istri, namun masih belum ia temukan.


Pikiran Devin kini kalut akan keselamatan Adriana yang mengemudikan mobil begitu kencang. Devin khawatir akan kondisi istri dan janin dalam perutnya. Harapan satu-satunya Devin adalah pulang ke rumah, Devin yakin Adriana pasti akan pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah pintu gerbang masih dalam keadaan terkunci, mobil putih milik sang istri pun tak ada disana.


"Kemana kamu pergi Adriana?"


Gumam Devin sambil mengacak rambutnya kasar.


Kini otak Devin kembali berpikir, memikirkan kemungkinan Adriana berada. Terlintas dalam pikiran Devin bahwa istrinya pasti akan berada di rumahnya, rumah milik Adriana yang jauh sebelum tinggal bersama Devin.


Fortuner hitam kembali Devin kemudikan menuju alamat rumah Adriana. Sesampainya disana masih nihil, tidak ada mobil Adriana terparkir, bahkan suasana rumah begitu sepi tak berpenghuni.


"Adriana dimana kamu?"


Devin kembali menghela nafasnya.


Raut wajah Devin nampak begitu panik, lalu diraihnya ponsel dari saku celananya mencoba menghubungi ponsel Adriana.


Nada dering handphone Adriana aktif namun tak ada jawaban disana. Berkali-kali Devin mengulang panggilan tetap tak ada jawaban.


Devin sudah frustasi, ia memutuskan menuju tempat yang sering Adriana kunjungi tapi entah kemana? Karena setahu Devin Adriana bukanlah tipikal perempuan yang sering keluar tanpa tujuan yang jelas, apalagi melamun di taman atau di pantai itu bukanlah pribadi Adriana.


Tiba-tiba Devin ingat akan caffe yang sering Adriana kunjungi untuk mengerjakan beberapa desainnya. Caffe yang begitu nyaman dengan taman yang begitu asri diiringi alunan musik akustik kesukaan Adriana, tidak ada salahnya jika Devin mencoba pergi kesana dengan harapan sang istri akan berada disana.


•••

__ADS_1


Alunan musik akustik terdengar begitu menenangkan hati di teras caffe belakang, apa lagi dikelilingi taman yang berhias aneka bunga warna-warni, membuat pengunjung begitu menikmati suasana caffe tersebut.


"Tumben lo kesini lagi."


Ujar Cika sang pemilik caffe yang tidak lain adalah sahabat Adriana.


"Sibuk"


Jawab Adriana singkat.


"Ketus bener, pasti lagi bete ya?"


Cika yang merupakan sahabat Adriana semasa kuliahnya begitu paham akan sikap Adriana. Kalau bukan sibuk dengan desain pasti hanya akan ada dua pilihan yaitu bete atau sedih saat Adriana mendatangi caffe miliknya.


"Lo mau pesen apa Rana?"


Panggilan akrab Cika pada Adriana ternyata masih belum berubah.


"Gue cuma butuh secangkir coklat panas dan satu kotak jumbo stup roti keju."


"Gila minta porsi jumbo, tapi badan lo segini-gini doang."


Cika memang selalu tak habis pikir akan selera makan Adriana dan bentuk tubuhnya. Menurut Cika itu yang membuat kaum wanita sangat iri. Makan banyak tetap langsing.


"Udah gak usah bawel cepetan Cik."


Adriana tak ingin berdebat dengan Cika lagi, ia meminta Cika untuk segera memesankan pesanannya pada karyawannya.


Cika pun berlalu meninggalkan Adriana yang tengah menikmati alunan musik yang membawanya halu dalam lamunan. Musik itu terdengar begitu pas dengan suasana hatinya saat ini.


Selang beberapa menit Cika datang dengan nampan yang dipesan oleh sahabatnya.

__ADS_1


"Ya ampun. . . kok jadi lo sih yang bawain pesenan gue?"


Adriana merasa tidak enak terhadap Cika. Biasanya Cika akan menyuruh karyawannya yang membawakan pesanannya.


"Spesial buat sahabat gue yang baru kesini lagi."


Ujar Cika. Sudah lama Cika menyuruh Adriana untuk berkunjung ke caffe, tapi baru kali ini wanita berhijab itu datang kembali.


Kini mereka berdua duduk santai bersama hanya menghabiskan waktu dengan beberapa cerita kecil yang terjadi di kehidupan masing-masing.


"Buruan cerita. Ada masalah apa yang udah buat lo bete?"


Cika memaksa Adriana untuk menceritakan kejadian yang sudah membuat hatinya hancur.


Perhatian Cika masih tetap sama seperti dulu saat mereka kuliah bersama. Apapun selalu mereka bagi.


"Gila tuh cewek berani bener godain laki orang!"


Cika tak tahan akan penuturan Adriana tentang Jesi.


Secangkir coklat panas sudah Adriana sesap dengan hembusan nafas yang berat, seolah menginginkan emosi dan perasaannya ikut meredam.


"Udah gak usah dipikirin, mending sekarang lo naik ke stage gue noh di depan, biar perasaan lo sedikit lega."


Cika meminta Adriana untuk bernyanyi solo dan memainkan piano seperti biasanya. Hobi Adriana sejak kecil namun tak pernah Devin ketahui.


"Gue udah lama gak main piano Cik. Terakhir juga disini gue main piano sebelum gue merid."


Kilah Adriana yang sedang enggan bermain piano.


"Udah buruan! Lagian gue kangen sama suara lo."

__ADS_1


Cika memaksa Adriana dengan menarik pergelangan tangan sahabatnya, lalu membawa Adriana untuk memaksanya duduk di depan meja piano. Adriana pun hanya bersikap pasrah menuruti permintaan sahabatnya yang sulit ia tolak.


••••


__ADS_2