Takdir Kedua Adriana

Takdir Kedua Adriana
Jangan pulang malam ini


__ADS_3

Acara pernikahan sirih Devin dengan Jesi berjalan dengan lancar. Tidak ada seorang pun yang tahu selain Ricky sahabat Devin yang ia undang sebagai saksi.


Devin memohon dengan sangat untuk tidak mengabarkan hal ini pada siapapun, apalagi pada ayahnya. Sudah dapat dipastikan Devin akan didepak dari nama hak waris, karena begitu dalamnya kebencian Hans pada Frans. Sementara Devin justru menjalin kasih dengan putri Frans.


Devin meminta Jesi untuk tinggal di apartemennya bersama Rania, serta meminta Jesi untuk rela berbagi waktunya bersama Adriana. Walau bagaimanapun Adriana adalah istri sah Devin, tentunya Adriana masih menjadi prioritas Devin.


Devin sudah lama mendambakan dirinya untuk menjadi sosok ayah, padahal saat ini Adriana tengah mengandung, hanya menunggu waktu beberapa bulan lagi ia akan mendapat momongan, tapi Devin sudah tidak sabar menunggu kedatangan seorang anak dari wanita yang halal untuknya. Devin justru lebih memilih Jesi dan Rania.


Rasa bahagia begitu terasa di hati kecil Devin, kini ia merasakan kebahagiaan yang lengkap bersama gadis kecil menggemaskan bernama Rania yang sudah begitu manja bersama Devin.


"Papa. . Lania sayang papa."


Bocah itu mencium pipi papahnya dengan manja, membuat hati Devin sangat merasa bahagia. Hal yang Devin impikan dulu kini menjadi kenyataan untuk tetap bersama Jesi, sebelum ia menikah dengan Adriana.


Devin sangat bersyukur dibalik pernikahan sirihnya, memiliki Jesi yang hanya fokus mengurusi anak di rumah, tidak seperti Adriana yang selalu gila kerja. Walau dalam keadaan hamil Adriana masih tetap pergi bekerja, padahal masih ada Devin yang selalu di sampingnya dan memberikan tanggung jawab sepenuhnya.


Kini hati kecil Devin mulai membanding-bandingkan antara Jesi dengan Adriana. Jesi sosok wanita penurut tanpa harus mempertahankan ego dan ambisinya.


Semasa hamil Rania kehidupan Jesi sepenuhnya ditanggung oleh Hans, asalkan Jesi tidak pernah lagi menampakkan diri di depan putranya, namun kenyataannya kini jauh berbeda.


"Gue gak kebayang Vin kalau Adriana tahu soal ini."


Ricky merasa tidak tega jika Adriana mengetahui semuanya.


"Gue juga berpikir begitu Ky, tapi gue lakuin semua ini demi Rania."


Kilah Devin yang masih saja mengatasnamakan Rania.


"Lo lakuin demi Rania, apa emang lo yang tamak Vin?"


Ricky sangat geram akan keputusan Devin yang mengiyakan keinginan Jesi.


"Kok jadi lo yang sewot sih? Santai bro."


Ujar Devin seolah semuanya akan baik-baik saja.

__ADS_1


"Gue gak habis pikir sama lo, wanita sebaik Adriana lo perlakukan kaya gini demi ego lo sendiri. Bertanggung jawab akan anak gak harus nikahin emaknya juga man. Pokoknya suatu saat kalau terjadi apa-apa diantara lo dan Adriana, gue gak mau tahu. Jangan bawa-bawa nama gue."


Pria berambut ikal itu mengancam sahabatnya kemudian berlalu meninggalkan Devin yang masih menggendong Rania.


Jesi menghampiri Devin dengan membawakan secangkir kopi kesukaan Devin.


"Ricky kenapa sayang? Kok nada bicaranya agak ninggi gitu?"


Kecaman Ricky barusan ternyata terdengar oleh Jesi.


"Biasa. . . Cuma iri. Dia belum dapet satupun teman hidup, sementara aku udah punya dua."


Devin terkekeh sendiri akan kalimatnya, tapi justru membuat Jesi dilanda cemburu akan kalimat Devin barusan. Kalimat yang berhasil menyadarkan Jesi kalau Devin masih memiliki istri sah.


"Aku ingin kamu jangan pulang malam ini. Tetap disini, tidur bersamaku."


Pinta Jesi dengan nada merajuk dan sukses membuat Devin tak kuasa menolak. Apa lagi ini adalah malam pertamanya setelah ijab qobul.


"Iya sayang."


•••


"Mbok. . . Mas Devin belum pulang ya?"


Tanya Adriana pada mbok Yum sesampainya di rumah. Dengan begitu hati-hati Vian membantu memapah langkah Adriana menuju teras rumah.


"Belum non. . ."


Sahut mbok Yum yang datang menemui Adriana di teras.


Adriana hanya tersenyum masam mendengar jawaban mbok Yum.


"Pak Vian terimakasih udah anterin saya pulang. Bapak harus cepat pulang, kasihan istri bapak nunggu di rumah."


Adriana merasa tidak enak pada atasannya, ia tak ingin ada wanita lain yang merasakan hal yang sama seperti dirinya, lelah menunggu suami yang tanpa kabar dan pulang terlambat.

__ADS_1


"Jangan sungkan Adriana, kamu kan karyawan saya. Kalau suamimu masih belum pulang besok pagi saya jemput berangkat ke kantornya, kan sekalian lewat."


Vian kembali menawarkan bantuan pada Adriana.


"Tidak usah pak, suami saya pasti pulang malam ini."


"Baiklah saya pamit, jaga kondisi kamu ya. Segera istrahat, sudah malam. "


Vian begitu merasa iba akan kondisi Adriana. Di masa seperti ini harusnya peran suami benar-benar selalu ada di sampingnya.


Apa Devin terlalu sibuk sampai selarut ini masih belum pulang?


Pikiran Vian semakin menerawang dan menerka-nerka kesibukan Devin.


"Ya udah saya duluan ya Adriana, Mbok. Assalamualaikum."


Dengan begitu sopan Vian mohon pamit dari rumah Adriana. Ternyata posisinya sebagai pemilik perusahaan tidak membuatnya menjadi pribadi yang angkuh.


"Non, itu bosnya non Adriana?"


Mbok Yum sedikit penasaran akan pria tampan yang sudah mengantarkan majikannya.


"Iya mbok, kenapa gitu?"


"Cakep banget non, sopan pula."


Adriana tersenyum kecil mendengar pujian Mbok Yum untuk Vian.


"Hati-hati mbok, dia udah beristri, jangan jadi pelakor."


Adriana justru menggoda mbok Yum dan terkekeh sendiri.


"Si non apaan sih? Mbok cuma muji."


Mbok Yum begitu lucu dan polos, membuat Adriana tak kuasa menahan tawa. Kemudian mbok Yum memapah Adriana untuk memasuki rumah dan segera istirahat. Mbok Yum tidak tega mwlihat kondisi Adriana yang masih pucat dan lemas.

__ADS_1


••••


__ADS_2