Takdir Kedua Adriana

Takdir Kedua Adriana
Kembalikan stabilitas perusahaan


__ADS_3

Hari ini Devin terlambat datang ke kantor dikarenakan ia sibuk mengurus gugatan cerai di pengadilan agama bersama pengacara handal yang sudah ia sewa.


Devin sudah tidak sabar untuk mengakhiri pernikahannya bersama Adriana. Keputusannya sudah bulat setelah akta cerainya keluar dari proses pengadilan agama ia akan segera menikahi Jesika sah secara hukum.


Jesika sudah tidak sabar untuk menjadi istri sah Devin. Ambisinya untuk menyingkirkan Adriana dari kehidupan Devin tak perlu ia lakukan dengan usaha lebih, mengingat Adriana yang sudah memilih mundur dari kehidupan Devin.


Sesampainya di ruang kerjanya Devin terkejut sesaat setelah pintu ruangan yang ia dorong menghadirkan sosok laki-laki paruh baya yang sangat ia kenal tengah duduk di sofa ruang kerja Devin.


Hans menatap tajam pada putranya yang masih berdiri di depan pintu.


"Sini kamu."


Pinta Hans kepada Devin dengan nada datar dan pandangan menusuk mata Devin.


Devin pun menuruti perintah sang ayah, ia duduk berhadapan dengan Hans.


"Apa ayah dari tadi menungguku?"


Devin mencoba basa-basi dengan Hans, namun pertanyaan Devin diabaikan saja oleh Hans.


Hans melemparkan dokumen laporan keuangan Pratama Group selama dua bulan terakhir.


"Apa yang sudah kamu lakukan? Grafik keuangan perusahaan menurun tajam?"

__ADS_1


Mata Hans penuh selidik menatap Devin, ia kecewa akan kontribusi Devin mengelola perusahaan miliknya. Sejauh ini Devin belum pernah melakukan tindakan bodoh dalam mengelola perusahaan. Itu semua membuat Hans bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi?


"Aku bisa jelasin yah."


Dengan nada terbata Devin menjawab peratanyaan Hans.


Ternyata memiliki dua istri membuat Devin gelap mata menggunakan aset perusahaan ayahnya tanpa pertimbangan yang matang. Selama Devin kembali bersama Jesi uangnya terkuras oleh gaya hidup Jesi yang selalu mengatasnamakan kebutuhannya untuk Rania. Padahal tiap hari Jesi selalu pergi shopping membeli produk-produk branded dan banyak menghabiskan waktunya untuk nongkrong di tempat mahal bersama teman-temannya.


"Ayah tidak mau tahu alasan kamu Devin, yang ayah mau segera kembalikan stabilitas perusahaan. Kalau terus-terusan begini ayah tidak bisa menjamin masa depan perusahaan kita akan tetap stabil."


Nada bicara Hans pelan namun penuh ancaman dan tuntutan. Devin pun diam termangu memikirkan cara apa yang harus ia lakukan ke depannya.


Hans berlalu tanpa pamit meninggalkan putranya yang masih tertunduk di sofa, ia kecewa akan performance perusahaan selama dua bulan terakhir.


•••


Sebisa mungkin Adriana berusaha menerima kenyataan bahwa bayi dalam kandungannya sudah tiada. Adriana selalu berusaha ikhlas, walau ia tahu ikhlas itu tidak mudah. Akan tetapi yang mampu Adriana lakukan saat ini hanya itu, berdamai diri dengan takdir dan belajar ikhlas dengan apa yang telah terjadi.


Di tengah kesibukannya di hari pertama kerja pasca cuti satu minggu di rumah sakit, Adriana diminta memasuki ruangan Vian oleh Prita sekertaris Vian.


"Adriana batalkan projek bersama Frans."


Ujar Vian setelah Adriana duduk di hadapan meja kerja Vian. Seketika pernyataan Vian membuat Adriana terkejut, ia merasa bersalah karena masa cutinya selama satu minggu membuat projek pembangunan wisata milik Frans semakin molor.

__ADS_1


"Pak Frans yang membatalkannya ya Pak? Tidak seharusnya saya cuti selama satu minggu, maafkan saya pak Vian."


Adriana sangat merasa bersalah, ia merasa seperti sudah melepaskan tanggung jawabnya.


"Bukan, bukan, sama sekali bukan itu Adriana."


Vian langsung menepiskan dugaan Adriana.


"Saya sendiri tidak tahu alasan pak Frans membatalkan kerja sama kita, tapi biarkan saja masih banyak projek lain yang harus kita selesaikan."


Alasan Frans membatalkan kerja sama bersama perusahaan Vian dikarenakan Frans sudah mengetahui bahwa desainer Permata Gallery tidak lain istri sah Devin. Frans tidak mau semakin memperkeruh keadaan, mengingat keputusan Frans yang sudah mendukung Jesi menjadi istri kedua Devin.


"Oya Adriana, saya turut prihatin akan kondisi kandungan kamu."


Vian mendengar kabar tersebut dari pihak HRD saat Adriana mengajukan cuti.


"Terimakasih pak Vian."


Ujar Adriana sambil tertunduk di hadapan Vian.


"Semangat Adriana, kamu wanita kuat pasti bisa melalui masa ini. Saya yakin kamu bisa."


Vian kembali memberikan semangat untuk Adriana. Pria itu tidak ingin melihat Adriana berada dalam kondisi terpuruk.

__ADS_1


••••


__ADS_2