Takdir Kedua Adriana

Takdir Kedua Adriana
Belajar Ikhlas


__ADS_3

Hari demi hari Adriana lalui dengan kenyataan pahit bahwa dirinya telah resmi secara hukum menjadi seorang janda tanpa anak. Sulit bagi Adriana untuk menerima suratan takdir, namun inilah kenyataannya. Kalaupun Adriana mengaku statusnya yang masih single di usia 27 tahun, rasanya semua orang tetap akan percaya mengingat postur tubuh Adriana yang masih ramping serta wajah yang tetap ayu.


Gurat kesedihan dan luka begitu terpancar dari sorot mata Adriana, namun tetap tidak memudarkan pesonanya.


Adriana masih tetap berpura-pura bahwa pernikahannya baik-baik saja, tidak ia tampakkan perilaku yang berbeda saat ia masih berumah tangga dan menjadi seorang janda.


Adriana tidak ingin dipandang sebelah mata oleh lingkungan sosial akan statusnya. Adriana juga tidak pernah pergi dengan laki-laki manapun. Menurutnya itu hanya akan memperparah pendapat orang yang sebagian telah mengetahui perceraiannya dengan Devin.


Biarlah semua ini ia sembunyikan rapat-rapat, Adriana yakin tanpa membuka statusnya yang sekarang jika Tuhan berkehendak untuk mempertemukan jodohnya kembali semua akan berjalan sesuai skenario Tuhan.


Sering sekali beberapa mulut lancang berani bertanya tentang perpisahan Adriana bersama Devin, namun tetap Adriana bersikukuh menutupinya. Adriana tetap tak ingin membuka aib rumah tangganya.


Kini Adriana menjadi sosok wanita kuat dan penuh misteri dibalik wajah ayunya. Adriana tak pernah mengungkapkan alasannya berpisah dengan Devin pada siapapun. Hanya Chandra yang mengetahui kejadian itu, karena Chandra pula yang ikut andil dalam pertengkaran malam itu.


Bukan Adriana namanya jika ia akan bersikap seperti beberapa cerita pelakor di media sosial yang kebanyakan diviralkan oleh istri sah. Bagi Adriana tindakan tersebut tidak berguna, ia tak ingin semua orang seolah berbelas kasih padanya.


Entah kekuatan apa yang telah merasuki Adriana? Hantaman masalah yang ia hadapi kini Adriana jalani dengan ikhlas. Tanpa Devin semua akan berjalan baik-baik saja, tanpa Devin matahari masih setia terbit dan tenggelam. Jangan biarkan hidupmu hancur hanya karena satu nama laki-laki.


Tok tok. . .


"Assalamualaikum."


Suara tersebut membuyarkan lamunan Adriana yang masih lusuh dengan pakaian kerjanya. Sudah sekitar setengah jam Adriana duduk di sofa ruang TV melepaskan lelah dan penatnya dari aktivitas kantor.


Adriana bangkit melangkah menuju pintu utama rumahnya.

__ADS_1


"Ibu, ayah."


Ucap Adriana setelah berhasil membuka pintu rumah.


"Ayo masuk."


Adriana mengajak Hans dan Marisa masuk dengan penuh semangat. Adriana sangat merindukan sosok mertua yang sudah ia anggap seperti orang tua sendiri.


"Ibu dan ayah duduk saja dulu ya. Adriana buatkan teh manis hangat dulu."


Marisa dan Hans hanya menganggukkan kepalanya dengan senyuman canggung.


Dalam lubuk hati mereka merasa malu untuk menemui mantan menantunya.


"Ayah, ibu, ayo diminum tehnya."


Perceraian Adriana bersama Devin ternyata tidak mengubah perilakunya terhadap mantan mertuanya. Adriana masih sangat menghormati Marisa dan Hans.


"Nak Adriana sebenarnya kami merasa malu berkunjung kesini. Maafkan kami sebagai orang tua yang tidak mengetahui kelakuan Devin. Devin sudah keterlaluan sama kamu nak."


Marisa memulai obrolan lebih dulu.


"Ayah juga tidak tahu nak, kalau Devin berani-beraninya menduakan kamu. Ayah benar-benar kecewa akan sikap Devin. Pantas saja kondisi keuangan perusahaan tidak stabil, ternyata Devin diam-diam menjalin hubungan lagi bersama Jesi."


Hans ikut memberikan penjelasan dan penyesalannya terhadap Adriana.

__ADS_1


"Maafkan kami Adriana yang terlalu sibuk dengan urusan masing-masing, harusnya semua ini tidak terjadi padamu nak, apa lagi kamu sedang mengandung anak Devin."


Suara Marisa mulai terbata, matanya berkaca-kaca dan tertunduk di hadapan Adriana. Marisa tidak tahu kalau Adriana mengalami keguguran.


Adriana bangkit dari sofa di seberang Marisa, wanita itu segera mendekat pada mantan ibu mertuanya, lalu meraih Marisa ke dalam pelukannya.


"Ibu. . Semua ini sudah menjadi suratan takdir Adriana, tak perlu disesali. Jika takdir menginginkan Adriana untuk menjadi seorang janda, mungkin alurnya tidak akan berjalan sederas ini. Walau Adriana pun tak menginginkannya, tapi kenyataannya yang terjadi seperti ini bu."


Adriana mengelus pundak Marisa dalam pelukannya.


"Bagaimana dengan kandungan kamu nak?"


Kali ini Hans yang bertanya. Pertanyaan Hans membuat Adriana terdiam sesaat dengan pandangan nyalang menatap langit-langit ruang tamu. Adriana berusaha mengumpulkan kekuatan untuk mengungkapkan apa yang telah terjadi.


"Adriana mengalami keguguran di malam itu ayah. Malam dimana mas Devin menjatuhkan talak untuk Adriana. Dia mengira Adriana sudah berselingkuh dengan dokter Chandra, padahal malam itu dokter Chandra hanya mengantarkan handphone Adriana yang tertinggal di meja prakteknya setelah Adriana memeriksakan kandungan."


"Saat itu kondisi Adriana begitu drop setelah mengatahui bahwa mas Devin sudah menikah sirih dengan Jesi. Tubuh Adriana merasa oleng di hadapan dokter Chandra, lalu dokter Chandra segera menahan tubuh Adriana agar tidak jatuh. Sayangnya mas Devin tiba-tiba datang dan menyaksikan kejadian tersebut, hingga akhirnya malam itu juga mas Devin menjatuhkan talak untuk Adriana."


Tangis Marisa semakin pecah mendengar penjelasan Adriana, sementara Hans hanya mengeratkan rahangnya. Hans sangat geram akan kelakuan putranya.


"Ibu, ayah, walaupun ikatan jodoh antara Adriana dan mas Devin telah berakhir, Adriana sama sekali tidak menyalahkan ayah dan ibu. Adriana justru bersyukur bisa mengenal sosok mertua sebaik ayah Hans dan ibu Marisa. Insyaallah Adriana ikhlas menjalani semua ini, menjalani masa sulit ini. Begitupun ayah dan ibu harus sama-sama belajar ikhlas dengan kenyataan yang terjadi."


Entah terbuat dari apa hati Adriana yang masih saja belajar mengikhlaskan atas apa yang telah terjadi pada dirinya. Semua yang terjadi memang tak perlu disesali, bagi Adriana hanyalah tentang bagaimana caranya ia bisa berdamai diri dengan takdir.


••••

__ADS_1


__ADS_2