
Di ruangan dokter Chandra sepasang suami istri sedang merasakan khawatir akan kondisi buah hati yang masih berada dalam perut kecil sang istri.
Adriana meminta Devin untuk menemaninya memeriksakan kandungan.
Pagi ini Adriana begitu syok melihat bercak darah yang akhir-akhir ini sering muncul flek. Adriana tak ingin sesuatu yang tak diinginkan terjadi pada janinnya, begitupun Devin yang ikut panik dengan apa yang dialami oleh istrinya.
Dokter tampan bermata sipit itu memeriksa kondisi Adriana dengan sangat hati-hati, lalu diakhiri dengan helaan nafas yang berat.
"Dokter Chandra gimana kondisi istri dan anak saya?"
Rupanya Devin sudah tak sabar mendengar penuturan dokter.
"Beberapa waktu lalu saya sudah bilang pada ibu Adriana bahwa kandungannya lemah. Ibu Adriana harus dalam kondisi yang benar-benar tenang dan harus bedrest."
Devin mengelus-elus punggung sang istri berusaha menenangkan Adriana saat dokter Chandra memberikan penjelasan.
"Apa Ibu Adriana masih mengkonsumsi obat penguat janin yang saya berikan?"
Dokter tampan itu kembali memastikan.
"Masih pak dokter."
Jawab Adriana lembut.
"Ibu Adriana jangan terlalu banyak pikiran. Ini dampak dari stres. Kalau ibu stres sedikit saja, yang terjadi flek lagi, dan keluar flek lagi. Maka dari itu jaga kondisi fisik dan psikis ibu ya."
Masalah yang menghantam rumah tangga Adriana yang sudah membuatnya kalut, sampai-sampai mengorbankan janin dalam kandungannya.
__ADS_1
Memang akhir-akhir ini Adriana hanya berpura-pura tenang, walau hatinya masih menahan beban tentang masa lalu Devin bersama Jesika.
"Mikirin Pak Devin ya bu?"
Celetuk Chandra yang berusaha mencairkan suasana yang begitu tegang dalam ruangan yang hanya sekitar 4x3 meter. Adriana pun hanya tersenyum datar menanggapi dokter tampan itu.
"Tuh denger kata dokter Chandra. Sayang harus bener-bener tenang, jangan terlalu banyak pikiran dan aktivitas berlebih. Kalau bisa sayang resign saja, gak perlu kerja lagi."
Tanpa merasa malu Devin menuturkan nasehatnya di hadapan Chandra. Sungguh membuat Chandra tersenyum getir melihat wanita yang ia kagumi diam-diam diperhatikan sepenuhnya oleh laki-laki yang begitu beruntung menjadi suaminya.
"Susah pak Devin kalau orang sudah punya passion dalam bidangnya. Mau ditahan-tahan pun tidak akan bisa. Apa lagi ibu Adriana ini desainer interior yang cukup hits di beberapa perusahaan."
Chandra seolah memberikan pembelaan untuk pasiennya sembari tersenyum sopan.
"Benar dokter susah sekali. Apa lagi istri saya ini tipe wanita pekerja keras dengan berbagai kecerdasannya."
"Ini resep dari saya, nanti bisa ditebus dibagian farmasi. Saya sudah berikan obat penenang juga dengan dosis ibu hamil, untuk dosis penguat janinnya sudah saya tambahkan biar tidak terjadi flek lagi."
Penuturan dokter Chandra sudah dirasa cukup paham oleh Adriana dan Devin, kemudian keduanya beranjak dari ruangan dokter spesialis kandungan tersebut, lalu melangkah menuju bagian farmasi untuk menebus obat sesuai resep yang diberikan oleh dokter Chandra.
•••
Adriana dan Devin berjalan bergandengan. Lengan Devin tak ingin lepas dari pinggang Adriana, menggandengnya dengan begitu mesra.
Devin tak pernah merasa sungkan atau risih akan pandangan orang-orang sekitar yang tak sengaja melihat perlakuannya pada sang istri.
"Mas malu dilihat orang-orang."
__ADS_1
Bisik Adriana seolah meminta Devin melepaskan lengannya yang masih setia menempel di pinggang ramping Adriana.
"Biarin sama istri sendiri ini, yang masih pacaran juga gak pada punya malu."
Devin justru semakin mengeratkan lengannya, seperti ingin menjaga Adriana sepenuhnya.
"Tante tantikkkkkkk!"
Mata Adriana mencari-cari sumber suara yang ia kenal. Suara anak kecil menggemaskan yang pernah ia temui di rumah Frans.
Anak kecil itu berlari mendekat pada Adriana yang masih berdiri beriringan dengan Devin. Kemudian Adriana berjongkok berusaha mengimbangi tinggi bocah tersebut.
"Rania. . ."
Deg. . .
Hati Devin terasa begitu nyeri mendengar Adriana memanggil nama Rania. Dilihatnya di ujung sana sosok wanita yang begitu modis memandang tajam ke arah Devin tanpa kata. Pandangan mereka beradu walau dari jarak sekitar sepuluh meter.
Hati dan pikiran Devin begitu kalut dihadapkan kembali pada dua wanita yang ia cintai. Harus Devin akui rasa cinta untuk Jesi masih ada walau hanya tersisa sedikit. Terlebih lagi rasa bersalahnya akan kehidupan di masa lalu yang meninggalkan Jesi bersama Rania yang baru pertama kali Devin temui saat ini.
Rania sudah sebesar ini, semakin membuat hati Devin di ujung rasa bersalah.
Maafkan papah nak.
Hati Devin berkata demikian sembari menatap Rania yang sudah berada dalam gendongan Adriana.
••••
__ADS_1