
Cika berdiri di depan panggung yang tingginya hanya sekitar setengah meter saja. Kemudian Cika meraih microphone yang sudah disediakan disana.
"Selamat siang buat semua pengunjung caffe, siang ini aku seneng banget karena sudah kedatangan sahabat yang sudah lama tak berkunjung ke caffe ini. Dia akan sedikit menghibur kita dengan satu buah lagu. Untuk Rana silahkan mainkan lagu buat kita semua."
Gila!
Cika bener-bener maksa untuk tampil menghibur pengunjung caffe di saat hati Adriana tak menentu, disaat hatinya kalut akan rumah tangganya dengan Devin.
Langkah Adriana menuntun ke arah meja piano. Dengan sedikit gugup ia duduk di depan piano yang akan ia mainkan, otaknya berpikir mencari-cari lagu yang pas dengan suasana hatinya saat ini.
Jemari lentik Adriana pelan-pelan menekan papan keyboard, sesaat ia teringat wajah Devin yang sangat ia cintai, namun Adriana juga tak ingin menemui Devin untuk saat ini.
Alunan musik bullet piano begitu terasa mengalun indah beriringan dengan lantunan suara Adriana yang cukup dalam dan berat.
Suara Adriana terasa begitu berbeda saat ia bernyanyi dan bicara.
Dibalik hijabnya orang-orang tak akan mengira bahwa Adriana memiliki genre suara yang cukup berat dan sedikit nge-rock walau dalam alunan lagu akustik.
Aku tak percaya semua ini
ini. . .
Ini yang aku takutkan
Semua hancur tak tersisa
Semua lenyap tak bernyawa
Kalau saja kau tahu terdalamnya isi hatiku
__ADS_1
Akan kau mengerti bahwa ini tak perlu terjadi
Tak bisa. . . ku lanjutkan lagi
tak bisa ku tahan lagi
pergilah
Jangan hanya sedih tapi pikirkanlah mengapa ini terjadi
berulang kali kau hancurkan aku
Kau ludahi aku. . . lagi
(Kerispatih_Kecewa lagi) by Adriana Version
(maaf ya kalo reader ada yang gak tahu lagu ini Heeee)
Suara tepuk tangan begitu riuh terdengar setelah Adriana menundukkan kepalanya untuk mengakhiri nada terakhir yang ia tekan dalam papan keyboard.
Pemandangan yang begitu mempesona dibalik alunan musik dan lagu mellow yang Adriana bawakan, tak terkecuali dengan lelaki tinggi tegap bergaya rambut spike dengan style perlente yang sangat terpesona akan alunan musik Adriana.
Entah siapa laki-laki di sudut sana, yang jelas Adriana tidak tahu kalau dirinya sedang diperhatikan oleh laki-laki itu. Kedua bola matanya tak mau luput dari Adriana.
•••
Devin mematung di sudut teras caffe saat menyaksikan penampilan akustik sang istri.
Hati Devin begitu tersentuh akan lirik lagu yang Adriana nyanyikan.
__ADS_1
Devin tak pernah mengetahui akan hobi Adriana yang satu ini. Selain kesibukan sang istri yang menyukai desain, ternyata ada kemampuan lain yang Adriana miliki.
Adriana turun dari panggung menuju meja caffe yang ia duduki bersama Cika tadi, matanya terperangah menemukan sosok Devin yang sudah berdiri disana menunggunya.
"Kita harus bicara"
Ungkap Devin dengan tatapan serius yang hanya tertuju pada Adriana.
"Untuk apa?"
Adriana hanya menanggapi ucapan Devin dengan nada cuek.
"Jangan disini. Ayo kita pulang!"
Devin menarik pergelangan tangan istrinya dengan paksa. Ia tak ingin membuat keributan di tempat umum seperti ini, begitupun dengan Adriana yang tak ingin kekacauan rumah tangganya diketahui oleh orang lain.
Adriana menuruti perintah Devin memasuki mobil sang suami.
"Mobil kamu biar nanti Anjar yang bawa ke rumah"
Saran Devin yang tak ingin istrinya mengemudikan mobil sendiri.
Anjar adalah supir pribadi ayah Devin. Biarkan untuk masalah mobil Devin serahkan pada Anjar.
Di dalam mobil Adriana hanya diam, sedikitpun tak menatap ke arah suaminya.
Perasaan Adriana masih terasa hancur akan kemesraan Devin bersama Jesi.
Pandangan mata Adriana hanya tertuju pada jendela di samping kirinya. Adriana hanya menatap kosong jalanan yang ia lalui sepanjang perjalanan.
__ADS_1
Devin masih tak berani angkat bicara, batinnya ingin sekali menjelaskan apa yang telah terjadi, namun Devin urungkan. Biar nanti sesampainya di rumah Devin jelaskan semua kesalah pahaman yang telah terjadi tadi siang di kantornya.
••••