
"Sayang... Pakein dasinya."
Teriakan Tegar mengejutkan Rana yang masih sibuk menyiapkan sarapan untuk suami. Sudah menjadi kebiasaan Tegar yang selalu ingin dipakaikan dasi sebelum berangkat kerja.
Rana melangkah neninggalkan dapur untuk mencari keberadaan sang suami. Kelakuan Tegar sungguh seperti anak kecil yang sering merengek rengek di hadapan istrinya. Sikap manja Tegar semakin terlihat di mata Adriana, dan tak pernah terduga sebelumnya oleh Adriana.
"Sini bantuin mas."
Tegar ternyata sudah berdiri di depan meja makan dengan mengaitkan dasi warna abu abu di lehernya.
"Pakein."
Adriana menghela nafasnya melihat sikap manja Tegar yang tidak sesuai dengan tubuhnya yang tinggi atletis.
"Iya iya bawel, sini aku bantuin."
Tegar terkekeh melihat istrinya yang sedang menggerutu akibat tingkahnya. Menurut Tegar sikap Rana terlihat sangat menggemaskan saat ngedumel.
"Mas gak cocok deh dasinya, terlalu polos gini."
"Coba pilihin buat suami tercinta."
Tegar meminta Adriana yang memilihkan, karena Tegar tahu kalau istrinya sangat bawel akan penampilan, tetapi Tegar juga sangat menyukai selera fashion Rana. Memang semua komplain yang dilontarkan Rana perihal fashion sangat cocok menurut Tegar.
"Bentar ya mas aku ambilin dulu di kamar."
Rana segera menaiki anak tangga menuju kamar utama untuk memilihkan dasi yang pas untuk sang suami, lalu dibukanya laci bagian bawah lemari khusus tempat dasi milik Tegar.
"Hmmm ini nih cocok warna navy dengan sedikit motif, pas sama kemeja mas Tegar."
Bisik Adriana sendirian di dalam kamar.
Tegar yang mengenakan kemeja warna navy polos dengan paduan celana kain abu tua slimfit sangat pas dengan dasi yang Rana pilihkan.
Baru saja Rana bagkit dari jongkoknya setelah mengambil dasi di laci bawah, tiba tiba notifikasi pesan di handphone milik Adriana berdering, dengan cepat Rana mengambil ponsel yang terletak di atas nakas. Adriana berpikir kalau pesan itu mungkin saja karyawan hotel yang ada kepentingan tertentu dengan Adriana.
__ADS_1
Kemudian Adriana membaca isi pesan whatsapp dengan nomor asing yang belum Rana simpan.
Adriana..
bagaimana kabarmu?
aku merindukanmu.
Isi pesan yang sangat mencurigakan membuat Adriana terkejut saat membacanya. Dalam hati Adriana bertanya tanya siapa yang sudah berani mengirimkan pesan tersebut dengan status Adriana yang telah bersuami.
"Sayang... buruan..."
Teriakan Tegar di bawah membuyarkan lamunan Rana, lalu segera ia pergi meninggalkan handphone di atas nakas.
"Lama banget sih sayang?"
Tegar sudah persis sama dengan emak emak level bawelnya. Makin hari makin terlihat saja sikap Tegar yang belum sepenuhmya diketahui oleh Rana.
"Iya nyari dasinya yang bener bener pas banget sama baju kamu mas, ternyata keselip pas aku cari cari."
"Segitu care-nya ya sama mas."
Tegar tak hentinya menggoda Adriana.
"Udah gak usah tengil, sini Rana pakein dasinya."
Adriana segera meraih kerah baju sang suami untuk menyimpulkan dasi yang sudah dibawanya dari kamar.
"Seneng banget bisa begini sama kamu sayang, dimasakin sama kamu, disiapin sarapan, disiapin makan, dibuatin kopi dan yang paling lebih seneng lagi bobonya ada yang nemenin sekarang."
Disela sela saat Rana memakaikan dasi, suaminya mengoceh, meluapkan rasa syukurnya yang sudah menemukan tambatan hati.
"Iya bawel... Udah selesai, ayo sarapan."
Adriana menyelesaikan tugasnya, lalu mengajak Tegar untuk segera mengisi perutnya sebelum berangkat ke kantor.
__ADS_1
"Ciumnya mana?"
Hal yang sudah menjadi tuntutan Tegar jika saat selesai menyimpulkan dasi, Adriana harus mencium pipi kanannya, dan kali ini Rana lupa akibat pesan whatsapp misterius itu, membuatnya kehilangan fokus.
"Eh iya."
dan Cupppp.
Adriana mengecup pipi kanan Tegar sesaat, kemudian ia berlari menuju dapur untuk membawa menu sarapan nasi goreng seafood yang sudah Adriana buat untuk suami tercintanya.
"Sayang nanti sore mas mau ajak kamu ke dokter kandungan, mas pengen ngecek kondisi kamu sayang. Biar kita cepet cepet punya momongan."
Adriana senang mendengar ajakan suaminya, namun ada sedikit rasa sedih yang tersirat, mengingatkan peristiwa pengangkatan janin dalam kandungannya.
"Sayang kok sedih?"
Tegar dengan mudah membaca raut wajah istrinya.
"Ngga kok mas, aku hanya sedikit takut."
Dengan cepat Tegar menggenggam jemari Rana memberikan kekuatan untuk sang istri.
"Mas ngerti kamu pasti sedih dengan kejadian dulu, makanya mas mau ajak kamu ke dokter kandungan, agar rasa sedih itu segera hilang. Kita harus berdoa dan berusaha sayang, semoga diberikan momongan dalam waktu dekat. Tentunya itu akan mengobati rasa trauma kamu dulu."
Tegar begitu mengerti apa yang dirasakan oleh Rana.
"Iya mas... Nanti sore kita ke dokter."
Akhirnya Adriana menuruti permintaan Tegar
"Ya udah nanti mas jemput di Larasati`s View ya."
Adriana menganggukkan kepalanya menerima tawaran Tegar yang akan menjemputnya di hotel milik Adriana yang baru di Jakarta. Hotel milik Adriana masih tetap dengan nama yang sama, hanya saja desain hotel yang masih perlu Adriana rombak kembali.
••••
__ADS_1
Jangan lupa vote ya my lovely reader 😘