Takdir Kedua Adriana

Takdir Kedua Adriana
Mulai berubah


__ADS_3

Pukul sebelas malam Devin pulang, matanya menatap suasana rumah yang begitu sepi. Langkah Devin langsung menuju kamar utama, lalu dilihatnya sang istri sudah terlelap tidur.


Hati Devin begitu merasa bersalah setelah apa yang telah dirinya lakukan bersama Jesi di apartemen.


Masih terlintas bayangan kejadian panas bersama Jesi yang berujung pada aktivitas hubungan suami istri.


Hati Devin begitu nyeri menatap wajah ayu Adriana. Dibelainya lembut puncak kepala Adriana, kemudian Devin mengecup kening Adriana, itu seolah bentuk permintaan maaf atas apa yang sudah dilakukannya bersama Jesi.


Sebuah penghianatan telah Devin lakukan. Entah kenapa imannya begitu lemah jika ia dihadapkan dengan Jesi, seakan melupakan istri yang selalu melayaninya dengan baik. Mulai dari segala kebutuhan lahir maupun batin, semuanya Adriana penuhi untuk Devin.


Walau Devin tahu Adriana adalah wanita yang sangat semangat dalam berkarir tapi sedikitpun ia tak melupakan tanggung jawabnya sebagai istri.


Bisikan setan yang sudah menyelimuti pikiran Devin. Setelah aktivitas ranjangnya bersama Jesi, akhirnya Devin menyetujui permintaan Jesi untuk dinikahi secara sirih.


Memang benar jika sebagian orang mengatakan sebelum pernikahan gairah akan nafsu semakin meningkat karena ada setan yang terus menggoda, seperti ingin melakukanya lagi dan lagi. Begitulah perasaan Devin sekarang terhadap Jesi.


Devin melepaskan bajunya lalu berjalan ke kamar mandi, ia mengganti pakaiannya seusai mandi, kemudian berbaring di samping Adriana.


Devin memeluk tubuh Adriana dengan pikiran menerawang. Di satu sisi Devin sangat mencintai Adriana, namun di sisi lain ia ingin bertanggung jawab akan kehidupan Rania, akan kesalahannya dulu pada Jesi.


Sementara Jesi mengisyaratkan hal yang tak mudah bagi Devin. Jika Devin tidak segera menikah sirih dengannya maka selamanya Devin tidak akan bisa bertemu dengan Rania. Ancaman Jesi kali ini sungguh tidak main-main.


Lelah berpikir membuat Devin merasa kantuk, dan akhirnya pria itu terlelap tidur dengan tangan yang masih memeluk erat tubuh Adriana.


Biarlah semua kejadian malam ini hanya Devin yang tahu, walau sebenarnya rasa malu dan bersalah menyimuti lubuk hati kecilnya.


•••


Pagi ini hati Adriana merasa lega setelah mengetahui Devin sudah pulang. Walaupun Adriana tidak tahu jam berapa kepulangan Devin, setidaknya hatinya merasa tenang kalau suaminya sudah pulang dengan selamat.

__ADS_1


Tangan Adriana dengan cekatan menyiapkan sarapan sebelum berangkat ke kantor.


Kehadiran mbok Yum tidak merubah perlakuan Adriana terhadap Devin. Adriana tetap setia memasak sendiri menu makanan untuk Devin, biar mbok Yum yang bertugas mengurus rumah untuk bersih-bersih dan mencuci pakaian, dan untuk urusan dapur mbok Yum hanya membantu saja karena Adriana sangat ahli dalam urusan memasak.


Devin sudah terlihat rapi dengan kemeja serta dasi yang sudah menempel rapi. Tak biasanya Devin memakai dasi sendiri, biasanya Devin akan berteriak manja meminta Adriana yang memakaikannya.


"Mas sarapan dulu."


Tawar Adriana sambil membawa beberapa piring hidangannya.


"Iya sayang."


Sahut Devin sambil menuruni anak tangga.


Devin pun duduk di meja makan, lalu Adriana dengan sigap menyiapkan menu sarapan nasi goreng sea food kesukaan Devin.


Ucap Devin sambil menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Pelan-pelan mas makannya."


Protes Adriana yang tidak ingin melihat Devin tersedak.


"Asli enak banget. Sini sayang cicipin coba."


Devin memaksa Adriana membuka mulut untuk menyuapkan nasi goreng.


"Ah biasa aja. "


Menurut Adriana masakannya terasa biasa saja. Mungkin karena akhir-akhir ini nafsu makannya sedikit berkurang setelah Adriana dinyatakan hamil oleh dokter Chandra.

__ADS_1


"Oya sayang mas minta maaf semalam pulang larut."


Ternyata Devin masih ingat untuk meminta maaf pada Adriana.


"Iya gak papa mas, aku ngerti. Asal mas jaga kesehatan ya."


Entah bodoh atau terlalu percaya pada Devin, seolah Adriana tidak menangkap gelagat kebohongan dari Devin.


"Terus satu lagi, mas kayanya gak bisa berangkat kerja bareng, soalnya mas gak tahu pulang jam berapa? Akhir-akhir ini kantor lagi sibuk projek sama investor baru. Biar nanti sayang dianter Anjar saja ya? Nanti mas telponin Anjarnya."


Devin semakin pandai saja untuk berbohong. Sebenarnya tidak ada meeting investor ataupun projek baru bersama investor, yang ada saat ini dalam pikirannya hanya bagaimana caranya agar Devin bisa mencuri waktu untuk Jesi dan Rania.


"Ya udah gak papa mas, nanti aku bawa mobil sendiri. Kasihan kalau Anjar nanti bolak-balik dari kantor mas terus ke kantor aku."


Adriana memang selalu bersikap tidak ingin merepotkan orang lain, bahkan sebenarnya Adriana malas jika harus diantar jemput oleh Devin.


Kebiasaan ini sudah dimulai sejak Adriana pulang memeriksakan kandungan bersama Devin, sekitar satu bulan yang lalu. Devin sendiri yang memaksa Adriana untuk tidak menyetir mobil sendiri selama masa kehamilan.


"Tapi sayang..."


"Udah mas gak usah bawel, udah siang buruan berangkat. Kasihan kerjaan udah nunggu di kantor."


Devin pun segera bangkit dari kursi meja makan, lalu bersiap mengambil tas dan kunci mobil yang sudah Adriana siapkan.


"Makasih sayang. Mas berangkat ya, Assalamualaikum."


Devin beranjak sembari mengecup pipi mulus Adriana. Sementara Adriana masih mematung di meja makan. Tiba-tiba saja terlintas perasaan yang tidak enak mengusik hatinya, namun segera Adriana tepis, kemudian Adriana bergegas untuk berangkat ke kantor.


••••

__ADS_1


__ADS_2