Takdir Kedua Adriana

Takdir Kedua Adriana
Handphone yang tertinggal part 2


__ADS_3

Chandra mencari-cari alamat rumah Adriana yang sudah ia cek berdasarkan data pasien. Sayangnya alamat yang tercantum di data pasien masih alamat rumah Devin yang baru saja satu minggu ini Adriana tinggalkan.


Matanya mencari-cari jalan yang tertulis dalam data pasien. Saat memasuki kawasan perumahan yang cukup elit Chandra menanyakan pada warga komplek, sampai akhirnya mobil milik Chandra berhenti di depan rumah berpagar hitam. Kemudian Chandra menekan bel di samping pagar rumah tersebut, hingga akgirnya muncul sosok wanita paruh baya datang membukakan pagar rumah.


"Assalamualaikum bu, apa benar ini kediaman ibu Adriana?"


Rupanya Chandra bertanya pada mbok Yum.


"Iya benar Pak, ada apa ya pak?"


Mbok Yum membenarkan pertanyaan Chandra walau sebenarnya Adriana sudah tidak tinggal di rumah mewah Devin.


"Saya dokter spesialis kandungan ibu Adriana, tadi sore ibu Adriana datang ke rumah sakit untuk mengecek kandungan dan handphone ibu Adriana tertinggal di meja saya bu."


Chandra menyampaikan maksud dan tujuannya mencari Adriana pada mbok Yum. Wanita paruh baya itu kebingungan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Chandra.


"Apa ibu Adriana ada bu?"


Chandra kembali menegaskan pertanyaannya pada mbok Yum.


"Emmm, emmm anu. . ."


Mbok yum sedikit terbata-bata di hadapan Chandra.


"Bapak masuk saja dulu, kita ngobrol di teras ya."


Mbok Yum merasa tidak enak jika harus mengobrol dengan posisi berdiri di depan pagar rumah.


"Jadi begini Pak, non Adriana sudah satu minggu ini tidak tinggal di rumah ini lagi. Sepertinya non Adriana kembali ke rumah orang tuanya."

__ADS_1


Mbok Yum menceritakan yang sebenarnya terjadi pada Adriana. Walaupun mbok Yum takut kalau tuannya mengetahui apa yang sudah diceritakannya pada Chandra, tapi mbok Yum sudah tidak ada pilihan lain.


"Bersama pak Devin?"


Chandra masih ingin memastikan penjelasan mbok Yum.


"Tidak pak, non Adriana pulang sendiri setelah bertengkar dengan tuan malam-malam. Begini saja Pak, saya beri alamat rumahnya saja ya. Si non pasti sangat butuh handphonenya, soalnya handphone non Adriana sibuk terus dengan urusan kerjanya."


Hati Chandra semakin bertanya-tanya, ingin sekali Chandra  menanyakan pada mbok Yum untuk bercerita lebih, tapi niatnya ia urungkan. Chandra tidak mau menjadi orang yang ikut campur dalam urusan rumah tangga orang lain.


Mbok Yum beranjak dari duduknya dna memasuki rumah untuk menuliskan alamat rumah Adriana. Mbok Yum pernah diajak oleh Adriana untuk berkunjung ke rumahnya sehingga mbok Yum masih ingat alamat rumah Adriana.


"Terimakasih ya bu sudah mau ngasih alamatnya."


Ujar Chandra setelah menerima secarik kertas berisikan alamat dari mbok Yum.


"Sama-sama pak dokter. Tolong sampaikan salam saya untuk Non Adriana, bilang pada si non kalau mbok Yum sangat merindukan non Adriana."


"Baik bu akan saya sampaikan."


Chandra pun berlalu meninggalkan Mbok Yum untuk segera menuju alamat yang sudah mbok Yum berikan padanya.


•••


Sekitar setengah jam perjalanan Chandra sudah sampai di rumah Adriana. Hati Chandra merasa sedikit gugup untuk menemui pasien satu ini. Chandra gugup karena akan bertemu dengan Adriana bukan di ruang prakteknya, melainkan bertamu ke rumahnya. Dalam lubuk hati Chandra ada perasaan senang dan khawatir.


Chandra merasa senang akan bertemu dengan Adriana di jam santai tanpa urusannya sebagai dokter dan pasien. Akan tetapi ia juga  khawatir jika Devin tahu, sudah dipastikan pria itu akan mengira yang tidak-tidak.


"Dokter Chandra ada apa ya?"

__ADS_1


Adriana terkejut melihat sosok dokter kandungannya kini berdiri di teras rumahnya.


"Saya cuma mau mengantarkan handphone ibu Adriana yang tertinggal di meja praktek saya."


Chandra menyerahkan handphone milik Adriana, dan Adriana masih belum menyadari kalau handphonenya tertinggal.


"Ya Allah... Saya gak tahu dok kalau hp saya ketinggalan. Makasih banget ya dok udah mau repot-repot nganterin ke rumah."


Chandra hanya tersenyum melihat reaksi Adriana yang begitu menggemaskan menurutnya.


"Oya dari mana dokter tahu rumah saya?"


Tanya Adriana yang sedikit heran.


"Saya lihat dari data pasien, jadi saya datang ke rumah pak Devin, tapi kata asisten rumah tangga disana bilang kalau ibu Adriana udah gak tinggal disana lagi, lalu ngasih alamat kesini."


Ahhhh. . . itu pasti mbok Yum.


Batin Adriana mengatakan demikian. Adriana pun sangat merindukan mbok Yum.


"Mbok Yum. . ."


Gumam Adriana lirih dengan raut mata yang menyedihkan.


"Oya tadi juga mbok nitip salam buat ibu Adriana. Sepertinya dia kangen banget sama ibu Adriana."


Pesan mbok Yum sudah Chandra sampaikan, dan itu membuat hati Adriana sedikit mencelos. Tiba-tiba Adriana teringat masa-masa indah saat tinggal di rumah Devin.


Sesaat teringat masa bahagia bersama Devin dan mbok Yum. Kenangan itu sangat terasa menyesakkan hati Adriana, membuat kepala Adriana terasa pening, kram di perutnya pun  kembali terasa. Kaki Adriana tak sanggup lagi menopang tubuhnya, tiba-tiba tubuh Adriana oleng dan jatuh dalam pelukan Chandra. Dengan sigap Chandra merengkuh tubuh Adriana dan merasa khawatir akan kondisi Adriana.

__ADS_1


Tanpa Chandra sadari sosok laki-laki tinggi dan berwajah tampan dengan jambang tipis menyaksikan kejadian dimana Adriana jatuh dalam pelukan Chandra. Walau kondisi Adriana sudah oleng tapi mata Adriana masih dapat melihat jelas siapa laki-laki yang tengah berdiri di ujung gerbang rumah miliknya.


••••


__ADS_2