Takdir Kedua Adriana

Takdir Kedua Adriana
Obsesi Lena


__ADS_3

Lena masih berada di sudut caffe, kedua bola matanya masih menatap sepasang suami istri yang tengah menikmati momen bahagia.


Terlihat jelas tatapan Tegar yang penuh cinta hanya untuk Adriana, bukan untuk wanita manapun. Apalagi untuk Lena yang hanya Tegar anggap seorang teman biasa.


Namun, itu semua terasa begitu menyakitkan hati Lena. Bahkan Lena sudah kehilangan harga diri di hadapan Tegar dengan meminta untuk menjadi madu Tegar, Lena rela berbagi dengan Adriana.


Ponsel milik Tegar berdering menampilkan nama Bryan di sana, sepertinya Bryan akan bertanya perihal pekerjaan pada Tegar.


"Sayang sebentar ya, ada telpon dari Bryan. Paling urusan audit yang akan datang ke kantor pusat." tutur Tegar memohon izin pada Adriana.


"Iya Mas, jangan lama lama ya." ucap Adriana sedikit merajuk manja pada suaminya.


"Nggak kok, paling Bryan mau nanyain data yang Mas simpan. Sekalian ngebahas perubahan beberapa data."


"Kamu jangan kemana mana." ucap Tegar lagi, lalu ia melangkah pergi meninggalkan Adriana yang duduk sendirian.


Sialnya, ini kesempatan bagi Lena untuk mengintimidasi Adriana.


"Hai." Lena menyapa Adriana.


Lena nampak tidak tahu malu, ia langsung duduk di kursi bekas Tegar. Sementara Adriana hanya mampu menatap Lena sesaat dengan raut wajah datar. Batin Adriana sudah tidak suka akan kehadiran Lena.


"Aku tahu apa yang menyebabkan kamu pergi begitu saja dari rumah Gilang." ucap Lena dengan santai.


Ternyata Lena ingin membahas kejadian itu, kejadian yang membuatnya tidak tahu malu memohon menjadi madu Tegar.


"Kalau kamu tahu, harusnya kamu lebih tahu diri Lena." tukas Adriana dengan wajah masam terhadap Lena.


Nada bicara Adriana pelan, namun tandas, sorot matanya hanya tertuju pada wanita berambut hitam curly.

__ADS_1


"Aku kadang merasa kasihan sama Tegar, hidup ini ternyata tidak adil ya."


Lena memberikan jeda dari ucapannya dengan menyesap secangkir coklat panas milik Tegar. Lena benar benar tidak tahu malu, seolah memperingatkan Adriana bahwa dirinya sudah sangat dekat dengan Tegar.


Adriana masih terdiam, membiarkan Lena melanjutkan kalimatnya.


"Seorang pria single, mapan, ganteng pula, mendapatkan istri seorang janda. Ironisnya jandanya Devin pula. Orang yang pernah membuat sepupu Tegar meninggal."


Lena semakin mengintimidasi, dengan membahas cerita tentang Kiran. Sayangnya, Adriana masih tetap tenang, karena Tegar sudah pernah cerita bagaimana kelakuan Devin pada Kiran.


Bukan maksud Tegar untuk membuat Adriana semakin membenci Devin, hanya saja Tegar ingin memberitahukan bagaimana kejamnya Devin di masa lalu.


Tegar hanya tak ingin Adriana jatuh lagi dalam pesona Devin.


"Bilang saja kalau aku tidak pantas untuk suamiku." ada penekanan di kata suamiku dari bibir Adriana.


"Kalau kamu sadar, memang tidak pantas seorang pria single harus bersanding dengan janda yang sulit memiliki keturunan." Lena kembali memaki status Adriana dulu.


"Saya akui kalau saya pernah gagal di masa lalu, hingga saya pernah menjadi seorang janda. Bahkan saya divonis oleh dokter kalau saya sulit memiliki keturunan. Namun, itu semua tidak membuat diri saya memohon pada suami orang untuk menikahi saya, bahkan mengemis dimadu." tutur Adriana dengan sedikit menyindir tingkah minus Lena.


"Lena Rhaditya, hidupmu terlalu berharga jika harus menjadi yang kedua. Sayang sekali kalau kecantikan, dan kecerdasan yang kamu miliki, kamu rendahkan sendiri dengan menjadi seorang perebut suami orang."


Adriana sengaja menyebut nama lengkap Lena, karena Rhadit juga ikut andil dibalik ambisi Lena.


Kata kata Adriana cukup menohok hati Lena, membuat wajah Lena merah padam, dan tak kuasa ingin menampar wajah Adriana.


Baru saja Lena mengangkat tangannya untuk menghempaskan tamparan di pipi Adriana, tiba-tiba Tegar datang menghalau lengan Lena, lalu menatap Lena penuh ancaman.


"Cukup Lena!" pekik Tegar.

__ADS_1


"Aku tidak pernah menyangka kelakuanmu akan seperti ini, hanya demi mewujudkan obsesimu."


"Jangan coba coba menyentuh Rana-ku, berhentilah mengharapkan cinta dariku." ucapan Tegar terasa pedas di telinga Lena.


"Oh iya, satu hal lagi. Katakan pada ayahmu, jangan pernah lagi memintaku untuk menikahimu. Sudah tidak ada alasan lain lagi tentang keturunan, karena istriku Rana sedang mengandung buah cinta kita. Aku pastikan tidak akan pernah ada yang bisa menggantikan Rana di hatiku, aku harap kamu mengerti Lena."


Nada bicara Tegar cukup tinggi, membuat tatapan semua pengunjung caffe tertuju pada mereka bertiga.


Lena merasa sangat dipermalukan oleh Tegar, lalu ia pergi dengan derai air mata. Lena tak pernah menyangka kalau lelaki sebaik Tegar akan berbuat seperti ini terhadapnya.


"Maafkan Mas, Sayang." bisik Tegar dengan menangkup wajah Adriana.


"Lena sudah keterlaluan." ujar Tegar lagi, lalu ia kembali duduk di samping Adriana.


"Tidak apa apa Mas, aku justru senang." ucap Adriana diiringi senyuman kecil. Sementara Tegar merasa heran dengan senyum Adriana.


"Kok senang?" tanya Tegar dengan mengernyitkan dahi.


"Dari kejadian tadi, aku jadi tahu betul kalau cinta kamu hanya untukku Mas. Terimakasih ya."


Adriana menyeka rambut suaminya yang sedikit acak-acakan sejak kemunculan Lena. Pria itu mencoba menahan emosi terhadap Lena dengan mengacak rambutnya sendiri.


"Tentu, aku tidak mau kondisi psikologis mengganggu tumbuh kembang anak kita di dalam kandunganmu."


Tegar mengusap perut Adriana yang masih rata, lalu membawa Adriana dalam dekapannya, berusaha menenangkan hati sang istri.


Kemudian Tegar memanggil pelayan untuk meminta mengganti minuman miliknya yang sempat diminum oleh Lena.


•••

__ADS_1


Klik like ya guys 😉


__ADS_2