
Kedua bola mata Adriana tanpa henti memandang penuh takjub akan ide ide desainer interior kelas atas. Dari dulu Adriana selalu memimpikan untuk melihat pameran desain yang berkelas seperti ini.
Langkah Adriana biasanya selalu gesit di tiap aktivitas, kini perlahan setapak demi setapak ia melangkah dalam balutan wedges hitam yang mempercantik kakinya.
Adriana sangat menikmati pemandangan miniatur desain di sekeliling stand pameran, sementara Tegar masih setia menemani Adriana.
"Bagus banget ya pamerannya, diluar dugaan." ungkap Adriana yang tak henti memuji pameran desain.
"Kamu sudah cantik, pinter desain pula. Gak kebayang dulu di kantor Vian, pastinya kamu banyak fans." bukannya mengomentari desain yang ada dalam stand pameran, Tegar justru lebih tertarik berkomentar tentang Adriana.
"Ngomonginnya apa responya apa, aneh kamu Mas." kilah Adriana.
Tegar terkejut akan sebutan kamu dari mulut Adriana. Pria itu sangat senang saat mendengar kata kamu dari mulut Adriana, itu artinya Adriana sudah pelan pelan mulai merasa nyaman dengan dirinya.
"Cie... Sekarang udah berani nyebut kamu." pria tampan di samping Adriana semakin gemar menggoda Adriana.
Wajah Adriana tampak begitu merona akibat menahan rasa malu setelah Tegar menggoda dirinya.
Walaupun Adriana sudah pernah menikah, tapi entah kenapa hati Tegar merasakan bahwa Adriana masih terlihat menggemaskan di mata Tegar. Mungkin karena secara usia Tegar lebih tua enam tahun dari Adriana.
"Mulai deh godain terus." ekspresi wajah Adriana berubah. Wanita itu merasa risih dengan godaan Tegar.
"Tegar Prasetya." tiba-tiba suara itu menghentikan obrolan mereka.
"Hai Bro, lama gak kelihatan. Kemana ajah?" sahut Tegar pada sahabat lamanya.
Ternyata pria yang memanggil nama lengkap Tegar adalah sahabat Tegar semasa kuliah dulu.
"Ada juga lo yang kemana ajah? Sepertinya makin sukses ajah bisnis lo."
"Biasa ajah Rey, cuma satu doang yang masih belum sukses."
"Kawin!" seru Rey yang langsung memotong ucapan Tegar.
Seketika membuat mereka berdua tertawa, lalu pandangan Rey tertuju pada Adriana.
"Siapa Bro? Cakep bener." kedua bola mata Rey masih menatap Adriana, pria itu menganga terpana akan paras cantik yang dimiliki Adriana.
__ADS_1
"Rana kenalin, ini Rey sahabatku waktu kuliah." Tegar mencoba memperkenalkan Rey pada Adriana. Pria itu tidak mau mengasingkan Adriana dengan kehidupannya, termasuk dengan cara mengenalkan Adriana pada sahabatnya.
"Adriana." sahut Adriana dengan memberikan senyuman manis untuk Rey.
"Adriana, buka hati untuk Tegar ya. Gue gak tega ngeliat Tegar jomblo terus." celotehan Rey sangat mengejek Tegar.
"Adriana aku pinjem Tegar ya, biasa urusan laki-laki." Rey langsung menarik lengan Tegar yang masih berdiri di samping Adriana, lalu mereka meninggalkan Adriana sendirian di depan stand miniatur desain.
Sebenarnya batin Tegar tak ingin meninggalkan Adriana sendirian, namun Tegar juga tidak ingin mengecewakan Rey.
Entah apa yang akan Rey bicarakan dengan Tegar?
Yang jelas Tegar sudah beranjak bersama Rey, membiarkan Adriana sendirian menikmati pameran desain.
•••
"Tante tantik." jerit seorang anak kecil menggemaskan, meneriakkan panggilan itu tertuju pada Adriana.
Adriana tidak merasa asing akan panggilan tersebut, lalu dilihatnya anak kecil yang sempat ia gendong saat dirinya masih bersama Devin.
"Rania." bibir Adriana refleks menyebutkan nama Rania.
Rania kini memeluk kaki Adriana. Jangkauan lengan Rania hanya mampu sampai itu, lalu diusap-usapkan pipi Rania di kaki Adriana, seolah mengisyaratkan kerinduan.
"Tante tantik Lania kangen." bisik Rania yang masih bersikap manja dengan Adriana.
Walau dengan nada cadel Rania sudah mampu mengungkapkan isi hatinya, membuat Adriana merasa kasihan saat menatap Rania yang tubuhnya tak segembul dulu.
"Tante tantik ayo ke papah sama mamah." ajak Rania.
Rasanya batin Adriana tak kuasa menerima ajakan Rania, tapi jemari kecil milik Rania kini sudah terkait dengan jemari Adriana. Dengan nada merengek Rania membawa Adriana menemui Devin dan Jesi yang sudah melihatnya dari tadi.
Jesi masih tetap seangkuh dulu, sementara Devin masih tak percaya akan bertemu dengan Adriana di Jakarta. Berdasarkan informasi dari orangtuanya, Adriana sudah tidak tinggal di Jakarta lagi setelah kepemilikan hotel Hans serahkan pada Adriana.
Devin masih menatap Adriana dengan semburat kerinduan, terlebih lagi kini Adriana terlihat semakin cantik dan dewasa. Atittude Adriana semakin menyesuaikan usia dan pendidikannya. Sangat jauh berbeda dengan istrinya yang sekarang.
"Apa kabar Adriana?" tanya Devin.
__ADS_1
Belum sempat Rana melangkah lebih jauh Devin sudah mendekati tempat dimana Rana dan Rania berdiri.
Adriana masih sulit untuk bertemu dengan Devin, lidahnya kelu, nafasnya sesak merasakan rasa trauma yang mendalam.
Adriana hanya tertunduk seakan tak sudi lagi untuk melihat wajah mantan suaminya. Menatap Devin hanya akan mengingatkan pada masa lalu pahit yang selalu ingin Adriana tepiskan.
"Baik." sahut Adriana dengan sekuat tenaga berusaha menjawab sapaan Devin.
"Rania sayang, papah Rania udah datang. Sekarang Rania sama papah ya, Tante masih ada urusan." nada bicara Adriana begitu lembut, berusaha memberikan pengertian pada Rania.
Hati Adriana sudah tak kuasa berada dalam situasi seperti ini. Ingin sekali Adriana bergegas pergi sebelum Jesi menghampiri.
Baru saja Adriana melangkahkan kakinya satu langkah.
"Tunggu!" wajah cantik dengan tatapan tajam yang tertuju pada Adriana begitu terlihat mengerikan.
"Kamu ke sini mau menggoda Devin lagi? Pura-pura baik sama Rania." kata-kata Jesi begitu tajam menusuk hati Adriana.
"Jesi, hati hati kamu bicara!" Devin langsung menarik lengan istrinya dengan kasar.
"Kenapa Dev? Kamu masih cinta sama mantan istri kamu." pertanyaan Jesika begitu menekankan kata di bagian mantan istri.
Adriana bungkam tak berkata sepatah katapun, hatinya sudah perih, nafasnya merasakan sesak tak terkira, lidahnya kelu untuk melawan kalimat pedas Jesi.
Tiba-tiba tangan kekar memeluk pundak Adriana dari belakang, seperti tahu bahwa Adriana butuh seseorang yang harus menguatkannya dalam posisi seperti ini.
"Tidak usah khawatir Jesika Fransiska, Adriana sudah lama melupakan suamimu. Keputusan Devin menceraikan Adriana sungguh membuatku berterimakasih, karena Devin kini aku dipertemukan dengan sosok wanita seperti Adriana." ucapan Tegar begitu tegas di hadapan Devin dan juga Jesika.
Mereka berdua tercengang mendengar pengakuan Tegar barusan. Apalagi perusahaan Tegar jauh lebih hebat dibandingkan dengan perusahaan milik Hans dan Frans.
"Jangan mencoba untuk menggoreskan sebuah batu berlian, justru sinarnya akan semakin menyilaukan. Begitupun dengan Adriana, jangan pernah mencoba kembali padanya di saat kamu sudah menyadari betapa berharganya wanita seperti Adriana." ungkap Tegar.
"Tidak akan aku biarkan itu terjadi, Vin" dengan begitu tegas Tegar memperingatkan Devin.
Tatapan kebencian yang mendalam untuk Devin tersirat dari wajah Tegar. Hati Tegar merasa tidak terima kalau wanita pujaan hatinya harus merasakan caci maki dari mulut Jesi lagi.
•••
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak kalian dengan klik like ya guys 😘