
Malam ini Adriana sibuk mengemasi pakaian dan beberapa keperluannya. Adriana akan pergi ke Jakarta untuk melihat pameran desain interior di sebuah hotel yang terletak di daerah Jakarta Barat.
Di saat Adriana sibuk dengan aktivitas packing tiba-tiba dering telpon di ponselnya menghentikan aktivitas Adriana. Nama Tegar terpampang dalam layar ponsel dengan panggilan dalam kontak Mas Tegar Prasetya.
Nama kontak tersebut di rename oleh Tegar sendiri di ponsel Adriana saat Tegar mendatangi ruang kerjanya beberapa hari lalu.
Waktu itu Tegar memaksa Adriana untuk saling bertukar kontak nomor handphone, mengingat permintaan Adriana yang ingin saling mengenal terlebih dahulu.
Entah apa nama kontak Adriana dalam ponsel Tegar, ia tak ingin mempermasalahkan hal itu.
"Assalamualaikum Mas Tegar." sahut Adriana menjawab telpon dengan nada begitu lembut dan sopan. Laki-laki di seberang sana tak hentinya melengkungkan senyum di bibirnya.
"Walaikumsalam jodoh." mendengar jawaban Tegar membuat Adriana terkekeh.
"Besok Rana jadi ke Jakarta kan?" tanya Tegar ingin memastikan kehadiran Adriana di pameran desain.
"Insyaallah jadi Mas, aku lagi packing semua keperluan buat besok."
"Mau aku jemput gak berangkatnya?" Tegar menawarkan perhatian yang jarang sekali ia tawarkan pada wanita manapun.
Apalagi Jakarta Bandung dengan jarak tempuh yang lumayan menguras tenaga, rasanya tidak akan Tegar lakukan kalau bukan karena wanita yang benar benar telah menyentuh hatinya.
"Gak usah Mas, aku bisa sendiri." ucap Adriana yang tidak ingin merepotkan Tegar. Namun, Tiba-tiba saja terdengar suara helaan nafas dibalik handphone milik Tegar. Helaan nafas yang mengartikan kekecewaan.
"Rana jangan terlalu mandiri jadi perempuan. Kalau kamu terlalu mandiri, nanti aku kelak jadi suamimu sama sekali gak ada peran apa apa dong."
Adriana tertawa mendengar protes dari Tegar.
"Aku sudah biasa Mas Tegar bolak balik Bandung Jakarta sendirian."
Kilah Adriana yang masih enggan dengan kebaikan Tegar.
"Pokoknya mulai sekarang kamu juga harus dibiasain bolak-balik Jakarta Bandung sama aku. Besok aku jemput ya, plissssss."
Tegar memohon pada Adriana dengan rengekan yang terdengar seperti anak kecil.
__ADS_1
"Jangan tolak aku Rana, aggap saja perjalanan Bandung Jakarta adalah proses buat kita untuk bisa saling mengenal. Walaupun aku pribadi sudah tahu kamu, tapi aku mohon sama kamu berikan kesempatan untukku, agar kamu lebih mengenalku Rana."
Penuturan Tegar membuat hati Adriana sedikit terenyuh dan merasa tidak tega akan lelaki yang sudah dengan tegas melamarnya.
"Baiklah Mas Tegar, Rana terima kebaikannya."
Mendengar persetujuan Rana barusan membuat Tegar menghentakkan tangannya seperti anak kecil yang dituruti oleh orangtuanya lalu mengatakan YES!
"Oke, see you Jodoh." ujar Tegar yang masih kegirangan.
"Ya udah Mas aku lanjutin dulu ya packingnya."
"Iya sayang. Assalamualaikum."
Adriana terkejut mendengar panggilan sayang dari Tegar, rasanya cukup aneh tapi menggelitik hatinya, membuat air muka Adriana merona bagai kepiting rebus.
"Walaikum salam Mas Tegar."
•••
Selepas solat subuh Tegar melajukan mobil mewahnya menuju kota kembang Bandung, ia bersiap menjemput wanita yang sudah beberapa bulan ini mengisi hatinya.
Tegar mengetuk pintu rumah Adriana dan menampilkan sosok wanita bertubuh ramping mengenakan rok plisket, sama persis style yang Tegar lihat dalam akun instagram milik Adriana.
"Are you ready sweety?" tanya Tegar pada Adriana, pria itu memperlakuan Adriana sudah seperti seorang kekasih.
Di masa pendekatan ini Tegar tidak ingin menyiakan kesempatan bersama Adriana. Hati Tegar sudah setulus tulusnya untuk Adriana, apapun akan ia lakukan untuk pujaan hatinya.
Adriana hanya menganggukan kepala dengan senyuman terbaiknya untuk Tegar. Rasanya, semakin meleleh saja laki-laki berlesung pipit itu di depan Adriana.
Tegar segera membawa tas packing milik Adriana, lalu memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Tegar pun dengan antusias menjaga Adriana, kemudian tangannya meraih pintu mobil di sebelah kiri untuk mempersilahkan Adriana duduk di kursi penumpang di samping kemudi.
"Mas Tegar terlalu berlebihan."
Adriana yang diperlakukan seperti itu merasa canggung dan sedikit tidak nyaman.
__ADS_1
Walau dulu Devin juga memperlakukan hal yang sama untuknya, tapi entah kenapa perasaan Adriana jauh berbeda.
Bersama Tegar seolah Adriana merasa tenang. Perhatian yang Tegar berikan pelan pelan mulai menyentuh hatinya, akan tetapi luka kelam bersama Devin masih terbayang.
Adriana terlalu takut untuk memulai kisah cinta lagi. Adriana hanya tidak ingin menjadikan Tegar sebagai pelariannya, namun di sisi lain Adriana mulai merasa nyaman akan perlakuan Tegar padanya.
Bersama Tegar Adriana merasa jauh lebih santai, mungkin karena Tegar bisa menjadi sosok teman yang begitu asyik dengan seringai canda tawa yang Tegar berikan.
Sebenarnya Tegar adalah sosok laki-laki yang tegas dan keras. Gaya kepemimpinan Tegar di kantor jauh berbeda dengan Vian, mantan bos Adriana dulu. Tapi entah kenapa di hadapan Adriana Tegar jauh lebih hangat sikapnya.
Perjalanan menuju Jakarta sudah berjalan sekitar dua jam. Sesekali mereka bercerita tentang masa masa kuliah, bahkan sampai soal pekerjaan tak sungkan mereka bagi. Hanya saja tema pembahasan Tegar sama sekali tak ingin menyentuh tentang masa lalu Adriana.
Tiba-tiba handphone milik Tegar berdering dan menampakkan panggilan dari sahabatnya Bryan.
"Apa lo? Ganggu ajah orang lagi pacaran." seru Tegar yang masih berusaha mengimbangi konsentrasi kemudi. Batinnya sedikit kesal akan panggilan dari Bryan.
"Dimana lo?" tanya Bryan yang sudah memasuki ruang kerja milik Tegar.
"Di tol, udah jalan menuju Jakarta."
"Parah lo Gar, gue di sini sibuk, lo malah enak enak pacaran." umpat Bryan yang tak habis pikir akan sikap sahabatnya.
"Bilang pada semua divisi kalau gue ada meeting dua hari."
Ucapan terakhir di telpon menghentakkan Adriana yang merasa tidak enak. Hanya demi menjemput dirinya, Tegar sampai meninggalkan semua aktivitas di kantor.
"Mas Tegar, apa Mas ninggalin urusan kantor? Hanya buat jemput aku." Adriana memberanikan diri untuk bertanya karena merasa tidak enak.
"Iya, semuanya demi kamu, apapun akan aku lakukan untukmu Rana."
Dengan tatapan yang masih fokus menatap jalan Tegar menjawab pertanyaan Adriana.
Adriana hanya menghela nafasnya dalam. Hatinya mengatakan betapa seriusnya cinta Tegar untuknya.
Ya Rabb...
__ADS_1
Aku tak sanggup jika harus menyakiti lelaki sebaik Tegar.
••••