
Di pagi hari masih tetap seperti biasa, Adriana masih setia menyiapkan menu sarapan kesukaan Devin, yaitu nasi putih dengan telor dadar dan tahu goreng kering yang dicocol kecap dengan campuran irisan cabe dan bawang merah. Semua menu tersebut sudah terhidang di meja makan, yang berbeda hanyalah ibadah solat subuh yang biasa mereka lakukan berjamaah, kini Adriana tidak membangunkan suaminya. Adriana lebih dulu melaksanakan shollat subuhnya sendirian.
Devin datang menuruni anak tangga, mencari-cari keberadaan istrinya. Langkahnya menyusur menuju dapur, namun tidak ia temukan. Sementara meja makan sudah penuh dengan menu sarapan kesukaannya. Jauh dalam lubuk hati Devin menduga bahwa suasana hati Adriana pasti sudah jauh lebih baik.
Kaki jenjang nan kokoh itu kini melenggang menuju ruang TV, namun tetap tak ada Adriana disana. Padahal selepas mandi Devin ingin mengajak istrinya untuk menikmati sarapan bersama.
Devin mulai panik, lalu ia berlari menuju garasi mobil, dan benar saja mobil milik Adriana sudah tak ada. Adriana sudah pergi lebih dulu tanpa pamit padanya. Hati Devin begitu kecewa, lalu langkah Devin kembali memasuki ruang tengah dan menuju meja makan. Perut Devin sudah terasa lapar, tapi sebelum sampai di meja makan tiba-tiba Devin melihat secarik kertas tergeletak di meja makan yang tak sempat ia lihat tadi.
Mas aku berangkat ke kantor duluan Maaf kalau aku gak pamit
Menu sarapan sudah siap
Jangan cari aku kalau aku pulang larut
Aku bisa jaga diri baik-baik.
Seketika hati Devin kecewa akan perubahan sikap Adriana yang masih belum mau memaafkan perbuatannya. Dengan pandangan kosong Devin melahap menu sarapan yang sudah tersaji di meja makan, sementara pikirannya tetap memikirkan sikap Adriana yang mulai berubah terhadap dirinya setelah kejadian kemarin bersama Jesi.
•••
__ADS_1
Suasana kantor Permata Gallery begitu ramai dengan kesibukan masing-masing divisi, tak terkecuali dengan Adriana yang dari pagi sudah disibukkan dengan berbagai kegiatan pengecekan segala kebutuhan yang akan ia aplikasikan dari desainnya.
Langkahnya berjalan kesana kemari mengecek berbagai kebutuhan property ke masing-masing penanggung jawab divisi.
Adriana sempat merasakan lelah disela-sela aktivitas. Hanya dengan kesibukkan inilah Adriana bisa sedikit melupakan persoalan rumah tangganya.
Adriana tak ingin larut dalam kesedihan yang menghujam rumah tangganya. Rasa pening dan mual selalu ia kesampingkan demi deadline projek yang harus segera terealisasi sesuai target perusahaan yang telah diberikan terhadap Adriana.
Termasuk projek wisata yang Pak Frans berikan, dan cukup menguras tenaga, mengingat property yang dibutuhkan akan sedikit sulit karena berbeda dengan desain-desain minimalis interior yang biasa Adriana tangani.
"Dika gue lama-lama stres mikirin projek besar yang Pak Frans berikan kepada kita."
Dika adalah staff yang akan bertanggung jawab dalam kebutuhan material desain.
"Iya juga Dri. Secara ini projek first time kita nanganin wisata wahana air begini. Kita harus pinter nyari beberapa suplier property juga."
Penuturan Dika semakin membuat Adriana menghela nafasnya dalam, sedikit tak percaya diri.
"Pokoknya sampai closing akhir bulan ini gue pengen semuanya udah beres, minimalnya desain dan kebutuhan material sudah siap. Semoga saja pak Frans gak minta perubahan desain ke gue."
__ADS_1
Ucapan Adriana seolah menekan Dika untuk sama-sama berjuang lebih keras lagi.
Tiba-tiba dering notifikasi whatsapp terdengar dari handphone Adriana. Nama Devin pun terpampang disana.
:: Udah waktunya makan siang, mas jemput ya sayang, kita makan siang bareng.
😉 ::
Dalam hati Adriana sejak kapan Devin bisa menyempatkan dirinya untuk makan siang bersama disela-sela aktivitas kerjanya. Kalaupun memang Devin mengajaknya selalu ia tolak dengan alasan kesibukannya di kantor.
Adriana tak membalas pesan sang suami, hatinya masih kesal akan Devin.
Makan siang bareng ajah sana sama Jesika.
Ingin sekali Adriana kirimkan kalimat tersebut untuk membalas pesan Devin, namun ia urungkan.
Adriana tak ingin tenggelam dalam emosinya, yang Adriana butuhkan saat ini hanyalah profesional kerja yang harus tetap ia jaga.
Adriana juga tak ingin semua masalanya terbawa di lingkungan kerja. Itulah prinsip Adriana selama mengenal dunia kerja.
__ADS_1
••••