
Sesampainya di rumah, Devin tak kuasa melihat wajah Rania yang sudah bersimbah darah segar yang mengalir dari kepalanya. Tubuh putri kesayangannya terkulai lemah dan masih berada di pangkuan mbok Yum.
Devin dengan sigap membawa Rania menuju rumah sakit terdekat, hatinya merasakan perih tak terkira menyaksikan putri kesayangannya tak sadarkan diri.
Sesampainya di rumah sakit Rania berada di ruang ICU, kondisinya kritis kehilangan banyak darah akibat benturan hebat di kepalanya.
Devin dan mbok Yum masih dirundung rasa gelisah di depan ruang ICU.
"Tuan semua salah mbok. Andai saja mbok tidak pergi ke dapur membuatkan susu untuk non kecil, pasti kondisi non kecil gak akan seperti ini."
Mbok Yum merasa menyesal atas apa yang telah terjadi pada Rania.
"Mbok tenang mbok, mbok gak salah, yang kita perlukan saat ini berdoa untuk kesembuhan Rania dan menunggu hasil permeriksaan medis."
Devin tidak mau menyalahkan sepenuhnya pada mbok Yum. Devin masih tak habis pikir, kemana Jesi? Harusnya istrinya menjaga Rania dengan baik.
"Jesi kamu kemana sih?"
Keluh Devin mulai geram saat dirinya mencoba menelpon Jesi berkali kali namun tak kunjung ada jawaban.
"Jesi pergi kemana mbok?"
"Mbok gak tahu tuan, nyonya gak bilang apapun sama mbok."
Devin menghela nafasnya dalam, akhirnya Devin memutuskan untuk mengirim pesan whatsapp untuk Jesi.
__ADS_1
:: Kamu dimana?
Rania jatuh dari tangga, sekarang masuk ICU. ::
Setelah mengirimkan pesan untuk Jesi, dokter pun keluar dari ruang ICU.
"Dok, bagaiamana kondisi anak saya?"
Devin segera menghampiri dokter.
"Putri bapak mengalami pendarahan di bagian otak kiri, dan cukup serius. Harus segera dilakukan operasi untuk mengurangi gumpalan darah di bagian otak kirinya, dan kita membutuhkan donor darah untuk pasien, mengingat golongan darah AB yang sudah kehabisan di stok rumah sakit dan PMI."
Deggg
Pernyataan dokter barusan seakan menusuk hati Devin yang menyatakan bahwa Rania membutuhkan golongan darah AB, mengingat golongan darah Devin adalah O, sedangkan Jesi bergolongan darah A.
Devin terduduk lemas di kursi rumah sakit, bukan hanya memikirkan tentang keselamatan Rania, tetapi otaknya berpikir keras siapa ayah Rania sebenarnya?
"Tuhan... Pelan pelan Engkau sedang menghukum aku."
Gumam Devin lirih dengan mengusap wajahnya merasakan kekecewaan yang mendalam.
Satu bukti nyata bahwa Rania bukanlah anak kandungnya dengan Jesim
"Tuan, tuan Devin kenapa?"
__ADS_1
Mbok Yum merasakan keanehan pada majikannya yang sedang dirundung rasa penyesalan.
"Mbok, apa ini karma untukku akan perbuatanku pada Adriana?"
Mbok Yum masih tak mengerti akan penuturan Devin, namun yang ia tahu hati Devin kini semakin merasakan kerinduan pada majikan perempuannya yang dulu.
"Tuan Devin jangan berpikir terlalu jauh, lebih baik kita selamatkan dulu kondisi non Rania. Dokter bilang non Rania butuh golongan darah AB untuk proses operasinya."
Mbok Yum berusaha menenangkan Devin. Hati Devin sudah tidak menentu memikirkan keselamatan Rania, dan penghianatan yang telah dilakukan oleh Jesi. Kenyataannya selama ini Jesi sudah berbohong.
"Pembantu gak becus!"
Pipi mbok Yum merasakan tamparan yang begitu keras. Jesi datang langsung menyalahkan mbok Yum dan menampar mbok Yum.
"Jesi! Keterlaluan kamu sama orang tua."
Devin segera meraih tangan Jesi dengan kasar, setelah menyaksikan perlakuan istrinya pada mbok Yum.
"Gara gara dia sayang Rania masuk rumah sakit!"
Jesi masih menyalahkan mbok Yum.
"Bukan mbok Yum yang salah tapi kamu yang gak becus jadi ibu. Kemana peran kamu sebagai ibu? Atau jangan jangan Rania bukan anak kamu, jadi seenaknya kamu tinggalin saat aku gak ada di rumah."
Nada bicara Devin tidak begitu tinggi namun cukup membuat Jesi terhentak di kalimat terakhir.
__ADS_1
••••
Happy reading reader 😘