
Banner yang besar seketika muncul mengejutkan Risa. Terlebih setelah dia membaca tulisan yang tertera di sana. Mulutnya menganga lebar karena saking kagetnya.
" Mas, aku lagi gak mimpi kan? ". Tanya Risa sambil mencubit lengan suaminya itu hingga membuat Kevin meringis kesakitan.
" Aww, sakit Ris". kevin mengelus lengannya yang tadi di cubit Risa.
" Eeh, maaf mas. Aku hanya mau memastikan aja ini mimpi atau tidak. Sakit banget ya." Jawab Risa merasa bersalah.
" Lagian ya Ris, orang itu kalau mau tahu mimpi atau enggaknya cubit diri sendiri. Lah ini kamu malah nyubit orang."
" Refleks mas. Hehehe.. " Risa tertawa pelan menanggapi ucapan sangat suami. Kevin hanya geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah konyol perempuan yang baru beberapa hari ini menjadi istrinya.
" Tapi mas, ini beneran apa yang di tulis di banner itu?. " Tanya Risa lagi karena masih penasaran.
" Iya beneran sayang, Ini hadiah pernikahan dari mami sama papi. Tadi kamu tanya kan kenapa namanya Vinsa hotel? ".
" Iya mas, emang apa artinya? ". Risa menatap lekat wajah suaminya itu menunggu jawaban dari pertanyaan nya.
" Vinsa artinya kevin dan Risa. Itu di ambil mami dari singkatan nama kita berdua, sebagai kado untuk kita". Terang Kevin.
Sementara Risa masih tak percaya bahwa kedua mertua nya memberikan dia sebuah hotel mewah untuk kado pernikahan. Semua masih terasa seperti mimpi bagi Risa. Dari yang awalnya gadis dari kalangan biasa saja, kini menjalani kehidupan menjadi orang kaya.
" Mas, apa gak terlalu berlebihan kalau aku dapat hadiah sebesar ini?". Mata Risa berkaca-kaca saat mengatakan hal itu pada Kevin.
" Ini untuk kita berdua Risa, dan untuk anak-anak kita kelak. Dan untuk tabungan masa depan anak cucu kita nanti". Jawab Kevin sambil membelai lembut pipi Risa.
Acara pun di lanjutkan dengan beramah tamah dengan para tamu undangan. Kevin juga menggunakan kesempatan ini untuk mengenalkan Risa kepada para kolega bisnisnya yang kebetulan hadir hari ini.
__ADS_1
Tidak semua rekan bisnis dari Kevin maupun papi Arya di undang karena keterbatasan jumlah tamu undangan yang sudah terlalu banyak. Hanya sahabat dan rekan kerja yang sudah lama kenal saja yang di undang. Lagipula ini bukan pernikahan pertama bagi Kevin.
****
Acara pun telah selesai sesuai waktu yang di jadwalkan. Kini Risa dan Kevin pun sudah berada di dalam kamar hotel milik mereka berdua. Rencananya mereka akan menghabiskan masa bulan madu mereka di hotel milik mereka sendiri.
Risa sudah merasakan pegal di kakinya, karena seharian harus mengenakan sepatu high heels. Dia memijat pelan kakinya untuk mengurangi rasa sakit yang dia rasa.
" Kenapa sayang? ". Risa menoleh ke arah Kevin yang baru keluar dari dalam kamar mandi.
" Gak papa mas, hanya sedikit pegal saja". Jawab Risa sambil tersenyum. Sebisa mungkin terlihat biasa saja agar suaminya itu tidak merasa khawatir.
Kevin hanya tersenyum mendengar jawaban dari Risa. Kemudian berjalan menghampiri Risa dan duduk di sebelah nya. Di ambilnya kaki Risa kemudian memijat nya.
" Mas, gak usah. Aku gak papa kok, beneran". Ucap Risa sambil berusaha menurunkan kakinya dari pangkuan Kevin.
" Bagaimana mungkin tidak apa-apa sayang. Lihatlah, betapa bengkaknya kaki kamu ini". Tutur Kevin sambil menunjuk telapak kaki Risa yang terlihat memerah dan membengkak. Risa pun hanya diam saja dan membiarkan Kevin memijit kakinya.
" Sekarang kamu mandilah, berendam lah di bathup dengan air hangat agar kakimu tidak sakit lagi". Suruh Kevin dan hanya di angguki oleh Risa.
" Makasih ya Mas udah di pijitin". Ucap Risa kemudian berlalu menuju ke kamar mandi.
Hampir satu jam Risa ketiduran sambil berendam di dalam bathup. Dia pun segera bangun untuk membilas tubuhnya di bawah shower yang juga tersedia di sana.
Risa keluar kamar mandi dengan tubuh yang lebih fresh dan bugar. Dia melihat Kevin yang tertidur dengan setengah bersandar di sandaran ranjang. Risa mendekatinya kemudian mengecup pelan pipi kevin.
" Terima kasih mas, karena telah membuat aku bahagia setelah menjadi istrimu. Semoga kita berdua akan selalu seperti ini hingga Tuhan memisahkan kita berdua nantinya". Gumam Risa pelan.
__ADS_1
.
.
.
" Kita mau jalan-jalan ke mana mas? ". Ucap Risa di sela mereka menonton TV berdua.
" Hari ini kita istirahat saja di kamar, besok kita jalan-jalan lagi". Jawab Kevin.
" Yaah mas, kita hanya tinggal dua hari di sini. Masak kita gak gunain waktunya buat jalan-jalan sih. Kan rugi udah jauh ke Bali tapi cuma diem doang di kamar". Risa mengerucutkan bibirnya yang membuat Kevin semakin gemas pada istrinya itu.
" Kita ke sini untuk honeymoon sayang, bukan untuk jalan-jalan. Lagian kita bisa ke sini lagi nanti dengan anak kita". Ucap Kevin sambil mencubit hidung Risa.
" Tapi beneran ya, nanti kita liburan lagi ke Bali bareng Kinar juga".
" Tentu saja sayang, kalaupun aku tidak bisa menemani, tapi kamu dan Kinar masih bisa tetap ke sini. Sekarang kan kamu pemilik hotel ini, jadi pastinya kamu juga akan sering-sering ke mari untuk mengecek perkembangan hotel nantinya. Kamu juga boleh mengajak Mama ataupun teman kamu ke mari".
" Aku juga boleh ngajak teman-temanku buat ke sini mas? ".
" Tentu saja boleh sayang".
" Makasih ya mas". Ucap Risa sambil mengecup pipi Kevin.
" Tapi inget janji kita pada mami, papi, mama dan kinar. Pulang dari sini, kita harus memberi adik untuk Kinar". Pipi Risa bersemu merah karena malu mendengar kata adik untuk Kinar.
Sebenarnya dia masih ingin puas bermain dengan Kinar dan mencurahkan semua kasih sayang nya pada anak sambungnya itu tanpa terbagi. Tapi jika Tuhan menitipkan anak kepadanya, dia juga akan tetap menerimanya dengan senang hati.
__ADS_1
Hari itu setelah selesai acara, Kevin dan Risa hanya bediam diri di kamar saja. Bahkan makan pun dia memesan untuk di antarkan ke kamar. Mereka menggunakan kesempatan ini untuk berduaan saja tanpa ada yang mengganggu. karena Kevin tahu, setelah kembali ke Jakarta, dia juga akan di sibukkan dengan pekerjaan yang pasti akan menumpuk setelah di tinggal hampir dua minggu olehnya.
Membayangkan saja sudah membuat kepala Kevin penat. Pasalnya, dia tidak pernah meninggalkan kantor hingga selama ini. Tapi untungnya papi Arya mau membantu jika di rasa ada pertemuan dengan klien penting atau di kantor ada masalah yang mendesak. Yang terpenting sekarang dia ingin fokus untuk menghabiskan waktu berdua dengan Risa sebaik-baiknya, tanpa di ganggu dengan masalah kantor.