
" Selamat pagi Dewi" sapa Risa saat melewati meja kerja Dewi.
" Aah iya selamat pagi bu Risa, maaf saya tidak melihat kehadiran ibu tadi" Dewi meminta maaf karena tidak menyapa Risa terlebih dahulu.
" Tidak apa-apa Dewi, kamu sepertinya sedang sangat sibuk sehingga tidak melihat ku" ucap Risa.
Risa memang melihat Dewi sedang sibuk dengan setumpuk dokumen yang berada di depan nya, itu sebab nya dia tidak menyadari kehadiran Risa.
" Saya sedang menyiapkan Dokumen yang akan ibu pelajari nanti, jadi semua bisa siap sebelum ibu Aretha datang" kata Dewi.
" Eyang belum datang? " tanya Risa.
Risa merasa heran karena tidak biasanya eyang nya datang terlambat, biasanya beliau akan tiba tepat waktu sebelum semua karyawan masuk dan pulang paling akhir setelah semua karyawan meninggalkan kantor.
" Ini hari terakhir beliau ke kantor, jadi beliau ingin masuk agak siang. Tapi juga mungkin karena ibu Aretha sedikit tidak enak badan juga" jelas Dewi.
" Eyang sakit??? " teriak Risa.
" Hanya kelelahan saja, dengan istirahat yang cukup juga pasti akan baik-baik saja. Jadi ibu Risa tidak perlu terlalu khawatir" Dewi segera menenangkan Risa.
" Syukur lah kalau begitu, nanti jam berapa acara nya? " tanya Risa.
" Jam sepuluh bu, sebagian pemegang saham juga sudah hadir ke kantor" Jawab Dewi.
" Baik lah, kalau begitu saya ke dalam dulu" pamit Risa.
Risa pun segera masuk ke dalam ruangan dan duduk di kursi kerja eyang nya, dia membuka laptop dan melihat-lihat dokumen yang berada di atas meja. Dia masih bingung apa yang bisa di kerjakan nya karena eyang nya belum sempat memberi tahunya. Jadi dia memutuskan untuk memanggil Dewi dan bertanya padanya.
" Dewi, bisa masuk ke ruangan ku sebentar? " tanya Risa melalui sambungan telepon.
Pintu pun segera terbuka dan terlihat Dewi masuk.
" Ada yang bisa saya bantu bu Risa? " tanya Dewi dengan sopan.
" Aku hanya ingin bertanya, apakah ada yang bisa saya kerjakan. Aku bosan jika tidak melakukan apa-apa di sini sedangkan eyang belum sempat menjelaskan nya padaku" tanya Risa.
__ADS_1
" Hemmm... apakah bu Risa bisa memeriksa keuangan? " tanya Dewi setelah berfikir sejenak.
" Bisa, apa yang akan saya kerjakan? " tanya Risa dengan antusias.
Dewi segera mendekat lalu mengambil setumpuk dokumen dari lemari yang berada di dalam ruangan lalu memberikan nya pada Risa.
" Ini adalah daftar laporan keuangan dari seluruh usaha di bawah naungan Narendra Corporation. Ibu bisa memeriksa nya dan memcocokkan nya dengan hasil yang ada di dalam komputer nyonya Aretha" Dewi menjelaskan pada Risa secara terperinci.
" Terima kasih Dewi, kamu bisa kembali ke meja mu lagi. Aku akan panggil jika butuh sesuatu nanti" ucap Risa.
Setelah Dewi keluar Risa segera mulai membuka dokumen di depan nya satu persatu dan mencocok kan nya dengan yang ada di komputer.
" Hah!!! hotel mulia dan mall terbesar di indonesia ini juga punya eyang? " Risa begitu terkejut melihat dokumen dari salah satu hotel dan mall paling besar yang berada di pusat kota jakarta ini adalah salah satu usaha milik keluarga Narendra.
" Aku tidak menyangka jika Narendra ternyata sekaya itu, bahkan masih banyak lagi hotel dan yang lainnya di bawah naungan Narendra yang berada di luar negeri. Tidak heran jika Narendra termasuk perusahaan terbesar di Asia saat ini" gumam Risa.
Risa segera fokus lagi menyelesaikan pekerjaan nya hingga pintu ruangan terbuka. Risa segera mendongak dan melihat eyang Aretha datang, diapun segera berdiri dan menyalami eyang nya itu.
" Eyang sakit ya? " tanya Risa dengan khawatir melihat wajah eyang nya yang pucat.
" Mau Risa antar ke rumah sakit eyang? " tanya Risa lagi.
" Tidak perlu, tadi pagi sudah ada dokter keluarga yang datang memeriksa eyang" eyang menolak.
" Tapi beneran eyang nggak papa? "
" Iya, kamu sedang mengerjakan apa? " tanya eyang mengalihkan pembicaraan.
" Laporan keuangan eyang" jawab Risa.
" Bagus dan rapi pekerjaan kamu, ternyata kamu cepat belajar juga ya" puji Eyang Aretha setelah melihat hasil laporan Risa.
" Terimakasih eyang" jawab Risa merasa bangga.
Tok... Tok... Tok...
__ADS_1
" Masuk" eyang mempersilahkan masuk.
" para undangan dan staff kita sudah siap di ruang konferensi bu. Mau di mulai sekarang atau nanti? " tanya Dewi.
" Sekarang saja Wi, aku dan Risa akan segera ke sana" ucap Eyang Aretha.
" Baik lah, kalau begitu saya akan menyiapkan dulu semua keperluan nya" Dewi pun segera berlalu dari hadapan mereka.
" Ayo kita ke sana sekarang Ris" ajak eyang.
" Iya Eyang"
Risa dan Eyang Aretha pun keluar dari ruangan dan menuju ke tempat di adakan nya pertemuan di ruang konferensi berada di lantai 7. Risa berjalan beriringan dengan Eyang nya dan memegang tangan dengan erat.
" kamu kenapa Ris?" tanya Eyang Aretha saat merasakan tangan Risa begitu dingin.
" Risa masih takut Eyang, semua nya terlalu cepat dan tiba-tiba hingga Risa tidak sempat untuk mencerna semua nya" ucap Risa.
" Kamu pasti bisa, Eyang yakin dan percaya kalau kamu itu mirip dengan papa dan opa kamu yang begitu jenius dalam memajukan perusahaan. Kamu bisa pelan-pelan saja menangani semua nya, Dewi juga akan selalu mendampingi kamu. Eyang sudah menyiapkan dan melatih Dewi secara khusus untuk membimbing dan membantu kamu nantinya" jelas Eyang.
" Eyang sudah menyiapkan ini semua dari lama? " tanya Risa begitu terkejut.
" Tentu saja, kamu dan kakak kamu tetap saja adalah penerus dari Narendra. Eyang tidak bisa memungkiri itu, walaupun eyang dan opa kamu sempat kecewa dengan papa kamu dulu. Tapi eyang dan opa selalu mengawasi kalian dari kecil hingga dewasa. Setelah eyang rasa kamu dan kakak mu siap untuk meneruskan perusahaan, barulah eyang datang dan menemui kalian" ungkap eyang Aretha.
" Jadi eyang selalu tahu kabar papa hingga papa meninggal? "
" Tentu saja eyang tahu" jawab Eyang Aretha.
" Kenapa eyang dan opa tidak datang waktu pemakaman papa? " Tanya Risa yang masih penasaran.
" Eyang dan opa mu datang waktu itu, tapi kami hanya melihat nya dari jauh. Setelah kepergian kalian barulah eyang dan opa mendekat ke pusara papa mu" ucap eyang Aretha dengan mata berkaca-kaca.
" Eyang dan opa merasa bersalah pada papa mu dan mama mu, jadi tidak berani menampakkan diri di hadapan kalian waktu itu" lanjut Eyang.
Risa begitu terkejut saat tahu kenyataan ini, ternyata eyang nya tidak pernah melupakan papa nya serta keluarga nya dengan bukti yang ada sekarang.
__ADS_1