
..."Semahal apapun harga mobil yang kamu punya, pada akhirnya dia akan berakhir jadi barang rongsokan"...
...(Mas Paijo)...
Bagi Paijo harga seonggok alat transportasi pribadi bernama mobil itu terlalu tidak masuk akal. Itu karena Paijo bukan tipe orang yang akan bangga saat di lihat orang lain bisa memakai barang mewah seperti itu. Jika punya uang sekarung lebih baik di belikan truk sekalian saja, prospek ke depannya lebih bermanfaat untuk usaha. Atau di belikan sebidang tanah yang harga jualnya tidak akan turun tiap tahunnya sampai hari kiamat nanti.
Harga hampir delapan ratus jutaan, jika di angsur tenor dua belas bulan, butuh uang muka sekitar seratus lima puluh juta dengan angsuran sekitar lima puluh delapan juta rupiah perbulan. Paijo hilang otak. Mau di igah-iguh model apa, membeli Toyota Camry Hybrid bukan kapasitasnya. Maka dari itu Paijo tak mampu meski hanya sekedar mengumbar janji pada Saras.
Mereka sudah kembali tinggal di rumah mereka sendiri. Dan sampai sekarang ini juga Saras masih saja menyebut-nyebut nama mobil itu.
"Lucu kali ya Mas, kalau anak kita cowok nanti di kasih nama Camry Chairul Ahmad"
"Atau kalau cewek boleh juga, Camry Azkia Putri,"
"Ternyata Camry itu berasal dari bahasa Jepang, Ka-mu-ri yang artinya mahkota"
"Berhubung mahkota bisa di miliki raja atau ratu, jadi nama ini bisa di pakai untuk nama anak laki-laki atau perempuan"
"Kalau di gabungkan dengan nama belakangnya, artinya bagus banget Mas, Camry berarti mahkota atau raja, Chairul artinya kebaikan, Ahmad artinya selamat, wah... Raja yang penuh dengan kebaikan dan keselamatan"
"Gimana menurut kamu Mas?"
Paijo tak hanya meringis sekarang, tapi sudah merangas. Ambisius sekali istrinya, hanya karena ngidam beli mobil Camry tidak ke turutan, apa harus anak mereka di beri nama Camry juga. Siapa yang gila ini?
"Hihi... nanti di pikirkan lagi yah! masih ada dua bulan ke depan, sekarang mendingan aku buatin jus alpukat dulu,"
"sudah waktunya makan siang" lebih baik mengalihkan perhatian Saras, bedebah dengan arti nama Camry. Paijo tidak akan ACC nama itu. Dia berjanji dalam hati akan puasa Senin-Kamis dulu sebelum memberikan nama pada anaknya nanti. Enak saja mau sembarangan. Batin Paijo.
Paijo mengangsurkan segelas jus alpukat pada istrinya, tanpa gula, tapi Saras minta di tambah susu coklat yang banyak, rak kacek ya. Tetap saja mengandung gula. Saras menghabiskan jus itu hampir separuh gelas.
"Mau roti? biar Mas ambilkan kalau mau"
Saras menggeleng, "udah kenyang"
Meski perutnya membuncit semakin kesini wajah Saras semakin tirus saja. Hal itu membuat Paijo semakin khawatir. Apa setan Camry ikut andil dalam hal ini.
"Sayang, makan apa gitu, masak iya perut kamu cuma ke isi alpukat"
"Mumpung Mas di rumah, ayoklah buat Mas repot gitu... atau mau makan di luar?"
"Mau ke mall? atau ke resto mana ayok!" Ajak Paijo penuh semangat. Paijo ingat dulu mereka sering makan berdua di luar, entah sekedar makan steak ala-ala, atau mie gacoan yang pedesnya membakar mulut dan rumah tetangga.
Saras hanya mendesah lalu beranjak dari duduknya, "Camry oh Camry... memikirkannya saja aku sudah kenyang Mas!"
Mata Paijo melotot, setengah tersindir dan tidak terima "Ya Tuhan Saraswati... mendengar kamu memuja mobil itu, sekarang Mas yang gila!"
"Kamu tahu sayang? mobil dengan harga mencekik itu, sepuluh tahun ke depan saja bakal berubah nama jadi rongsok"
"Kamu jangan berlebihan, pengen boleh tapi kalau sudah ambisius sampai bilang kenyang hanya dengan memikirkannya saja," Paijo mendengus kesal sebentar sekedar memberi jeda pada nafasnya, "aku tidak terima!"
"Aku tidak peduli kalaupun anakku ileran, itu tetap anakku, aku ga bakal malu mengakuinya,"
"Yang penting kamu dan dia selamat dan sehat"
Mata Saras berkaca-kaca, mendung dan sebentar lagi pasti turun hujan di pipinya. Paijo hanya menegaskan, tapi perasaan ibu hamil yang sensitif membuat Saras merasa Paijo sedang membentaknya. Oh apa ini? rasanya sakit sekali di hati.
Paijo menyadari jika istrinya itu akan mewek kayak bebek sebentar lagi. "Hishhh... maaf, aku ke bawa emosi..."
"Kamu kenapa galak sama aku Mas!?" tanya Saras mimbik-mimbik.
__ADS_1
"Kamu pikir enak ngidam ga keturutan? aku juga ga maksa minta, aku tahu berapa banyak uang yang kamu punya dan itu ga bakal cukup buat beli Camry"
"Kalau bisa di setting, aku milih ganti ngidam makan tanah atau sekalian minum bensin, kenyataannya anak kamu ini yang ke pengen Camry, kamu ga bisa apa ga galak gitu..."
"Namanya mobil sudah pasti jadi rongsok, wong di buat dari besi dan aluminium, kalau jadi tape itu namanya singkong yang di fermentasi, aku tahu, aku tahu..." Saras ikut kesal. Kalau saja tak ingat perutnya buncit, Saras pengen lompat indah dari gedung yang tinggi pakai parasut tentu saja. Saras butuh healing yang menguji nyali bukan mau bunuh diri.
Melihat istrinya yang berjalan ke arah belakang setelah sempat menghentakkan kaki karena sebal, Paijo bertanya lagi, " Mau kemana?"
"Mau sholat dhuhur, mau minta sama yang kuasa, jalankan minta Camry, minta apapun itu aku yakin pasti di kabulkan kalau sudah waktunya"
"Lebih baik berharap pada Tuhan, dari pada berharap sama manusia, ga di turuti yang ada di omeli"
Paijo langsung bungkam.
****
Esok harinya, "Hallo Bu, ada apa?"
"Jalan-jalan? kemana?"
"Tapi aku minta ijin Mas Paijo dulu ya, nanti Saras telpon balik"
Salma menelpon Saras untuk mengajaknya pergi jalan-jalan sore ini. Berhubung Paijo sedang ke Purwodadi dan belum pulang. Saras memutuskan menelpon suaminya untuk meminta ijin. Panggilan cepat itupun langsung terhubung.
"Hallo Mas, Bapak sama Ibu sore nanti ngajak aku jalan-jalan, Mas pulang jam berapa? biar sekalian bisa ikut"
"Belum tahu, ini belum selesai urusannya. Memang mereka ngajak kamu kemana?"
"Ga tau, tadi bilangnya cuma jalan-jalan aja biar aku ga suntuk, gimana?"
"Nanti mereka jemput kamu di rumah?"
"Iya dong,..."
"Oke deh..."
"Eits... tapi kamu ga boleh capek-capek, langsung bilang ibu misal kamu pengen pulang, oke?"
"Oke bos!"
Dan sore itu mereka pergi. Saras tidak tahu mau di ajak kemana. Tapi mobil sejuta umat milik Burhanuddin terus melaju ke arah kota. Melewati bundaran Kalibanteng lalu berbelok ke kiri. Masuk ke pelataran showroom mobil yang tak asing bagi Saras.
Setelah memarkirkan mobilnya, Burhanuddin mengajak Salma dan Saras turun. "Bapak ada urusan sebentar, ikut masuk ya!"
Oke itu bukan permintaan tapi perintah, Saras harus nurut tanpa banyak bertanya lagi.
Baru akan melewati pintu masuk, mereka sudah di sambut dengan hangat. Seorang laki-laki berpakaian necis dan klimis menyambut mereka.
"Selamat datang Pak Burhanuddin, kami sudah menunggu kedatangan anda"
"Mari saya perlihatkan koleksi terbaru kami"
Saras menerka-nerka, koleksi apa maksudnya? Apa Bapak mau beli mobil lagi?
Laki-laki klimis itu menggiring mereka hingga sampai di depan sebuah mobil yang Saras idam-idamkan. Saras langsung berdebar. Kemudian semakin membelalakkan mata saat mendengar mertuanya bicara lagi.
"Sebenarnya menantu saya ini yang kepengen beli, Saras kamu pengen mobil seperti ini yang warna apa?"
Saras masih tidak paham, kenapa malah dirinya yang di tanyai, jelas-jelas dia ikut bermodal ngintil. Bawa uang tak seberapa, gimana mau beli mobil? Saras melongo.
__ADS_1
"Saras, kamu jangan bingung gitu... wajah kamu lucu banget sih... hahaha..." goda Salma sambil merangkul lengan menantu perempuannya.
"Bapak mau belikan kamu mobil yang kamu pengen, kamu tinggal pilih warna aja!" terang Salma lagi.
"APA!!!" Saras kaget bukan main, untung tidak sampai jantungan. Di ajak jalan-jalan,
Saras kira bakal jalan-jalan muter simpang lima, ternyata di ajak jalan ke showroom mobil. Apa Saras sedang berhalusinasi?
"Bapak sama ibu jangan ngeprank Saras dong, ga kasihan apa sama Saras"
"Hahaha... mbak ini lucu sekali, Bapak Burhanuddin bahkan sudah menyerahkan uang muka pada kami, sisanya akan di urus setelah mbak pastikan mau yang mana?"
"Anda beruntung punya mertua milyarder ya, sampai-sampai tawaran angsuran dari kami di tolak mentah-mentah, hehe..." goda laki-laki klimis yang Saras ketahui bernama Bambang. Tak sadar Saras mengumpat dalam hati, apa setiap orang yang bernama Bambang harus klimis seperti itu plus menyebalkan. Mengingatkan pada masa lalu saja.
"Ayo mau warna yang apa, setelah beres baru kita cari makan, Bapak sudah lapar ini?"
Saras merapatkan tubuhnya pada Burhanuddin dan Salma, lalu dia berbisik, "Bapak tidak korupsi 'kan?" Saras akui kali ini mulutnya lancang. Tapi dia jaga-jaga saja, barang kali iya Saras ga mau ikutan ke ciduk KPK. Saras tidak mau menambah prestasi sebagai pelaku korupsi termuda. Nehi.
Salma malah terbahak sedangkan Burhanuddin langsung merenggut. "Ngawur saja kamu!"
"Bapak sampai menjual kebun di daerah Kertomulyo, padahal awalnya Bapak menolak kebun itu di beli buat pelebaran jalan tol"
"Untung proses jual belinya cepet, sebulan uangnya langsung cair"
"Wah... jadi ini uang ganti untung?" demi apa Saras baru tahu kabar ini. Kalau begini ceritanya sih Bapak lagi kembrukan uang.
"Iya, demi kamu, Bapak juga ga mau cucu Bapak nanti ileran"
"Anggap saja ini rejeki jabang bayi"
"Wah Bapak, Saras jadi terharu..."
"Terimakasih sekali, tapi Saras rasa Mas Paijo ga bakal setuju, jadi mendingan kita batalin aja ya Pak"
"Yuk, kita pergi saja dari sini!"
"Memang kalau dia tidak setuju mau apa? Bapak ngasih ini buat calon cucu Bapak, bukan buat anak Bapak yang satu itu"
Melihat customer yang ribut sendiri, Bambang mencoba menjadi penengah. Laki-laki itu harus berbicara panjang lebar untuk meyakinkan Saras. Mulutnya manis sekali membuat Saras muak. Sampai pada akhirnya Saras setuju untuk menurut. Lagipula mungkin ini memang rejeki jabang bayi. Pamali di tolak.
Setelah menyelesaikan administrasi pembayaran, mereka segera pergi untuk mencari makan. Mobil Camry Hybrid berwarna hitam menjadi pilihan Saras. Seperti yang dia idam-idamkan sejak satu bulan belakangan ini.
Rencananya mobil itu akan di kirim besok pagi. Saras tidak bisa membayangkan raut wajah Paijo besok, pasti shocking soda sekali. Saras tidak akan memberi tahunya dulu. Biar saja suaminya terkejut. Ah... mau bagaimana pun yang penting hari ini Saras sudah keturutan beli All New Toyota Hybrid. Saras senang sekali. Sepanjang perjalanan pulang dia cengar-cengir sambil terus mengelus-elus perutnya yang buncit.
Benar-benar anak membawa keberuntungan kalau begini ceritanya...
Ngidam Saras keturutan, beli mobil Camry yang masih bungkusan plastik ... hihihi....
.
.
.
.
.
Komen, Komen, Komen yang ramai...
__ADS_1
Tanya dong, kalian Nemu cerita ini dari mana? karena cerita ini kan ga famous dan juga aku tipe orang yg pemalas promo di medsosπ
πππ