
Dua bulan kemudian, sebuah container berwarna merah sudah terparkir di depan pabrik milik Paijo. Pesanan rangka kayu sebagai penggulung kain tekstil siap di muat. Terlihat para karyawan sedang sibuk menaikan barang itu ke dalam container.
Tetangga sekitar bersyukur karena setelah berdirinya pabrik milik Paijo, mereka bisa ikut bekerja di sana. Secara tidak langsung, Paijo turut andil mengurangi angka pengangguran di desa itu. Karena tak hanya kaum laki-laki yang bisa ikut bekerja. Para ibu-ibu juga bisa ikut bekerja membuat rangka kain itu karena bukan pekerjaan sulit juga tidak terlalu berat.
Para ibu-ibu juga bisa mengerjakan itu di rumah. Seperti sistem pekerja freelance, mereka lalu bisa mengantarkan hasil pekerjaannya setelah terkumpul banyak. Upah yang di berikan juga bisa di bilang pantas. Setidaknya bisa membantu para ibu-ibu agar dapur mereka bisa tetap mengepul.
Saraswati dengan perutnya yang sudah terlihat membuncit menghampiri Paijo yang sedang mengawasi para pekerja. Hal baru yang di rasakan Saras saat usia kehamilannya memasuki lima bulan yaitu mual muntah. Seperti terbalik, padahal di trimester awal gejala itu sama sekali tidak muncul. Sekarang Saras merasa tersiksa, mulut terasa pahit, makan apa-apa tak selera. Bahkan mencium bau aroma nasi saja rasanya dia ingin pingsan.
"Kopinya Mas!"
"Hei, kenapa kamu keluar sayang? banyak debu, ayok masuk saja!"
"Kopi bisa diantar Mbak Kubro, kenapa kamu yang antar, kemana dia?!"
"Mbak, Mbak Kubro!"
"Hish... Mbak Kubro lagi ke warung. Lagian aku masih bisa kog Mas, cuma bawa kopi aja" Saras menggerutu, salahnya juga mengeluh, sekarang Paijo jadi semakin menggila, over protective. Tapi tidak mau mengeluh bagaimana, namanya ibu hamil mau pura-pura strong juga yang ada tetep aja ndoyong.
"Taruh sini aja, ayok kita masuk! Kamu ga boleh kena debu!"
Astaga, barang di museum aja masih berdebu walau di bersihkan tiap hari. Hla ini Saras kena debu sedikit saja tidak boleh. Paijo menggiring Saras masuk ke dalam rumah. Namun langkah mereka terhalang Yadi yang tiba-tiba muncul dengan satu teko es teh di tangannya.
Brenggggg....!!! bau tak sedap diterpa angin menguar bebas di udara.
Saras tiba-tiba merasa perutnya di aduk-aduk.
"Hoeeekkkkk.... hoeeekkkk....hoeeekkkk...."
"Tuh, aku bilang juga apa..."
Bukan karena debu atau bau tak sedap kentut, tapi karena bau keringat yang bisa di pastikan milik Yadi yang baru melintas. Paijo langsung ngomel.
"Yad! besok kamu kalau kerja jangan lupa pakai rexona atau sekalian aja pakai kapur barus, istriku sampai mual-mual gini"
Saras menutup hidung dan mulutnya rapat-rapat. Kepala juga langsung gliyengan. Sedangkan Yadi dengan wajah bego masih bingung salah apa gerangan dia. Laki-laki pemalu sedunia itu malah menundukkan kepala tanpa menjawab.
"Yad, saya suruh besok ketiakmu itu di kasih rexona, di jawab bukan malah hening cipta!"
"Eh... iya Mas Jo..."
Namanya kacung ya bau ketie, kalau klimis wangi itu ya pekerja kantoran atau abang-abang mendreng yang ider minta setoran uang. Itu menurut ku, Yadi mana berani menjawab begitu, meskipun dalam hati.
"Keringet kamu--..." Paijo berhenti mengomel saat Saras berjalan cepat lalu langsung berjongkok di bawah pohon mangga.
"Hoeeekkk...!" Saras tak tahan untuk tidak muntah. Alhasil isi perutnya terkuras lagi. Wajah Saras terlihat lesu dengan mata berair.
Paijo membantu mengurut tengkuk leher Saras. "Ya Tuhan sayang, kasihan banget, tiap lihat kamu muntah gini rasanya aku jadi suami ga berguna banget"
"Besok kalau tak tinggal ke luar kota kamu gimana?"
Srooootttt....!
Rasanya Saras mau menangis.
"Huaaa... alpukat kocok baru masuk udah keluar lagi mas..."
__ADS_1
Susah payah Saras memaksa mengisi perutnya, jika lagi-lagi dia muntah. Kini pandangan Saras menatap nanar pada seonggok muntahan dengan warna bercampur hijau alpukat di tanah.
"Ga apa, habis ini aku buatkan lagi ya, atau kamu pengen makan apa"
"Ayok masuk dulu aja... biar nanti Mbak Kubro yang bersihkan ini"
Saras menurut, di tuntun Paijo masuk ke dalam rumah. Kemudian Paijo membantu istrinya berkumur di kamar mandi. Sekilas info, semenjak Saras hamil, Paijo membuatkan kamar mandi baru yang seatap dengan rumahnya. Lumayan, Saras tak harus lagi berjalan jauh. Apalagi sekarang dia lebih sering bolak balik pipis.
"Rasanya pahit mas ini mulut..." Saras meringkuk di sofa di depan televisi. Sedangkan Paijo bersila di lantai sambil terus mengelus pucuk kepala istrinya.
"Mau aku ambilin permen? atau di bikinin teh anget?" Saras menggeleng.
"Coklat panas?" Saras menggeleng lagi.
"Terus gimana?"
"Di puk-puk gini aja mas," lirih Saras sambil meraih tangan Paijo untuk menepuk-nepuk pantatnya. Manja Saras. Mirip anak bayi yang minta di puk-puk sebelum tidur.
"Aku pusing pengen tidur..."
Paijo merasa iba, istri cantik yang biasanya selalu ceria dan penuh semangat itu kini meringkuk dengan wajah pucat, perut gendut, dan kaki sedikit bengkak. Sungguh kolaborasi pengorbanan yang tak akan mampu di tukar dengan apapun.
"Pindah kamar aja ya? tidur di sofa nanti badan kamu pegal-pegal hlo"
"Enggak, di sini juga nyaman"
"Mas jangan berhenti, di puk-puk lagi..." rengek Saras dengan mata setengah terpejam saat dirasa tangan Paijo berhenti menepuk.
"Nyaman ya di puk-puk gini?"
"Ya udah aku puk-puk sampai kamu tertidur"
"Aku temenin, kalau minta pijit juga aku pijitin"
"Mau kakinya di pijit?"
Tangan Paijo baru menyentuh kaki Saras, Saras langsung tergugah. "Jangan! jangan pijit kaki 'ku mas!"
Paijo kaget. Hingga mengerjapkan mata beberapa kali. Apa jika Paijo memijit kaki Saras, lantas istrinya akan berubah jadi jiny oh jiny? atau lebih menyeramkan lagi berubah jadi zombie?
"Kenapa?" Paijo heran.
"Aku ga mau mas, menurutku itu tidak sopan"
"Terus kata orang tua juga bisa jadi istri yang ngelunjak, aku ga mau ngelunjak, meskipun masih sering bawel, masih suka ngedebat kamu, tapi aku ga mau jadi istri yang ngelunjak"
"aku mau jadi istri yang nurut dan sholihah"
Paijo tersenyum gemas pada istrinya. "Padahal tadi sudah merem hlo, denger mau di pijit kakinya langsung bangun gitu..."
"Kamu itu udah jadi istri terbaik buat aku, ter terrrrrrrrrrrrbaik malahan"
"Boleh dengerin petuah orang tua, ambil positifnya, tapi kalau aku ga keberatan mijitin kamu, itu artinya juga ga apa, ga ada hukum yang menyalahkan,"
"aku sayang kamu, gara-gara mengandung anakku kamu juga kesusahan seperti ini"
__ADS_1
"Jadi jangan nolak kalau aku pengen majain kamu"
"Iya---iya, tapi tetep aja aku ga mau di pijit kakinya"
Keduanya saling tatap dengan tatapan saling memuja. Tatapan penuh kasih dan sayang.
"Mas, sepayah apapun aku mengandung anak kita, aku bahagia"
"Kamu jangan merasa bersalah gitu,"
"semua ibu hamil pasti merasakan seperti aku, maaf kalau aku sering ngrengek ga nyaman ini itu"
"Besok-besok aku kurangin deh merengeknya"
Paijo menggeleng dengan cepat, tidak setuju dengan kalimat Saras yang terakhir.
"Jangan di kurangin, aku ga masalah kamu merengek, malah kalau kamu diam aja aku jadi ga bisa ikut ngerasain betapa menderitanya kamu"
"Aku ga menderita Mas!"
"Aku bahagia... lihat aku bisa senyum... hiiii..." Saras menarik bibinya memamerkan giginya yang putih.
"Hish... gaya banget" desis Paijo. Lalu keduanya terkekeh kecil.
"Ga usah pijit kaki, tapi kalau maksa, boleh sebelah sini aja!" tunjuk Saras pada bahunya. Kalau pijit pundak Saras ga nolak. Saras merem melek saat pundaknya di pijat lembut oleh sang suami.
"Enak Mas pijitan kamu"
"bikin aku ngantuk lagi"
"Sambil di pijit, sambil di puk-puk boleh mas?"
"Hemftttt... everything for you Yunita Saraswati..."
Sambil dipijat pundak, sambil di puk-puk pantatnya. Kira-kira gimana itu Paijo prakteknya? Hahahaha...
Bisa dong, tangan satu mijit pundak, tangan satu puk-puk pantat. Saras boboknya 'kan melungker kayak ulat bulu. Wkwkekkw....
.
.
.
.
Maaf cuma bisa nulis sedikit, sibuk kerja ga sempet nulis beberapa hari. Jadi otak kayak yang kurang panas, nulis berasa susah gitu, ide stuck. Apalagi udah mau ending gini suka susah aja...
Makasih yang masih setia sama kisah ini.
Aku kasih gambaran, kira-kira ini usaha kayu milik Mas Paijo.
Yang bawah ini rangka gulungan kain
__ADS_1