Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 42: Jangan Tertawa Berlebihan, Bahaya!


__ADS_3

"Bismillahirrahmanirrahim"


"A-A, A-BA, BA-A, A-A,"


"Eh... ulangi! fokus ayo...!"


"A-BA,"


"Iya bener, lanjut..."


"BA-A, A-A, BAA- BA, BA-..."


"Ulangi yang ini, jangan panjang bacanya, satu hentakan. BA-BA!"


"Ayok yang lainnya, di darus dulu ya anak-anak." "Arya duduk yang bagus!"


"Berisik boleh, tapi bukan ngomong ya, ngaji! di baca kitabnya!"


Paijo tersenyum, mengamati Fatimah yang sedang tekun membimbing anak-anak mengaji. Sehabis sholat Maghrib berjamaah, mereka memang selalu di biasakan mengaji. Sesuai dengan tingkatannya masing-masing. Yang masih kecil tentu mereka mengaji kitab iqra' sesuai dengan jilid masing-masing. Sedangkan yang sudah besar, mereka mengaji kitab Al-Qur'an.


Pemandangan yang indah bagi Paijo. Suara anak-anak yang ramai mengaji, bercampur suara berisik anak-anak yang masih mengobrolkan mainan atau apa. Meski terlihat ada yang tidak anteng, tapi begitulah anak-anak. Mereka punya dunia sendiri. As terlihat membantu mengatur mereka. Dengan luwes dia memerintahkan mereka untuk duduk anteng dan mulai mendarus.


Sedangkan Alvin, bocah tadi siang yang baru saja di titipkan ibunya itu terlihat paling anteng diantara semua. Setelah berdrama dengan berderai air mata, tega tidak tega, bocah itu tetap di titipkan di panti ini.


Setelah ibunya pulang, Paijo meminta ijin mengajak anak itu berkeliling naik motor dan juga diajak membeli jajan apapun di Mamamart.


Paijo masih ingat, bagaimana tadi siang dia sukses menjadi superhero. Duduk di depan Mamamart sambil makan es krim berdua.


"Boy, tidak apa-apa berpisah sebentar sama ibu kamu."


"Suatu saat nanti kamu masih bisa bertemu dan berkumpul lagi."


"Hla Om? Om bahkan sejak balita sudah di tinggal ibu pergi..."


Bocah yang di tangannya menggenggam es krim coklat, termahal diantara es krim lainnya itu pun nampak menyimak. "memangnya ibu Om kemana?"


"Hmmm... ibu Om sudah meninggal sejak Om berusia lima tahun. Lebih kecil dari kamu."


"Tapi lihat Om sekarang udah besar, Om tidak sedih lagi, karena Om tahu ibu Om sudah sama Tuhan yang baik. Sudah bahagia di sana" Paijo tersenyum menghibur.


"Oh... kayak Bapak saya?"


"Iya, kayak Bapak kamu."


"Makanya kamu harus jadi anak yang kuat dan baik ya. Bakal banyak yang sayang kamu."


"Nanti kamu disini juga bakal punya banyak saudara. Kamu ga bakal kesepian."


"Mau janji sama Om?"


"Apa?" tatapan mata bersih bocah itu sungguh memporak-porandakan hati Paijo. Dia sendiri berjanji dalam hati, akan ikut menyejahterakan anak-anak yatim ini.


"Janji ga boleh sedih lagi, bisa?"

__ADS_1


"Hmm... Alvin bakal usaha." jawabnya lirih.


"Ayo, senyum yang lebar... heeeee...." Paijo meringis.


"Alvin coba senyum, Om pengen lihat gigi kamu!"


"Ya bagus gitu senyumnya, jadi tambah ganteng!"


Walaupun masih kaku, Alvin tersenyum juga. Alvin senang di ajak naik motor dan di belikan jajan. Dalam hati kecilnya, Om Paijo sudah masuk kedalam daftar orang baik yang ga bakal Alvin lupakan.


Paijo berlalu kembali masuk kedalam kamar yang sudah di siapkan untuknya.


****


"Hai, kenapa wajahmu begitu?"


"Hah, apa?"


"Mikirin apa?" Saras yang perutnya sudah kenyang kembali rebahan di kasur empuknya. Pukul sembilan lebih sepuluh menit delapan detik. Mereka berdua tersambung vidio call. Melepas rindu setelah seharian dengan aktivitas masing-masing.


"Mikirin kamu," jawab Paijo jujur tanpa bermaksud menggombal walau terdengar receh. Memang benar tidak bohong, Paijo dari tadi memikirkan Saras. Merasa bersalah tepatnya.


Saras yang merasa Paijo aneh hanya mengernyit sebentar, lalu sibuk menutul-nutulkan krim malam ke area wajahnya. "Tumben, kangen ya?" ledek Saras santai.


"Kangen banget!" Wajah Saras langsung bersemu semerah jambu delima yang mulai langka.


" Kamu udah cantik, kenapa masih perawatan? rutin pakai krim juga ternyata."


"Pulang Mas, kalau kamu di sini kita bisa sering ketemu."


"Ah... tapi aku ga mau egois juga sih. Gimana pun kerjaan kamu juga di sana."


"Yang penting kamu baik-baik di sana. Jangan nakal!" Saras masih sibuk meratakan krim di wajahnya. Malam ini dia berniat tidur awal lagi.


"Mau nakal sama siapa? hla wong ketemunya sama kayu dan grejen (serbuk kayu)!"


Saras terkekeh geli, benar juga. Peluang Paijo selingkuh sangat kecil, nol koma sekian dan terimakasih. Kalau pun ketemu cewek di jalan itu jika dia mau walking-walking ke mall. Sedangkan Paijo bukan tipe cowok yang suka blusukan ke mall. Pacarnya itu cowok hutan. Uuu... aaa... jadi ingat siamang.


"Kalau kamu gimana?"


"Pasti banyak cowok kantoran yang ngelirik kamu bukan?"


Deg! bukan hanya ngelirik Mas, ngejar-ngejar iya... jawab Saras dalam hati. Tapi dia mana mungkin tega membuat pacarnya itu resah gelisah. Bukan berniat berbohong, tapi Saras hanya ingin hubungan long distance relationship ini adem ayem bak di pasangi air conditioner. Menyejukkan, ngilangin gerah.


"Eum... ga tahu ngelirik atau enggak. Soalnya aku kalau lagi jalan, jalan aja. Ga pernah merhatiin orang lain, hehe..."


Paijo berdecak, "Pasti ada, hayo ngaku!"


"Enggak ada, aku masih junior di sana. Lagian juga satu ruangan kebanyakan perempuan. Kalaupun ada laki-laki, ya udah Bapak-bapak."


"Bukan tipe 'ku..."


"Kalau adek-adek gimana?"

__ADS_1


"Brondong? bukan jugalah. Tipe 'ku itu yang kayak kamu Mas. Ga terlalu tampan tapi banyak uang. Lebih aman, ga jadi incaran cewek lainnya." "Buakakakak..." Saras terbahak di sana. Walaupun berkata begitu, Paijo tahu betul jika pacar yang cantiknya kebangetan itu tidak matre. Cuma pecinta uang saja.


"Hmmm... puas ke tawanya? kamu mau muji tapi kog ga lupa menghina," Paijo pura-pura ngambek.


"Hahaha ... ampun Mas. Kamu sendiri dulu yang bilang. 'Aku Paijo, memang tidak tampan, tapi kharismatik!' kamu lupa pernah bilang begitu?"


"Haa... bisa kamu!" Saras masih tertawa ngakak di sana. "Eh... Jangan ketawa ngakak gitu, bahaya!"


Saras belum berhenti dari tawanya, pintu kamar di ketuk dan suara menggelegar Haji Bagong memantul ke tiap sudut ruangan.


"SARAS!!! Abah mau bicara?!"


"Mampus! Bahaya emang ini."


"Sudah dulu ya Mas. Nanti aku telpon lagi." Bisik Saras dan dengan cepat mematikan Vidio call.


Kalau saja aku ga ketawa keras, mungkin masih aman di kamar persembunyian. Kalau sudah gini cosplay jadi ubur-ubur juga Spongebob sama Patrick malas nangkap. Mereka bakal takut duluan lihat kumis Haji Bagong.


Saras lompat membuka pintu. "Iya, ada apa Abah?" memaksakan tersenyum walau hati jedug-jedug. Takut.


"Kamu ngobrol sama siapa? ketawa segitu kerasnya. Ga baik anak gadis ketawa gitu, sampai kedengaran ke rumah tetangga."


"Hehe.... maaf Abah, Saras kelepasan, biasa ngobrol sama teman-teman kuliah dulu."


"Hemft... ya sudah, Abah mau ngomong sedikit sama kamu. Dari kemarin Abah perhatikan kamu sibuk terus. Tiap Abah samperin ke kamar kamu sudah tidur."


"Kita ke ruang keluarga, ngobrol bareng Umik 'mu juga di sana!"


Mampus, pasti ini tentang perjodohan. Topik yang lebih mengerikan dari pada berita harga minyak goreng yang naik-naik kepuncak gunung. Saras diam terpaku. Haji Bagong yang sudah berjalan mendahului terpaksa berbalik lagi.


"Heh, kenapa kamu masih diam di situ?"


"Ayo turun kebawah!"


"Eh... iya Abah, ini mau nutup pintu kamar dulu. Takut ada tikus yang masuk."


"Sejak kapan di rumah ada tikus? yang ada mereka kepleset dulu sebelum masuk kamar kamu!" Saras hanya bisa meringis lagi, dia sadar bisa tiba-tiba bodoh begini saat gugup.


Rumah gedongan milik Haji Bagong mustahil ada tikus. Kali ini Saras ijinkan Abahnya sombong. Memang kenyataannya begitu.


Ah... harus alasan apalagi aku?!! Jo Paijo tolong akuuuuuu.... huaaaa....


.


.


.


.


like, komen dan bagi hadiah.


Mas Paijo lagi ikutan lomba nih, mohon bantuannya ya bunda-bunda😘😘

__ADS_1


__ADS_2