Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 52: Pembalasan Memang Harus Lebih Kejam!


__ADS_3

Untuk beberapa menit berlalu Saras hanya duduk anteng. Menyimak dialog antara Haji Bagong dengan seorang pria jangkung yang bernama Mahfud. Tidak Saras pungkiri jika pria yang sedang bernafas bersama dalam satu ruangan dengannya ini berwajah surga. Tampan, kalem, dan senyumnya tidak berlebihan. Apa karena seorang guru Agama, wajahnya bisa sebersih itu. Tanpa jerawat apalagi noda membandel. Bisa jadi juga sering wudhu jadi auranya keluar.


Ah... Saras juga wanita normal, lihat yang bening gini juga wajar dia sempat menikmati. Tapi sebatas itu saja, baginya cukup Paijo. Saras tidak berniat tukar tambah.


Entah apa yang mereka obrolkan, walau menyimak Saras tidak begitu konsen. Sibuk menerka kenapa itu wajah pria begitu kinclong. Dan juga, Saras sibuk memikirkan bagaimana caranya membuat makhluk Tuhan yang paling indah ini, bisa diajak bekerjasama. Untuk menggagalkan rencana perjodohan ini. Jika Saras tidak punya hak menolak, setidak dia yang harus menolak. Fix Saras ingin pihak pria yang menolaknya.


"Ya begitulah, ayah kamu dengan Abah sudah kenal baik sejak masih muda."


"Maka dari itu, tanpa basa-basi lagi. Kami berdua ingin hubungan kami bisa naik kelas menjadi keluarga."


"Kamu paham bukan maksud Abah?"


Mahfud hanya tersenyum manis, sangat sopan hingga senyum saja giginya tidak terlihat. Seakan itu gigi aurat yang harus di jaga. Padahal semua orang paham, jika aurat laki-laki itu sebatas di bawah wedel, di atas dengkul.


Karena tidak ada sahutan yang berarti, Abah ambil alih lagi. "Baiklah sambil ngeteh, Abah beri waktu kalian untuk mengobrol. Barangkali ada Abah kamu sungkan." pandangan Abah tertuju pada Mahfud kemudian berpindah ke Saras.


"Saras, kamu temani mas Mahfud dulu ya. Abah lanjut kerja lagi," Saras menurut saja, toh jika tidak ada Abahnya dia bisa lebih berkuasa bersikap.


"Jadi nama kamu Yunita Saraswati?"


"IYA, belum pernah ganti nama sama sekali sejak lahir," jawab Saras ketus. Saras bisa melihat aura kaget di wajah Mahfud. Sepertinya laki-laki ini terbiasa bersikap halus. Baiklah mari kita ganti mode kalem-kalem manja mas.


Tapi tunggu, sebelum menyerang seharusnya Saras pelajari medan perang terlebih dulu. Kamera sisi tv cek! mata Saras melebar menyapu ruangan. Jangan sampai tanpa sepengetahuannya ada sisi tv yang langsung terhubung ke mata Haji Bagong. Bisa-bisa dia di penggal jika ketahuan berperilaku tidak terpuji.


Setelah dirasa aman sulaiman, aman dari sisi tv dan penyadap ruangan. Saras mulai beraksi.


Baiklah Pak Guru. Guru Agama yes? Let's Play! Kita lihat, setebal apa iman anda, Pak Guru yang ini apa namanya? hehe...


Saras yang sejak tadi duduk anggun bak daun putri malu, kini tiba-tiba bersikap layaknya larva, anime yang suka krogetan ketika udara panas, dan sering berebut makanan dengan kawan sejenisnya. Padahal kalau dipikir-pikir mereka bisa berbagi makanan tanpa ribut-ribut.


Saras melepas jaket denim yang sejak tadi menempel di tubuhnya. Dan meletakkan jaket itu di bahu sofa. Duduknya pun dia rubah, kakinya sok cantik dia silangkan. Jaket denim terhempas, menyisakan kaos crop berlengan pendek yang nyaris membuat lekuk tubuhnya tergambar jelas. Hanya dengan mengangkat kedua tangannya, bisa di pastikan wedel Saras bakal terekspos. Tunggu, belum sampai adegan itu.


Saras pura-pura kepanasan, padahal jelas ruangan itu ber-AC. Dengan sok centil dia mengibas-ngibaskan tangan, memamerkan lehernya yang seolah berkeringat. Padahal dia sadar tidak habis lari-lari mana mungkin berkeringat.


"Jadi, apa mas Mahfud sepemikiran dengan Abah saya?" Saras mengerlingkan mata menggoda. Sumpah, Saras sebenarnya ingin muntah dengan sikapnya sendiri. Saras lakukan ini demi membuat Mahfud yang berwajah surga ini ill feel dan kabur dengan ikhlas.


Mahfud menelan ludah susah payah, dia tiba-tiba ikut gerah. Mungkin dalam hati dia sudah beristighfar berjuta kali. Bola matanya bahkan sudah tidak nyaman berada di tempatnya. "Emm... saya manut o-rang tu-a sa-ja," jawab Mahfud yang sudah mulai gagap.


"Kalau ka-mu?"


Inilah saatnya. Saras mengangkat tangannya, kali ini pura-pura membetulkan tali rambutnya. Padahal sejak tadi rambutnya masih baik-baik saja. Seketika kaosnya terangkat, wedel sempurna milik Saras, yang tidak bodong tapi juga tidak sedalam sumur itu terekspos begitu saja.


Mahfud memejamkan mata, Saras lihat itu. Masih dengan suara centil yang di buat-buat, Saras nyaris berbicara sambil mendesah. "Auchhh ahh... aku pribadi sebenarnya tidak sepemikiran dengan Abah. Terlalu kuno ga sih?!"


"Perjodohan? Haha... lelucon!" Saras tertawa menutup mulutnya.


Astaghfirullah, gadis ini sudah mirip singgat gayam. Bikin mata dan otak 'ku berdosa.


"Iya kalau setelah menikah kita cocok, kalau tidak? yang ada tiap hari bisa cekcok."

__ADS_1


"Amit-amit, aku masih muda dan cantik bukan?"


"Aku tidak mau jadi janda," Saras mengamati garis wajah Mahfud.


Semoga dia paham, jika Saras tidak berminat padanya. Tapi kenapa wajah surga itu masih kalem-kalem saja. Menurut Saras kalem, padahal aslinya Sebagai guru Agama seharusnya dia marah dong. Jelas-jelas Saras sudah menggodanya. Apa harus sampai telanjang, baru dia akan kabur? Hah, senang di dia, rugi di Saras.


Saras berinisiatif pindah duduk, lebih dekat mungkin ya. Baru menjatuhkan pantat, Mahfud sudah menyilangkan tangan di dada. Seolah Saras akan memperkosanya saat itu juga.


"Hai... mau apa! Kamu jangan dekat-dekat saya!"


"Kenapa memangnya? kita 'kan harus pengenalan diri. Jadi, bukankah lebih baik dekat begini?" Saras nyaris menempelkan kepalanya di bahu Mahfud.


Laki-laki itu terlonjak kaget, dan buru-buru berdiri. "CUKUP, kamu sepertinya sudah gila!"


"Saya memang mau mencari calon istri, tapi kalau sama kamu sepertinya tidak!"


"Saya tidak mau mendapat kucing dalam karung,"


"Cukup melihatmu begini, saya sudah tahu kamu gadis seperti apa!"


"Kamu cepatlah bertobat! Aurat kemana-mana, pakai baju sudah kayak telanjang!"


"Menjijikkan!"


Giliran Saras tercenung, sekarang dia koreksi wajah surga tadi. Sama sekali tidak pantas. Baiklah ini memang hasil yang dia inginkan. Tapi Saras tidak suka caranya berkomentar. Saras walau kadang wajibnya masih bolong-bolong tapi paham jika andai seseorang ingin menasehati, harusnya dengan cara yang baik bukan? Jangan langsung menghakimi. Dia tahu apa tentang Saras. Cuih!


Kucing dalam karung? Saras yakin dia sudah berburuk sangka pada Saras


"Kalau aku najis, aku termasuk najis apa?"


"Najis Mukhaffafah atau Mughalladah?"


Jengkel sekali Saras. Berantem-berantem deh. Saras berkacak pinggang.


"Hish! kamu benar-benar!"


"Sudahlah, percuma saya di sini. Saya akan bilang pada orang tua saya. Saya menolak perjodohan ini titik!"


Saras lega bukan main, tidak sia-sia dia merendahkan diri sendiri. Saras hampir mengulas senyum, tapi buru-buru dia sembunyikan. Saras melengos. "Baiklah, aku juga tidak peduli!"


Mahfud melirik Saras dengan jengah, kemudian keluar tanpa menoleh lagi. Saras buru-buru memakai jaketnya lagi. Jangan sampai Haji Bagong lihat bajunya yang tak beradab. Bisa di gantung di jemuran kalau ketahuan.


****


Setelah kepergian Mahfud, Saras di sidang saat itu juga. Tidak menunggu besok atau nanti di rumah. Haji Bagong setidak belas kasihan itu.


"Katakan apa yang kamu lakukan tadi sampai Mahfud tunggang lari begitu?"


"Kamu ancam dia apa hah?"

__ADS_1


Ya Tuhan, siapa yang mengancam? aku bahkan menggodanya Abah,


Saras ingin menjawab begitu, tapi mana mungkin. Bisa-bisa dia di rajam.


"Eh... memang mas Mahfud bicara apa? mana mungkin Saras mengancam? jarum pentul saja Saras tidak bawa."


"JANGAN BERCANDA KAMU!!!"


Kalau sudah murka begini, Saras hanya bisa menunduk.


"KAMU BENAR-BENAR MEMBUAT ABAH EMOSI!!!"


Mata Saras berkaca-kaca, "Saras sudah temui dia Abah, kalau dia tidak mau sama Saras, apa Saras lagi yang salah?" untung Saras pernah nonton sinetron. Lumayan bisa jiplak.


Untunglah, mungkin tadi Mahfud tidak menyampaikan alasannya apa. Bagus kalau begitu.


"HIIH! Abah yakin ini ulah kamu!"


"Pulang saja sana! Emosi Abah lihat kamu!"


Yuhu, dengan senang hati Abah...


Hati Saras senang sekali, sudah kayak anak sekolah yang senangnya di suruh pulang gasik.


Saras melangkahkan kakinya yang kurus, keluar dari ruangan horor secepat mungkin.


Tapi tunggu, Saras pilih-pilih cincin aja kali ya. Sudah lama tidak malak Abahnya sendiri. Saras melihat-lihat isi etalase. Cincin berkadar emas hampir empat gram, terlihat sederhana tapi elegan. Saras mau itu.


"Mbak, aku mau ini!"


"Di buatin nota ya, nanti kasihkan Andre aja."


"Bilang saja ini pajak, oke?"


Saras membayangkan wajah Andre yang jengah, dia pasti ikut merasa rugi, padahal ini toko milik Abah Saras, memang abdi tenan itu orang.


Mbak karyawati patuh, toh yang minta anak pemilik toko. Saras langsung memakai cincin itu dengan perasaan bangga bercampur senang pasti.


Hah, senangnya hati ini, dududu....


Saras bergumam sambil menerawang ke udara cincin yang tersemat di jarinya.


Skor imbang!


.


.


.

__ADS_1


.


like, komen, bagi hadiah... suwun😁


__ADS_2