Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 14: Metode Dua Jari


__ADS_3

Kali ini Saras benar-benar iba dengan Paijo. Lihat bentuknya. Wajahnya semrawut, pucat, dengan rambut acak-acakan. Memakai kaos oblong berwarna putih namun sudah pudar lebih kekuningan, dengan selembar sarung kotak-kotak berwarna abu-abu. Saras yakin Paijo belum mandi dari pagi. Kening Paijo bahkan masih berkeringat. Wajar dia baru selesai pijat urat yang tak seenak bakso urat.


"Kenapa kamu kesini?


"Aku cuma pengen menjenguk." ucap Saras canggung. Dia sedikit melirik kain sarung Paijo.


Apa dia hanya memakai sarung? aku jadi khawatir.


Haduh... berpikir apa aku ini. Dasar otak!


Posisi Paijo yang duduk setengah bersandar dan bersarung, membuat laki-laki itu seperti habis di sunat.


"Tadi aku nggak sengaja denger dari cak Sam, katanya kamu nggak bisa ngapa-ngapain."


"Terus?" tanya Paijo sedikit ketus.


Hla kog ketus, menjengkelkan. Saras agak lama menjawab karena sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Terus aku pikir kamu lumpuh!"


"Astaga mulut 'mu!"


"Heh, Saraswati kamu mendoakan aku lumpuh? benar-benar kamu ya,"


Saras nyengir, "Bukan mendoakan, aku hanya jujur menyampaikan apa yang aku pikirkan tadi." jawab Saras naik satu oktaf karena Paijo bicara juga ngegas.


"Lagipula kemarin kamu juga bilang begitu. Bukankah kamu bilang bisa saja kamu lumpuh atau buta seumur hidup? Pantas saja aku berpikir sama." Saras mencibir, rasa cemasnya sekarang berganti dengan rasa gemas ingin memaki.


"Sayangnya aku baik-baik saja. Kecewa 'kan kamu!"


"Jangan berpikiran buruk. Aku pikir setelah kemarin kamu meluk-meluk bantalan pembalut, kita bisa berteman. Atau minimal kita bisa ngomong baik-baik layaknya manusia."


Keduanya terdiam untuk beberapa detik. Kemudian membuka mulut bersamaan.


"Aku..."


"Aku..."


"Kamu duluan yang ngomong."


"Ladies first..."


"Aku minta maaf sekali lagi, gara-gara nolongin aku, kamu jadi begini."


"Apa yang harus aku lakukan untuk bisa bantu kamu."


"Tidak apa-apa, aku juga minta maaf sudah berpikir buruk sama kamu."


"Bisa maafin aku? biar kita bisa ngomong layaknya manusia..."


Saras tersenyum kemudian mengulurkan tangannya. "Baiklah kita maaf-maafan sekarang. Mulai sekarang kita berteman." "Saraswati dan Paijo sekarang berteman, oke?"


Paijo mencibir, "Haaa... ke kanak-kanakan!"


"Ayo jabat tangan! biar afdol."


"Aku masih mempertimbangkan jadi teman kamu. Kalau ga ada manfaatnya aku ogah, apa untungnya coba?"


"Baiklah, aku tawarkan salah satu kebaikan yang aku miliki. Sebagai teman dan untuk menunjukkan tanggung jawab 'ku, aku bersedia mengurus kamu selama sakit."


Paijo masih menyimak dengan wajah bloonnya. Author harap dia bisa pintar mengambil peluang.


"Maksudnya mengurus?"


"Aku urus makan kamu, aku bakal masak buat makan kamu. Aku juga mau, kalau di minta cuci baju kamu. Tapi khusus ****** ***** skip, kamu aja yang cuci. Mata dan tangan 'ku masih suci, jadi aku tidak mau mereka ternodai."


"Hanya sampai kamu sembuh, setelah itu kita bisa kembali ke kehidupan masing-masing. Bagaimana?"


Sebenarnya Paijo merasa Saras tidak perlu melakukan hal itu. Tapi kata author, Paijo harus pinter mengambil peluang. Jadi iyakan sajalah. Hehe...


"Baiklah, aku tidak memaksa. Kamu sendiri yang menawarkan diri."


Saras lega, karena Paijo mau menerima niat baiknya. "Jabat tangan dulu!"


"Ahhhh..." dengan malas Paijo menerima uluran tangan itu.


"Jadi mulai kapan kamu masak? aku lapar."

__ADS_1


Giliran Saras yang mencibir, "Tadi sok nolak sekarang gercep. Dasar!"


"Berhubung aku anaknya baik dan royal, sekarang kita go food aja. Mau makan apa, tinggal sebut."


"Ahhh... kalau itu aku juga bisa sendiri."


....


*****


Esoknya Saras datang pagi-pagi sekali. Dia sudah berbelanja berbagai macam bumbu, sayuran dan lauk pauk. Cak Sam sampai heran melihat gadis itu pagi-pagi sudah di depan rumahnya.


"Apa? kamu mau masak dan mencuci baju untuk Paijo?"


"Iya cak, gimanapun Paijo nyaris lumpuh gara-gara saya."


"Hahaha... kamu itu teman atau calon istrinya? tidak perlu sampai begitu. Paijo paling juga sembuh beberapa hari ke depan."


"Maka dari itu, hanya untuk beberapa hari. Ijinkan saya berkeliaran di rumah cak Sam ya?"


"Hmm... baiklah kalau itu bisa membuat kamu tenang. Saya mau pergi kepasar."


"Masuk saja, anggap rumah sendiri."


"Terimakasih cak." Saras kegirangan hampir melompat-lompat.


"Kalau begitu saya siap-siap memasak dulu."


Saras bersemangat untuk memasak. Hari ini Saras ingin memasak sup ceker, ayam goreng dan sambal tomat. Dia sudah berada di dapur, dan sejak datang dia belum menemui Paijo.


Nanti saja kalau masakan sudah matang, baru di sajikan.


Bau harum masakan tercium hingga kamar Paijo. Apa Saras sudah datang dan langsung memasak? gadis itu benar-benar di luar dugaan.


Saras selesai dengan masakannya. Semangkuk sup ceker dengan taburan bawang goreng yang menggugah selera, sepiring ayam goreng lengkap dengan sambal tomat. Semuanya sudah tertata rapi di atas meja makan.


Tok...tok...tok...!


"Pai-jo... Pai-jo..." Saras memanggil nama Paijo seperti anak kecil yang sedang memanggil temannya untuk bermain keluar.


Saras masuk ke kamar Paijo untuk yang kedua kalinya. Untung saja penampilan Paijo pagi ini lebih aman dari pada kemarin. Kaos oblong putih polos dan celana pendek. Tapi wajahnya masih sama, kucel.


"Sarapan sudah siap, mau makan sekarang?"


"Aku belum mandi, niat sekali kesini pagi-pagi sekali."


Saras berjalan mendekat, "Niat baik harus di segerakan. Hehe..." Dia tersenyum sok manis.


"Terserah..." Wajah Paijo terasa panas hanya memandang Saras. Paijo tidak memungkiri jika Saras cukup manis dan imut sejak kecil.


"Aku mau mandi dulu,"


"Oh...baik mari aku bantu."


Paijo meringis menahan sakit saat di papah Saras menuju kamar mandi. "Apa tidak sebaiknya kita ke dokter? Sepertinya sakit sekali sampai ga bisa jalan sendiri gini,"


"Tidak perlu besok juga sembuh sendiri." Paijo merasa jantungnya berdebar lebih kencang. Dia khawatir lama-lama jantungnya akan lompat, lebih baik cepat-cepat menutup pintu kamar mandi. Setidaknya jika jantungnya jadi lompat, bisa lompat ke closed dan tinggal di siram. Kamu pikir itu apa Paijo?


Saras setia menunggu di depan pintu. Lima belas menit kemudian pintu terbuka, dan Paijo sudah terlihat segar dengan kaos oblongnya yang putih bersih.


"Sudah selesai?" Paijo mengangguk malu.


"Langsung ke meja makan saja ya. Sudah aku siapkan sisir jadi ga perlu ke kamar lagi."


Saras memapah Paijo lagi, "Bisa duduk tidak?"


"Bisa tapi pelan-pelan." Paijo kembali meringis saat pantatnya menyentuh kursi.


"Huuuh..." Saras menghela nafas. Memapah pria dewasa ternyata butuh tenaga ekstra. "Gimana kurang nyaman duduknya? mau diambilkan bantal untuk duduk?"


Ahhh... aku baik sekali. Jadi terharu dengan diriku sendiri.


"Boleh..." Saras bergerak cepat masuk kedalam kamar Paijo dan kembali dengan sebuah bantal. Setelah memastikan Paijo duduk dengan nyaman dan menyisir rambutnya, Saras dengan telaten mengambilkan nasi lengkap dengan sayur dan ayam goreng.


"Makan yang banyak, biar kamu cepat sembuh."


"Kamu sendiri tidak makan?"

__ADS_1


"Aku makan nanti saja di kampus. Tidak terbiasa makan pagi." Saras merasa bangga saat masakan hasil karyanya di makan orang lain. Dia terus memperhatikan Paijo saat memasukan sesuap demi sesuap nasi sup ke mulutnya.


"Kenapa memandangi 'ku seperti itu? Kamu boleh makan kalau pengen!"


"Iya kali yang masak aku sendiri. Mana boleh kamu melarang."


"Terus kenapa senyum-senyum?"


Karena ini Saras, tentu saja dia menjawab sedikit gila. "Tadi kamu beneran mandi?"


"Iya, memang kenapa?" Jawab Paijo polos, lalu menyuapkan sesendok nasi lagi ke mulutnya.


Enak juga masakannya.


"Tidak begitu terdengar suara air. Aku pikir kamu mandi pakai metode dua jari. Makanya aku senyum-senyum, hehe..."


"Maksudnya?"


"Iya jawab jujur saja, tidak usah malu."


"Metode dua jari masak kamu tidak tahu."


"Lihat ini! dua jari, tinggal celup ke sedikit air. Lalu sapu ke kedua mata, kanan dan kiri. Set... set... Beres deh! Hahahah ..." Saras tertawa setelah memperagakan metode dua jari.


"Heh, Saraswati! Kamu sengaja mengejekku?"


"Aku tidak sejorok itu!" Baru saja bisa bicara layaknya manusia, tapi Saras kurang kerjaan menggoda Paijo.


"Hahaha.... aku cuma menduga, soalnya tadi kamu mandi cepet juga."


"Heh, mau mandi cepet atau lama, atau seharian di kamar mandi. Sama saja buat aku."


"Kamu pikir sehabis mandi aku akan berubah tampan? Terus bikin kamu terpesona?"


Pertanyaan bodoh kalau itu Paijo. Dasar Paijo!


"Mustahil kalau itu, hahaha..."


"Itu kamu tahu..."


"Hahaha...." Saras tertawa lagi, kali ini lebih terbahak-bahak. Sampai ujung matanya mengeluarkan air.


Paijo lugu sekali ternyata. Lugu, lucu tur wagu.


Saras semakin manis jika tertawa. Tidak apalah, aku di olok-olok. Asal bisa lihat kamu tertawa seperti ini. Oh... tidak, kenapa dengan aku?


Sadar tidak sadar, mereka berdua semakin dekat. Saras menunggui Paijo sampai selesai makan. Berniat mencuci piring yang kotor, saat beranjak, hp Saras berdering. Mr. B?


Entahlah, Saras merasa malas untuk mengangkat. Berbicara dengannya seperti menyedot energi positif yang dia miliki. Anggap saja Saras kejam. Dia benar-benar mengabaikan B sejak kemarin.


"Kenapa tidak di angkat?" Bukannya menjawab panggilan itu, Saras malah meletakkan ponselnya lagi ke meja.


"Biarkan saja, nanti juga mati sendiri."


"Panggilannya?"


"Bukan, orangnya!" jawab Saras santai.


Paijo geleng-geleng kepala, "Sadis...!"


"Sudah tahu tanya..."


.


.


.


.


.


.


Hai, selamat menikmati. Semoga kalian bisa ketawa, nyengir, atau senyum sedikit aja juga boleh.


like, komen bagi hadiah, emuachhh...😘

__ADS_1


__ADS_2