Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 30: Dendam Nyai Saraswati


__ADS_3

Bahaya jika menyakiti hati perempuan, kata temanku. Teman yang mana aku juga tidak tahu. Aku baru tahu ternyata begini cara perempuan balas dendam jika hatinya tersakiti.


Dampaknya membuat laki-laki waras seperti diriku ini menjadi sinting.


"Awas!!!!"


Brakkkkkkkkkkkkkkk!!!! glundung, glundung, glundung...


Kepala Paijo hampir saja pecah kejatuhan gelondongan balok pohon sengon yang sedang di bongkar. Beruntung salah satu pekerja menarik tubuhnya, walaupun tubuh mereka sama-sama jatuh bebas menghantam tanah.


"Ahh... auchhhh..."


Paijo meringis merasakan lengannya lecet, mungkin terkena serpihan kayu bukan serpihan debu.


"Mas Jo tidak apa-apa?" Dan semua orang yang berada di tempat itu berhambur mendekat. Memastikan keadaan wakil bos yang sering membawakan mereka gorengan anget-anget di sore maupun malam hari.


Salah satu mandor merasa bersalah karena ceroboh tidak mengawasi anak buahnya.


"Heh, kamu kira itu guling? main lempar seenaknya!? Ga pakai mata kamu!"


Laki-laki kurus yang hanya memakai celana jeans pendek dengan robekan dimana-mana itu langsung mengkerut dan mengering kayak tempe kripik. Walaupun bukan sepenuhnya dia yang salah. Tapi mana punya hak dia membantah.


"Hei, sudah jangan marahi dia. Saya yang kurang hati-hati." Gara-gara memikirkan Saraswati yang menghilang tanpa kabar, hampir saja aku mati.


"Maafkan saya Mas Jo, saya benar-benar tidak tahu anda di bawah sana! Saya ceroboh,"


"Sudah tidak apa-apa, semuanya ayo kembali bekerja!" Mereka pun membubarkan diri. Paijo di papah masuk kedalam rumah yang lebih pantas di sebut kandang burung. Rumah kecil dari papan yang di buat bertingkat. Lantai bawah untuk menjamu tamu dan lantai atas untuk pekerja yang memilih menginap untuk menghemat ongkos. Dia membersihkan sendiri luka di sikunya dengan air, baru kemudian dia tetesi dengan obat merah.


Sudah hampir dua minggu Paijo tidak bisa menghubungi Saraswati. Nomor whatsApp di blok, Instagram dan Facebook juga. Karena sibuk Paijo juga belum sempat menyambangi gadis itu.


Hanya karena tidak mau mengakui perasaannya tempo hari, Saraswati begitu mengerikan. Dendam nyai pelet saja tidak begitu menyeramkan.


Paijo memandangi foto Saraswati yang dia ambil diam-diam dulu saat mereka pergi bersama. Saraswati sedang duduk di batu besar di tepi sungai. Dengan rambut sekuning rambut jagung, tergerai sebahu, dia sangat cantik.


"Hai Saraswati, apa kamu tidak merindukan aku?


Awas saja jika kamu berani meninggalkan aku,"


"Ehem!" Pak mandor berdehem mengagetkan Paijo yang seperti orang gila, berdialog dengan ponselnya sendiri.


"Makanya Mas Jo, kalau cinta ya bilang cinta, kalau rindu ya bilang rindu, jangan di pendam sendiri. Kalau gadis itu tidak tahu, bisa-bisa keduluan sama yang lain,"


Paijo mengernyitkan alis, "Apa sih Bapak,"


"Ga usah malu, masalah seperti ini Bapak sudah pengalaman."


"Cuek-cuek aja, santai-santai aja, entar di rebut orang baru kelabakan. Susah!"


"Ga ada waktu buat remeh-remeh gitu, nanti kalau saya sudah siap. Saya pasti bergerak. Tapi tidak untuk saat ini. Masih banyak yang perlu saya capai."

__ADS_1


"Apa? uang banyak, kerjaan lancar, usia Mas Paijo juga sudah pas menurut saya kalau mau berumah tangga."


"Saya belum kaya melebihi Bapak saya. Sebelum mengalahkan Bapak, saya tidak mau puas diri."


"Waduh, ada dendam toh ternyata,"


"Ntar kalau ga di ganjar kaya, Mas Jo tetep ga mau nikah?"


"Ya ga gitu juga,"


"Hlayo... sakit hati di tinggal rabi lebih menyakitkan di banding di tinggal mati"


"Cihh... itu kalau Bapak orangnya, saya yakin belum juga kering makam istri Bapak pasti sudah terinspirasi mencari istri pengganti yang lain."


"Buahahaha..." cibiran Paijo hanya di balas tawa mantul dari Pak mandor. Pria seusia dengan ayah Paijo itu pergi keluar setelah mengambil meteran di meja kerja.


Paijo termenung, sedikit banyak dia juga takut kalau tiba-tiba di tinggal nikah oleh Saras. Jangan sampai senasib dengan lagu, di tinggal pas sayang-sayange.


****


"Ehem! Ehem!"


Paijo berdehem untuk menghentikan langkah Saras yang baru saja tiba, dan akan membuka gerbang pagar tempat kosnya. Baru menunggu lima belas menit gadis itu sudah muncul. Mungkin ini definisi ikatan batin, tanpa mengirim pesan apalagi undangan mereka bisa bertemu.


"EHEMM!!!"


Paijo mengeraskan deheman saat tidak ada tanda-tanda gadis itu akan berhenti.


Saras lanjut membuka pagar dan memasukan motornya ke garasi. Dia anggap Paijo makhluk astral yang tak kasat mata. Walaupun jujur jantungnya lompat-lompat tali di dalam sana.


"Woi Saraswati!"


Masih sama, dia malah semakin cepat ngeloyor masuk dan menutup pintu dengan keras. Paijo melongo. Ingin menyusul tapi pasti percuma. Akhirnya Paijo memilih pulang saja. Besok di coba lagi, barangkali Saras menolak bertemu karena dia tidak membawa buah tangan apa-apa malam ini.


Paijo bukan pria romantis apalagi pengemis. Tapi pagi ini dia rela mengemis demi cinta. Pagi-pagi sekali dia sudah berdiri di depan kos Saras. Menenteng lima bungkus bubur ayam, dia malah lebih terlihat mirip ojek gofood yang sedang mengantarkan makanan.


Pintu kos terbuka, Paijo berbinar namun tak lama. Karena yang muncul bukan Saraswati melainkan temannya, Hayu.


"Eh, ada Mas Paijo. Cari Saras?" Paijo mengangguk.


"Sayang sekali, Saras ga ada. Pagi-pagi sekali dia pergi. Ikut car free day. Katanya mau ikut joging, tapi saya juga ga percaya. Palingan dia cuman mau jajan beli cimol."


Paijo agak tidak percaya, mereka satu aliran bisa saja mereka bergotong royong untuk berbohong. "Oh, jam berapa biasanya dia pulang?"


"Ga tau Mas, bisa siang bisa sore. Suka-suka dia."


Paijo tidak mengatakan apa-apa lagi selain mengulurkan bungkusan di tangannya.


"Banyak banget Mas..."

__ADS_1


"Iya, makan aja."


"Buat Saraskan?"


"Ga usah, bagi-bagi aja sama yang lain. Dia pasti sudah kenyang di sana."


Hayu menahan tawa, kenyang apa, orangnya aja di dalam, bangun tidur sudah sambat lapar. Berhubung keduluan ada Paijo mereka ga jadi keluar. Kasihan juga Paijo. "Ga mau nitip pesan apa gitu, nanti aku sampaikan."


"Tolong bilang ke dia, ga usah ngintip kalau kangen. Bohong juga ga perlu, aku tahu dia masih di rumah."


Hayu meringis, tak enak hati. "Ah- itu...." Hayu gugup.


"Tidak apa-apa, kalau tidak mau bertemu. Aku juga ga bisa maksa."


Paijo beranjak pergi. Hayu malu sekali karena ketahuan berbohong. Si biang keringat malah tanpa malu masih bertanya, "Yu, dia bilang apa? dia bilang kangen ga sama aku, kog dia pergi gitu aja sih? Menyebalkan!"


Hayu mendengus kesal. Belum Hayu menjawab Saras sudah menyerobot bungkusan bubur ayam dari tangannya. "Ini buat aku 'kan?"


"Kenapa sih dia langsung pergi? ga ada niat nunggu aku dulu, padahal aku cuma bohong bilang ikutan Cfd. Kurang sekali jiwa perjuangannya?"


Mulut Hayu sudah gemas ingin menjawab pertanyaan Saras yang membabi buta. Tapi kemudian Hayu memilih memlintir lemak di lengan sahabatnya itu. "Auchhhh...."


"Kamu itu dasar! Orangnya kamu tolak! bubur ayamnya kamu embat! Masih bilang jiwa perjuangan Mas Paijo kurang?"


"Eh, Saraswati emang kamu kemerdekaan? merasa perlu di perjuangkan?"


"Aku malu nyet, ketahuan bohong. Kalau mau ngintip, cerdas sedikit kenapa!"


"Oh, ketahuan?" jawab Saras datar.


"Gitu doang?" Hayu percaya temannya ini sedikit gila.


"Ya sudahlah, besok lagi aku ngintipnya lewat lubang tikus biar ga ketauan."


"Karep-karep 'mu lah Ras...."


"Marai bongko! membuat emosi jiwa."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


like, komen, bagi hadiah🙏


__ADS_2