Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 44: Akibat Settingan


__ADS_3

Jika bisa dia ingin sekali menumpang ke planet Mars atau sekalian ke Jupiter. Masih terlalu pagi jika dia berangkat kerja. Tapi mau bagaimana lagi, dari pada pagi-pagi ditagih janji, mending melarikan diri.


Dengan posisi kepala menelungkup di atas meja kerjanya, Saras melanjutkan tidur. Jam kerjanya dimulai pukul delapan, dan jam enam pagi dia sudah masuk ke kantor. Satpam di depan pun jadi terheran di buatnya.


Saras memang tipe orang yang mudah tidur dimana saja dan dengan posisi apapun. Dari pada tidur terbaring membuat blouse yang dia pakai kusut, mending tidur dengan posisi duduk lebih aman dan manusiawi.


Sayup-sayup kesibukan mulai menggelitik telinga Saras. Dia mengerjapkan mata beberapa kali. Mengumpulkan sisa-sisa kesadaran yang tadi berserakan. Sekilas Saras lupa sedang ada di mana. Namun kemudian wajah tampan di hadapan matanya itu sukses membuat jantungnya runtuh. Saras kaget. Sejak kapan asisten bos yang tengil itu duduk di hadapannya. Asem tenan. Hardiknya dalam hati.


Walau begitu dia hanya mampu meringis bodoh, "eeee... ada yang bisa saya ban-tu- Pak?"


"Good morning nona Saraswati. Apa mimpimu indah?" Asli senyumnya memang manis sekali, sangking manisnya Saras takut tertular diabetes. Bahkan senyumannya itu mengalahkan cahaya matahari di pagi hari ini. Cerah tidak mendung sama sekali.


"Ma-af Pak, saya ti-dak sengaja... hmm..."Saras menunduk merasa bersalah karena sudah tidur di tempat kerja. Harusnya dia sudah bangun sebelum orang-orang mulai datang tadi.


"Aaa... santai saja. Lagipula ini belum mulai jam kerja. Sepuluh menit lagi." ucap Jamal mengangkat pergelangan tangannya, dimana jam tangan mahal melekat di sana.


Saras menegakkan duduknya, selain takut jika kena teguran dia juga malu karena tadi saat tidur pasti dia sangat buruk. Astaga Saras sampai lupa mengecek apa ada iler laknat yang membasahi mejanya. Ah Saras rasanya mau cosplay saja jadi hiasan dinding apa gitu. Asal jangan jadi cicak-cicak di dinding.


"Kenapa Bapak kesini? ada yang bisa saya bantu?" Fix aman, meja kering, beruntung Saras ga ngiler pas tadi.


Masih dengan gaya cool dan terlihat santai, bukannya pergi, Jamal malah menyilangkan kakinya dan bersandar di bahu kursi. Sepertinya dia menikmati sekali melihat Saras tidur tadi. "Saya biasa datang kesini pagi-pagi, tapi sepertinya ada yang sengaja menghindar," sindirnya. "Baru kali ini saya beruntung,"


"Ehem..." Saras berdehem menginstruksi. Mau mengusirnya kog jabatannya bukan apa-apa di bandingkan laki-laki tengil ini. Tapi kalau tidak diusir kog dia betah. "Saya kurang paham apa maksud Bapak. Sebentar lagi jam kerja di mulai, kalau sudah tidak ada kepentingan. Bisakah saya mulai bekerja?"


Jamal mendengus membuang nafas kasar. "Baiklah, kalau begitu beri saya waktu untuk bisa mengobrol berdua sama kamu. Makan siang atau pulang bareng mungkin?"


Dasar tidak tahu malu, tidak profesional! Bisa-bisanya dia bicara hal pribadi di saat jam kerja dan semua mata di ruangan ini jelas curi-curi pandang kearah kami.


Seakan bisa membaca pikiran Saras, Jamal kembali membual. "Itu karena kamu tidak pernah membalas pesan-pesan dariku. Menghindar saat saya datangi."


"Saya bahkan tahu kamu tidak pernah mau menerima pemberian yang saya titipkan."


"Benar bukan?"


Hati Saras bergemuruh hebat, dia senang bisa bekerja di sini. Tapi jika ada atasan yang macam ini sudah pasti dia merasa tidak nyaman bukan. "Maaf Pak, saya tidak bisa. Saya tidak bisa menjanjikan apa-apa."


"Tidak makan siang atau pun pulang kerja bareng."


"Saya masih baru di sini, bahkan status saya masih kontrak. Saya harap Bapak bisa lebih bersikap profesional." tegur Saras, lancang memang, tapi dia merasa punya hak untuk bicara.


Jamal tercekat, tidak percaya dia di tegur bawahannya sendiri. Tapi tidak masalah, bendera cinta sudah berani Jamal kibarkan. Dia tidak akan mundur sama sekali. "Hmm... oke... saya pastikan pulang kerja kamu duduk semobil dengan saya, nanti sore!" Jamal tersenyum setan. Setelah mengatakan itu Jamal beranjak pergi. Tidak peduli dengan tatapan karyawan lainnya.


Saras benar-benar frustasi kali ini. Kemarin-kemarin di bisa menghindar, tapi kali ini dia sudah tersudut, entah sudut siku-siku apa sudut lancip, di rumah atau di kantor sama-sama tidak nyaman.


****


Sore hari, setelah otak terasa lelah karena sudah seharian mengolah data. Saras berencana mampir ke warung Padang, memesan nasi dengan porsi ngamuk, alias porsi jumbo agar punya kekuatan menghadapi Abahnya nanti di rumah. Saat di perjalanan keluar kawasan, tiba-tiba motornya oleng.

__ADS_1


Saras menurunkan kecepatan, dan menepi berniat mengecek apa ban motornya baik-baik saja atau sebaliknya.


Dan ternyata benar dugaannya, ban motor Saras gembos. Kehilangan banyak angin membuatnya oleng. Sama halnya yang punya, banyak masalah membuat dirinya oleng dan hampir menyerah.


Ah sial!


Kalau sudah begini mencari bengkel tambal ban lebih penting dari pada mencari warung Padang. Ban belakang motor Saras yang gembos, terpaksa dia menuntun motornya. Lelah dan lapar. Saras rasanya ingin menangis. Merasa menyedihkan jika sedang berada di posisi ini. Andaikan ada Paijo, Saras ingin bermanja minta di jemput.


Tin...! tin...!


Klakson mobil dengan intonasi cepat dan nyaring membuyarkan andai-andai Saras. Gadis itu menoleh dan mendapati sebuah mobil berwarna hitam sudah berhenti di belakangnya.


"Butuh tumpangan?"


Saras mengernyitkan dahi, kebetulan yang sangat menjengkelkan. "Tidak, terimakasih Pak. Saya butuh bengkel tambal ban, bukan tumpangan!"


"Haishhh... kog galak sekali? aku baik hlo menawarkan diri membantu."


"Seingat 'ku, tidak ada bengkel terdekat di sini. Kamu ga kasihan sama kakimu? ga takut parises kalau diajak jalan berkilo-kilo meter?"


Sudah diluar lingkungan kantor, mungkin itu sebabnya Jamal bicara semakin santai. Aku kamu? Saras tambah jengah saja.


"Tidak! saya bisa sendiri. Tidak usah mengkhawatirkan kaki saya. Saya yakin dia akan baik-baik saja." Saras bergerak menuntun motornya lagi. Jamal tidak diam. Dia menyusul langkah Saras dan berjalan beriringan.


"Kalau begitu aku temani jalan, aku tidak tega melihat perempuan jalan sendiri mendorong motor pula. Kalaupun aku tawarkan mengantikan posisi kamu, pasti kamu ga mau."


Saras semakin kesal, raut wajahnya sudah mengeras. Memang laki-laki tak tahu diri.


"Please Pak, silahkan anda lewat duluan. Saya tidak butuh di temani!"


"Apa saya harus teriak minta tolong, dan bilang ke orang-orang kalau Bapak mengganggu saya?"


"Silahkan saja teriak, aku bakal bilang kalau kamu istriku yang lagi ngambek. Mereka tidak akan berani mencampuri urusan kita!"


Bahu Saras melorot, percuma bicara ngotot sama asisten bos yang selain tengil kemungkinan juga gila. Saras diam penuh dendam. Masih kuat berjalan beberapa langkah, tapi ngos-ngosan juga ternyata. Apalagi laki-laki di sampingnya ini seperti punya batre cadangan full. Ngoceh sepanjang jalan.


"Apa aku bilang? sudah sejauh ini belum ada bengkel 'kan?"


"Sudah jangan keras kepala, biar Samson yang urus motor kamu. Kita balik ambil mobil. Aku antar kamu pulang!"


Saras sudah lelah lesu sekarang, matahari yang tadi cerah di sore hari sekarang tenggelam menuju malam. Saras tambah takut kalau malam tiba, bukan takut tiba-tiba jadi serigala, tapi takut karena banyak serigala di jalan. Termasuk laki-laki di sebelahnya.


Dengan cepat Jamal menarik tangan Saras, berjalan balik ke mobilnya. Saras tak berdaya. Selain berjalan mengikuti langkah kaki Jamalun.


"Kalau kamu tidak keras kepala, dari tadi kita mungkin sudah sampai rumah kamu." ucap Jamal mulai menyalakan mobilnya. Saras duduk diam seribu bahasa. Mode mengunci mulut karena sudah pasrah.


"Aku lapar, kita cari makan dulu bagaimana?"

__ADS_1


Kalau tidak bisa baik-baik, Jamal memang bertekad memaksa. Dia merasa sudah benar-benar jatuh hati pada Saras. Setelah di tolak Elena, baru kali ini Jamal merasakan getaran cinta lagi. Dia tidak mau menyia-nyiakan waktu. Hajar, tabrak, bat bet!


"Antar saya pulang!" jawab Saras dengan tatapan mata dingin. Jamal bisa merasakan aura marah yang sesungguhnya. Padahal dari tadi Saras sudah terlihat marah. Tapi baru di detik ini Jamal merasa, jika gadis di sebelahnya ini sedang marah nyaris meneteskan air mata.


"Maaf...."


Jamal merasa keterlaluan, apalagi dia sudah berulah memerintahkan satpam pabrik untuk menyabotase ban motor Saras bocor. Jadi ini semua hanya settingannya semata.


Aku bodoh! bagaimana bisa aku malah membuatnya menangis...


Sepanjang perjalanan keduanya hanya terdiam, Saras dengan segudang kelelahannya dan Jamal dengan rasa bersalahnya.


"Stop, sampai sini saja. Itu rumah saya." Saras melepas sabuk pengaman dan turun. Jamal menyusul Saras.


"Saras.... aku..."


"Maaf saat ini saya tidak bisa menawarkan Bapak untuk mampir, suasana hati saya sedang buruk. Saya harap Bapak maklum."


"Terimakasih, sudah mengantar saya pulang," masih dengan raut yang dingin Saras berbalik hendak masuk, tapi tangannya di tarik Jamal.


"Tunggu..."


"Maafkan saya jika terlalu memaksa kamu," Saras menatap pergelangan tangannya, dan itu cukup membuat Jamal mengerti kalau dia harus segera melepaskannya.


"Maaf..." ucapnya lirih.


Saras tidak berkata apa-apa lagi. Selain berteriak memanggil satpam rumahnya untuk membukakan pagar besi yang menjulang tinggi itu. Seketika seorang pria kurus tinggi tergopoh-gopoh membukakan pintu pagar.


"Hlo, mbak Saras motornya dimana?"


Saras diam tak menjawab. Hanya berjalan dengan terburu-buru masuk rumah.


Di luar pagar dua orang laki-laki hanya bisa menatap Saras dari kejauhan, hingga punggung Saras menghilang di balik pintu rumahnya.


Mobil Jamal pelan-pelan bergerak menjauh, pergi dan hilang di belokan gang. Sementara laki-laki satunya, duduk tak bergeming di atas motor miliknya. Berniat memberikan surprise malah dia sendiri yang terkejut.


to be continue....


.


.


.


.


.

__ADS_1


like, komen dan bagi hadiah ya...😘😘😘


__ADS_2