
Baru jadian sehari, sekarang di tinggal lagi.
Saras rasanya ingin menyanyikan lagu di tinggal pas sayang-sayange. Bagaimana tidak, baru kemarin siang Paijo memproklamirkan perasaannya, namun pagi ini laki-laki yang tidak terlalu tampan tapi berkharismatik itu pamit kembali ke tempat kerja nan jauh di sana.
"Heh, jangan cemberut gitu. Aku pergi untuk kerja cari uang, bukan pergi ke Merkurius buat bercocok tanam lantas nunggu musim panen baru bisa pulang." canda Paijo.
"Aku pasti kesini seminggu sekali, buat apelin pacar." bisik Paijo menggoda pujaan hati yang sah menjadi kekasihnya. Entah siapa yang mengesahkan. Burung beo atau siamang, hehe...
"Kuliah yang bener, kalau butuh apa-apa tinggal bilang."
"Aku butuh di temenin." sambar Saras. Bagaimana pun dia tidak rela jauh dari Paijo. "Aku kepengen di antar jemput pas kuliah. Bukan di gabur kayak burung Dara."
Paijo gemas mencubit hidung mancung Saras. "Aku sayang kamu, kalau cuma antar jemput apa bedanya aku sama tukang ojol?"
"Aku udah tua, harus mikir masa depan. Apalagi jadi pacar anak Hj. Bagong yang doyan jajan ini. Harus pinter-pinter cari cuan, Hahaha..." Saras masih cemberut, tapi tidak bisa juga menahan Paijo untuk tidak pergi.
"Hmm, ya sudahlah pergi sana! Awas kalau berani ngilang-ngilang tanpa kabar. Aku bakar pabrik kamu!"
"Hahaha... sadis! Sini salim dulu. Mas mau berangkat kerja." Malu-malu mau Saras menerima uluran tangan Paijo, mengecupnya sekilas bak istri Sholihah.
"Mau di peluk?" Paijo menggoda lagi, barangkali mau lumayan juga.
"Ga mau, ngeri. Wekkkk!"
Mereka berdua pun berpisah, Saras masih terpaku di depan pagar besi melepas bayangan Paijo yang pergi menghilang di tikungan jalan.
Hingga suara motor Paijo yang berisik sudah tidak terdengar lagi, Saras baru masuk kedalam rumah kos yang kurang lebih sudah empat tahun dia tempati.
Hari demi hari, minggu demi minggu. Hubungan mereka masih hangat, sehangat nasi yang baru di keduk dari penanak. Paijo tidak pernah ingkar janji layaknya merpati. Dia rajin vidio call sebelum dan setelah bangun tidur. Seminggu atau dua minggu sekali dia datang untuk menemui Saras. Mengajaknya jalan-jalan, nonton film di bioskop atau sekedar muter-muter tidak jelas naik motor keliling kota. Begitu saja Saras sudah senangnya bukan main.
Di tambah lagi, sebelum kembali di tinggal pergi. Paijo memanjakan Saras dengan berbagai hadiah. Beli ini dan itu. Uang Paijo banyak, untuk siapa kalau bukan untuk menyenangkan gadis yang dia cintai. Untuk Saras dia tidak pernah pelit. Paijo bahkan sering mentransfer sejumlah uang, padahal Saras tidak pernah minta. Tahu-tahu notifikasi sejumlah uang dengan catatan-catatan nyleneh masuk begitu saja.
Buat beli es Boba!
Satu juta rupiah buat beli es? apa tidak sekalian aja gerobaknya di beli? Besoknya lagi lebih nyleneh.
Buat beli pensil alis. Padahal Saras tidak pernah melukis alis. Alis miliknya sudah bagus sejak dia dalam kandungan.
"Mas kamu ga perlu kirim-kirim uang terus. Aku masih ada, yang minggu kemarin aja belum habis. Ini sudah di TF lagi."
"Aku tuh hemat, jajan paling cilok. Jadi ga usah di kasih terus."
Omelan Saras tidak pernah di dengar, seminggu sekali Paijo pasti mengirimkan uang. Saras sampai takut kalau-kalau diciduk KPK karena kerja tidak, tapi tabungan membuncit.
****
Hari yang di nantikan selama empat tahun menuntut ilmu di perguruan tinggi, akhirnya akan tiba juga. Jauh-jauh hari Saras memberi kabar agar orang tuanya datang ke acara wisuda nanti. Orang tua mana yang tidak senang dan bangga. Haji Bagong dan Hajjah Maesaroh bahkan sudah menjahitkan baju sarimbit untuk menghadiri acara penting itu.
Namun Saras jadi galau. Hubungannya dengan Paijo masih di sembunyikan dengan rapi dari sepengetahuan orang tuanya. Padahal dia juga ingin Paijo turut hadir. Memberi tahu mereka tiba-tiba juga bukan pilihan yang baik. Bisa-bisa menetas anak ayam yang ke sebelas. Bumi gonjang-ganjing tanpa menunggu perang dunia ketiga. Saras belum berani menyampaikan itu. Bicara pada Paijo juga percuma, Saras sudah panik level gawat, Paijo hanya menanggapi santai.
"Kamu masih nyimak 'kan Mas?"
"Iya sayang, aku denger. Sinyalnya bening kog." "Aku janji datang. Lihat kamu di wisuda."
__ADS_1
"Seperti yang kamu bilang, ga mungkin tiba-tiba aku memperkenalkan diri jadi pacar kamu."
"Aku gapapa kalau cuma bisa lihat kamu dari jauh."
"Tapi..."
"Tapi apa?"
"Tapi, nanti kita ga punya foto bareng pas aku wisuda dong! Haji Bagong dan Hajjah Maesaroh pasti nemenin sampai acara selesai."
"Gapapa ga punya foto bareng pas wisuda, asal nanti kita punya foto bareng pas akad nikah, eya....hehe...." keduanya terkekeh geli. Entah belajar dari siapa, Paijo yang dulu kaku kayak kayu sekarang lebih santai dan hobi menggombal.
Jum'at pagi, di hall kampus terlihat sangat ramai. Tamu undangan dan para wisudawan sudah duduk rapi di kursi masing-masing. Rangkaian demi rangkaian acara seremonial wisuda telah berlangsung. Para orang tua merasa haru dan bangga melihat anaknya masing-masing di wisuda dan terlihat gagah dengan toga hitamnya. Haji Bagong menyeka air di sudut matanya. Dia senang sekaligus lega, anak gadisnya akan segera pulang ke rumah. Haji Maesaroh hanya tersenyum, saat suaminya itu terlihat malu karena kedapatan meneteskan air mata.
"Hebat ya Pak, anak kita."
Give me some sunshine, give me some rain
Give me another chance, i wanna grow up one again
Give me some sunshine, give me some rain
Give me another chance, i wanna grow up one again
Give me some sunshine, give me some rain
Give me another chance, i wanna grow up one again
Na na nana, na na nana...
#Give me some sunshine by: Sharman Joshi dan Suraj Jagan ost film 3 idiots
Saras tenggelam berbahagia bersama teman-temannya. Dia kemudian berpelukan erat bersama kedua sahabatnya, Rani dan Hayu. Bahagia campur haru, semua orang merasakan itu.
Setelah puas berfoto-foto bersama orang tua masing-masing dan teman-temannya, Saras mengedarkan pandangan. Sebenarnya sejak tadi dia sudah mencari-cari sosok Paijo. Namun, hingga acara wisuda selesai bayangan Paijo pun belum kelihatan.
Dimana kamu Mas? Apa kamu tidak jadi datang?
Haji Bagong dan Hajjah Maesaroh pamit pulang ke hotel lebih dulu. Dalam hati Saras masih menunggu kedatangan Paijo. Setidaknya sudah aman, orang tuanya juga sudah pulang.
Ya Tuhan, kenapa kisah cintaku terlalu sulit begini. Beri aku jalan Tuhan.
Saras menekuk wajahnya, tak lama kemudian bahunya di tepuk. Saras mendongak, dan ternyata satu buah buket kuaci matahari terulur di wajahnya. Dari balik buket itu wajah tengil Paijo terlihat. Saras ingin menangis, karena yang di tunggu-tunggu akhirnya muncul kepermukaan juga. Tapi tangisnya dia batalkan.
Paijo selalu di luar ekspektasinya.
"Mas, kamu ga mampu beli buket bunga ya?"
"Padahal tadi aku sudah bayangin, kamu datang bawa buket bunga mawar yang besar, kenapa ini malah kuaci?"
"Emang kamu pikir aku Hamtaro?"
Paijo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sepertinya dia salah kali ini. "Kamu bukan Hamtaro sayang, tapi Hamtari. Kamu 'kan cewek Hehehe..."
__ADS_1
"Bunganya kapan-kapan ya, ini di terima aja."
"Dan mulai sekarang, nama panggilan kesayangan aku buat kamu, aku ganti Hamtari."
"Setuju 'kan?"
"Ga mau, enak saja. Masak cantik-cantik begini di samakan dengan hamster."
"Lagian ga ada imut-imutnya," belum selesai perdebatan mereka, Hayu dan Rani mendekat.
"Cie yang di datangi pacar, habis dapat ijazah terus ijab sah ini?" canda Hayu menyenggol bahu Saraswati.
Saraswati ragu, akankah semudah itu?
Paijo hanya tersenyum simpul dan saling lempar pandangan dengan Saraswati.
"Mas Jo kog datangnya telat?"
"Tau nih, katanya janji mau lihat aku di wisuda. Nyatanya baru nongol pas acara udah kelar."
"Kata siapa aku datang telat? Gedung belum di buka aja aku udah datang. Lihat ini aku rekam acara wisuda kamu."
"Aku ga punya undangan resmi, mana mungkin aku bisa masuk. Yang penting aku bisa lihat kamu, walaupun dari luar gini dan hanya lewat layar LCD." Saras luluh, benar saja undangan memang untuk dua orang, otomatis untuk orang tuanya.
"Selamat ya, semoga kedepannya kamu bisa sukses seperti apa yang kamu cita-citakan."
"Amin, terimakasih ya Mas."
"Kami di doain juga dong Mas,"
"Iya buat kalian berdua juga."
"Btw, ini ga ada yang mau ngajak saya foto-foto nih?"
Ketiga gadis itu tertawa, kemudian kembali heboh berfoto ria. Persahabatan mereka sudah bagaikan kepompong. Senang ikut senang, sedih ikut sedih. Ibarat kata ada bakso semangkuk, pasti mereka makan bertiga. Saling berbagi, begitulah persahabatan.
"Besok kita kumpul yuk, makan-makan!" ajak Saras.
Rani buka suara, "Bosnya siapa?"
"Mas Paijo dong," jawab Hayu dengan semangat perjuangan. Saras ketawa, ide dari dia yang jadi target palak malah Paijo.
"Hah? harusnya aku yang di traktir kalian bertiga. Yang wisuda siapa yang kena pajak siapa?" sindir Paijo. Namun dalam hati dia mengiyakan, apapun ladies buat kalian bertiga is rakpopo.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Siapa nih yang mau ikutan di traktir Mas Paijo?
like dan komen di kolom komentar ya,š„°