Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 96: Sebelum Ke Luar Kota


__ADS_3

"Mas sarungnya tadi udah aku masukin, tolak angin aku taruh di kantung ransel samping,"


"Oh ya, charger hp kamu juga udah aku masukin tas, jangan lupa hp di cas, pokoknya aku ga terima alasan hp lowbat saat aku pengen vc kamu"


Sore itu Saras mengemas keperluan Paijo yang akan pergi keluar kota untuk lima hari ke depan. Ini adalah kali pertama Saras di tinggal luar kota. tentu saja ada perasaan sedih sekaligus khawatir saat akan di tinggalkan suaminya kerja jauh. Terbiasa tinggal berdua dan menciumi aroma tubuh suaminya sebelum tidur, Saras pasti bakal merindukan suaminya.


Paijo yang sore itu memakai celana jeans hitam dan atasan berupa kaos putih bertuliskan Nevada terlihat tampan maksimal, apalagi dengan potongan rambut barunya. Saras berdecak, merasa was-was jika suaminya di lirik wanita lain.


Sekilas otaknya di hampiri pikiran negatif, bagaimana jika saat di perjalanan dalam kereta nanti Paijo bertemu seorang wanita. Mereka duduk sebangku lalu berkenalan, lalu mengobrol hangat, lanjut saling tuker nomor ponsel.


Atau, terjebak di dalam satu gerbong hanya dengan seorang wanita, lalu bertengkar kecil, berjam-jam hanya berdua hingga memutuskan untuk berbaikan, terkesan, lalu berujung one night stand.


Atau, terkesan hingga jatuh cinta seperti Shahrukh Khan dan Kajol dalam film Dilwale Dulhania Le Jayenge. Lalu mereka bernyanyi bersama di tengah persawahan,


Tujhe dekha to yeh jaana sanam...


Pyaar hota hai diwana sanam...


Plak!


Paijo menepuk lengan Saras yang terlihat bengong. Hampir saja hidung Saras yang mancung di telek i lalat kalau Paijo tidak segera menyadarkannya tadi.


"Ngalamunin apa sih? Alis sampai mengkerut gitu?" tanya Paijo yang masih sibuk mengoleskan Pomade ke rambut barunya.


Saras langsung sadar menyusun kata, "Eh...itu... mas, kenapa kamu terlihat ganteng banget hah?"


Tawa Paijo meledak. Istrinya itu memang kadang random sekali. Sangking gelinya Paijo hampir saja kebablasan mengoleskan Pomade ke tangannya juga. Paijo kira handbody.


Bukannya Paijo sudah terbiasa pakai kaos putih, penampilannya SNI sekali, meski sedikit beda, saat di rumah yang mana terbiasa kaosan oblong jupiter dengan sedikit bolong di area lehernya. Tapi tetap saja penampilan Paijo tidak ada yang uwah. kenapa tiba-tiba Saras memujinya tampan.


"Terimakasih sayang pujiannya, hanya kamu satu-satunya wanita di dunia ini yang melihat aku dengan kaca mata berbeda, aku jadi tersandung sama pujian kamu, hehehe..."


Saras mengerucutkan bibirnya tiga puluh derajat, sudah mirip sudut lancip ya. "Beneran, kayak ada yang salah"


"mending mas biasa-biasa aja ga usah dandan gitu..."


"Hlah... Siapa yang dandan sih sayang. Aku cuma pakai kaos biasa sama celana ini, apa aku ganti aja pakai sarung?" Wah itu lebih bahaya batin Saras.


Saras masih tak terima. "Apa gara-gara potongan rambut baru kamu ya?"


" Potong di mana sih?"


"Pakai Pomade juga sekarang..."


Saras pengen nuntut itu salon rambut tempat Paijo potongan, kesalahan besar membuat suaminya terlihat keren dan tampan seperti itu.

__ADS_1


"Biasa rambut juga tiwul-tiwul" gumam Saras lagi.


Paijo giliran berdecak. "Memang kenapa? Bukanya ini bagus?"


"Aku puas sekali hlo dengan hasil potongan di barbershop yang baru buka di dekat toko Sidodadi itu"


"Kamu tahu, kemarin sebelum di potong rambut aku di tanya dulu gini,"


"Mau pakai gunting yang harga berapa mas? Sebelas juta apa empat juta?"


"bayangkan Saraswati, mas sampai melongo, biasa di tanya mau gaya rambut gimana? Ini malah di tanya mau pakai gunting yang harga berapa?"


"Nyleneh, ya udah mas pilih yang sebelas juta boleh, hasilnya amazing ternyata, muka mas jadi ganteng yah?" goda Paijo.


Saras menatap Paijo sengit. "Huh, meresahkan!"


Paijo terkekeh, dari raut Saras Paijo tahu jika istrinya merajuk. Mungkin takut jika nanti Paijo akan genit di luar sana.


"Hei Saraswati, istriku yang cantik dan seksi sekali!" Kalau sedang tidak mode merajuk pasti Saras akan terbang di puji cantik dan seksi. Tapi kali ini Saras no way.


"aku janji ga bakal nakal" terang Paijo penuh kesungguhan.


"Aku bakal kasih tahu kamu nanti sebangku sama laki-laki atau perempuan"


"kalau penumpang sebelah perempuan, aku janji ga bakal buka mulut untuk sekedar basa-basi,"


Saras mendelik hingga bola matanya seperti akan lepas. Menjengkelkan.


"Hahaha... Bercanda sayang..." Ucap Paijo sambil memeluk tubuh Saras dari belakang.


"Kamu percaya mas, jangan mikir yang tidak-tidak nanti kamu capek, doain lancar biar mas ga lama di sana, oke?"


Saras mengangguk kecil. Tidak ada yang perlu di cemaskan. Suaminya laki-laki baik, Saras percaya itu. Tadi hanya pikiran setan lewat, anggap saja begitu. Dan terus saja salahkan setan, hahaha...


"Hmm... Cepat pergi, dan cepatlah pulang!" Guman Saras pada akhirnya.


***


Setelah beres semuanya, Paijo mengantarkan Saras ke rumah orang tuanya. Salma tentu saja menjadi orang yang paling bahagia saat Paijo bilang Saras akan menginap di sana selama Paijo ke Bandung.


Paijo sudah memesan tiket dua hari yang lalu. Nanti tinggal berangkat dari stasiun Poncol saja. Berhubung keberangkatan kereta api Harina terjadwal pukul delapan malam, menjelang Maghrib mereka sudah berada di rumah orang tua Paijo.


"Bu, nitip Saras ya, dia akhir-akhir ini sering susah makan, nanti tolong di ingetin terus suruh makan, apa aja, sedikit-sedikit yang penting perutnya ke isi, kalau butuh apa-apa tolong di bantu ya Bu"


"Oh ya, pokoknya jangan biarkan Saras megang pekerjaan rumah, saya melarang keras dia melakukan itu selama ini,"

__ADS_1


Saras langsung mencubit paha Paijo. Ngelunjak sekali, kalau seperti itu seperti menumpang mau enaknya aja. Batin Saras.


"Jangan dengerin Mas Paijo Bu, Mas Jo aja yang over, pegang sapu aja saya tidak boleh padahal kalau ga lagi lemes, gitu aja saya juga masih bisa, tapi tetap aja di larang-larang, kalau ketahuan saya nyapu yang di marahi Mbak Kubro, saya jadi kasihan sama Mbak yang rewang di rumah "


Salma tersenyum melihat interaksi keduanya. Sedangkan Burhanuddin hanya mengangguk-ngangguk kecil.


"Mana mungkin ibu biarkan Saras melakukan pekerjaan rumah. Benar kata Paijo, kamu ga boleh capek"


"Pokoknya selama di sini, Ibu bakal manjain kamu juga"


"Pengen makan apa tinggal bilang, nanti Ibu masakin"


"Iya Saras, jangan sungkan. Pengen apa tinggal bilang, jangan sampai cucu Bapak ngileran nanti, hahaha..."


Mendengar Bapaknya yang terlihat santai, Paijo jadi jahil, dia pun berbisik di samping Saras. Tapi bisikan yang sengaja bisa di dengar yang lain.


"Bilang sayang, pengen warisan tanah Bapak, dua hektar saja... Mumpung sekali ini, di tawari pengen apa!"


Saras dan Salma lantas tertawa. Sedangkan Burhanuddin mencibir candaan anak laki-lakinya.


"Heleh, kalau itu sih pengennya Bapak si jabang bayi"


"Hahaha... boleh dong Pak, sama bakal cucu, jangan pelit..."


"Jangan ngelunjak!" tegas Burhanuddin dengan tersenyum.


Saras lega, selama menginap nanti dia tidak akan bertatap muka dengan Jaelani. Saudara tiri Paijo itu sedang tugas ke luar kota. Saras menyebutnya kebetulan ini sebagai suatu hal yang patut di syukuri.


Bejo.... Bejo.... !


Batin Saras sambil mengelus perutnya yang membuncit.


.


.


.


.


.


Kenalin kaos putih Jupiter kesayangan Paijo


__ADS_1


Bapak atau suami ibu-ibu punya tak kaos macam itu?šŸ˜‚šŸ˜‚šŸ˜‚šŸ˜‚


__ADS_2