Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 71: Alasan Kabur


__ADS_3

"Abah jangan keterlaluan! Apa Saras setidak laku itu sampai akan di jodohkan dengan duda beranak satu?"


Kenyataan baru muncul. Gunawan, pegawai kejaksaan yang memang gundul dan menawan ternyata adalah seorang duda beranak satu. Gagal dalam rumah tangganya karena sang isteri kedapatan berselingkuh dengan teman satu kantornya sendiri. Itu info yang di dapat Haji Bagong dari sang sahabat yang berniat mengajaknya besanan.


"Apa salahnya jika dia duda? orangnya baik dan sudah mapan secara finansial!"


"Tapi Abah, jika rumah tangganya saja gagal, pasti ada yang bermasalah dengan dia bukan?"


"Yang bermasalah itu isterinya, perempuan itu yang bermain gila! Gunawan tidak salah dalam hal ini. Maka dari itu hak asuh anak jatuh di tangannya. Dia itu baik Saras. Percaya dengan Abah. Abah sudah kenal betul dengan keluarganya. Dan mereka sangat berharap kamu menerima pinangan ini,"


Saras menggelengkan kepala, "Tidak Abah! Saras tidak bisa, Saras kira setelah mendengar kabar kebusukan Bambang, Abah akan berpikir dua kali untuk menjodoh-jodohkan Saras lagi. Saras kira Abah akan jera... tidak semua yang Abah anggap baik, baik untuk Saras. Saras bisa memilih sendiri, Saras bisa tanggung jawab dengan pilihan Saras."


"Saras tanya kali ini, kenapa Abah ambisius sekali menjodoh-jodohkan Saras?"


"Teman-teman satu grup Abah semua anak-anaknya di jodohkan. Orang tua yang memilihkan sehingga mereka bisa mendapatkan pasangan yang sepadan."


"Ada yang dapat menantu anggota dewan, anak kyai besar, minimal mereka sudah PNS, masa depan mereka sudah jelas. Abah juga kepengen punya menantu yang hebat seperti itu."


"Lupakan perihal Bambang, Abah yakin dia seperti itu juga karena kamu."


Masih di bela juga, padahal jelas Bambang yang minus kelakuannya. "Jadi Abah ambisius hanya karena mendengarkan teman-teman satu grup Abah yang berhasil menjodohkan anak-anaknya? Apa mereka tahu betul, bagaimana perasaan anak-anaknya? Apa anak-anak mereka benar-benar bahagia menjalani rumah tangga tanpa dasar cinta?" "Hanya menuruti keinginan orang tua?"


"Mereka mungkin juga terpaksa Abah, jadi Abah jangan ikut-ikutan seperti itu, tolong pahami Saras,"


"Hah, selalu bicara cinta, dan cinta."


"Dengarkan Abah Saraswati! Cinta itu bisa datang saat kamu sudah berumah tangga! Melayani suami dan menjadi istri yang berbakti. Omong kosong jika kamu terus menolak! Kali ini Abah putuskan untuk menerima pinangan Gunawan. Terpaksa atau tidak, yang jelas kamu harus mau!"


"Beberapa bulan lagi, Abah pastikan kamu akan menikah dengan Gunawan titik!"


"Saras tetap tidak mau! Saras bukan boneka, yang bisa di dandani cantik lantas harus memaksa tersenyum bahagia. Saras punya perasaan.


"Kalau masih keras kepala, Abah sendiri sana yang menikah kalau mau! Saras lebih baik mati daripada menikah dengan terpaksa!"


PRANGGGG...!!!!


Vas bunga di meja jadi korban. Pecah berserakan di lantai. Haji Bagong murka lantas mencengkram pipi Saras dengan kasar. "LANCANG! BERANI SEKALI KAMU! MATI SAJA SANA, TAPI NANTI SETELAH KAMU SUDAH SAH MENIKAH DENGAN PILIHAN ABAH!"


"KAMU CUKUP MENURUT DAN DUDUK MANIS!"

__ADS_1


"TIDAK USAH BANYAK BICARA!! CAMKAN! ITU!!!


Haji Bagong lalu menghentakkan cengkraman tangannya dengan kasar, wajah Saras terasa kebas, sakit sudah pasti. Kemudian ayah kandung yang terasa seperti ayah tiri itu meninggalkan Saras masuk kedalam kamarnya.


Saras sudah lelah untuk menangis, berdebat seperti ini bukan kali pertama. Sudah berulang kali sampai Saras merasa muak. Menikah dengan duda beranak satu, Saras tidak bisa membayangkan, pasti sulit menerima laki-laki itu beserta anaknya dan segala kisah di baliknya. Angge-angge orong-orong, rak melu gawe melu momong. Mungkin seperti itu sebait kata yang pas menggambarkan kehidupan Saras jika menikahi seorang duda.


Malam yang pilu, jiwa Saras memberontak. Saras sudah diambang batas kesabaran. Saras tidak menangis di depan Haji Bagong tadi. Namun tetap saja air matanya tidak terbendung saat dia sendiri, menangis sendiri di dalam kamar. Pikirannya semakin kalut. Lelah dan muak.


Aku harus pergi dari rumah ini, harus malam ini juga! Aku sudah tidak peduli, di cap anak durhaka pun aku tidak masalah. Abah jelas-jelas berbuat dzolim. Abah memaksakan kehendaknya sendiri tanpa persetujuanku. Dengan dalil laki-laki itu sepadan dan mapan. Aku tidak bisa, aku tidak mau, aku tidak mau!


....


"Maka dari itu, saya putuskan untuk kabur dari rumah. Saya tidak tahu harus kemana lagi..."


Saras menceritakan itu semua di hadapan Paijo dan kedua orangtuanya. Di tangannya tergenggam satu gelas teh hangat. Rambutnya sudah hampir mengering setelah dipinjami handuk untuk mengeringkannya tadi. Saras sedikit lega setelah bercerita. Membagi beban yang terasa berat jika harus dia pikul sendiri.


Paijo diam seakan mencerna tiap kata yang di tuturkan Saras. "Ini yang aku takutkan, kamu ingat Saras, saat aku bicara mengajakmu menikah siri? Aku tidak bercanda saat itu, karena ini. Jelas Abah kamu sangat menentang hubungan kita. Dia juga segila itu sampai akan menikahkan kamu dengan seorang duda, ****!"


Rasanya Paijo ingin mengumpat.


"Ibu juga tidak habis pikir, Haji Bagong ternyata sangat kolot. Bagaimana ini Pak? kasihan mereka berdua, kita harus membantu mereka,"


Burhanuddin memang tidak banyak bicara. Sebagai orang tua dia tidak boleh gegabah. Banyak hal yang harus di pikirkan. Menikahkan anaknya secara siri mungkin bisa saja, tapi apa itu benar yang terbaik?


" Ingat Nak, sebelum menikah, kamu masih jadi tanggung jawab orang tuamu dan mereka juga masih berhak atas diri kamu,"


"Pak, kali ini tolong bantu saya, saya sangat mencintai Saras. Saya mau nikah sama Saras. Saya siap apapun konsekuensinya nanti." tandas Paijo.


"Iya Bapak tahu. Dulu saja nolak, sekarang repot sendiri bukan? Dasar kamu Jo!"


"Hemm... mungkin memang harus begini Pak alur ceritanya. Berkelok-kelok. Semoga kalian berjodoh dan segera bisa nikah. Ibu kog ya jadi pusing mikirin Haji Bagong."


"Kita ini juga tidak misquin-misquin amat. Bisa-bisanya dia ambisius dapat calon menantu PNS. Tidak cukup apa punya besan PNS, kepala desa. Pak, kapan-kapan Bapak boleh sekali-kali sombong punya tanah berhektar-hektar, biar melek itu Haji Bagong!" Salma menggebu-gebu merutuki Haji Bagong, lupa ada anak gadisnya di sana.


"Bu..." Paijo menginterupsi.


"Eh, maaf ya Saras. Ibu jadi sebel sendiri."


"Oh ya, sudah malam, kita butuh istirahat. Jangan terlalu dipikirkan, lihat besok gimana. Saras nginep disini, masih ada kamar kosong milik saudara Jo. Malam ini kamu tidur disana nanti Ibu temani"

__ADS_1


"Saras berani tidur sendiri Bu, tidak perlu kamu temani. Nanti dia kurang nyaman kalau berbagi ranjang sama kamu!" Giliran Burhanuddin yang menginterupsi. Tidak rela sepertinya jika harus tidur sendiri.


"Pak, Ibu tahu Saras berani tidur sendiri, tapi Ibu was-was kalau Paijo lompat kamar. Demi keamanan malam ini Bapak tidur sendiri yah,"


Lompat kamar apa? Paijo tiba-tiba malu dengan pikirannya sendiri. Tidak bohong, Paijo tentu ingin mengobrol lebih lama dengan Saras. Tapi kalau sudah di curigai seperti itu Paijo bisa apa selain menyangkal.


"Ibu pikir Paijo suka melipir? enak saja. Jo tahu batasan. Enggak mungkin Jo berani berbuat yang enggak-enggak..."


"Hahaha... mencegah lebih baik daripada mengobati Jo. Kamu detik ini masih waras, siapa tahu dua jam berikutnya kamu kerasukan setan dan kawan-kawannya." Saras meringis mendengar penuturan Ibu Paijo.


"Sudah ah, ayo Saras ikut Ibu. Ibu ambilkan baju ganti dulu buat kamu, pakai daster Ibu gapapakan?"


"Iya Bu... terimakasih banyak," jawab Saras dengan sungkan. Merepotkan orang lain ternyata tidak enak juga.


"Jo, Saras mau pakai daster Ibu. Kamu jangan berani-berani ngintip kami tidur nanti. Awas kamu!"


"Enggaklah... kunci aja pintunya dari dalam. Heran, curiga banget sama anak sendiri"


Bukan apa-apa, letak kamar saudara Jo yang bernama Jai memang berdekatan dengan kamar Paijo. Sedangkan kamar orang tua mereka ada di sebelah sisi yang berbeda. Salma patut khawatir. Apalagi kalau sudah terlelap tidur, mana mungkin dia bisa mengawasi anaknya. Meski percaya ada dua malaikat yang mengawasi mereka, tapi tugas mereka 'kan hanya mencatat. Bukan megebrak Paijo jika laki-laki itu kerasukan hawa syaiton.


Lagipula jaga-jaga juga dengan omongan tetangga besok. Barangkali ada yang bertanya, jadi Salma bisa bijak menjawab. Begitulah.


Perjodohan memang tidak dilarang oleh syariat Islam, namun harus di garis bawahi, syaratnya memang tidak ada unsur paksaan disana. Seorang anak berhak menolak atau menerima. Salah jika ada orang tua yang memaksakan kehendak seperti Haji Bagong itu. Itu sudah bisa di katagorikan perbuatan dzolim.


Kelanggengan, keserasian, persahabatan tidaklah akan terwujud apabila kerelaan pihak calon isteri belum diketahui. Islam melarang menikahkan dengan paksa, baik gadis atau janda dengan pria yang tidak disenanginya. Akad nikah tanpa kerelaan wanita tidaklah sah. Ia berhak menuntut dibatalkannya perkawinan yang dilakukan oleh walinya dengan paksa tersebut (Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah jilid 7).


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Pagi-pagi othor ceramah ya Ibu-ibu, maaf ga bisa rutin update. Lagi meriang, kayaknya lagi musim flu dan batuk. Sehat-sehat semua🙏


Jangan lupa terus like komen bagi hadiah😁


__ADS_2