Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 70: What Wrong with You?


__ADS_3

Bumi seakan ikut menangis. Hujan turun dengan deras, angin bertiup kencang, petir sambar-menyambar dengan sombongnya. Saras bergelut di bawah hujan. Kalut. Di tengah kebingungan, satu nama yang hanya dia tuju, Paijo.


Dompet dan Hp tak sempat Saras bawa. Saras kabur dari rumah. Nekat melompat lewat pagar belakang rumah yang jarang di jamah pemiliknya.


Beruntung Saras menemukan uang lima ribu di sak celana. Itu uang kembalian saat dia beli cilok pelangi tadi sore. Menemukan uangnya sendiri Saras bahkan merasa terharu sampai terisak menangis. Lumayan bisa buat naik bus dari Kendal ke Kaliwungu. Terus selanjutnya bagaimana?


Rumah Paijo cukup jauh dari jalan raya. Hampir dua kilo meter lebih, ide gila jika dia nekat jalan kaki di tengah hujan badai seperti ini, terlebih ini malam hari. Pakaian Saras sudah basah kuyup sejak tadi. Saras turun dari bis dengan langkah gontai. Mungkin orang-orang yang melihatnya akan mengira kalau Saras orang gila. Meski masih terlihat cantik. Tapi kondisi nya memprihatinkan. Jika saja dia sempat persiapan, minimal membawa Hp, mungkin dia tidak akan terkatung-katung seperti ini.


Saras membuang jauh rasa malunya apalagi gengsi. Terang-terangan dia meminta bantuan ke pangkalan ojek yang tak jauh dari tepi jalan saat Saras turun dari bus tadi.


"Maaf Pak, saya tidak bawa uang sama sekali, apa ada yang bersedia membantu mengantarkan saya? Saya butuh bantuan...hiks...hiks..." Saras yang tangguh dan tahan banting layaknya promosi ember karet yang di obral, meski di injak-injak tidak akan pecah. Kini hancur dan nekat kabur.


Ada sekitar tiga orang di pangkalan ojek itu, dan ketiga orang itu terlihat saling lempar pandangan.


"Memang mbak mau kemana?" tanya salah satu diantara mereka.


Saras menyebutkan alamat rumah Paijo. Salah satu dari mereka menyeletuk, "Wah mbak itu jauh hlo, dua kilo. Ga bayar terus bensinnya ikut siapa?"


Satu orang yang lain, terlihat paling muda diantara mereka bertiga malah berbisik. "Cantik lek, jadi pacarku tak jamin aku mau, tak antar kemana-mana deh kalau perlu tak gendong, haha..."


Pemuda tukang ojek itu malah terkekeh. Saras dengar. Dia juga sadar sedang di rendahkan. Meski pujian tapi kalimat seperti itu bukankah berkonotasi negatif? Tapi Saras tidak mau ribut, Saras butuh bantuan, bukan orang yang mau diajak gelut! Meski ingin sekali Saras menonjok wajahnya.


"Hush! kalian berdua ini kalau ga mau bantu yowes, orak usah kakehan cangkem!" tegur kang ojek yang terlihat paling tua.


"Mari mbak, saya antar, ga usah bayar gapapa!"


"Wiiihhh... pahlawan lek!" cibir dua rekan sesama ojek itu.


Mata Saras berkaca-kaca, Saras harus tanya namanya nanti. Besok kalau dia sudah pegang uang lagi, Saras berjanji akan memberi uang segepok untuk Bapak ini.


Tanpa menunggu lama, Saras sudah duduk membonceng di belakang. "Mbak tapi maaf ya jas hujannya satu tok, ga bawa yang kelelawar soalnya sobek kecantol paku, hehe..."


"Iya Pak, gapapa, saya sudah terimakasih sekali sudah di bantu.. sroooottttt....!" Saras menyeka ingus di sela dia bersyukur dapat bantuan.


"Yawes, pegangan mbak. Saya jalan sekarang!"


Hujan masih deras, sepanjang perjalanan tukang ojek yang memboncengkan Saras banyak diam, tidak banyak tanya. Mau mengobrol juga riskan air masuk ke mulut, 'kan masih hujan. Belum lagi pasti suaranya sulit terdengar, kabur kanginan. Saras pun hanya diam anteng.

__ADS_1


Setelah beberapa menit berlalu, sepeda motor yang mereka tumpangi melambat, berhenti tepat di depan rumah yang samar Saras ingat sebagai rumah milik Paijo. Saras turun, tak lupa menanyakan nama tukang ojek yang menjadi pahlawannya malam ini.


"Panggil saja Pak No, ojek senior yang mengabdikan diri mengantar penumpang hingga tujuan dengan selamat dan sentosa, meski pamrih dengan menerima ongkos ojek! Hehe..."


Saras mengulas senyum kecil menanggapi candaan Pak No, "terimakasih banyak Pak, saya tidak akan melupakan kebaikan anda,"


"Eh, ini bukannya rumah Pak lurah ya?"


"Iya Pak,"


Pak No baru sadar. Kini di kepalanya muncul puluhan pertanyaan, entah mengapa tiba-tiba dia kerasukan roh wartawan. Siapa gadis ini, seingat saya Pak kades tidak punya anak perempuan. Apa dia keponakan? atau pacar Paijo? Wah bisa jadi. Tapi kenapa gadis ini terlihat kasihan sekali. Dimana rumahnya?Benar bukan, itu pertanyaan hampir memenuhi syarat 5w 1 H. Untung pertanyaan itu hanya tertahan di tenggorokan. Pak No merasa enggan sendiri.


"Saya teman Mas Paijo" keterangan singkat dari Saras sekilas menjawab pertanyaan dalam hati Pak No.


"Ohhh... walah mbak, kalau teman Mas Paijo saya senang sekali bisa membantu. Mas Paijo itu banyak membantu saya, sering mentraktir saya makan. Ngopi.... Dia itu baik sekali!"


Sepertinya Pak No lupa jika masih hujan dan Saras sudah kedinginan, sumpah! Saras tersenyum kecil, tidak kaget, Mas Paijo memang baik dan royal. Anggap Saras yang memetik buah kebaikan Paijo malam ini.


"Eh... maaf mbak, silahkan masuk sana! kasihan udah basah kuyup, teles gebes ngono!"


Pak No terkekeh sendiri, sangking menggebunya menceritakan kebaikan Paijo. Setelah manggut-manggut pria dengan usia lanjut itu melesat kembali membelah hujan.


Saras kembali meyakinkan hatinya, dia kalut, dia tidak berdaya, hanya Paijo harapannya saat ini. Dengan berat, tangan Saras mengayun mengetuk pintu rumah dengan gaya joglo itu. Rumah dengan arsitektur Jawa asli. Berdinding kayu jati yang kokoh dan tebal. Meski tidak sebesar rumah Saras. Rumah Paijo tergolong paling mewah diantara rumah yang lainnya.


Tok...Tok..Tok...!


Ketukan pintu itu terdengar miris sekali di telinga Saras. Dia sendiri yang mengetuk, dia juga yang merasa kasihan pada dirinya sendiri.


Perkiraan Saras sekarang sudah jam sepuluh lebih. Wajar jika pintu lama di buka. Apalagi di luar hujan. Pasti tidak terdengar ketukan pintu dari dalam.


Tok...! Tok...! Tok!


Saras mengetuk lebih keras, buku-buku jarinya memerah, Saras sampai meringis karena ternyata sakit juga, wajar pintunya juga kayu jati. Keras pasti.


Lampu ruangan tamu terlihat menyala, dari sela-sela ventilasi Saras tahu itu. Hatinya semakin berdebar hebat, seakan ribuan kuda berlarian di sana. Saras berharap Paijo yang membukakan pintu, agar dia tidak perlu memberikan alasan apa-apa jika itu Bapak atau Ibu Paijo.


Namun pada kenyataannya, wajah cantik seorang ibu yang terlihat kaget menatap Saras, berdiri tepat di hadapannya setelah pintu terbuka. Saras menggigil kedinginan, tangannya bersidekap memeluk lengannya sendiri. Mata Saras bahkan terlihat sembab, hidungnya juga memerah. Salma yang melihatnya sekilas langsung bisa menebak jika ada sesuatu yang buruk terjadi pada gadis ini.

__ADS_1


"Bulek, saya ingin bertemu dengan Mas Paijo," Saras menunduk malu. Dia merasa rendah diri, seorang gadis mendatangi rumah laki-laki di malam hari dengan kondisi yang seperti itu. Tidak di usir saja Saras sudah lega.


Salma melebarkan pintu, "Mari masuk! Ya Tuhan, kamu kog hujan-hujanan begini,"


Sikap yang begitu ramah, Saras sama sekali tidak menyangka jika akan di terima seperti itu.


"JO! JO! KESINI NAk!" Salma bahkan berteriak memanggil Paijo tanpa mau beranjak meninggalkan Saras yang masih berdiri di depan pintu.


Kemudian yang muncul bukan hanya Paijo tapi juga Bapaknya, Pak lurah Burhanuddin.


"Ada apa i-bu--?" Paijo tercekat.


"Saraswati! Hei, kamu kenapa?" Kalau tidak ingat ada orang tuanya mungkin Paijo sudah menarik gadis itu, merengkuhnya kedalam pelukan, tidak peduli bajunya akan ikut basah.


"Ayo masuk nduk!"


"Suruh Saras duduk, ibu ambilkan handuk dulu, sekalian bikin teh anget, kamu temani Saras, ayo Pak bantu Ibu membuat teh dulu!" instruksi cepat dari nyonya besar rumah itu, membuat dua laki-laki, Bapak-anak itu menurut begitu saja. Pak Burhan yang masih bingung, di seret paksa istrinya, pengertian sekali dua pemuda itu butuh privasi.


Paijo prihatin melihat Saras yang kedinginan dan basah kuyup. Dia lantas meminta Saras duduk dan Paijo berjongkok di hadapan Saras.


Paijo menggenggam tangan Saras yang dingin seperti mayat hidup. Seakan berharap menyalurkan kehangatan disana. "Ada apa Saraswati?"


Pandangan keduanya terlihat sama nanarnya. Saras tidak mampu menjawab. Air matanya luruh begitu saja di hadapan Paijo.


Hiks.... Hiks.... Hiks....


.


.


.


.


.


to be continued...

__ADS_1


Maap, kita sedih-sedih dulu ya ibu-ibu, ga tau ini genre romantis komedi kog adane nangis terus, salahkan saja othornya🤣🤣🤣🤣🤣


__ADS_2