Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 100: Camry yang Menghebohkan


__ADS_3

Pagi itu Saras merengek agar Paijo tidak pergi kerja. Dengan alibi minta di temani dan tidak mau di tinggal-tinggal akhirnya Paijo menurut. Beberapa janji bertemu dengan rekan usahanya terpaksa di pending sementara.


"Bahagia sekali... ada apa hayo?"


Paijo mulai curiga. Istrinya itu terus menyunggingkan senyum sejak semalam. Tumben juga ocehan Camry tidak muncul dalam obrolan mereka sejak semalam. Apa dia sudah melupakan ngidamnya itu? kalau iya, Paijo bersyukur sekali.


"Hihihi... aku bahagia kalau di temani kamu di rumah, sangking bahagianya aku jadi pengen nari India mas"


Paijo mencibir, aneh bin mencurigakan.


"Oh ya mas, hari ini kamu mau di masakan apa? mumpung kamu di rumah, aku kepengen masak buat kamu"


Tuh, tambah keanehan satu lagi. Kemarin-kemarin jalankan masak, bau nasi aja Saras muntah-muntah. Kenapa hari ini dia bergaya sekali mau masak. Batin Paijo.


"Nanti kamu mual-mual, ga usah di paksa, kita bisa beli makan di luar..."


Saras menggeleng cepat. Selain terus menyunggingkan senyum, dia juga terlihat lebih energik. "Nehi... nehi...! aku mau masak hari ini, jangan khawatir oke?"


Apa dia kerasukan roh Bollywood, Paijo jadi bergidik ngeri.


"Terserah kamu kalau gitu, ga usah masak yang susah, sederhana saja biar kamu ga repot"


"Oke... kalau gitu aku ngadang tukang sayur dulu di depan"


"Mas mandi sana! Senajan aku cinta kamu, kalau kamu bau kambing aku jadi pengen ngomel"


"Heleh, gitu juga kalau tidur kamu ngusel mas teros!" gemas Paijo mengiting istrinya dan menciumi wajah Saras berulang-ulang. Lalu kabur menyambar handuk di gantungan depan kamar mandi sebelum menutup pintu rapat-rapat.


BRAKK!!!


Saras berkacak pinggang dan berteriak, "Mas, bau jigong astaga!"


Paijo cekikikan di dalam kamar mandi. Lalu suara bom atom terdengar sampai ke telinga Saras. Brot... Brot...Brot...! ternyata Paijo sedang mengeluarkan ampas dari perutnya.


Saras cepat-cepat kabur keluar rumah dengan langkah seribu sambil menutup hidungnya. Suaminya itu memang suka menggodanya. Andai bunyi bom atom miliknya bisa diatur sesuai tangga nada, mungkin Paijo tidak akan segan-segan untuk bereksplorasi menciptakan lagu.


Huh, dasar suamiku!


***


Setelah memasak sayur bayam dan menggoreng ikan bandeng. Saras makan dengan lahap bersama Paijo. Paijo sampai terkagum-kagum.


"Kamu baik-baik saja?"


"Hah??"


"Maksud mas, tumben sekali mau makan nasi..." Paijo menatap Saras curiga, jangan-jangan yang di depannya ini jelmaan alien.


"Ga tau mas, tiba-tiba doyan aja ini, kenapa?"


"Mas harusnya lega dong aku udah bisa makan nasi,"


"Eh... tentu saja"


Keheranan Paijo tidak sampai disitu. Selesai makan Saras bersikeras mencuci piring padahal Paijo sudah melarangnya. Sambil mencuci piring Saras memutar lagu Bollywood dengan judul apa Paijo tidak tahu. Sejak kapan istrinya itu jadi penggemar Bollywood, biasa drakor dan K-Pop juga.


Pinggul Saras bergoyang cantik mengikuti alunan lagu, sementara tangannya penuh busa karena sedang mencuci piring.


Haaye Chaka Chak


Chaka Chak Hai Tu


Haaye Chaka Chak


Chaka Chak Hoon Main


Hai, kamu cantik banget


Hai, aku juga sangat cantik.


Haaye Chaka Chak


Chaka Chak Hai Tu


Haaye Chaka Chak


Chaka Chak Hoon Main


Hai, kamu cantik banget

__ADS_1


Hai, aku juga sangat cantik.


Tapti Dopahari Si


Ladki Gilhari Si


Meri Jaisi Chahiye


Tere Jaise Ko


Seperti sore yang panas,


Gadis itu terlihat seperti tupai,


Seorang anak laki-laki sepertimu


Membutuhkan seorang gadis sepertiku


(Judul lagu: Chaka Chak/ penyanyi: Shreya Ghosal)


Paijo terus mengamati istrinya dengan penuh kekaguman. Sejak kapan istrinya pandai menari seperti itu. Menggoyangkan pinggul, mengangkat tangan dengan gerakan yang erotis. Uuuulalala... Paijo sampai tak berkedip.


Selesai mencuci piring, Saras masih asyik menari. Sekarang dia malah berdiri di hadapan Paijo. Seperti sengaja menggoda, lagi-lagi dia mengulangi gerakan tubuhnya berulang-ulang. Sambil bersenandung, Saras mengangkat kedua tangannya tinggi ke atas kepala, lalu menggerakkan pinggulnya ke kanan dan ke kiri.


Haaye Chaka Chak


Chaka Chak Hai Tu


Haaye Chaka Chak


Chaka Chak Hoon Main


...


Wah benar-benar minta di tiduri perempuan ini!


Batin Paijo. Naluri laki-laki mana yang tidak tergoda melihat Saras berdaster dengan perut membunyit, berjoget menggoyangkan pinggulnya. Sesekali tangannya bergerak mengangkat tepian bawah daster lalu mengibas-ngibaskannya mengikuti nada.


Paijo yang awalnya duduk di sofa sekarang berdiri sambil bersidekap. Lama-lama gerakan Saras horor. Paijo khawatir istrinya itu lupa sedang hamil, lantas melakukan gerakan erotis lainnya. Seperti kayang, misalkan.


Din... Din...!!!


Terdengar suara mobil berhenti di depan rumah mereka. Wajah Saras sepuluh ribu kali terlihat lebih sumringah.


Melihat istrinya berlari, Paijo setengah berteriak. "Hai Saraswati! Jangan lari-lari!"


Sebenarnya siapa yang datang!


Paijo menggerutu lalu menyusul istrinya ke depan.


Masih diambang pintu, Paijo di kejutkan dengan truk khusus pengangkut yang di atasnya bertengger sebuah mobil mewah berwarna hitam. Mobil Camry kempling.


"Lihat mas, mobilku sudah datang!" Saras menarik-narik lengan Paijo dengan penuh semangat.


Paijo melongo, istrinya sedang berhalusinasi atau dia yang sudah mulai gila. Paijo mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali.


Mobil Saras? Siapa yang membelikan? Saras uang dari mana?


"Kamu ngomong apa sih sayang?"


"Ayo kita masuk, dari tadi kamu aneh, mau makan saja itu sudah aneh, ditambah joget-joget India, dan sekarang kamu bilang itu mobil kamu?"


"Haduh!" Paijo tepuk jidat.


Saras tahu jika suaminya itu tidak akan percaya. Dari kemarin Saras memang sengaja tidak memberi tahunya.


Seorang laki-laki berseragam dengan lambang Toyota berjalan mendekat. "Permisi, apa benar ini rumah Ibu Yunita Saraswati?"


"Yups, benar sekali, dengan saya sendiri!" jawab Saras enteng.


"Oi... Kami dari Toyota Semarang mengirimkan pesanan anda, silahkan tanda tangan sebelah sini..."


Saras menerima pena itu lalu membubuhkan tanda tangannya dengan sukarela.


"Sudah percaya mas, kalau itu mobilku?"


Wajah Paijo masih shock. "Kog bisa?'


"Saraswati, ini gila sekali, kamu uang dari mana hah!?"

__ADS_1


Petugas pengirim terlihat sedang sibuk menurunkan mobil mewah itu. Sementara Paijo masih di buat bingung dengan situasi ini.


"Tenang saja mas, kamu ga perlu mengangsur tiap bulan, ini di beli cash"


"Paling nanti aku minta kamu buat bayar pajaknya saja tiap tahun, eh sama biaya perawatan ding" terang Saras dengan cengiran seperti biasa.


"Hah? Cash? uang dari mana?"


"Dari Bapak, Bapak yang membelikan ini"


"Katanya, Bapak ga mau cucunya nanti ngileran, hehe..."


"Wah, sebagai anaknya saja aku tidak percaya Bapak punya uang sebanyak itu"


"Hemmm .... aku juga baru tahu kalau mertuaku ternyata seorang milyarder"


"Kata Bapak, demi nuruti ngidamku, Bapak menjual kebun yang ada di Kertomulyo, ceritanya kena pelebaran jalan tol mas"


"Dan itu hasilnya ... keren ga!?"


"Haaa... jadi kemarin mereka ngajak kamu jalan-jalan untuk ini?" Sekarang kebingungan Paijo sudah terjawab. Istrinya itu bisa bahagia seperti itu, ternyata ngidamnya sudah keturutan.


"Ho'oh"


"Wah... kenapa di sini aku merasa yang anak orang lain, sepertinya mereka lebih menyayangi mu"


"Nanti aku juga mau minta sesuatu sama Bapak, enak saja aku yang anaknya ga di tawari beli apa-apa"


Saras terkekeh. "Mereka menyayangi kita berdua mas sekaligus calon anak kita"


"Dih, kamu cemburu aja sih mas"


Saras beranjak berdiri di samping mobil barunya sekarang.


"Oke Mas Paijo, kapan anda bisa menemani saya untuk test drive mobil ini?" Saras mengerlingkan mata.


Berita Paijo membeli mobil mewah langsung tersebar luas di kampung itu. Tukang ojek, orang mancing di tambak, bahkan orang-orang di warung kopi semua membicarakan Paijo.


"Wah, Mas Paijo ngeri ya lur, mbangun usaha pengrajian jalan dua tahunan tok, wes iso ngudunke Camry, Camry lho lur uduk Avanza"


"Opo orak duet tok kui"


"Iyo, usahane jbul ora kaleng-kaleng. Kiro-kiro di tiru ngono, dewe iso melu sukses ora yo?"


"Durung mesti, usaha iso di tiru, tapi rejeki wes ono sing ngatur"


"Nak rejekimu mung oleh mancing entuk munjahir siji seko tambak iki, ojo terlalu berharap iso koyo Mas Paijo"


"Istilahe, trimo ing pandum wae"


Laki-laki yang satunya menyahut, "Iyo, ojo berharap sing duwur-duwur, mengko ndak ke sampluk pesawat"


"Eh, tapi krungu-krungu ono sing ngomong, jare Mas Paijo ***** setan, pesugihan ngono"


"Halah, kuwi mung omongane wong iri"


"Nyatane Mas Paijo yo biasa wae, lagian wonge yo apikan ngono"


"Leh, wingi aku sambat meh gawe kandang pitik rak nduwe kayu, langsung kon njaluk Yadi, gratis rak oleh bayar"


"Oh... Percoyo, Mas Paijo encen apik tenan yo"


Bapak-bapak yang sedang duduk di tepi tambak itu mengangguk bersamaan. Kesuksesan Paijo tengah jadi perbincangan hangat di masyarakat. Namun di manapun itu, pasti ada saja pihak yang pro maupun kontra.


Desas desus Paijo yang melakukan pesugihan pun sekilas Paijo sudah mendengar. Tapi Paijo dan Saras tak mau ambil pusing itu. Anggap saja mereka sedang mendoakan Paijo biar cepat sugih tenan.


...


.


.


.


.


Terimakasih untuk hadiah dan votenya.


Yang udah mau komen, kalian luar biasaπŸ‘

__ADS_1


Terus budayakan komentar yang baik ya😁


Yang pengen lebih jelas sama tarian Saras, bisa di lihat di YouTube ya. Judul sudah tertera di atas.😁


__ADS_2