Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 19: CKPT KSBM


__ADS_3

Rani dan Hayu berdiri sama cemasnya, melihat sorot mata B mereka yakin jika laki-laki yang sejak sore menunggu sahabatnya itu diliputi amarah. Rahang B mengeras saat tahu jika Saras pergi berdua bersama Paijo.


"Gimana ini Yu, dia tidak juga mau pergi. Gimana kalau dia memergoki Saras datang diantar sama Paijo!"


Hayu mondar-mandir di balik korden, mereka berdua mengintip B yang sejak tadi patroli menunggu kedatangan Saras di dalam mobilnya. "Aku udah hubungin Saras berjuta-juta kali, ga nyambung. Heran, mereka sebenarnya pergi ke planet mana sih,"


Hari sudah mulai gelap, mbak Kunti bahkan sudah bersiap-siap on the way keluar dari sarangnya. Tapi Saras belum juga pulang. B menyerah, dia pulang dengan membungkus amarah dan kecewa.


Sedangkan Saraswati? Dia masih ditengah perjalanan, terjebak hujan bersama Paijo.


"Sudah aku bilang, pakai jas hujan ini. Sudah larut malam kalau kita tidak segera menerobos hujan. Kamu bakal semakin malam nyampe kos!"


Hujan masih lebat, langit seakan memuntahkan semua isinya. Tidak ada tanda-tanda hujan akan segera reda. Sejak tadi mereka berdua berteduh di gubuk kecil, di pinggir hutan. Saras bersikeras tidak mau memakai jas hujan milik Paijo dan membiarkan laki-laki itu basah kuyup. Saras tidak tega. Ya, mereka hanya punya satu setel jas hujan dan kedua orang itu berdebat saling memaksa agar salah satunya mau memakai.


"Kamu saja yang pakai. Baru aku mau pulang."


Paijo gemas sendiri, gadis ini benar-benar bikin emosi. Harus cari cara agar dia mau nurut. Tiba-tiba sebuah ide muncul, cuaca juga mendukung semoga berhasil, batin Jo.


"Saraswati,..."


Saras menoleh, menunggu kalimat selanjutnya dari Paijo. "Hm...?"


"Kamu ngerasa gak?"


"Ngerasa apa? aku sudah pup tadi pagi. Kalau tanya lapar, kamu juga pasti sudah bisa ngerasain sendiri. Bekal jajan 'ku habis dan kita hanya sempat makan tadi siang." jawab Saras sambil merapatkan jaket yang dia pakai. Dingin jangan di tanya.


Paijo hampir kehilangan kata-kata mendengar jawaban spontan Saraswati. Padahal bukan itu jawaban yang ingin dia dengar. "Bukan itu maksudku!"


"Lalu apa? jangan ngasih tebak-tebakan, aku cenderung ga bisa mikir kalau sedang lapar."


"Hmmm... kamu ngerasa ga? merinding...?"


"Oh..." Saras menyapu alam sekitar. Hujan, gelap, di tepi hutan, berdua saja dengan mahkluk laki-laki. Jarang sekali ada kendaraan yang lewat. Kenapa Saras baru sadar itu.


"Aku sering lewat sini sendiri, karena ini satu-satunya jalan. Tidak ada jalan alternatif lainnya. Kamu mau dengar satu cerita tentang jalan ini?" Nada Paijo di buat-buat sehoror mungkin.


"Memang kenapa?" tanya Saras ragu.


"Terkenal angker. Dedemit di sini juga rese."


"Salah satu rekan kerja ada yang pernah cerita. Pas dia pulang tengah malam lewat jalan ini. Dia ngebut karena jalanan sepi, tiba-tiba ada wanita berjalan tepat di tengah jalan. Antara halusi dan nyata."


"Kepalang tanggung, kalau pun mau banting setir ke kanan atau ke kiri, menghindari wanita itu. Kamu lihat sendiri. Jurang semua."


"Terus?"


"Dia nekat nabrak wanita itu."


Bulu kuduk Saras meremang. Entah karena hembusan angin atau tiba-tiba dia merasa ngeri. Saras bergeser sedikit, merapatkan bahu di sebelah Paijo.


"Terus?"


Hehe.... terpancing juga.


"Dia menunggu kabar esoknya. Adakah berita kecelakaan di jalan ini. Kalaupun ada, dia sudah siap menyerahkan diri. Tapi sehari, seminggu, sebulan, tidak ada kabar sama sekali."


"Akhirnya dia menyimpulkan sendiri, jika ternyata wanita yang dia lihat itu tidak lain dan tidak bukan... hiiiiii... serem!"


Saras membuang muka, dia takut tapi rasa keponya juga tinggi. "Kamu sendiri, pernah ketemu atau di ganggu?"


"Pernah sekali doang,... awal-awal lewat sini."


"Apa, apa?"


"Tuh di bawah pohon yang paling besar. Pocong meringis, giginya kuning. Mana kain kafannya udah letek kayak ga di cuci setahun. Hiiii..."


Saras mejingkat kaget karena bersaman dengan itu suara petir menggelegar. Duaaarrrrr....!!!!


Bayangan seonggok pocong berdiri di bawah pohon mulai memenuhi otaknya. Bagi Saras tidak ada hantu yang lebih menyeramkan dari pada bapak pocong dan mbak Kunti. Kalau bisa mending dua makhluk itu di tukar dengan hantu-hantu kelas dunia yang lain. Kirim keluar negeri sana yang jauh.


"A-aku juga merinding."


"Kita pulang sekarang?" Wajah Saras sudah pucat pasi. Hujan masih lebat, sepi tentu saja. Tapi setelah mendengar cerita Paijo dia merasa banyak mata yang mengawasi mereka.

__ADS_1


Hahaha... berhasil! berhasil! hore!!!


Paijo hampir saja bersorak meniru gaya Dora the Explorer. Untung dia masih bisa menahan.


"Pakai jas hujan! Kita pulang sekarang."


Saras langsung nurut. Cepat-cepat memakai jas hujan itu dan nemplok duduk membonceng Paijo.


"Pegangan yang erat. Aku khawatir kamu jatuh, terus ada yang gantiin kamu duduk di belakang 'ku."


"Hush...! bisa diam ga!"


Saras ternyata benar-benar ketakutan. Dia melingkarkan tangannya sempurna di tubuh Paijo. Walaupun hujan lebat membuat Paijo yang baru selangkah saja sudah basah kuyup, tapi hati Paijo benar-benar riang gembira.


Ternyata mengasyikan mengerjai Saras. Jackpot dapat pelukan. Wkwkwkwk...


Satu jam kemudian mereka keluar dari kawasan hutan. Memasuki daerah kota, kembali dengan sorot lampu terang benderang. Syukurlah selamat sampai sini, batin Saras.


Saras merasa aneh dengan jas hujan yang dia pakai. Di kota ternyata tidak hujan sama sekali, jalanan aspal kering. Tidak ada sedikitpun bekas hujan turun.


"Jo, kita berhenti dulu bisa?"


"Aku merasa aneh terang-terang gini pakai jas hujan."


"Nanggung, setengah perjalanan lagi sampai kos kamu. Kamu ga lihat aku?"


"Aku lebih aneh, terang-terang gini basah kuyup."


Saras meringis, "Haha... benar juga."


"Ya udah lanjut jalan aja, aku PD kalau ada yang lebih aneh dariku. Hahaha..." Saras tertawa lagi. Sehari bersama Paijo hidupnya serasa berwarna-warni kayak rainbow.


"Apa mau cari makan dulu?"


"Ga usah, kamu pasti udah kedinginan."


Mata Paijo menyapu jalan yang dia lewati. Sudah tengah malam, warung juga sudah banyak yang tutup. Beruntung, ada warung masakan Padang yang buka dua puluh empat jam. Paijo berhenti dan meminta Saras menunggu saja di parkiran. Beberapa menit kemudian dia kembali dengan menenteng sebungkus plastik.


"Kenapa beli banyak sekali?" tanya Saras sambil naik lagi keatas motor.


"Sekalian buat temen-temen kamu."


"Oh..." Saras tertegun.


Paijo ternyata sangat bertanggung jawab. Rela basah kuyup. Dan masih sempat memikirkan perut orang lain.


Saras mengulum senyuman di balik punggung Paijo.


****


Melepas jas hujan yang sudah kembali kering karena terpaan angin sepanjang jalan tadi. Melipatnya serapi mungkin dan menyerahkannya pada Paijo.


"Terimakasih sudah mengantar dengan selamat."


"Aku juga terimakasih, sudah mau menemaniku seharian. Aku pulang ya..."


Saras merona lagi, dia baru sadar jika pantat sakit hanya alasan Paijo saja untuk memintanya menemani. Bukan seratus persen jalan-jalan holiday, tapi Saras menikmati itu.


Paijo menghentikan langkahnya saat Saras memanggil.


Kenapa dia memanggilku? apa dia akan memberi pelukan perpisahan? seperti di film-film.


Paijo menoleh penuh kharisma. "Ya..."


"Pakai ini! biar ga kedinginan." Saras mengulurkan jaket yang tadi dia pakai untuk Paijo. Walaupun meleset dari fantasinya tadi, Paijo cukup senang. Setidaknya jaket itu bekas Saras pakai seharian. Anggap saja dengan memakai jaket itu, sama dengan di peluk Saras.


Paijo cukup tahu diri.


"Terimakasih, aku pulang ya..."


"Hm... hati-hati." Saras baru masuk setelah memastikan motor berisik itu menghilang di balik belokan gang perumahan yang sebagian besar penghuninya sudah lelap dalam buaian mimpi.


Tok...tok...tok...

__ADS_1


"RAN, Yu,...!"


"Bukain dong pintunya. Aku lupa ga bawa kunci." Tidak ada sahutan. Jangan sampai ibu kos yang bangun. Ga enak kalau ketahuan pulang malam.


"RAN! Hayu! aku takut kalau ada bapak po-"


Ceklek!


Pintu terbuka, dua gadis memakai baju piyama menyambut dengan tatapan membunuh.


Sebelum kena semprot karena pulang malam. Saras nyengir dan mengacungkan bungkusan nasi Padang di wajah mereka.


"Nasi Padang... hehe..."


Walaupun sudah menyogok dengan nasi Padang. Tetap saja Saras di sidang mereka berdua. Di ruang makan, mereka bertiga berkumpul layaknya sedang mengadakan konferensi meja bundar. Untung meja makan mereka benar-benar bundar.


"Ceritakan sampai planet mana kamu pergi!?"


Sambil makan Saras menceritakan perjalanannya mencari kitab suci, eh salah perjalanan menemani Paijo maksudnya.


Menyendok sesuap lagi nasi rendang kedalam mulutnya, Saras masih dengan senang hati bercerita dari A ke A lagi.


Hayu menimpali karena mencium bau-bau bahagia. "Udah cukup denger cerita bahagia kamu. Sekarang giliran kita yang cerita. Simak!"


"Tadi sore B kesini cari kamu,..."


Mendengar sepenggal cerita saja, Saras sudah was-was.


"Dia nunggu kamu sampai malam, padahal sudah kami usir. Kasihan sekali..."


"Eh... tapi yang terpenting kalian ga ngasih tahu 'kan aku pergi sama siapa?"


"Hla itu... hla itu... kita kasihan, jadi terpaksa kita beri tahu." ucap mereka kompak dengan tanpa dosa.


"Waduh!" Saras tepok jidat. "Kembalikan nasi Padangnya sebungkus!"


Hayu bingung, "Kenapa? ini jatah punya 'ku."


"Malam ini kalian makan sebungkus berdua. Salah siapa ga bisa pegang rahasia."


"Kita tidak tega... kasihan."


"Kalian tidak tega sama dia, tapi tega banget sama aku, cih..."


Hayu hampir menyerobot lagi nasi bungkus di tangan Saras, kalah cepat, Saras memegang kendali.


"Mubadzir, biar aku makan. Buat besok juga pasti basi."


"Heh, siapa bilang buat makan besok. Kalian berdua tetep makan sebungkus berdua. Ini aku yang makan."


Rani dan Hayu melongo, "Rakusnya..."


"Biarin, aku butuh makan banyak biar bisa mikir saudara... alasan apalagi besok, B pasti marah besar."


Rani dan Hayu mendengus kesal. "CKPT KSBM!"


"Ngomong apa kalian?" Saras melirik kedua sahabatnya, tapi sama sekali tidak berhenti mengunyah nasi yang sedang dia makan.


"Cukup Tahu, Kalau Saraswati Banyak Makan!"


Mereka berdua sangat kesal, tapi Saraswati malah tertawa puas menikmati kekesalan mereka. Mengenai besok menghadapi B bagaimana, Saras akan pikirkan itu jika perutnya sudah kenyang nanti. Begitu ya saudara. Hehe....


.


.


.


.


Iya, reader juga butuh like dan komen yang banyak biar bisa lanjutin nulis cerita ini.


🤭🤭🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2