
Ngidam adalah istilah untuk menggambarkan kondisi ibu hamil yang menginginkan makanan atau minuman tertentu.
Source: https://hellosehat.com
Lalu yang di inginkan Saras ini apa bisa di kategorikan sebagai ngidam? Kalau iya, harusnya keterangan pada sumber itu harus di upgrade lagi dong!
Berawal saat kemarin pagi dia bersama ibu mertuanya jalan-jalan pagi, keliling kampung. Mereka melewati sebuah rumah cukup besar yang terlihat paling mencolok di kampung itu.
"Rumah siapa ini Bu? Saras baru kali ini jalan sampai gang ini..."
Lalu pandangan Saras terus mengamati rumah dua lantai bercat orange kecoklatan. Hingga sebuah mobil mewah keluar dari pintu gerbang rumah itu. Saat melewati mereka sang pengemudi menekan klakson. Din, Din!
Mungkin maksudnya menyapa Bu lurah yaitu Salma sendiri. Dan benar ibu mertua Saras itu membalas dengan lambaian tangan.
"Rumah bos buldozer, tuh orangnya baru lewat..."
Mata Saras memandang lekat pada mobil hitam mengkilap milik bos buldozer itu. Mobil berjenis sedan mewah, kenapa membuat hati Saras bergetar. Saras harusnya biasa saja, mengingat Abah juga punya mobil Pajero sport dan Alphard di rumah. Apa gara-gara sering bergaul dengan Kubro jadi jiwa misquinnya meronta-ronta seperti ini hanya karena melihat mobil itu. Tapi kenapa tiba-tiba Saras suka dan kepengen punya mobil seperti itu. Rasanya seperti jatuh cinta pada pandangan pertama.
Sampai hari ini, Saras terus kepikiran mobil itu. Terbayang-bayang. Berlanjut dengan kepo searching di Mbah Google. Wow, Saras semakin terpukau setelah lebih tahu detil spesifikasi mobil itu.
Memiliki dimensi panjang 4.885 mm, lebar 1.840 mm, dan tinggi 1.445 mm dengan jarak poros roda atau wheel base sekitar 2.825 mm.
Mobil sedan premium ini terlihat lebih maskulin dan gagah. Tercermin dari grille yang berukuran besar dan Enchanting LED Front Lamp yang didesain menyipit tajam, dengan tambahan lampu kabut yang memberi kesan Keen Look. Bagian belakangnya, dilengkapi dengan Bold LED Rear Lamp dengan desain yang aerodinamis.
Pada bagian samping, mobil ini didesain simpel dengan sentuhan krom pada tepi jendela yang menambah kesan mewah dan modern. Sedangkan bagian bawahnya di sempurnakan dengan velg alloy aluminium berdiameter 17 inci.
Lalu jari lentik Saras beralih pada review di salah satu akun resmi YouTube. Body mobil yang luar biasa mempesona. Tidak terlalu besar tapi bisa terlihat gagah seperti itu. Fix, Saras jatuh cinta. Tanpa sadar Saras menggigit bibir bawahnya, saat melihat harga yang tertera di sana.
Kalau tidak bisa membeli mobil ini, apa anakku bakal ngileran? Sabar ya nak....
Saras sementara memendam keinginannya itu sendiri. Paijo belum pulang. Dan kalaupun dia utarakan pada suaminya, sepertinya juga mustahil di belikan. Harga mobil itu tak semurah rujak buah atau seblak dengan topping komplit sekalipun. Saras jadi sedih memikirkannya.
****
Tiga hari kemudian, Saras masih memikirkan mobil itu. Tv di depannya menyala, tapi pandangannya kosong. Saras rasa dia sudah mulai gila. Salma masih ke pasar dan dia sendirian di rumah.
Andai saja tidak lihat mobil itu... pasti aku baik-baik saja. Tidak badmood seperti ini. Huaaaaa....
Saras menutup wajahnya dengan bantal kecil, kemudian terisak sendiri. Saras menangis.
Hingga kedatangan Paijo, Saras tidak menyadarinya. Paijo awalnya datang dengan wajah berseri-seri karena akan segera bertemu dengan Saras. Pengiriman pesanan gulungan kain itu sukses dan berbuah manis. Bahkan mereka meminta Paijo untuk menjadi rekan tetap selama dua tahun ke depan.
Namun raut wajah Paijo berubah kaget, saat melihat istrinya menangis sendirian. Kemana ibunya? Apa yang terjadi? Paijo akan murka jika saja Saras di jahati oleh siapapun itu.
"Saras!"
Panggil Paijo, paper bag berisi buah tangan dari Bandung bahkan terjatuh di lantai sangking tercekat melihat Saras menangis sesenggukan.
__ADS_1
Saras menoleh dengan wajah merah, melas sekali ya Allah. "Mas... huaaaaaa.... huaaaaa...."
Melihat suaminya berdiri mematung tangis Saras menjadi-jadi.
Paijo bergegas mendekat dan memeluk erat istrinya. "Hai... ada apa? Kenapa kamu menangis?"
Paijo berpikir, apa Saras terlalu merindukannya sampai dia terharu dan menangis meraung seperti ini.
"Mas...huaaaaa...huaaa... srrooooot..."
"Cerita ada apa sayang? kamu kangen Mas?"
"Mas udah pulang, kamu jangan sedih ya!"
Butuh beberapa menit sampai Saras tenang. Meski masih sedikit segukan, Saras sudah bisa bicara sedikit-sedikit.
"Mas, hiks... hiks... aku...hiks... sepertinya...hiks... aku ngidam...hiks..."
Bahu Paijo merosot. Beribu pikiran buruk sudah menari di pikirannya, tapi istrinya itu ternyata hanya bilang ngidam? Bukankah ngidam adalah hal yang wajar bagi ibu hamil?
"Kenapa sampai menangis begitu? ibu hamil wajar saja kalau mengidam,"
"Sayang! aku selalu nawarin kamu, pengen apa? pengen makanan apa? pengen minum apa?"
"Apa ada yang kamu pengen? kenapa ga bilang ibu langsung biar di belikan," Masalahnya bukan makanan atau minuman yang ingin di beli Saras.
Belum sempat Saras menjawab, Salma datang dengan tas belanja berisi penuh.
"Eh... Jo kapan sampai?
"Hlah... ini kamu yang bawa? kenapa berantakan di lantai gini?"
Salma agak kaget, meletakkan tas belanjanya dan berangsur memunguti paper bag yang di lupakan pemiliknya. Lalu Salma mengamati anak dan menantunya. Sedikit bingung.
"Saras, kamu habis nangis?"
"Ada apa sih ini?" tanya Salma dan berangsur duduk di samping Saras.
Paijo bersuara, "Pas Jo masuk, Saras lagi nangis sendirian, Jo tanya kenapa, katanya dia lagi ngidam pengen sesuatu"
"Hlah... sampai nangis gitu, ya Allah sayang, kalau pengen apa-apa kamu kan bisa bilang sama Ibu..."
"Tadi Jo juga udah bilang gitu..."
Saras menunduk, masih bingung mau bilang atau di pendam saja dalam hati. Ngidam aneh ini kenapa harus dia rasakan. Menyusahkan sekali.
"Tuh... malah diam Bu,"
__ADS_1
"Pengen apa Saras?" ulang Salma.
Dada Saras rasanya sesak, dia kembali menangis. "Huaaaa....huaaaa... Saras pengen beli...pengen beli....huaaa..."
Paijo dan Salma di buat penasaran dan harus ekstra sabar mendengarkan Saraswati. "Pengen beli apa?"
"Pengen beli... huaaaaa.... pengen beli mobil Camry terbaru... huaaaaa..."
"Ga tau kenapa hiks..., dari kemarin hiks...Saras kepikiran pengen beli itu... huaaaa... srooott..."
Bahu Paijo merosot sampai lantai, Salma melongo tak percaya. Sedangkan Saras masih belum bisa menenangkan dirinya. Kepengen yang di level kepengen banget. Apa nanti suami dan ibu mertuanya akan mengecap Saras sebagai istri yang materialistis? Ini jelas bukan kemauannya, Saras yakin ini bawaan jabang bayi dalam perutnya.
"Ehem! Camry?! Toyota Camry?" tanya Paijo membeo. Saras mengangguk kecil, air matanya masih setia menetes.
Paijo lemas seketika. Dia bisa menjual semua aset miliknya, tanah, rumah dan mesin-mesin pemotong kayu di pabriknya, lalu membelikan mobil itu demi Saras. Tapi setelah itu mereka jadi gembel. Meski punya mobil mewah, memangnya mereka mau tidur dan makan di mobil!
"Apa ini karena kemarin kamu lihat mobil milik bos buldozer itu?" Saras mengangguk lagi.
Salma menelan ludah dengan susah payah. Jalan-jalan pagi agar sehat, malah menimbulkan penyakit seperti ini. Dia jadi kasihan pada menantunya.
"Saraswati, kalaupun Mas jual semua aset yang Mas punya, sepertinya tetap saja Mas belum mampu beli itu..."
"Gimana kalau Mas pinjamkan saja, tombo penge biar anak kita ga ngileran gitu... kita bisa pinjam buat muter-muter aja, gimana?" tawar Paijo.
Saras menggeleng dengan tatapan mata mengiba. Membuat Paijo semakin frustasi.
"Masalahnya, Saras bukan kepengen naik tok Mas, tapi pengen beli yang baru, yang masih bungkusan plastik..."
Paijo meraih tubuh Saras ke dalam pelukannya. Kemudian mengelus lembut kepala istrinya.
"Yang sabar ya sayang, banyakin berdoa, semoga dedek di perut kamu kasihan sama apaknya dan mau di nego, ganti ngidamnya yah, jangan Toyota Camry, please..."
"Nanti kalau dedek ngileran gimana Mas? Kamu jangan salahkan aku yah!? hiks...hiks..." di peluk begitu Saras lebih tenang. Meski ngidamnya tetap saja sulit di hilangkan.
Salma ikut sedih memandang keduanya. Alih-alih menyentuh barang belanjaan yang sudah dia beli. Salma terbengong, ikut bingung dan sedih memikirkan bagaimana cara mendapatkan uang sebanyak itu, agar bisa membelikan Toyota All New Camry Hybrid seharga delapan ratus juta rupiah.
Info ternak tuyul atau penyewaan babi ngepet Mazeeehhh!? Hahahaha...ššš
.
.
.
.
.
__ADS_1
Saras ngidam ini, Monggo reader boleh patungan seikhlasnya...š¤ššš