
BRAKKK....
Seorang pria tampan yang selalu berpenampilan rapi dan klimis membanting koran lokal di atas meja kerjanya. Dia mengumpat karena tujuan yang di harapkan tidak sesuai dengan hasil akhirnya.
"Harusnya dia hancur tapi kenapa situasi malah berbalik seperti ini, sialan!"
Pria itu kemudian mendeal satu nomor telpon.
"Jangan berani tunjukan batang hidung 'mu di muka umum! Kalau kau masih ingin hidup!"
"Aku butuh uang!"
"Bedebah! jika saja kau tidak bodoh. Dan melakukan dengan benar. Mungkin situasi tidak bakal seperti ini."
"Aku menyuruh 'mu, mencampur buntut tikus itu. Kamu bodoh dengan sempat memakannya dulu! Dan sekarang masih berani kamu minta uang?!!!"
"Jangan banyak bacot! beri aku uang atau akan aku katakan pada semua orang kalau kau yang menyuruh 'ku!"
"Berengsek!"
Pria itu menutup telpon sepihak dan terlihat frustasi. Habis banyak aku! sialan! bangsat!
*****
Saras melebarkan pupil matanya, ketika sebuah notis masuk dari M-banking.
Note: buat bayar kuliah, jangan nakal, sekolah yang pinter.
Saras tersenyum dalam hati. Bukan maksud matre, dia hanya bercanda tadi malam. Dan Paijo ternyata menganggap serius itu. Walaupun dia benar-benar butuh, karena sampai sekarang abahnya belum juga mengirimkan uang. Saras jadi merasa tak enak hati. Ingin menolak tapi butuh.
"Hallo, selamat pagi orang baik..."
"Hmm... sudah bangun?"
"Sudah, ini sudah jam delapan masak iya aku belum bangun," dusta Saras, biasa juga bangun siang.
"Aku kembalikan nanti kalau Abah ngirim uang ya? aku hutang banyak sama kamu,"
"Pakai aja, aku juga ga maksud meminjamkan."
"Tidak, pokoknya aku anggap ini hutang."
"Ckkk... keras kepala."
"Hari ini aku balik ke tempat kerja. Mungkin baru bisa pulang lagi bulan depan."
"Oh..." hening sejenak. Ada kecewa dari nada Saras.
"Kamu tahu tempat kerja 'ku jauh. Aku juga pasti bakal sibuk seperti biasa."
Iya aku tahu, belum punya hubungan yang jelas. Tapi kog aku sedih ya cuman karna mau di tinggal kerja. Saraswati, sepertinya benar kamu sudah tidak waras, hiks...
"Iya tahu.."
"Ya sudah aku tutup sekarang ya. Jaga diri baik-baik."
"Ya..."
Hanya itu? dia bahkan tidak bertanya apa aku akan merindukannya? sebenarnya dia itu punya rasa tidak sih? kadang perhatian, kadang cuek, kadang menyebalkan, sungguh dia sangat tega.
Belum selesai Saras dengan pikirannya sendiri. Ponselnya berdering. Raut wajahnya seketika berubah.
"Iya, wa'alaikumsalam Abah..."
"Apa pulang? Saras masih sibuk Abah..."
"Pokoknya besok juga kamu harus pulang!" Saras tercekat, sekali perintah sudah turun dia tidak bisa membantah.
__ADS_1
"Iya Abah, besok Saras pulang."
Setelah menutup telpon, perasaan Saras semakin tidak enak. Sebenarnya ada apa di rumah. Kenapa dia di paksa pulang. Dari nada bicara abahnya seperti akan ada sesuatu hal besar yang akan terjadi.
****
Esoknya Saras pulang naik kereta api keberangkatan paling awal. Setelah menempuh kurang lebih enam jam perjalanan, siang hari dia sudah sampai di stasiun Poncol Semarang.
Seorang sepupu laki-laki bernama Andre melambaikan tangan menyambut kedatangannya.
Tidak lama kemudian mereka berdua sudah duduk di dalam mobil milik keluarga Saras.
"An, di rumah ada apa sih? Kenapa Abah maksa banget aku buat pulang. Mana lagi sibuk ngurus skripsi. Kalau gini ga beres-beres kuliah 'ku."
Tidak menjawab pertanyaan Saras, Andre malah membuat gerakan mengunci mulut dan membuang kunci itu keluar jendela. Membuat Saras kesal.
"Pakai main rahasia segala. Sok bungkam, aku doain mulut 'mu penuh sariawan, biar tahu rasa." Andre dan Saras seumuran jadi mereka sudah terbiasa bicara santai.
"Amanah dari Haji Bagong. Tutup mulut rapat-rapat, hehe..."
"Gaje..." (ga jelas)
Saras gondok sendiri, dia duduk memunggungi Andre sampai mobil yang dia tumpangi itu masuk ke dalam halaman rumah Saraswati.
Haji Bagong dan Hajjah Maesaroh menyambut kedatangan putri mereka. Setelah memberi waktu Saras istirahat dan makan siang. Mereka berkumpul lagi di ruang tengah.
"Abah tumben di rumah?"
"Abah mau bicara penting sama kamu." Hajjah Maesaroh hanya diam dengan wajah yang tidak bisa di baca.
"Bicara apa Abah?"
"Kamu janji bakal nikah setelah beres kuliah bukan?" Saras menunduk, ternyata masih masalah yang sama. Mencari jodoh dan menikah.
"Insyaallah Abah, Saras baru akan memikirkan hal itu setelah kuliah beres."
"Enam bulan Abah, Saras baru selesai sekitar enam bulan lagi. Itu juga kalau tidak molor. Saras usahakan."
"Bagus kalau begitu, tidak salah berarti kalau nanti sore Abah terima lamaran buat kamu."
"Hah? apa?" Saras kaget bukan main. Jika dulu saat mendapatkan lamaran dari keluarga Paijo Saras di beri ancang-ancang, kali ini Saras benar-benar tidak tahu.
"Kenapa kamu kaget? bukannya kalian sudah dekat?"
"Maksud Abah, lamaran dari mas Bambang?"
"Iya, siapa lagi?"
"Abah maaf, tapi Saras sudah tidak punya hubungan dengan mas Bambang." Saras menunduk, harusnya kemarin-kemarin dia bilang langsung ke orangtuanya.
"Abah sudah tahu semuanya. Kamu yang minta putus, tapi dia tidak mau. Dia sendiri yang menelfon Abah kemarin. Dan sore nanti dia akan membawa orang tuanya buat melamar kamu."
"Saraswati, Abah sudah tahu bagaimana kelakuan kamu di sana. Kamu sudah terlalu banyak mendapat kebebasan dari Abah."
"Kamu pikir kenapa Abah tidak mengirimkan uang bulanan dan biaya kuliah kamu?" Saras masih menunduk khidmad.
"Itu hukuman buat kamu, karena kamu sudah berani pergi kelayapan dengan laki-laki lain."
"Padahal kamu masih punya hubungan dengan Bambang."
"Apalagi laki-laki itu tukang bakso."
"Kamu tahu bagaimana kriteria calon suami yang cocok buat kamu. Berpendidikan, terhormat, dan kaya."
"Bambang sudah menjadi pegawai negeri, masa depan kamu akan baik jika menikah dengan dia."
Saras menunduk lebih dalam, dia hampir menumpahkan air mata di depan orang tuanya. Andai Abah tahu sepelit apa Bambang. Saras ragu bisa hidup bahagia dengan laki-laki semacam dia. Apalagi dia tidak punya perasaan apapun pada Bambang. Saras tidak berani melawan. Apa begini nasib menjadi anak Haji Bagong? Apa tradisi orang kaya harus menikah dengan orang kaya masih harus di pegang? Dunia sudah modern, kenapa pemikiran Abah masih klasik. Saras tidak menjawab apapun. Dia hanya menunduk.
__ADS_1
"Abah ke toko dulu, Bu ingatkan dia agar berdandan nanti sore." Hajjah Maesaroh ikut bangkit dan mengantar suaminya sampai di depan teras.
Saras masuk kedalam kamar dan menumpahkan air mata di sana. Kepalanya berputar-putar, pusing harus bersikap bagaimana. Ingin menyuarakan suaranya, tapi dia yakin Abahnya jelas akan menentang. Ingin pasrah menerima tapi ini berhubungan dengan masa depannya.
Hajjah Maesaroh duduk di ranjang mengelus kepala putrinya. "Abah kamu marah besar kemarin, dia kecewa sama kamu."
"Aku tidak mau menikah dengan mas Bambang Mik, aku tidak menyukainya."
"Tapi Abah kamu sudah menerima. Kamu dengar sendiri tadi."
"Hiks... hiks... Umik, ijinin Saras balik ke Malang ya? Saras tidak mau di jodohkan."
"Kamu mau disebut durhaka karena tidak nurut sama orang tua?"
"Cukup kakak 'mu Umi yang ngeyel dan sekarang hidup kekurangan begitu. Abahmu bahkan sudah tidak menganggapnya anak. Kamu mau seperti itu?"
"Umiik...tidak selamanya kebahagiaan di ukur dari materi. Mbak Umi mungkin susah, hidup pas-pasan. Tapi sejauh ini dia masih hidup dan bahagia bersama anak dan suaminya."
"Kamu berani ngomong seperti itu sama Abah?" Saras menggeleng. Bisa semurka apa Abahnya jika dia nekat.
"Ya sudah kalau tidak berani, nurut saja."
"Lagipula Bambang tampan sudah mapan juga."
"Tapi pelit Mik, mas Bambang itu pelit. Dan aku tidak suka orang pelit."
"Mik, apa aku bunuh diri saja ya? enaknya bunuh diri dengan cara apa Mik? yang tidak begitu sakit?"
Hajjah Maesaroh mendelik, "Ngawur!!!"
"Makanya ijinin Saras kabur ya Mik?"
"Kabur kog minta ijin!"
"Berarti ini Saras langsung pergi aja ya?"
"Iya, sana pergi. Habis itu tidak hanya kamu yang di coret dari KK, Umik mungkin akan nyusul jadi janda."
"Umik mendramatisir, Abah mana mungkin menceraikan Umik?"
"Habisnya kamu gila, dari tadi bicara ngawur. Manut aja toh nduk enak!"
"Mungkin Saras bakal benar-benar gila kalau menikah dengan mas Bambang. Tekanan batin." Wajah Saras murung lagi. Tapi kemudian dia bangkit duduk.
Bagaimana cara menggagalkan rencana lamaran nanti sore. Saras berpikir keras, mentok. "Umik, Saras punya rencana lain."
"Apalagi?" Sebenarnya Hajjah Maesaroh sudah lelah mendengarkan ocehan putrinya.
"Bagaimana kalau aku rampok saja toko emas Haji Bagong, biar nanti sore perjodohan itu gagal."
"Abah akan sibuk mencari pencurinya dan otomatis mereka tidak akan jadi datang. Bagaimana?"
Karena sudah hampir gila, Hajjah Maesaroh menjawab sekenanya. "Iya sana, rampok saja tokonya kalau kamu bisa."
"Wah, apa Umik meragukan kemampuan 'ku?"
.
.
.
.
.
like, komen, makasih🙏
__ADS_1