
Sebagai laki-laki yang bertanggung jawab, aku berani mengantarkan kamu, jalankan sampai rumah, membawa kamu sampai pelaminan saja aku berani,
-Paijo-
Saras rasanya ingin sekali Paijo hilang ingatan, agar dia bisa mengurungkan niatnya untuk datang ke rumah Saras. Di cegah-cegah model gimana pun sepertinya Paijo sudah bertekad bulat.
Akhirnya setelah mengambil motor di tempat parkir kantor, Paijo dan Sarah menuju rumah Saras dengan mengendari motor masing-masing. Saras menghela nafas kasar, sepertinya bom Nagasaki dan Hiroshima akan terulang di rumahnya malam ini. Dan Saras belum siap sama sekali untuk mengantisipasi langkah berikutnya. Membayangkan saja Saras sudah ngeri Tuhan.
Di hati yang lain, Paijo sudah mantap untuk menemui kedua orang tua Saras. Paijo berniat mengatakan bahwa dia serius menjalin hubungan dengan Saras. Bagaimanapun respon mereka nanti Paijo tidak mau ambil pusing sekarang. Yang penting action dulu.
Adzan isya berkumandang saat mereka berdua memarkirkan motor di depan rumah Saras. Tubuh Saras sudah adem panas mendekati meriang. Gugup campur takut. Pernah Saras berpikir kenapa dirinya begitu takut pada ayahnya sendiri. Padahal jelas di lihat dari garis keturunan manapun Hajjah Bagong bukan keturunan Fir'aun.
"Kamu pucat sekali, sakit?" telat tanya, harusnya dari kemarin Paijo sadar jika Saras sedang sakit, sakit pikiran.
"Eh.... enggak. Mari masuk!" mulut Saras berdusta, padahal hatinya ingin mengusir.
Saras tidak mengetuk pintu, dia langsung membukakan pintu untuk Paijo. Dia hafal betul jika pintu tidak di kunci dari dalam. Bisa di pastikan Abahnya baru saja pergi ke mushola untuk sholat jamaah.
"Assalamualaikum..."
Hajjah Maesaroh yang sudah mengenakan mukena hendak sholat menjumbul dari balik tirai emas. Iya memang benar, tirai itu terbuat dari kain sutera dengan bordiran emas. Jangan lupa jika Haji Bagong adalah pemilik toko emas terbesar di Kendal.
"Wa'alaikumsalam... anak umik sudah pulang? eh... ada tamu rupanya."
Paijo hendak menyalami wanita yang telah melahirkan Saraswati itu namun dia ingat jika pasti akan membatalkan wudhunya. Paijo mengangguk sopan.
"Umik, ini Mas Paijo."
Hajjah Maesaroh belum pikun, bagaimana pun juga Paijo pernah menjadi kandidat calon menantunya. Gara-gara gugup Saras malah terlihat serba salah. "Silahkan duduk dulu, Umik tinggal sholat bentar yah,"
"Iya Bu, terimakasih." punggung Hajjah Maesaroh sudah menghilang lagi di balik tirai emas. "Kamu kenapa sih, aneh!"
"Aku, rasanya mau mati. Nanti gimana kalau Abah marah?"
Paijo meringis lalu menjawab. "Ya di dengerin, masak mau di bantah, ntar malah perang mulut susah jadinya."
"Kamu ga nawarin mau minum apa gitu? aku haus,"
Saras tidak percaya Paijo bisa sesantai itu. Bahu Saras merosot, "hmm... mau minum apa?"
"Apa aja, asal bisa diminum."
Saras bangkit menuju dapur hendak membuatkan kopi, barangkali menemukan obat pencahar Saras ingin menambahkan sedikit kedalamnya. Agar Paijo sakit perut dan gagal menemui Haji Bagong. Eh tapi bereaksi atau tidak ya, obat pencahar di campur kopi? Saras malah pusing sendiri. Ga jadi sajalah. Saras kembali keruang tamu membawa baki berisi dua gelas kopi dan setoples kacang kulit.
__ADS_1
"Diminum mas,"
"Makasih yah..." Paijo menyeruput sedikit minumannya. Baru sampai tenggorokan Hajjah Maesaroh kembali muncul.
"Udah di buatin minuman?" Paijo hampir tersedak kaget. "Eh, maaf kaget ya."
Saras tersenyum geli.
"Umik emang gini orangnya, gemblontang kalau lagi ngomong."
"Tidak Budhe, tadi cuma sedikit panas kopinya," Wah, pinter juga Paijo beralasan. Batin Saras.
Umik duduk di sebelah Saras sedangkan sejak datang tadi Paijo sudah duduk di kursi single yang paling aman dari jangkauan. "Gimana kabar Bapak dan ibu kamu, mereka sehat?"
"Alhamdulillah sehat budhe, cuman mereka masih di Malang, ngerawat mbah lagi sakit."
"Oh... Mbah Lanang kamu? sakit apa?" Wajar Hajjah Maesaroh kenal keluarga Paijo. Mereka tetangga desa.
"Jantung, kemarin sempat di rawat beberapa minggu, tapi ini udah di rawat jalan. Alhamdulillah, sudah membaik." Hajjah Maesaroh manggut-manggut. Saras takjub sebentar, sepertinya Paijo menguasai keadaan. Terlihat wajahnya santai-santai saja.
"Sambil di minum lagi kopinya, Abah lagi jama'ah, palingan sebentar lagi pulang,"
Jantung Saras berdegup kencang, suara knop pintu terdengar mengerikan di telinga Saras. Saras yakin se yakin yakinnya itu pasti Abah yang datang. Awan mendung ikut bergerak mengiringi langkah Haji Bagong. Angin bertiup lebih kencang dan bumi gonjang ganjing. Lampu hias kelap kelip seperti konslet, dan kopi di dalam cangkir terlihat bergetar. Sumpah Saras merasa akan datang badai sebentar lagi.
"EHEMM!" satu deheman Haji Bagong mampu merontokkan satu helai rambut Saras. Dan seketika ruangan itu membeku.
"Selamat malam Pakde," Paijo meraih tangan Haji Bagong dan mengecupnya sekilas.
Haji Bagong merasa janggal, dia melirik Saras dengan tatapan membunuh. Saras mengkorok lantas hanya berani menunduk.
"Duduk sini Abah, sepertinya ada yang ingin mereka bicarakan dengan Abah."
Ucapan Hajjah Maesaroh sedikit menetralkan jantung Saras. Haji Bagong masih diam membisu. Susana. semakin kaku dan dingin. Setelah duduk semua, Hajjah Maesaroh melempar tatapan pada Paijo. Seperti kode agar dia mulai bicara sekarang juga.
"Emm... begini Pakde, maaf kalau malam-malam begini saya mengganggu waktu istirahat Pakde dan budhe..."
"Ada hal yang ingin saya bicarakan,"
Tangan Saras terasa dingin, dari tadi dia tidak berani mengangkat kepala. Dengan kemantapan hati Paijo melanjutkan bicara.
"Saya, secara pribadi ingin meminta ijin, agar bisa lebih dekat dengan- Saras."
"Saya- menyukai Saraswati dan ingin serius menjalin hubungan dengannya,"
__ADS_1
Duaarrrrrrrrrr!!!!
Seperti ada petir yang baru saja menyambar. Saras memejamkan mata. Takut jika Haji Bagong murka dan melempar Paijo keluar rumah dalam satu kali tendangan. Beberapa detik hening lagi.
Hajjah Maesaroh menelan ludah dengan susah payah, berusaha membantu dua anak manusia yang saling mencintai namun terhalang restu orang tua itu. "Abah...," baru membuka mulut Hajjah Maesaroh mendapat lirikan dari suaminya. Itu tandanya dia di larang bicara.
"Pulanglah! dan lupakan kamu pernah bicara seperti ini!" suara Haji Bagong datar namun menyakitkan. Hati Saras teriris-iris, sedangkan Paijo masih tak bergeming. Dia sadar telah di usir, namun dia butuh alasan. Paijo masih diam mendengarkan kalimat selanjutnya. Walaupun itu berupa caci maki, Paijo siap melapangkan dada.
"Kamu pernah datang kesini bersama orang tua mu, kalian sudah berbohong dengan mengatakan jika kamu akan kuliah di jurusan akuntansi, dan akan menjadi pegawai negeri. Tapi ternyata bohong besar, harusnya kamu malu datang kesini lagi!!"
"Sekarang, saya tanya apa pekerjaan kamu?"
"Dia sekarang punya usaha pabrik kayu Abah," Hajjah Maesaroh entah punya keberanian dari mana, mewakili menjawab. Kemudian mengkerut lagi setelah mendapat lirikan yang kedua kali.
"Huh, tukang kayu?"
"Kamu tahu anak muda? Saras anak saya berpendidikan tinggi. Sarjana. Minimal harus dapat suami yang Sarjana. Bukan lulusan SMA terus sok punya usaha."
"Sudah bisa di pastikan, jika kamu ini seorang pemuda Madesu!"
"Tahu apa itu Ma-de-su?!" suara Haji Bangong tandes sekali, seakan ingin sekali menorehkan luka sedalam-dalamnya.
"Masa depan suram!!!!"
JLEB!
Tubuh Paijo bergetar hebat, harga dirinya sedang diinjak-injak. Namun sekuat jiwa dia menahan emosi. Dia tidak boleh marah. Atau membalas berkata kasar pada laki-laki yang menyandang gelar Haji di hadapannya ini. Jangan sampai.
Hajjah Maesaroh menutup mulutnya tak percaya, jika suaminya sejahat itu mulutnya. Sedangkan Saras, dia sudah lemas, tulang di tubuhnya seperti di lolos. Saras menunduk dengan air mata yang mulai mengalir jatuh di pangkuannya.
Apa aku bilang Mas, ini semua mustahil. Yang ada kamu mendapat hinaan seperti ini. Maafkan aku Mas, hiks....hiks...hiks....
.....
to be continue...
.
.
.
.
__ADS_1
like, komen, bagi hadiah...
kepotong, tak lanjut nyuci baju dulu, wkwkwkk