Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 56: Si Galau vs Si Gabut


__ADS_3

Sore berganti malam, malam berganti pagi, pagi ke malam lagi. Panik ga? Panik ga? Paniklah masak engga! Paijo mulai panik. Pasalnya Paijo berulang kali menghubungi Saraswati, tapi nihil selalu jawaban dari mesin operator yang terdengar.


Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, atau berada di luar jangkauan.


Shitttttttt!!!


Paijo mengumpat dalam hati. Terakhir kali mereka baik-baik saja, tidak bertengkar, apalagi rebutan uang. Sampai sore itu tiba-tiba WhatsApp Saras berstatus, terakhir dilihat pukul 17.35 Wib. Mustahil jika Saras ngambek seperti dulu. Diingat-ingat juga hari ulang tahun Paijo masih lama, Paijo yakin Saras sedang tidak ingin mengerjainya. Mana gigi Paijo cenat cenut. Tidak gigi tidak hati rasanya sakit semua.


Saras, kenapa kamu selalu membuatku khawatir begini huh?


Paijo bingung ingin minta tolong siapa. Nomor telepon rumah Saras dia juga tidak punya.


Salma menepuk bahu Paijo dari belakang. Ibu tiri yang baik hati bak peri itu tentu saja menangkap kegalauan sang putra sambung.


"Ada apa?"


Paijo mengelus pipinya dimana selembar salonpas sudah menempel dengan indah di sana.


"Periksa saja ke dokter, cuma di tempelin koyo. Nyaman sebentar terus kumat lagi, percuma,"


Paijo enggan menjawab banyak-banyak, giginya masih sakit, "Hmm..."


Jika ada lagu yang mengatakan lebih baik sakit gigi dari pada sakit hati. Paijo tidak setuju, karena ternyata keduanya sama-sama menyakitkan. Jika boleh Paijo tidak mau sakit gigi apalagi sakit hati. Kangen saja sudah membuat dirinya menderita. Apalagi sakit hati. Paijo mau bahagia terus. Bisa ga ya? Bisa Jo, asal kamu ke rumah othor bawa gula kopi. Ngaco!


*****


"Bud, budhe!"


Perempuan paruh baya yang berinisial Budhe Sri itu menoleh dengan tak rela. Episode Aladin lagi tegang-tegangnya. Si Jesika akan bertemu dengan Andi atau Randy, yang ternyata kekasihnya dulu. "Dih, apa sih? lagi serius ini,"


Saras mengerucutkan bibirnya, tidak Umik, tidak budhe semua emak-emak sepertinya sudah tergila-gila sama ini sinetron. "Pinjem hp dong Bud, gabut ga ada kegiatan."


"Ga ada, budhe di larang keras meminjamkan hp sama kamu," jawab budhe Sri tanpa menoleh sedikit pun.


Saras membuang nafas kasar. Hukuman yang mengerikan, tidak ada teman ngobrol, tidak ada hp, televisi masih di kuasai sama yang punya. Saras seperti hidup di zaman prasejarah. Dari tadi yang terdengar hanya suara jangkrik dan kodok yang bersahutan. Saras off dulu nangisnya, capek. Sekarang waktunya memikirkan cara agar bisa menghubungi Paijo.


Baru di uji coba satu cara langsung di tolak mentah-mentah.


Budhe Sri seorang janda yang hidup sebatang kara. Suaminya meninggal saat usia pernikahan mereka genap tiga tahun dan mereka belum di beri momongan. Setelah kepergian suaminya, budhe Sri memutuskan tidak akan menikah lagi---sampai sekarang. Saras mulai mengiba, "Bud, pinjam bentar aja...ga lama."


"Cuma lihat Instagram aja. Atau setidaknya mau cek email. Aku udah dua hari ga masuk kerja tanpa kabar."


Budhe Sri tidak menjawab, mungkin nunggu sponsor dulu baru dia mau bicara. Benar tebakan Saras, iklan mie hijau yang mengaku sehat itu di campakkan budhe Sri yang sekarang sudah menatap Saras dengan lekat.


"Dengarkan budhe! Abah kamu menitipkan kamu sementara disini. Supaya kamu bisa lepas dari pria yang tidak baik untuk kamu."


"Bagong juga tadi sudah mewanti, agar budhe tidak meminjami hp kamu. Jadi kamu jangan merengek kayak anak TK yang ga di kasih ijin buat beli arumanis!"


"Huh, tahu dari mana pria itu tidak baik untuk Saras?"

__ADS_1


"Budhe di bohongi sama Abah!"


"Asal Budhe tahu, mas Paijo itu baiknya di atas rata-rata. Kalau di nilai itu udah dapet nilai sembilan. Haaah... Abah yang kelewatan termakan fitnah. Udah gitu masih ga suka gara-gara dia bukan PNS. Apa juga yang di harapkan dengan jabatan pegawai negeri, mas Paijo padahal uangnya lebih banyak. Banyak sekali malah."


Plaaakkk!


Paha Saras mendapat tepukan yang cukup panas dari Budhe Sri. Saras meringis. "Kamu juga ga kalah mata duitan, sama aja sama Abah kamu."


"Dih sorry, aku mata duitan rasional. Urutannya cinta dulu baru uang. Aku cinta mas Paijo, bonusnya dia banyak uang. Hla Abah irasional banget, ngebet pengen mantu PNS, aku ga cocok tetep di paksa-paksa padahal punya jabatan belum tentu punya uang."


"Pernah hampir tunangan sama PNS yang meditnya ngelus dada. Untung saja gagal. Bisa-bisa tiap hari makan hati, terus mati muda kalau jadi nikah sama dia."


"Sembarangan mulut!"


"Eh... emang kog. Ayolah Budhe kasihanilah keponakan 'mu ini. Sudah di buang di bawah gunung begini. Masih di isolasi juga. Saras ga ada cita-cita jadi pendeta. Jadi jangan hukum Saras dengan tidak menyentuh tekhnologi."


"Saras juga butuh exis di dunia maya, pinjem ya budhe..."


Budhe Sri masih bersikukuh, "GA ADA! GA BOLEH!" Saras gemas sendiri, rasanya pengen nge-rebonding itu rambut Budhe Sri yang kriting mengembang sangking gemasnya.


"Malah bengong, sana masuk kamar aja. Ini sudah mulai sinetronnya. Awas saja kalau berisik!"


Saras manyun udah mirip silit ayam yang mau eek. Dia sempat menghentakkan kakinya sebelum meninggalkan Budhe Sri untuk masuk kamar. Sesampainya di dalam kamar Saras jengkel sekali. Seprai kasur yang tidak berdosa menjadi pelampiasan. Di obrak-abrik ga jelas. Bantal, guling berserakan di lantai.


"Aggggggggghhhhhhhhh....!!!"


"Sialan!!!"


"Ngapain lagi?"


"Ambil sapu" jawab Saras ketus.


"Dih, udah di sapu sore tadi hlo..."


"Siapa yang mau nyapu!"


"Hla teros?"


"Buat ngusir cicak kurang ajar, aku sedang sedih. Mereka malah enak-enak bercinta."


Budhe Sri melongo sekarang. Astaga, apa itu indikasi Saras stress ya. Kasihan.


****


Setelah drama sakit gigi yang sembuh setelah meminum obat yang dia beli dari apotek. Paijo bertandang ke tempat Om Irwan. Perasaannya lagi-lagi tidak tenang. Sudah tiga hari Saras tidak ada kabar. Paijo merasa semakin janggal. Setelah selesai berkemas dia berpamitan dengan Om Irwan. Laki-laki yang bagaikan pahlawan bertopeng bagi Paijo itu tetap mensupport apapun keputusan Paijo. Bahkan dia masih berbaik hati memberikan channel, jika Paijo ingin mendirikan pabrik kayu di daerahnya. "Kabar-kabar aja Jo."


"Om, siap ngasih informasi yang kamu butuhkan."


"Pasti Om, terimakasih banyak selama ini Om banyak membantu."

__ADS_1


Mereka berpelukan sebelum akhirnya berpisah. Paijo kembali ke rumah Cak Sam. Rencananya baru besok dia akan pulang bareng Bapak dan ibunya. Cak Sam sendiri sudah sehat dan kembali berjualan.


Sesampainya di warung bakso Cak Sam. Paijo menemani laki-laki tua itu di tempat kasir.


Seperti biasanya, warung bakso ini semakin ramai saat jam makan siang atau pulang kantor. Disela-sela melayani pembayaran mereka mengobrol.


"Mbah yakin kamu ga akan kangen tempat ini,"


"Hah, siapa bilang? aku pasti kangen, terutama bakal kangen sama Mbah."


"Heleh, kamu ada yang lebih di kangenin sekarang. Kalau tidak, mana mungkin cepat beres-beres pengen pulang."


Paijo menghembuskan nafas kasar sekarang. "Hmm, Jo ga bisa bohong kalau itu,"


"Doain Mbah, semoga Jo bisa dapat restu dari Abahnya Saras. Dia keras kepala sekali."


"Hahaha.... Pepet teros Jo! Jangan kasih kendor."


"Pasti Mbah, meskipun ga tahu caranya gimana."


"Pasti ada jalannya Jo. Jangan khawatir... " Cak Sam menepuk-nepuk punggung Paijo.


"Iya, semoga saja."


"Matur suwun Mbah..." Paijo terharu memeluk Cak Sam dengan erat. Cak Sam pun tidak kalah terharu. Dia sangat menyayangi Paijo, cucu laki-lakinya yang tidak tampan tapi berkharisma.


"Heh, lepas! itu udah ada yang antri mau bayar."


"Hehe.... iya silahkan!"


"Bakso dua porsi, es jeruk dua, kerupuk lima," ulang Paijo.


"Jadinya, empat puluh satu ribu."


"Uangnya lima puluh ya, jadi kembali sembilan ribu. Terima kasih."


.


.


.


.


.


Happy reading,


Ada yang kangen baksonya Cak Sam tidak?

__ADS_1


Saya jadi laper ini!😁😁😁😁


__ADS_2