
Sudah dua hari ini Saras mendiamkan Haji Bagong. Bukan maksud membangkang, Saras hanya masih kecewa. Dan juga, mungkin ini sikap terbaik untuk menghindari perdebatan yang pada intinya keduanya sama-sama bertahan dengan keputusannya.
Saras jadi ingat pelajaran Agama Islam, Rasullulah pernah bersabda dengan riwayat yang shahih, 'Barang siapa yang meninggalkan perdebatan, sementara dia berada di atas ke batilan maka Allah akan membangunkan rumah baginya di pinggiran surga. Dan barangsiapa yang meninggalkan perdebatan, sementara dia berada di atas jalan kebenaran maka Allah akan membangunkan rumah di atas surga.'
Pada intinya sepaham Saras, benar atau salah lebih baik kita diam. Jika terus berdebat yang ada kita jadi adu mulut. Jika sudah begitu otomatis Saras sudah mendekati fase durhaka pada orang tua. Saras tidak mau durhaka, tapi juga tidak mau berpisah dari mas Paijo.
Bunyi dentingan sendok terdengar lebih nyaring. Nasi goreng dengan toping telor ceplok dan pete menjadi saksi bisu bagaimana sarapan pagi ini terasa beku. Mereka bertiga diam membisu dengan pikiran masing-masing. Walaupun terasa sulit saat menelan sesuap nasi dari ujung sendoknya, Saras sebisa mungkin tetap makan, Saras tidak tahan lapar soalnya. Seolah tidak terjadi apa-apa, padahal mereka sedang bersengketa. Bukan sengketa lahan, namun sengketa prihal perjodohan.
Dua hari ini bukan Haji Bagong tidak tahu jika anak gadisnya diantar jemput oleh sang pacar. Dia hanya sedang mencari celah, celah yang pas untuk melakukan rencananya.
"Ehem! Hari ini kamu libur bukan?" Saras yakin sekali pertanyaan ini untuknya. Mustahil untuk Umik, Umik 'kan pengangguran, meski banyak uang.
Saras memberanikan diri menatap Abahnya sekilas baru kemudian mengangguk "Iya."
"Ikut Abah ke toko, bantu-bantu, ini hari Minggu pasti banyak pengunjung."
Saras melempar pandangan pada Umik yang duduk tepat di hadapannya. Umik pun memberi kedipan mata, kode untuk menurut.
"Iya Abah... habis ini Saras siap-siap."
****
Mobil Abah Saras berhenti tepat di pelataran toko emas miliknya. Toko berdinding kaca itu sudah terlihat ramai meski baru saja buka. Saras berjalan masuk beriringan bersama Haji Bagong. Satpam yang berjaga di pintu masuk pun langsung membukakan pintu kaca saat melihat mereka datang.
"Selamat pagi Abah, mbak Saras." sapa pak satpam yang hanya mendapat anggukan kepala dari Haji Bagong dan Saras.
Pemandangan di dalam toko tidak jauh dari kilauan perhiasan yang tertata rapi di dalam etalase. Para karyawan sibuk dengan tugasnya masing-masing. Melayani pembeli yang sering kali rempong pilih ini itu, suka ini tapi uang tidak cukup, sehingga harus mulai awal lagi, milih lagi, memusingkan sekali.
"Abah, Saras harus bantu apa?" Saras bisa di bilang jarang bantu-bantu disini. Haji Bagong dulu sering melarangnya ikut, gara-gara tiap ikut saat pulang mesti minta pajak. 'Abah ini lucu, Saras minta ini ya!'.
Anting atau cincin, selalu itu yang Saras minta. Padahal di rumah koleksinya sudah banyak. Daripada tombok, lebih baik Haji Bagong tidak mengajak Saras ke toko.
Hari ini Saras jadi sedikit curiga, tumben sekali Abahnya minta tolong.
"Kamu bantu Andre di kasir, bantu dia menata uang."
"Abah cek ke dalam dulu,"
__ADS_1
Saras mengangguk, lalu menghampiri Andre. Sepupunya yang mengabdikan diri pada Haji Bagong.
"Hei, ndre... Abah nyuruh aku bantu kamu."
Andre yang bibirnya komat kamit menghitung uang, hanya melirik sekilas, lalu kembali fokus pada pengunjung. "Pas uangnya, terima kasih. Selamat berkunjung kembali."
Merasa di abaikan, mulut Saras jadi gatal untuk mencibir. "Cih, sok sibuk. Kerja ga bener mesti, makanya harus di bantu."
"Ih males juga ketemu kamu, aku juga ga butuh bantuan!"
"Ngapain sih," Andre mendelik. Lama-lama kurang asem juga ini bocah.
Saras jadi sebal, mereka memang jarang akur. Apalagi Andre seringkali memihak pada Abahnya. Kalau di tanya apa-apa susah ngasih bocoran.
"Geseran, aku mau numpang berdiri disini. Abah tadi cuma bilang aku suruh bantu kamu. Kalau kamu ga mau di bantu ya sudah, aku lihatin kamu kerja aja."
"Barangkali kamu suka ngutil uang,"
Andre berdecak tak kalah sebal. Antrian orang-orang bisa mengular jika dia terus meladeni Saraswati. "Selanjutnya!" ucap Andre yang berusaha keras mengabaikan Saras. Anggap saja bangsa halus, pikirnya.
Sekilas Andre melirik Saras yang sempat senyum-senyum membaca pesan, lalu kemudian terlihat cemberut. Aneh.
"Permisi..." tiba-tiba seorang pria berpawakan tinggi menjulang berdiri di depan konter kasir.
Andre yang merasa sibuk meladeni antrian menyenggol Saras. "Eh, lho bantu jawab sana. Biar sedikit bermanfaat disini."
Saras yang sedang bergalau jadi semakin badmood. "Apa sih!"
Pria tinggi menjulang itu sedikit menunduk menatap Saras. Berusaha meminta perhatian jangan sampai dia disini hanya dianggap tongkat sapu ijuk yang untuk membersihkan sawang. "permisi mbak..."
Saras baru sadar, "Eh... iya mas ada yang bisa di bantu?"
"Mbak saya ingin bertemu Haji Bagong, bisa minta tolong di panggilkan?"
Saras memindai pria di hadapannya, seperti familiar. Tapi berusaha sekeras apapun, dia tidak ingat. Siapa ya? Masalah mengingat wajah orang Saras memang tidak terlalu pandai, apalagi jika bukan orang penting. Bikin memori otak penuh jika harus diingat.
"Hmm... mas duduk saja di sana. Biar saya panggilkan." Saras menunjuk sofa bundar yang kosong. Tempat duduk para pembeli yang menunggu antrian.
__ADS_1
Saras masuk keruangan Haji Bagong yang terlihat horor seperti orangnya. Tidak sembarang orang boleh masuk keruangan ini. Setelah beberapa kali mengetuk pintu, Saras langsung masuk tanpa menunggu sahutan dari Haji Bagong.
"Abah ada tamu, suruh masuk kesini atau Abah yang keluar?"
Seperti sudah tahu siapa yang datang, Haji Bagong tidak bertanya dan malah meminta Saras ikut dengannya. "Ikut Abah... kita bicara di ruang sebelah saja." Saras masih bingung, kenapa dia harus ikut juga. Akhirnya Saras hanya bisa berjalan mengekor di belakang Haji Bagong untuk menemui pria itu lagi.
Sesampainya di depan, Haji Bagong tersenyum ramah menyambut pria itu. Pria itu juga terlihat sopan langsung menyalami Haji Bagong.
"Ayok silahkan masuk, di sini ramai sekali. Kalian berdua butuh tempat yang lebih privasi untuk mengobrol." Saras masih bego saja. Entah karena hang gara-gara galau atau gara-gara baterainya tinggal 30%. Otak Saras butuh di cas.
"Apa Abah?"
"Kamu tidak ingat? Ini mas Mahfud, anak teman Abah."
"Monggo nak, masuk ke dalam kita ngobrol di dalam saja." Saras jadi terbagong-bagong.
"Ayok Saras, kamu malah bengong!"
Saras ingin mengumpat kalau tidak ingat ini Abahnya. Baru saja Saras paham, ya Rabbi jadi ini kandidat pertama. Bisa-bisanya dia dijebak begini. Sungguh tidak fair sama sekali. Kira-kira kalau di tinggal kabur Saras bakal di apakan ya. Di cincang atau di coret dari daftar kartu keluarga.
Sudah kepalang basah, daripada Haji Bagong murka, lebih baik nurut dulu. Selanjutnya pikir nanti di dalam. Semoga otak Saras mau diajak bekerja sama.
Skor 1:0
Hari ini aku tertipu, besok jangan harap. Tunggu pembalasan 'ku Abah.
.
.
.
.
Kira-kira Saras ngapain ya, gimana caranya dia mengagalkan perjodohan ini. Komen di bawah yuk....๐
suwun, jangan lupa tombol like di sentuh๐
__ADS_1