
Paijo meminta Saras menunggunya di sudut depo. Di sebuah bangku kayu di bawah pohon mangga. Pemandangan depo ini tak jauh beda dengan pabrik yang tadi pagi di tunjukan Paijo. Bergelimang balok-balok utuh dan gundukan serbuk kayu. Bedanya ini hanya sebuah brak yang di bangun ala kadarnya. Aktivitasnya sama saja, memotong balok sesuai ukuran yang di minta dan memuatnya ke sebuah truk.
Paijo terlihat mengobrol dengan beberapa orang bapak-bapak yang usianya jauh di atasnya. Membicarakan apa, Saras juga tidak tahu. Sebagian orang terlihat sibuk menaikan balok-balok kayu ke atas truk. Saras lebih memilih duduk anteng dan menikmati snack rasa jagung bakar yang dia bawa sendiri tadi.
Apa itu bisa di katakan bekerja? kenapa dari tadi sepertinya dia hanya mengobrol.
Krauk...kraukk...kraukkk...
Saras mengunyah camilannya keras-keras. Dia merasa di acuhkan begitu saja.
"Bosen ya nunggu?"
"Hmm... udah selesai?"
"Udah yang di sini, masih harus ketempat lain. Kamu yang boncengin ya!" Paijo melempar kunci motornya tiba-tiba, untung reflek Saras bagus. Dia menangkap kunci motor itu sebelum mendarat mengenai wajahnya. Saras kembali mendengus kesal.
"Heh Jo! ini sudah siang, apa kita tidak makan dulu? perut 'ku lapar."
Paijo melirik kejam, membuat Saras takut hingga dengan cepat dia melompat berjalan mendahului Paijo. Untung camilan yang dia makan sudah habis. Sisa bungkusnya dia campakkan begitu saja di bangku itu. Wah, Saraswati bisa tidak buang sampah pada tempatnya. Tidak memberi contoh yang baik.
Sekarang Saras harus konsentrasi penuh kalau ingin mereka baik-baik saja. Dia melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Menuruti perintah orang yang memboncengnya di belakang.
"Hei, belok kanan aku bilang! kenapa kamu malah ke kiri?"
"Apa? kenapa baru bilang sekarang kalau mau belok kanan?"
"Ahh... memusingkan saja."
"Kita berhenti di sana putar balik!"
"Yang jelas dong Jo kalau ngasih perintah. Jangan dadakan juga!"
"Heh, tidak bisakah kamu memanggil 'ku lebih sopan? panggil kakak atau mas! sakit telinga 'ku lama-lama..."
"Awas itu hati-hati itu ada kucing bunting mau lewat!"
"Kakak? sok imut! Mas? Mas mahal, satu gram sembilan ratus ribu. Aku tahu, karena Abah penjual emas."
"Ternyata kamu berisik, kayak motor kamu ini!"
Mereka terus saja berdebat sampai sebuah motor di belakangnya merasa terganggu karena Saras mengemudi buruk sekali. Sesuka hatinya, ke kiri dan ke kanan. Membingungkan pengendara di belakangnya.
"WOI, naik motor yang bener!"
"Banci lo ya, duduk di belakang wanita!!!" Laki-laki itu menghardik mereka saat motor mereka sejajar, dan membleyer-bleyer sebagai hinaan sebelum menyalip mereka.
Paijo mengkerut karena memang merasa bersalah meminta Saras untuk mengendarai motornya. Namun berbeda dengan Saras. Gadis itu tidak terima di remehkan, dan lagi laki-laki itu mengatai Paijo banci?
Kurang ajar!
Saras menyusul dan menjajari motor laki-laki itu. "Heh, tua bangka! ini namanya emansipasi wanita! tidak terima hah!!!???"
Brem, brem!!!!
Saras balik membleyer laki-laki asing itu.
Paijo merinding, Saraswati sudah mirip preman dengan mata melotot nyaris lepas dari tempat. "Apa yang kamu lakukan? jangan ribut ini jalan raya, bahaya!"
Peringatan Paijo tidak di gubris. Saras dan laki-laki yang di sebut Saras tua bangka itu terlibat saling kebut. Salip sana salip sini dengan kecepatan tinggi. Paijo jantungan dan hanya merem melek berpegangan pada pinggang Saras yang kerempeng.
Bersama dengan aksi mereka, sebuah truk dari arah berlawanan melaju kencang. Suara klakson truk memekikkan telinga. Apalagi jika bukan karena ulah balap tidak sehat mereka.
Motor laki-laki tua bangka itu berada di sayap kiri, sedangkan posisi motor Saras ada di kanan.
Jalan yang tidak begitu lebar saat dua motor sejajar dan berpapasan dengan truk. Saras gila! sedikit pun dia tidak takut mati. Entah kesurupan apa. Wajahnya menyeringai, sedikit pun tidak mengurangi kecepatan.
__ADS_1
Biiiimmmmmmmmmmmmmmm!!!!!
Saras banting ke kiri memotong jalan milik laki-laki tua bangka.
"Aaaaa.... Saraswati aku belum mau mati bego!" Paijo mengumpat keras.
Sontak saja laki-laki tua bangka itu keluar dari ruas jalan saat menghindari Saras. Dia kesusahan mengantisipasi itu. Oleng dan terjerembab jatuh ke semak-semak. Beruntung tidak menabrak pohon pinusq.
Saras tertawa puas karena memenangkan balap dadakan yang diliputi emosi jiwa. Tidak sadar Paijo memeluk kencang pinggang Saras. Dia kira rohnya sudah di cabut malaikat Izrail beberapa menit yang lalu. Ternyata belum, belum jatah mereka mati memang.
"Berhenti!"
"Hahahaha... kenapa? kamu ketakutan? tenang saja laki-laki tua bangka itu sudah tidak mungkin menyusul kita."
"Berhenti Saraswati!!!" Kini nada Paijo lebih garang. Saras menepikan motor, dan turun dengan perasaan campur aduk.
"Aku menyesal menerima tawaran ini! Harusnya aku tolak, percuma jika sedikit pun aku tidak di hargai! Aku sedang membela kehormatan 'mu!"
"Tapi lihat? kamu malah membentak 'ku!"
"Sial!!!" Saras membuang muka dengan tangan bersidekap.
Paijo tertegun. "Dengar Saraswati, itu tadi sangat bahaya. Apa kamu tidak sadar?"
"Kita bisa saja tertabrak truk dan mati konyol gara-gara kegilaan 'mu itu."
"Berpikirlah panjang sebelum bertindak! Jangan hanya karena tersulut emosi, nyawa kita jadi taruhan!"
"Laki-laki tua bangka itu mengatai 'mu banci! apa kau tuli? apa kau tidak merasa terhina?"
"Lagipula dia yang mulai! Jadi jangan salahkan aku!"
Paijo menghela nafas lagi. Jika di teruskan beradu mulut seperti ini, Paijo sadar hanya membuang waktu. "Sudahlah, ayo cepat naik!"
Saras memaku, antara jengah dengan sikap Paijo dan gengsi. Tapi jika menolak mau naik apa dia pulang. Dia bahkan tidak tahu sedang dimana. Akhirnya dia nurut, duduk membonceng anteng, mengunci mulut rapat-rapat. Perutnya sudah sangat lapar, tapi Paijo bertanya saja tidak. Apa semua laki-laki generasi sekarang mengalami penurunan kepekaan terhadap perempuan?
Paijo melajukan motor dalam keheningan. Tak lama kemudian dia menepikan motor memasuki sebuah area parkir. WAROENG TENGAH SAWAH. Oh ternyata Saras keliru, dia koreksi ternyata Paijo masih ingat memberinya makan.
Seperti nama tempat pemancingan ini. Mereka berdua sudah duduk berhadapan di saung tengah sawah untuk makan siang. Konsep warung makan yang kekinian, memadukan dengan alam. Saung-saung kecil tempat tamu yang akan mengisi perut ini benar-benar berada di tengah sawah yang menghijau. Seorang perempuan muda menghampiri mereka membawakan buku menu.
Setelah beberapa menit menunggu, pesanan mereka datang. Oh tidak, lebih tepatnya pesanan Paijo. Saraswati masih dalam mode merajuk. Mengunci mulutnya rapat-rapat.
Dua porsi besar gurami bakar, udang asam manis, Ca kangkung, jamur krispi, mendoan goreng, sewakul nasi hangat dan dua gelas jumbo es jeruk. Meja mereka penuh.
"Makan, sampai kapan kamu merajuk? Kita sedang tidak pacaran, jadi jangan harap aku merayu 'mu hanya sekedar untuk makan,"
Saras mengumpat dalam hati. Benar-benar pria berhati kayu. Terlalu mainstream jika menyebutnya berhati batu. Berhati kayu lebih cocok untuk dia yang lempeng, atos, kaku, tidak mengenal basa-basi.
Siapa juga yang minta di rayu. Aku memang butuh makan bukan rayuan. Bisa muntah aku jika seorang Paijo terang-terangan merayu.
Dasar kayu!
Karena benar-benar lapar, Saras mengisi piringnya dengan nasi penuh. Menuangkan sambal dengan emosi. Masih dengan mode diam, dia mengisi perutnya dengan fokus menghabiskan semua makanan di hadapannya. Salah siapa membuat Saras jengkel. Kalau sedang emosi seperti ini, jalankan nasi sepiring, sewakul juga bisa habis di makan Saras.
Paijo mengulum senyum melihat Saras melahap makanannya dalam diam.
"Maafkan aku, seharusnya aku tidak membentak 'mu seperti tadi."
Ada jeda dalam kalimat Paijo. Saras masih menekuni ikan gurami di hadapannya, memisahkan duri dan menyisihkanya di tepi piring.
"Terimakasih sudah membela kehormatan 'ku tadi." Paijo tersenyum tipis setelah mengatakan itu.
Jika sudah begini Saras bisa apa. Dia langsung leleh begitu saja. Dua kata ampuh yang langsung meruntuhkan rasa marahnya. Maaf dan terimakasih.
"Kenapa masih diam? aku sudah meminta maaf hlo,"
__ADS_1
"Sedang makan, aku tidak bisa menggunakan mulut 'ku secara bersamaan untuk makan dan ngomong." jawab Saras ketus dan menyuapkan sepuluk nasi lagi ke dalam mulutnya.
"Lagipula aku bicara salah, diam salah, aku jadi serba salah disini."
Paijo berdecak, "Aaaa...dasar kamu! terus itu barusan termasuk apa? sedikit pun kamu tidak terlihat kesulitan bicara dan mengunyah!"
Paijo dan Saras tersenyum geli. Baiklah itu lebih baik. Bertengkar terus juga membuat energi habis karena terkuras. Lebih baik tersenyum dan nikmati perjalanan hari ini.
"Jo, kamu tidak akan memotong upah 'ku karena makan siang ini 'kan?"
Paijo tersenyum lagi. "Haishhh... aku tidak seperhitungan itu. Berikan nomor rekening 'mu. Aku transfer sekarang juga."
Saras girang, kerja belum rampung tapi upah siap cair. Bos yang baik, sesuai dengan sebuah hadist, bayarlah sebelum keringat mereka kering. Saras ingin bertepuk tangan untuk Paijo karena salut. Selesai makan dan cuci tangan, hp miliknya bergetar. Ternyata notifikasi dari M-banking.
Saras membulatkan mata melihat nominal yang di kirim Paijo. Di sana tertulis juga keterangan.
Buat jajan Saraswati selama sebulan.
Saras menutup mulutnya tak percaya. Tiga juta untuk satu kali menemani. Saras senang dapat uang banyak, tapi kog juga was-was.
"Ini terlalu banyak. Kesepakatan kita, aku hanya menemani 'mu sehari saja 'kan?"
"Kamu tidak punya rencana jahat terhadap 'ku bukan?"
"Jangan-jangan kamu berencana memutilasi 'ku, memanen organ tubuh 'ku dan menjualnya di pasar gelap!" Saras bergidik ngeri membayangkan itu.
"Ngaco!" Paijo menyentil kening Saraswati hingga dia meringis.
"Aku sudah pernah bilang jika uang 'ku banyak. Berhubung kamu sudah membela kehormatan 'ku. Anggap saja itu ucapan terimakasih. Jangan berpikir aneh-aneh."
"Lagipula aku ragu jika organ 'mu di jual, apa ada yang mau beli."
"Teroooosss... terooooos... hina saja terus. Asal kamu tahu ya Jo, seluruh bagian di tubuhku adalah aset berharga dengan kualitas superior."
"Lihat saja, mata 'ku indah dan hidung 'ku mancung. Hanya sekali tersenyum semua orang akan memuji 'ku cantik. Apa kamu dengar? "
Saras menggebu-gebu memuji dirinya sendiri. Sedangkan Paijo sejak tadi sudah tersihir menatap puas-puas lekuk wajah gadis yang berbicara tanpa jeda itu.
Iya benar, kamu memang sangat cantik seperti yang kamu katakan.
"Paijo!"
Paijo tersentak kaget. Dia melamun mengagumi Saras untuk beberapa menit. "Eh...iya,"
"Iya apa? cepat bayar dan kita pergi. Bengong saja dari tadi!"
"Hmmm... iya-iya. Cerewet sekali!"
Paijo beranjak ke tempat kasir. Tiba-tiba Saras merasa wajahnya merona, bukannya dia tidak sadar jika sejak tadi Paijo memandangi. Dia juga gugup campur apa ya, ah itulah. Tidak bisa di jelaskan. Ada getaran-getaran aneh. Detak jantungnya bahkan bisa dia dengar sendiri tanpa alat bantu.
Jedak, jeduk, jedak, jeduk!!!
Ada yang tau itu apa?
.
.
.
.
.
ššššš
__ADS_1
Yuhu... selamat hari Senin. Senin produktif, semangat like dan komen bagi hadiah.ššš