Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 104: Impulsif


__ADS_3

Hujan turun sangat deras saat mobil yang di tumpangi Haji Bagong masih dalam perjalanan pulang. Haji Bagong masih diliputi dengan perasaan yang bercampur aduk. Kesal, kecewa, sedih, marah, dan juga bingung. Istrinya baru saja mengatakan hal luar biasa, yang secuil saja tidak terlintas di dalam benaknya.


Meminta di lepaskan? maksudnya Hajah Maesaroh meminta di ceraikan? ini gila, dan Haji Bagong merasa sangat gila. Sejak menikahi Hajah Maesaroh, hanya wanita itu yang tinggal di dalam hatinya dan menetap di sana hingga berpuluh tahun lamanya. Di usia yang tidak lagi muda, kenapa pembicaraan yang begitu mengerikan itu bisa ada. Ah Pak Haji lupa, lupa istrinya bukan lagi seorang istri yang penurut seperti dulu.


Dulu, jalankan menjawab perkataannya. Berbicara memandang wajahnya saja, wanita itu takut. Selalu menurut dan menurut. Mendahulukan keinginan Haji Bagong di atas segalanya. Setiap perintahnya pasti di jalankan dengan baik. Haji Bagong lupa bahwa istrinya punya batas kesabaran. Dan benarkah ini adalah batas akhirnya?


Haji Bagong menyandarkan kepalanya di headrest jok mobil, sambil memejamkan mata. Pening. Supir pribadi yang mengantarkan Haji Bagong sedikit pun tak berani bertanya. Apalagi raut Haji Bagong yang jauh dari kata baik-baik saja. Tugasnya hanya mengantarkan kemampuan Haji Bagong mau, bukan untuk kepo.


"Pak Tekno," panggil Haji Bagong dengan mata masih terpejam.


"Iya juragan..." Semobil dengan majikannya membuat Pak Tekno merasakan aura mencekam mengerikan.


"Kita ke warung Bu Sabar, saya butuh kopi!"


"Enggeh juragan..."


Tidak ada lagi percakapan setelah itu. Supir Haji Bagong itu hanya perlu fokus pada jalan dan mengantarkan lelaki tua itu sampai tempat tujuan. Tak perlu juga di beri tahu dimana letak warung Bu Sabar. Pak Tekno sudah hafal betul tempat mana saja yang menjadi langganan majikannya.


Saat mobil mereka masuk di area parkir. Mata Haji Bagong menangkap sosok perempuan yang diam-diam dia rindukan. Perempuan itu sedang berdiri di teras warung. Seperti kedinginan karena hujan masih turun dengan lebatnya. Perasaan Haji Bagong semakin tak karuan. Hatinya bergetar hebat. Kecewa masih membekas di hati tapi melihat kondisinya seperti itu rasa iba tentu saja menghampirinya.


Meski penampilannya sudah berubah, memakai baju muslimah dengan perut yang membesar. Haji Bagong tidak akan pangling. Itu anaknya, Saraswati. Tak sadar Haji Bagong meremas tangannya sendiri. Hingga buku-buku jarinya memerah. Menahan emosi yang mengerikan.


Jadi dia sedang hamil? Sedang apa dia di sana sendirian? Dimana laki-laki pecundang itu?


Benar bukan? Saya tidak pernah salah selama ini. Andaikan dia mau menurut, pasti hidupnya tidak akan terlihat susah seperti itu. Sekarang kamu rasakan sendiri Saraswati, menyedihkan!


Jika saja kamu menikahi laki-laki yang kaya, pasti saat ini kamu tidak harus menunggu hujan reda untuk pulang. Saya yakin sekali pecundang itu masih memakai motornya yang dekil dan berisik itu. Hah, tidak level!


"Juragan mau turun sekarang? biar saya siapkan payung" Pak Tekno juga menyadari jika di sana ada Saras, namun dia tidak mau menyinggung itu. Takut salah berucap.


"Tunggu! Di sini sebentar, saya perlu melihat sedang apa dia di sana"


Pak Tekno menelan ludah. Apa akan ada badai besar yang menyusul setelah ini?


Haji Bagong masih mengamati Saras dari dalam mobil. Hingga Paijo muncul menerobos hujan dengan payungnya. Laki-laki yang di sebut pecundang oleh Haji Bagong itu terlihat melepas jaketnya dan telaten memakaikan jaket itu pada Saras. Mereka berdua terlihat mengumbar senyum. Hujan deras sedikit pun ternyata tidak membuat mereka menggerutu dan mengumpat. Pemandangan apa ini?


Entah apa yang mereka bicarakan, suara mereka sudah pasti terendam air hujan yang masih deras. Di selingi suara petir yang bersahutan. Mustahil Haji Bagong mendengar. Saras terlihat menggeleng-gelengkan kepala, seperti penolakan. Tapi penolakan itu lebih mirip sebuah candaan. Bukan pertengkaran.


Apa kamu bahagia nak? bahkan saat terlihat kesusahan seperti itu?


Paijo meminta Saras yang menegang payung itu, kemudian tiba-tiba mengangkat tubuh Saras yang tengah berbadan dua. Menggendongnya ala bridal style. Saras terlihat kaget namun kemudian tertawa lebar di dalam gendongan Paijo.


Menerobos hujan. Laki-laki gila! Umpat Haji Bagong tak terima tanpa sadar. Anaknya akan di bawa naik motor dengan keadaan seperti itu. Rasanya Haji Bagong ingin melompat keluar dari dalam mobil. Dan membawa Saras agar ikut dengannya saja. Meski itu artinya dia harus membuang gengsinya yang setinggi langit.

__ADS_1


Haji Bagong geregetan sendiri di dalam mobil. Kali ini tangannya bergerak untuk membuka pintu mobil dan keluar begitu saja, tanpa payung. Berjalan mengikuti arah Paijo membawa Saras. Pak Tekno yang sadar juragannya keluar, langsung kelimpungan di belakangnya membawakan payung untuk majikannya.


Pecundang! Dia pikir ini film India. Anakku di hujan-hujankan begitu terus mau di bawa naik motor, apa dia tidak tahu naik motor seperti itu akan membahayakan dia!


Haji Bagong terus melangkah di tengah guyuran hujan, Pak Tekno baru bisa menyusulnya ketika Haji Bagong tiba-tiba berhenti. Hampir saja Pak Tekno menubruk tubuh majikannya.


Detik itu, Haji Bagong tercenung dengan apa yang dia lihat. Bukan motor dekil dan berisik, tapi mobil mewah berwarna hitam mengkilat. Meski tengah di guyur hujan, mobil itu tetap terlihat keren. Paijo mendudukkan tubuh Saras di sana, di kursi depan.


Mereka memakai mobil siapa? batin Haji Bagong lagi.


Tak ingin di sadari oleh mereka, Haji Bagong buru-buru ngumpet di belakang mobil lain. Pak Tekno pun harus sigap, ikut-ikutan ngumpet. Meladeni majikan seperti Haji Bagong memang harus ekstra sat set. Lemot sedikit pasti kenyang semprot.


Apa benar sekarang Paijo sudah jadi orang sukses dan kaya raya? Camry? boleh juga seleranya... Ah, bisa jadi itu hanya mobil pinjam.


Setelah mobil Paijo melesat pergi. Barulah Haji Bagong menegakan tubuhnya. Membetulkan kupluk putih di kepalanya, lalu bertitah dengan angkuh.


"Kita pulang saja! Saya sudah tidak mood ngopi di sini!


Hemfttttt... Beruntung Haji Bagong tidak encok gara-gara mumpet tadi. Baju Haji Bagong sudah setengah basah kuyup, kalau lanjut ngopi sama saja bunuh diri. Perilaku impulsif Haji Bagong sukses membuat Pak Tekno diam-diam istighfar dalam hati.


***


Flashback On...


Saras makan dengan lahap meski pedas kuah mangut membuat dahinya berkeringat. Dia bertekad menghabiskan makanan itu sendiri. Paijo sampai tercenung melihat tingkah istrinya itu. Begitu banyak lauk yang lebih enak dan menggoda tapi Saras masih kekeh menitili balungan kepala ikan itu. Lucu juga saat melihat Saras makan begitu. Paijo sendiri karena tidak mau makan yang amis-amis, dia pesan nasi daging rendang dengan sayur gudeg. Gudeg di sana juga terkenal enak.


Selesai dengan mengisi perut mereka, saat akan pulang hujan turun rintik-rintik. Paijo meminta Saras menunggu di teras saja, sedangkan dia berlari mengambil payung di mobil. Tadi saat mereka datang parkiran penuh, jadi mau tak mau mobil mereka terparkir cukup jauh dari pintu masuk.


Saat kembali, hujan benar-benar turun sangat deras. "Sori lama sayang, riweh nyari payung ternyata nyelip di bawah kursi"


"Ga apa... deres banget, kita beneran pulang sekarang?" tanya Saras sambil menggosok-gosok lengannya sendiri, ternyata dingin juga. Padahal tadi di dalam gerah gara-gara kepedesan makan kepala manyung.


"Pakai jaket mas, kamu kedinginan ya"


"Ga usah mas nanti baju kamu malah basah"


"nanti ganti di rumah, kita pulang sekarang ga apa ya, nanti kelamaan nunggu hujan reda malah kemalaman, kamu jadi ga bisa cepet istirahat" Saras mengangguk.


"Kamu pegang ini!" pinta Paijo agar Saras yang memayungi. Saras bingung, Paijo lebih tinggi darinya, kalau dia yang pegang payung pasti malah repot. Sementara Saras bingung, tanpa aba-aba Paijo mengangkat tubuh Saras ala bridal style. Saras geleng-geleng kepala, malu juga di lihat orang lain, setengahnya lagi Saras ngeri. Tubuhnya sudah semekar itu pasti berat. Nanti kalau Paijo tidak kuat bagaimana?


"Mas, kamu ih... ga usah gendong gini, aku ngeri tahu..."


"Udah kamu pegangan aja, hujan, jalannya licin, kamu juga pasti capek kalau jalan jauh"

__ADS_1


"Mantep aja, mana mungkin aku jatuhin kamu!"


Saras terkekeh, lalu menyembunyikan wajahnya di dada Paijo. Satu tangannya berpegangan erat pada baju Paijo, sedangkan satu tangannya lagi memegang payung. Sebisa mungkin Saras memayungi tubuh mereka agar tidak terkena air hujan. Ternyata praktis juga dengan cara ini. Payung mereka tidak terlalu besar, jika di buat payungan beriringan pasti harus berdesakan.


"Pelan-pelan mas, aku ga mau jatuh..."


"Ga akan sayang!"


"Enak to tak gendong kemana-mana? dari pada naik ojek, mendingan tak gendong to, enak to?" ucap Paijo menirukan lagu milik Mbah Surip almarhum. Saras terkekeh hingga terpingkal-pingkal. Hujan deras begitu indah bagi mereka yang di penuhi cinta.


"Eyuhhhhh... ternyata istriku berat juga..." ucap Paijo setelah berhasil mendudukkan Saras di kursi mobil.


Saras lega, pantatnya sudah mendarat dengan aman di jok mobil.


"Hahaha... aku bilang juga apa!"


Lalu mobil mereka melesat pergi meninggalkan area warung Bu Sabar. Tanpa mereka sadari ada laki-laki tua yang impulsif mengamati mereka, hingga bajunya basah kuyup karena hujan.


Flashback Off...


***


Di dalam mobil...


"Pak Tekno, tolong besok kamu cari informasi tentang Saras, di mana selama ini dia tinggal, dan apa benar laki-laki tadi sudah jadi orang sukses, apa usahanya, dan mobil siapa yang mereka pakai tadi itu!"


"Pak Tekno, kamu sanggup?"


"Sanggup juragan.."


Camry, Camry... harganya aku taksir hampir satu milyar! Huh, kemlinti!


Hlo kog situ jadi kepo, syirik Pak Haji? bilang dong! Papale papale, papale pale.... hahaha....


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy satnate... mumpung otak aku mau di paksa kerja keras 😁


__ADS_2