Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 25: Duduk Manis di Rumah!


__ADS_3

"Saraswati jangan gila! itu namanya bukan menghadapi masalah tanpa masalah, yang ada kamu nambah masalah!"


"Terus aku harus bagaimana Paijo? aku ga mau kawin! maksudku aku ga mau nikah sama Bambang!"


"Tapi tidak harus dengan merampok juga bukan?"


"Kalau begitu, culik saja aku. Terserah kamu mau kamu umpetin kemana. Yang jelas aku mau perjodohan ini batal."


"Aku sedang di tengah hutan, bagaimana bisa aku menyusul 'mu kesana. Pasti terlambat.."


"Naik pesawat, dan cepatlah kesini. Oh tidak...itu juga perlu waktu yang lama." Saras semakin gusar. "Andai saja kamu punya jet pribadi, mungkin dalam hitungan menit kamu sudah sampai sini."


Paijo mendesis, "Aku tidak sekaya itu Saraswati,"


"Tenanglah, beri aku waktu untuk berpikir..."


Setelah memutus percakapan, beberapa menit kemudian Paijo mengirimkan pesan.


[Berikan aku alamat lengkap Bambang]


Setelah mengirim balasan berupa alamat lengkap B, Paijo langsung membalas lagi.


[Duduk yang manis di rumah. Jangan kemana-mana. Percaya denganku, semua pasti beres!]


Saras mengernyitkan dahi. Bagaimana dia bisa tenang, sangking cemasnya mau kentut saja dia lupa.


Ahhh... apa yang aku harapkan dari Paijo. Dia bahkan bukan siapa-siapa. Aku bodoh meminta pertolongan darinya. Aku pasrah Tuhan, walaupun menjalankan kewajiban masih bolong-bolong. Aku lebih yakin akan kuasa 'mu Tuhan daripada omong kosong Paijo.


Saras sudah pasrah, bahkan saat wajahnya di poles make up tipis oleh sang ibu. Dia sudah cantik berbalut gamis biru muda lengkap dengan jilbab. Iya, Saras memang memakai jilbab di acara-acara tertentu. Dia belum bisa istiqomah menutup aurat.


Saat Haji Bagong kembali, semuanya sudah tertata rapi. Layaknya menyambut tamu istimewa, hidangan semeja penuh sudah tersaji. Dan para tetua juga sudah hadir, duduk manis di ruang keluarga yang sangat luas dengan karpet permadani yang terhampar mewah.


Haji Bagong sudah rapi dengan setelan sarung dan baju koko kebangsaannya. Semua sudah siap menunggu kedatangan keluarga Haji Rojak.


"Abah, sudah jam berapa ini? kenapa mereka belum juga datang?" Hajjah Maesaroh sudah gusar. Sudah setengah jam lebih, tapi mereka belum juga datang. Padahal jalan dari kampung Haji Rojak ke kediaman Haji Bagong tidak melewati lampu merah. Jelas mereka tidak akan terkena macet apapun.


"Apa perlu kita telfon mereka?"


"Jangan, kita tunggu setengah jam lagi. Barangkali mereka ada kesulitan di jalan."


Aku harap mereka tidak jadi datang, amin.


Saras masih was-was menunggu setengah jam kemudian. Sebelum benar-benar ada kata batal, dia belum berani bernafas lega.


Tik...tok....tik....tok...


Setengah jam kemudian...


"Abah, makanan di meja sudah dingin." tegur Hajjah Maesaroh


Raut wajah Haji Bagong sudah memerah. Jika sedang tegang wajahnya lebih mirip seperti tuan Takur. "Biar aku hubungi mereka."


Haji Bagong berpindah ke ruangan lain, dia langsung menghubungi nomor pribadi Haji Rojak. Tersambung,


"Assalamualaikum...Ji"


"Wa'alaikumsalam..."


"Maaf, kalian sudah sampai mana? ini sudah hampir Maghrib tapi kalian kog belum sampai sini?"


Haji Bagong yakin suaranya jelas terdengar. Namun orang di seberang sana terlalu lama menjawab. "Hallo...!"


"Iya Hallo... maafkan saya Ji. Tapi sepertinya kita harus membatalkan lamaran ini!"

__ADS_1


"Saya tidak mau anak saya Bambang menikah dengan seorang gadis seperti anak anda!"


"APA MAKSUDNYA???"


"Saya kira anak anda gadis baik-baik. Tidak kenal laki-laki. Tapi ternyata dia pernah pergi berdua dengan laki-laki lain. Dan bahkan sampai..."


Haji Bagong geram. Dia juga sudah tahu, bahkan Bambang sendiri yang tidak keberatan dan malah meminta segera melamar. Tapi apa ini? Membatalkan lamaran secara sepihak, tentu sangat mencoreng kehormatan keluarga Bagong. "Bukankah Bambang tidak mempermasalahkan itu lagi? Dia sendiri yang meminta lamaran ini di percepat, Ji!"


"Dia tidak keberatan, tapi saya yang keberatan. Apalagi saat ibu dari laki-laki teman kencan putri anda kesini dan menjelaskan semuanya."


"Kami benar-benar tidak sudi, menikahkan Bambang dengan gadis seperti Saraswati!"


"TUTUP MULUT ANDA HAJI ROJAK!"


"Apa maksudnya gadis seperti Saraswati? Bagi saya Saraswati tetap anak yang baik. Anda tidak berhak mencaci makinya!"


"Apapun alasannya, saya juga sudah tidak sudi menjalin hubungan keluarga dengan anda!"


"Anda sombong, baru saja menjadi juragan ayam potong. Anda sudah sesombong itu, Hah!"


"BATAL! PERJODOHAN INI KAMI BATALKAN!!!"


Saras dan Hajjah Maesaroh diam-diam menguping pembicaraan Haji Bagong. Sebenarnya tidak perlu menguping, mereka pasti bisa mendengar jelas, Haji Bagong bicara keras apalagi saat marah tadi.


Duuuuuuuuttt....


Hajjah Maesaroh menepuk pantat Saraswati.


"Dasar kamu!"


Cekikikan Saraswati menjawab. "Maaf Bu, Saras terlalu bahagia sampai kelepasan."


"Hush, ayo cepet keruang keluarga. Ingat pura-pura tidak tahu."


"Mbah kaji, mau rengginang? ini saya sendiri yang buat." tawar Hajjah Maesaroh pada ayah mertuanya.


"Sing empuk wae Roh, ora tedas nak koyo ngono kui." yang empuk aja, tidak kuat kalau makanan seperti itu.


"Dimut riyen Mbah, mengko lak empuk piyambak." Pinggang Saraswati di cetot ibunya, dengan lirikan mata tajam. Untung si Mbah kaji ga denger, maklum faktor U.


"Ga sopan Saraswati!" bisik Hajjah Maesaroh.


"Opo?" tanya Mbah kaji bingung sambil menelengkan telinga, karena tidak mendengar ucapan Saras.


"Mboten nopo-nopo Mbah, Mbah kaji ganteng. Hehe..."


"Halah, padune meh njaluk sangu toh kuwe!"


Halah, ada maunya minta uang toh kamu!


Giliran di puji ganteng, telinganya langsung sensitif.


"Matursuwun Mbah..." ucap Saras nyengir sambil menerima lima lembar uang ratusan ribu dari tangan si Mbah kaji. Jika Haji Bagong kaya maka bisa di pastikan Mbah Kaji lebih kaya raya. Riwayat gelar Haji dan kekayaan tujuh turunan memang di sandang oleh keluarga Saraswati. Makanya Haji Bagong agak sombong.


Haji Bagong kembali dengan raut wajah penuh amarah. "Bubar semuanya, lamaran ini dibatalkan!" Semua orang hanya bisa diam tanpa berani menjawab. Mbah kaji entah dengar apa tidak. Ragu saya.


"Saraswati besok ikut Abah, kamu harus ruqyah, setan apa yang menempeli 'mu. Sampai sial dua kali. Lamaran batal untuk kedua kalinya, memalukan!"


Saraswati hanya bisa ketap-ketip. Saras senang lamaran ini batal, senang sekali. Kalau boleh, dia ingin umumkan lewat toak-toak musholla.


Tapi di ruqyah? astaghfirullah Abah, Saras masih yakin setan-setan juga enggan menempeli Saras.


*****

__ADS_1


Sementara di kediaman Haji Rojak, Bambang klejekan menangis. Bagaimana bisa bapaknya percaya begitu saja dengan ucapan seorang wanita yang mengaku istri dari Kepala Desa setempat. Wanita itu mengatakan jika anak laki-lakinya sudah menghamili Saraswati.


Kebohongan macam apa ini. Bambang tahu jika Saras dekat dan pernah pergi berdua dengan Paijo. Tapi Bambang baru tahu kalau Paijo yang dia juluki tukang bakso itu ternyata anak dari kepala desa yang kaya raya dengan tanah berhektar-hektar. Bambang juga tidak percaya jika Saras hamil. Dan sialnya Haji Rojak percaya dan termakan omongan wanita itu.


"Abah, wanita itu jelas berdusta. Anaknya licik juga, demi mendapatkan Saras mereka berdusta."


"Tutup mulut 'mu. Jika yang datang kesini anak bau kencur. Abah tidak akan percaya. Tapi, dia ibu kepala desa Bambang. Mustahil beliau berbohong. Lagipula itu aib, mana ada orang berbohong untuk mendapatkan aib."


"Kamu jangan bodoh hanya karena cinta. Wanita masih banyak, kamu tinggal pilih."


"Masalahnya, Bambang juga udah habis banyak sama Saras." Karena menyuruh orang bodoh itu, tabungannya hampir ludes.


"Hla itu... jelas dia matre. Tinggalkan saja! Besok Abah carikan anak gadis dari juragan-juragan yang lain."


Bambang mendengus kesal. Usahanya memberi pelajaran pada Paijo gagal. Dan sekarang dia gagal juga mendapatkan Saraswati.


Ternyata Paijo licik juga!


****


"Hallo Bu, bagaimana?"


"Beres anak 'ku, keluarga Haji Rojak tidak jadi melamar Saraswati."


"Benarkah? apa yang ibu katakan pada mereka?"


"Ibu mengatakan pada mereka kalau Saraswati hamil anak kamu!"


"Apa???" Jauh disana Paijo syok mendengar ucapan ibu tiri yang baik hati bagai bidadari. Jelas itu bukan ide dari Paijo. Beberapa jam yang lalu, Paijo menelfon Ibu Salma meminta bantuan untuk menjelaskan pada keluarga Bambang. Jika Saraswati tidak mencintai Bambang. Tapi wanita itu malah berinovasi sendiri dengan mengatakan Saras hamil.


"Apa semua wanita sekarang gila? tadi Saraswati ingin merampok toko emas orang tuanya sendiri demi menggagalkan perjodohan."


"Dan ibu lebih gila dengan mengatakan aku telah menghamili Saraswati? ya Tuhan..."


"Hahaha... Urgen Paijo Sayang... Yang penting gagal dulu. Masalah hamil atau tidak itu gampang. Kamu tinggal hamili dia beneran, terus minta restu orang tuanya..."


"Ibu juga masih jengkel, hanya karena kamu bukan PNS, mereka menolak lamaran kita dulu!"


"Ibu.... ini beda cerita. Dulu aku juga setuju jika perjodohan kami batal. Tinggal menghamili saja? Saraswati anak orang, bukan anak kambing. Aghh... sepertinya jalan 'ku semakin susah."


"Apa ibu salah?"


"Masih tanya..."


Paijo gemas sendiri, ingin rasanya mengunyah balok kayu di hadapannya saat itu juga. Obrolan mereka selesai, dan ponsel Paijo menyusul bergetar.


Dari: Saras008


[Alhamdulillah Jo, perjodohan ini gagal. Benar apa katamu! aku hanya perlu duduk manis di rumah. Beres👍]


Paijo bingung harus membalas apa?


.


.


.


.


.


like, komen, vote

__ADS_1


kerja rodi hari ini, ahh sampai tidak tidur siang.


__ADS_2