Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 61: Sekarat


__ADS_3

Deru mesin diesel gergaji mulai terdengar bising. Meski luka di sikunya belum kering, Paijo tetap menjalankan pekerjaannya. Hari ini dia melatih lima orang laki-laki yang akan di pekerjakan sebagai tenaga pemotong kayu.


Mereka berlima adalah warga asli desa Wonorejo yang langsung menawarkan diri untuk ikut bekerja dengan Paijo.


Paijo benar-benar merintis dari awal. Pembangunan pabriknya masih sebatas gudang sebagai penyimpanan kayu nantinya. Untuk tempat Band Saw atau meja pemotong kayu itu sendiri masih berupa pendopo terbuka. Yang penting tidak kepanasan saat panas atau kehujanan saat hujan.


Lingkungan kerja ini bukan kerja kantoran yang mengharuskan karyawan berpakaian rapi dan wangi. Mereka nantinya akan bergelut dengan serpihan serbuk kayu. Jadi, memakai pakaian berupa celana pendek dan kaos partai pun tak apa. Monggo kerso. Disini bukan tempat kerja orang manja, tapi tempat untuk orang kuat yang mampu mengangkat beban berat kayu balok, syukur-syukur beban hidup.


Paijo mematikan mesin saat selesai memotong satu balok kayu menjadi beberapa batang usuk kayu. Rencananya sebelum mendapatkan orderan dari pabrik-pabrik yang lebih besar, Paijo ingin menjajal memproduksi salah satu bahan bangunan yaitu berupa reng kayu, usuk, maupun blandar.


"Bagaimana? sudah ada gambaran?"


"Kira-kira nanti pekerjaan kalian seperti itu. Sementara saya baru sanggup membeli dua mesin, jadi empat orang dari kalian nanti bertugas sebagai operator. Satu mesin dua orang, sedangkan satu orang lagi nanti tugasnya sebagai helper." Kelima orang itu masih khusuk menyimak.


"Untuk operator mesin sudah jelas ya, kayak yang tadi saya peragakan. Ukuran kayu harus teliti, jangan sampai salah ukur. Sesuaikan dengan permintaan." lanjut Paijo.


"Untuk helper, nanti tugasnya membantu operator. Misalnya memindahkan serbuk kayu yang menumpuk atau sisa-sisa potongan kayu,"


"Sampai sini paham?"


Lima orang pria yang usianya lebih tua dari Paijo mengangguk mantap tanpa suara. Membuat Paijo mengedarkan pandangan.


"Oke, bisa di jawab ya bapak-bapak. Jangan mengangguk-angguk saja nanti di kira boneka pajangan gimana?"


Tawa mereka pecah. "Hahaha... Mas Paijo ada-ada aja. Paham, kami paham." jawab Pak Munawar yang paling tua diantara mereka mewakili. Paijo membalas dengan senyum tipis.


"Gimana sama Mas Yanto, Mas Hasan, Pak Jupri dan kamu siapa, maaf saya lupa." Paijo menunjuk laki-laki yang terlihat paling pendiam. Jika yang lain sudah berani tertawa keras tadi, dia hanya tersipu malu. Paijo jadi curiga. Apa dia sedikit kemayu.


"Sa--ya Yadi Mas,..." jawab laki-laki pemalu itu lirih. Kemudian menundukkan pandangan.


"Oh... iya Mas Yadi. Paham?"


"Paham Mas," lagi si Yadi menjawab kemudian menundukkan kepalanya. Padahal Paijo lihat di bawah juga tidak ada uang jatuh. Paijo mengernyitkan alis, Pak Munawar yang berhasil membaca raut wajah Paijo pun sukarela menjelaskan.


"Dia itu anaknya memang gitu Mas Paijo, pemalu. Tapi baik kog, ga pernah neko-neko saat masih anak-anak hingga sudah sebesar ini, juga belum pernah nyolong mangga saya," pernyataan itu sontak membuat yang lain terkekeh geli.


"Oh... Mas Yadi tetanggaan sama Pak Munawar?"


"Iya Mas, dia masih bayi abang saja, saya ikut selametan dirumahnya."

__ADS_1


Bagus, batin Paijo. Setidaknya penilaian Paijo pada mereka masih baik. Paijo perlu orang yang jujur dan setia untuk mengawali usahanya. Dari awal merekrut Pak Munawar saja, Paijo merasa cocok dan menurutnya pria berusia sekitar empat puluhan itu bisa di percaya. Paijo pertama kali bertemu Pak Munawar di mushola saat jamaah sholat dhuhur. Keduanya mengobrol asyik, sampai Paijo mengatakan butuh tenaga untuk bekerja di pengrajian miliknya. Dan saat itu Pak Munawar langsung menawarkan diri.


"Berarti umur Mas Yadi berapa?"


"Berapa Yad?" Pak Munawar menyenggol lengan Yadi karena pemuda itu dari tadi masih setia menunduk. Menatap sandal jepit yang jadi kotor terkena debu kayu.


"Dua puluh empat tahun Mas, kurang satu bulan lagi tapi-." Yadi menunduk lagi. Paijo sampai gumun, spesies langka. Batin Paijo.


"Oh... berarti bulan depan kamu ulang tahun ya, kamu lebih muda dari saya ternyata." entah wajah Yadi yang boros atau Paijo yang tak tahu diri jika sudah dua puluh tujuh tahun. "Saya panggil kamu nama saja ya kalau gitu..."


Sekarang Yadi bahkan tak bersuara hanya mengangguk dengan kepala tertunduk. Membuat Paijo gemas. Perasaan Paijo tidak galak, dari tadi bicara juga Paijo masih berusaha sesopan mungkin. Hari pertama Paijo ingin membangun image pemimpin yang baik hati dan tidak sombong. Lalu kenapa belum apa-apa si Yadi sudah ketakutan begitu. Paijo masih manusia belum jadi serigala.


Paijo menghela nafas, "Baiklah, karena sepertinya kamu paling pemalu daripada yang lain, kamu saja Yad yang jadi helper."


"Kalau kamu megang mesin, takutnya kamu nunduk malu gitu terus, bisa-bisa tangan kamu yang kepotong bukan kayunya." Yang lain kembali terkekeh dan lagi-lagi Yadi hanya mengangguk pasrah. Padahal Paijo sudah berusaha keras melawak.


"Ya Tuhan, responnya masih sama juga."


Suara Yadi mahal kali ya, Paijo harap di terima saja yang model gitu, gitu-gitu nanti yang paling rajin kamu suruh-suruh. Lumayan bisa disuruh-suruh beli es atau makanan atau apapun. Terserah kamu pokoknya Jo, disini kamu bosnya.


***


"Kamu sarapan dulu ya nduk, haduh kog tambah panas gini, Budhe jadi bingung harus gimana,"


Saras melungker di balik selimut, tubuhnya panas dari luar, tapi dari dalam dia merasa kedinginan. Kepalanya juga terasa berat sama beratnya dengan rasa rindunya. Kalau tidak percaya nanti kalian timbang sendiri. Yang jelas saat ini Saras pada posisi drop dan butuh bantuan. "Bud, Saras mau telpon Mas Paijo, dia pasti mengkhawatirkan Saras, Bud..." ucap Saras dengan mata tertutup. Bibirnya terlihat pucat. Apalagi dari pagi dia sama sekali belum makan.


Saras tidak drama, dia benar-benar sakit. Saras harap Budhe Sri kasihan, terus mau meminjamkan ponselnya. Saras berjanji kali ini dia akan memastikan, ponsel Budhe Sri ada kuotanya. "Kamu jangan memojokkan Budhe begini. Jangan memanfaatkan keadaanmu yang tak berdaya."


"Lagian kenapa sakitnya ga kemarin saja, pas ada Abah kamu kesini. Jadi ada alasan kamu pulang ke rumah,"


Kalau saja tidak lemas dan mulut tidak terasa pahit, mungkin Saras senang hati menjawab omelan Budhe Sri.


Kalau bisa milih Saras ga mau sakit, sakit ga enak, ga bisa enak mkaan ayam goreng, ayam kremes, ayam geprek, ayam penyet, apalagi bubur ayam, yang ayamnya suwir-suwir dikit. Makanan seenak apapun jadi ga enak kalau sakit. Saras berkeluh dalam hati.


"Eh, anak ini malah diam saja. Saras! Saras! Kamu masih hidupkan?"


"Sekarat Budhe..." jawab Saras dengan mimik wajah semakin pucat. Seperti akan segera mati.


"Huh, ya Tuhan... tunggu! Budhe kabari Abah kamu dulu," Budhe Sri meletakan bubur di meja kecil di dekat ranjang tidur Saras, kemudian berjalan keluar, ambil ponsel mungkin.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Budhe Sri muncul lagi. "Abah kamu pinggangnya sakit, katanya kemarin habis dari sini jatuh, dia bilang ga bisa kesini."


"Sekarang Budhe yang bingung, gimana bawa kamu ke rumah sakitnya. Jauh dari sini. Ada juga puskesmas, kata Abah kamu ga boleh di bawa ke puskesmas, ga level. Hla otak Abah kamu sepertinya yang agak konslet."


"Anak sekarat masih mikir kayak gitu..." Budhe Sri ngedumel tak jelas.


Saras dengan mata terpejam bicara sudah mirip orang mengigau. "Mas Paijo, Mas, Saras sakit... tolong Mas... tolong Saras,"


Hati perempuan mana yang tidak terenyuh, pertahanan Budhe Sri runtuh. Di samping kasihan dia juga bingung harus bagaimana. Tidak ada orang yang bisa di mintai tolong membawa ke rumah sakit kota.


"Huh, baiklah. Dari pada kenapa-kenapa, Budhe kasih ponsel. Kamu hubungi sana Mas Paijo mu! Kalau dia benar-benar kesini, itu berarti dia cinta mati sama kamu!"


Saras memang sakit tapi telinganya masih sehat mendengar. Ingin rasanya dia bersorak hore. Tapi dia sedang tidak bercanda. Pelan-pelan dia membuka mata, dan menerima uluran ponsel milik Budhe Sri.


"Passwordnya Budhe?"


"Luwak white coffe," Saras pening, Budhe malah bercanda. Kira-kira seperti itu arti lirikan mata Saras. Kemarin padahal tidak di sandi, mungkin Budhe takut kecolongan lagi.


Budhe Sri mencibir lalu memasukan pola sandi yang membuat ponsel itu siap di pakai seketika. Saras memasukan deretan angka yang sudah dia susun sejak kemarin. Dengan perasaan berdebar Saras men-deal nomor itu.


Terhubung! Suara berat di sebrang sana membuat jantung Saras lemah. Syok.


"Haaa--- hallo---Mas, ini Saras, jemput Saras Mas--"


Setelah berhasil mengatakan itu, Saras jatuh pingsan. Budhe Sri terlonjak histeris. Sedangkan suara laki-laki di seberang sana, entah benar Paijo atau bukan.


.


.


.


.


.


Hlah... itu udah ke sambung Paijo belum ya?


tekan tombol like, komen yang banyak, kalau yang like seribu yang komen kudu seribu ya!

__ADS_1


🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣


__ADS_2