
Saras sudah pasrah jika akan di marahi B, atau yang paling buruk B akan minta putus. Tak apa itu lebih baik. Jika di tanya Abah dia tinggal jawab kalau B yang memutuskan. Walaupun pasti nanti dia akan di marahi habis-habisan oleh Abahnya, apalagi jika tahu alasan putusnya hubungan itu karena Saras pergi dengan laki-laki lain.
Seharian Saras hanya bergumul dengan kasur, badannya terasa remuk karena perjalanan kemarin. Meneliti hp tapi tak ada satu pesan pun dari B. Saras menghubunginya berkali-kali. Setidaknya dia sadar kalau dia salah. Tapi tak ada respon sama sekali dari B. Pesan tidak di balas, panggilan diabaikan. Maunya apa? Kalau mau marah Saras siap, mau ngajak berantem sekalipun Saras siap lahir batin. Kalau di gantung gini, malah bikin gondok. Ibarat pup, kayak sembelit susah di keluarin jadi penyakit.
Paijo bersin-bersin karena kehujanan kemarin. Kepalanya juga terasa pusing, maka dari itu dia memutuskan untuk beristirahat di rumah kakeknya.
Seperti biasa, suasana warung bakso cak Sam selalu ramai saat jam makan siang. Tidak hanya letaknya yang strategis di pinggir alun-alun. Tapi beberapa gedung perkantoran di sekitar sana juga mendukung. Banyak karyawan yang memilih warung makan bakso cak Sam sebagai tempat langganan. Selain enak, harganya juga pas di kantong.
Seorang laki-laki berkemeja biru necis duduk di salah satu meja. Setelah memesan semangkuk bakso komplit dan segelas es teh, seperti yang lainnya dia menambahkan sendiri saos, sesendok sambal dan kecap. Sekilas tidak ada yang aneh. Dia juga terlihat menikmati kelezatan bakso itu. Sampai beberapa suapan kemudian, dia sukses menjadi pusat perhatian.
Bejo yang sibuk mondar mandir mengantarkan pesanan merasa waktu seakan berhenti sejenak.
Hueekkkk... hueekkkk... hueekkk...!!!
Pria berkemeja biru itu terlihat berkeringat dan muntah-muntah di tempat. Semua mata tertuju pada pria itu. Semua menghentikan aktivitasnya menikmati semangkuk bakso. Cak Sam langsung tergopoh-gopoh keluar dari tempat kasir. Sepanjang kariernya, baru kali ini ada orang muntah di warung bakso miliknya. Terlalu aneh karena ini warung makan, bukan bus kota yang biasa di temukan orang muntah karena mabuk perjalanan.
"Maaf pak, apa anda sakit?" tanya Cak Sam memastikan. Kalaupun iya, dia tidak akan marah. Cukup meminta Bejo membersihkan muntahan itu segera mungkin. Tapi ternyata lain cerita, pria itu berkacak pinggang dengan amarah yang membara.
"Lihat apa ini?!!! Menjijikkan!!!"
Cak Sam membelalak tak percaya dengan apa yang dia lihat. Sehelai buntut tikus mengapung di mangkuk bakso milik pria berkemeja biru.
Semua pengunjung tercekat, perut mereka ikut di aduk-aduk. Sontak hal itu memancing amarah mereka juga. Keadaan menjadi riuh tak terkendali.
"Bangsat!!! jualan yang bener Pak! bagaimana bisa ada ekor tikus di sini!"
"Apa bakso di sini pakai daging tikus! Ngaku! atau saya laporkan ini ke pihak berwajib!"
Cak Sam menelan ludah susah payah, dia bingung bagaimana menjelaskan. Semua orang mencerca, yang lebih parah mereka juga mendokumentasikan peristiwa itu. Tidak hanya foto tapi juga merekam vidio secara live.
"Tolong, jangan begini..." lirih Cak Sam.
"Demi Tuhan, bakso kami memakai daging sapi. Ini pasti hanya kesalahpahaman."
"Alah, berkilah. Dasar bajingan tak beradab! Hanya karena mau untung besar, anda melakukan hal yang menjijikan!" Pria berkemeja biru itu masih memprovokasi.
PRANKKK...!
Pria berkemeja biru itu membanting mangkuk berisi separuh bakso dan sehelai ekor tikus itu tepat di hadapan Cak Sam. Seketika lantai di bawahnya kotor, berceceran muntahan bercampur kuah, bakso dan pecahan mangkuk bergambar ayam. Pria itu lantas pergi tanpa membayar sepersenpun.
Semua orang berdiri meninggalkan warung itu satu persatu. Ada yang ikut marah, ada yang kecewa tapi diam, ada yang masih baik hati dengan meninggalkan selembar uang di atas meja. Reputasi baik warung bakso yang di bangun puluhan tahun, dalam hitungan menit hancur begitu saja.
Cak Sam tidak menyangka sama sekali, jika adegan yang sering ditonton di sinetron ikan terbang itu terjadi nyata pada dirinya.
"Ya Allah, cobaan apa ini..." jerit Cak Sam dalam hati. Dia jatuh terduduk di kursi, meratapi nasib buruk hari ini. Wajahnya frustasi, dia terduduk lesu.
"Tutup warungnya, hari ini kita pulang lebih awal."
__ADS_1
Bejo menghubungi Paijo agar segera datang ke warung. Dia dan empat rewang yang lain sungguh tidak tega, melihat Cak Sam yang terpukul karena kejadian ini. Mereka yakin ada orang yang sengaja melakukan ini semua.
****
Bang bang bang... !!!
Kerja yang bagus, selanjutnya biar netizen yang bekerja. Kita tinggal lihat dari jauh dan bertepuk tangan.
Dua orang laki-laki klimis itu tertawa puas melihat keributan yang sengaja mereka perbuat. Tidak perlu menunggu lama, dalam hitungan detik. Warung bakso Cak Sam viral di dunia maya.
Facebook, Instagram, YouTube, ramai dengan postingan yang menampilkan seorang pria berkemeja biru marah-marah karena mendapati ekor tikus di mangkuk baksonya. Ratusan hujatan terlontar menghakimi. Mulut netizen nyir-nyir pedas bagai boncabe level sekarat.
Mereka bahkan menggunakan tagar #tutupwarungbaksotikus dan mengetake akun ke dinas kesehatan setempat.
****
Paijo datang tergopoh-gopoh setelah mendengar kabar itu. Saat masuk kedalam warung, sang kakek masih terduduk lesu di kelilingi lima orang pegawainya.
"Mbah..."
Cak Sam mendongak frustasi, "Selesai, semuanya selesai Jo..."
Paijo berhambur memeluk laki-laki yang sudah renta itu. "Sabar Mbah, jangan khawatir, semua akan baik-baik saja,"
Belum lama Paijo mengatakan itu, tapi pintu warung terbuka lagi. Dan tamu yang datang sungguh mengagetkan mereka. Empat orang polisi berseragam coklat dengan atribut lengkap, menyerahkan surat perintah penutupan warung sementara.
Beberapa wartawan juga hadir meliput berita itu. Bisa di pastikan, besok pagi berita penyegelan warung cak Sam akan menjadi headline news di media lokal Malang.
Mereka hanya bisa menyaksikan bagaimana warung bakso itu di segel pihak berwajib. Melawan petugas kepolisian juga hal yang bodoh. Tapi Paijo emosi saat ada wartawan yang lancang mengambil gambar wajah sang kakek secara jelas. Paijo tidak terima dan lompat dan berusaha merebut kamera dari seorang wartawan itu.
Terjadi keributan lagi, banyak orang yang menonton. Hampir saja Paijo memukuli wartawan itu, tapi segera di lerai oleh pihak berwajib.
"BUBAR!!! Semua bubar dari sini!" polisi itu membubarkan kerumunan.
"Berita ini sudah viral di dunia maya, silahkan pemilik warung ini bisa ke kantor polisi untuk di mintai keterangan selanjutnya."
"Kami akan melakukan penyelidikan, jangan khawatir jika terbukti tidak bersalah. Warung ini masih bisa di buka lagi."
"Baiklah pak, kami akan taat prosedur." jawab Cak Sam pasrah. Sedangkan Paijo rahangnya masih mengeras menahan amarah.
****
"Saraswati bangun!"
"Dunia gonjang ganjing, kamu malah tidur kayak orang mati!"
"Bangun Saras! ada berita heboh."
__ADS_1
Saras mengerang di balik selimut yang berhasil mendapatkan motif-motif baru hasil iler yang mengering. "Apa sih kalian berdua... aku capek! aku udah bilang mau balas dendam tidur."
Hayu dan Rani menggoyangkan tubuh Saras, memaksanya untuk segera bangun.
Terpaksa Saras membuka mata. "Apa? ada apa?"
"Ihhh... joroknya. Hapus dulu iler kamu!" Hayu dan Rani duduk menjauhi selimut Saras yang sudah terkontaminasi karena gerakan menghapus iler barusan.
"Lihat ini! viral warung bakso cak Sam!"
Hayu menimpali, "Di duga jualan bakso tikus!"
"Hah... kog bisa?" Saras menonton Vidio itu tanpa berkedip.
"Iya, kami juga terkejut. Beneran ga ya? Padahal baksonya enak banget. Masak iya daging tikus. Hoeekk... jadi pengen muntah."
"Ga mungkin, aku ga percaya."
"Iya kalau bisa kami juga mau ga percaya. Tapi lihat itu live Vidio lho."
"Sudah pasti di segel itu warung, langsung viral di tonton beribu kali."
Saras melompat turun melewati Hayu dan Rani. Membuat dua gadis itu hampir terjengkang karena pergerakan Saras yang tiba-tiba.
"Heh, mau kemana?"
"Mandi, terus ke rumah cak Sam"
"Mau apa?"
"Mau minta bakso gratisan,..." jawaban Saras clegekan. "Ya mau melihat kondisi di sanalah, kasihan cak Sam. Sebagai pelanggan yang baik, sudah kewajiban kita bersimpati."
"Oooo..." Hayu dan Rani membulatkan bibir, habis mimpi apa Saraswati, baru ileran bisa bicara bijaksana seperti itu. Di saat semua orang lebih asyik nonton dari jauh dan menjadikan hal itu sebagai bahan gunjingan.
"Iya benar, simpati, harusnya kita bersimpati pada orang yang baru saja terkena musibah."
Bukankah fitnah lebih kejam daripada pembunuhan dan mengunjungi adalah perbuatan tercela yang di ibaratkan dengan memakan daging saudaranya sendiri?
.
.
.
.
.
__ADS_1
like dan komen yang banyak🙏