Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 97: Parem dan Sawanan


__ADS_3

Saras baru selesai video call dengan Paijo. Suaminya itu baru saja absen wajah dan mengatakan jika dirinya berbagi tempat duduk dengan seorang perwira muda di kereta. Paijo merasa aman dari incaran pencopet atau semacamnya. Sekaligus lega, karena tak perlu jaim jika nanti tak sadar tertidur dan ngorok. Sedangkan Saras patut bersyukur karena bukan seorang perempuan yang duduk di samping suaminya. Jadi pikiran-pikiran negatif yang sempat melintas tadi sore, hilang terbawa angin begitu saja.


Saras bersiap untuk tidur. Ini pertama kali dia tidur sendiri setelah menikah. Rasanya tentu saja berbeda. Biasanya mereka akan mengobrol berdua sebelum tidur. Membicarakan masa depan atau bernostalgia masa-masa saat awal mereka bertemu.


Sekarang Saras merasa ranjang ini terasa kosong. Terasa luas sekali, padahal biasanya mereka sampai beradu mulut untuk mendapatkan bagian kasur yang lebih jembar. Dan selama ini Paijo yang sering mengalah, suaminya itu seringkali tidur mintip-mintip di tepi kasur. Itu saja Saras masih suka ngesuk-ngesuk. Kalau pagi harinya di tegur Paijo, mesti Saras akan beralasan seperti ini,


"Aku 'kan merem mas, mana aku tahu kalau tidurku ngesuk kamu..."


"Lagian, kenapa kamu marah kalau aku ndesek-ndesek kamu, biasa juga kamu kalau ada maunya ngusel aja, giliran aku, kamu ngomel!"


Kalau sudah begitu, Paijo memilih diam. Padahal konteks ngesuk dan ngusel itu jelas berbeda maknanya. Paham ga kalian?


Anggap saja paham ya, hehe ...


Saras menatap langit-langit kamar itu, semakin perutnya membesar, tidurnya semakin susah. Terlentang terlalu lama terasa dada sesak dan perut terasa tertarik ke atas, sebah. Kadang Saras rindu tidur tengkurap, tapi tentu saja dia harus bersabar sampai anak di dalam perutnya lahir. Memang dia mau jadi papan jungkat-jungkit dengan perutnya yang besar itu. Lagipula itu juga mustahil, membahayakan anak di dalam perutnya.


Mentok, Saras hanya bisa tidur miring kanan atau kiri. Dengan satu bantal sebagai sandaran perutnya, dan satu bantal lagi sebagai pengganjal kakinya. Kaki Saras sering bengkak, dan saran Bu Bidan agar saat tidur kakinya di ganjal senyaman mungkin.


Saras sudah akan memejamkan mata saat suara ketukan pintu kamarnya terdengar. Dan suara ibu mertuanya menginstruksikan agar dia bangun.


"Masuk saja Bu..."


Salma menjumbulkan kepala sebelum masuk, "Ibu tidak membangunkan kamu 'kan?"


"Tidak Bu, Saras belum tidur kog"


Saras baru akan menurunkan kakinya dari ranjang, namun Salma melarangnya berdiri.


"Sudah rebahan saja, kebetulan Ibu juga mau ngasih ini sama kamu" Kedua tangan Salma membawa cawan kecil berwarna putih.


"Kemarin Ibu sempat telponan sama suami mu, katanya kalau malam kamu sering susah tidur, ga nyaman ya perutnya udah tambah gede?"


Saras meringis, ternyata diam-diam Paijo suka curhat pada ibunya. Mungkin itu salah satu usahanya menjadi suami siaga. Sering bertanya pada orang yang lebih berpengalaman. Not bad, batin Saras.


"Itu apa Bu?"


Salma membawa dua cawan dengan isi berbeda. Satu berisi cairan berwarna putih dan yang satunya sedikit agak kuning kecoklatan.


Salma tersenyum kecil, ternyata memang ibu hamil sekarang hampir tidak mengenal ramuan seperti ini. Wajar saja, karena yang mereka kenal sekarang pasti hanya skincare dengan berbagai merek dan harga yang bervariasi.


"Ini yang putih namanya parem sayang, kalau yang agak coklat ini namanya sawanan"


"Dulu pas Ibu hamil Jae, Ibu juga pakai ini"


"Kebetulan Ibu punya bakul jamu langganan, jadi tadi mampir kerumahnya sebentar beli ini"


Saras menyimak, "terus itu di minum?"


Tawa Salma hampir pecah mengganggu tidur tetangganya kalau tidak dia tahan seperlunya.


"Bukan di minum sayang, kamu lucu banget deh..."


"Kalau di minum tentu saja wadahnya gelas bukan seperti ini" Oke, Saras bodoh kali ini.

__ADS_1


"ini parem bisa di oleskan di tangan atau kaki kamu, biar pegal-pegalnya hilang"


"Kalau sawanan bisa di laburkan di perut kamu, biar lebih nyaman, ga bahaya kog"


"Makanya Ibu berani rekomen ke kamu, cara tradisional tapi semoga aja bisa bikin kamu nyaman"


"Malahan kalau minum jamu, Ibu larang kamu, soalnya kata bidan atau dokter sekarang itu ga boleh ya"


"Ini cuma di oles di luar, jadi ga bahaya sama sekali, mau coba?"


Setelah di pikir-pikir, boleh juga di coba. Saras mengangguk sambil ber-oh kecil,


"Boleh Bu, bawa sini biar Saras coba" Saras sudah akan bangun dari duduknya dan meraih cawan itu, namun lagi-lagi di cegah oleh mertuanya.


"Eh, kamu anteng aja, biar Ibu yang oleskan, oke?!"


Saras langsung kaget, itu artinya ibu mertuanya akan menyentuh kakinya. "Eh, jangan Bu, mana boleh Ibu menyentuh kaki Saras, Saras tidak sopan sekali kalau Ibu melakukan itu..."


"Hush... kayak sama siapa, Ibu juga Ibu kamu!"


Hati Saras berdesir, di perlakukan sebaik ini oleh Ibu mertua yang bahkan Ibu tiri suaminya. Sungguh wanita ini sangat baik dan penuh kasih sayang. Mereka harus bersyukur memiliki Ibu seperti Salma. Saras tidak tahu harus melarang bagaimana, tidak enak hati kalau tidak menurut dengan mertua.


Dengan lembut dan telaten, Salma mulai melaburkan parem ke kedua lengan Saras dan kemudian turun ke kaki Saras. "Kaki kamu bengkak, apa sering begini? sejak kapan?" ada kekhawatiran dari pertanyaan Salma, Saras bisa merasakan itu.


"Iya Bu, akhir-akhir ini, pas awal padahal tidak.."


"Terus sudah bilang bidan kamu?"


"Sudah, kata Bu Bidan ga apa, tensi tiap bulan juga stabil, mungkin ini bawaan bayi Bu"


"Kalau mau besok Ibu temani,"


Saras terharu, lagi-lagi perlakuan baik Salma membuat Saras ingat Umiknya. Kalau ada Umik, mungkin tanpa sungkan Saras akan bermanja-manja.


Umik, Saras kangen....


"Selesai, sekarang giliran labur sawanan ke perut kamu"


"Coba dasternya di naikan dulu, biar sekalian Ibu contohkan dulu"


"Makasih Bu, tapi Saras rasa, nanti Saras bisa sendiri, tinggal di labur-labur kayak tadi 'kan?"


Salma tidak terima penolakan. "Eh... sekalian saja, sekalian tangan ibu yang kotor, biar nanti kamu ga perlu ke kamar mandi buat cuci tangan"


"Ga usah malu, sama Ibu juga..."


Saras menurut lagi. Saras menaikan dasternya hingga di bawah dada. Sedangkan bagian bawahnya dia tutupi dengan selimut. Seketika penampakan perut buncitnya terekspos tanpa aling-aling. Saras agak malu, tapi ibu mertuanya malah memuji perutnya.


"Ya Allah, perut kamu bagus sekali sayang, meski sudah besar begini, ga ada Stretch Mark sama sekali, duh kalau punya Ibu sih udah barut-barut semua, sampai-sampai dulu ibu ill fill tiap lihat perut sendiri, hehe...."


Saras bisa merasakan sentuhan lembut tangan ibu mertuanya lagi, nyaman dan terasa langsung cess...dingin, saat benda cair yang di sebut sawanan itu terbalur di perut Saras. Parem di lengan tangan dan kakinya juga mulai terasa, seperti ada sensasi di pijit-pijit.


Baunya juga sedap sekali, Saras suka. Meskipun saat kering kaki dan tangannya jadi putih-putih dlemok-dlemok.

__ADS_1


"Bagaimana, rasanya enak bukan? anyes..."


"Iya Bu, nyaman sekali, perut Saras rasanya adem, rileks, ga kenceng kayak tadi"


"Makasih ya Bu... Ibu baik banget sama Saras"


"Sudah sewajarnya sayang, Ibu senang kamu nyaman sekarang"


"Udah selesai ini, kamu butuh apa sebelum tidur? biar Ibu ambilkan sekalian,"


Saras tersenyum penuh rasa syukur, "terimakasih Bu, tapi udah semua, Saras udah minum susu tadi, ini juga udah sedia air putih, kalau-kalau Saras haus nanti"


Salma mengecup kening Saras sebentar, lalu menumpuk kedua cawan yang telah kosong itu untuk di bawanya keluar,


"Baiklah, kalau begitu Ibu keluar sekarang, kamu tidur yah"


"tidur yang nyenyak!"


"Tentu Ibu, berkat parem dan sawanan yang Ibu kasih, pasti malam ini Saras tidur nyenyak dan mimpi indah, hehehe..."


Saras dan Salma terkekeh-kekeh, kalau saja tidak ingat sudah malam. Mungkin obrolan mereka akan lanjut hingga tengah malam.


"Udah tidur! Jangan ketawa-ketawa sendiri hlo"


"Hehe... enggaklah... Ibu kira Saras segila itu..."


"Yah, barangkali efek parem dan sawanan kamu jadi gitu..." canda Salma.


Saras hanya mencibir, lalu punggung Salma hilang di balik pintu yang tertutup rapat.


Saras mengelus lembut perutnya, sambil bergumam,


jangan khawatir Mas, Umik, Saras di curahi kasih sayang yang begitu banyak di sini...


Mungkin ini bisa di sebut dengan 'The miracle of Parem and Sawanan' karena selanjutnya dalam hitungan detik, Saras sudah terbuai dengan mimpi indahnya.


Hahaha....


Yang sering insomnia boleh tuh di coba parem dan sawanan juga, murce kog...πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


.


.


.


.


.


Oke.... yang masih suka cerita ini, tolong dong share ke teman-teman kalian, ajak baca kisah Mas Paijo dan Saraswati....


Terimakasih banyak atas dukungan kalian😘

__ADS_1


Sebisa mungkin othor yang ga jelas ini nulis yang ringan-ringan aja ya... seringan Snack seribuan....🀭


Yang belum tahu apa itu parem dan sawanan bisa tanya bakul jamu atau tanya si Mbah Google yes😘


__ADS_2