Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 68: I'm Sorry Goodbye


__ADS_3

Hampir satu bulan Saras mangkir dari pekerjaan. Tanpa ijin dan keterangan. Saras tidak berharap banyak untuk dipertahankan di perusahaan itu, bagaimana pun juga dia hanya karyawan kontrak yang baru bekerja beberapa bulan saja.


Saras malu, tapi Saras juga tidak mau di cap tidak bertanggung jawab. Dia memutuskan untuk datang meminta maaf dan resign secara resmi. Menghadap kepala bagian HRD secara langsung, meskipun sudah pasti dia di keluarkan. Harusnya semua gampang mengingat dia hanya karyawan baru. Menyerahkan surat pengunduran diri, berpamitan dengan teman-teman satu ruangan serta mengemasi sedikit barang pribadinya yang masih tertinggal di meja kerja lalu kemudian pulang.


Saras tidak menyangka jika dirinya akan dioper untuk menemui direktur utama di perusahaannya itu. Memangnya dia siapa? Saras hanya staf biasa bagian akunting. Bukankah HRD saja sudah cukup? Kenapa harus menghadap ke direktur sendiri. Sial.


Saras mengetuk pintu beberapa kali sebelum suara bariton dari dalam mengijinkannya untuk masuk. Bisa di bilang ini adalah pertama kali dia menginjakkan kaki ke ruangan ini. Aneh rasanya. Lebih aneh lagi karena ternyata di dalam tidak hanya Pak Direktur tapi ada juga asisten pribadi beliau.


"Silahkan duduk!"


Saras sepakat jika Pak Direktur benar-benar tampan, suaranya sopan sekali, ngajak poliandri, becanda! Saras canggung meski menurut untuk duduk tepat di hadapan Gusti. Sedangkan Jamalga yang berdiri di samping Gusti terlihat sedikit kaget.


"Maaf Pak mengganggu waktunya sebentar, saya di minta Pak Burhan menyerahkan ini kepada anda sendiri,"


"Ow... saya dengar kamu mengundurkan diri?"


Entah apa niat Gusti, Jamalga juga tidak paham. Yang ada Jamal hanya melongo mirip gambar susu kambing etawa yang menyimpan seribu manfaat.


Saras tergagu, "Eh... itu Pak, maaf saya sudah bolos hampir satu bulan. Ada alasan yang tidak bisa saya jelaskan karena menyangkut masalah pribadi saya. Maka dari itu saya mengundurkan di-ri" Saras menunduk malu, karena di tatap dua pria tampan sekaligus.


"Hmmm... bagaimana kalau saya beri kamu dispensasi, maksud saya, kamu saya beri kesempatan untuk lanjut bekerja disini? saya dengar kerja kamu cukup bagus!"


Ahh... apa ini ada sangkut pautnya dengan Pak Jamal?


Saras mengernyit, rasanya tidak adil. Ketidak hadirannya selama hampir satu bulan tentu saja sudah jadi bahan pergunjingan. Bagaimana kalau dia menerima tawaran ini, apa tidak semakin panas gunjingan mereka. Saras tidak mau mendapatkan perlakuan yang spesial, karena dia buka mie instan spesial. Yang bikin satu kurang, dua kekenyangan.


Aturannya sudah jelas, selama masa training dilarang keras bolos tanpa keterangan.


"Terimakasih Pak atas tawarannya, tapi saya tidak bisa. Saya yang salah, rasanya terlalu tidak punya muka jika saya masih bekerja disini. Sekali lagi terimakasih..."


Gusti menghela nafas, niat baiknya ditolak. Namun, disisi lain dia kagum pada gadis yang menjadi idaman sahabatnya. Berpendirian, tidak mudah di intimidasi. Gusti jadi ingat sosok istrinya. "Baiklah, kalau itu keputusan kamu. Saya tidak bisa memaksa. Mungkin memang harus sampai disini saja kerja sama kita. Saya akan tanda tangani ini, sekalian surat pengalaman kerja kamu."


"Mal, surat pengalaman kerja bisa sekalian di proses?" tiba-tiba Gusti melempar pertanyaan pada Jamal.


"Ehm... prosedurnya harus menunggu paling cepat satu minggu Pak"


Jamal membuang pandangannya, sesak di dadanya tiba-tiba menelusup, kabar tidak masuknya Saras sempat dia ketahui. Meski dia mencoba tidak peduli, nyatanya telinganya belum tuli untuk mendengar gosip-gosip yang beredar. Salah satu gosip yang santer terdengar adalah perihal kemungkinan Saras akan menikah dalam waktu dekat. Hal itu yang membuat darah Jamal mendidih, padahal dia tidak sedang masak air.


"Oh... satu minggu lagi kamu bisa minta ke bagian HRD!" Saras hanya mengangguk.


Gusti membubuhkan tanda tangan di surat pengunduran diri Saraswati. Sekarang Saras resmi resign dari PT. Sandang Abadi. Sebenarnya Saras cukup sedih meninggalkan kantor ini. Baru beberapa bulan tapi dia merasa nyaman dengan pekerjaannya. Meski harus di warnai dengan sedikit drama.

__ADS_1


"Sekali lagi saya mohon maaf Pak, saya kurang profesional dalam hal ini. Terimakasih atas kesempatan dan kepercayaan yang telah di berikan management perusahaan ini, saya pamit. Permisi Pak Gusti---Pak Jamal"


Gusti mengangguk-angguk kecil, sedangkan ekspresi wajah Jamal masih sama, dingin. Saras menghilang di balik pintu. Dan setelah itu Jamal langsung mencerca bos yang sempat dia umpat dalam hati.


"Bos, apaan sih, memang perlu mempertahankannya seperti itu?"


"Memang kamu pikir saya melakukan ini untuk siapa?"


"Saya baik mau mikirin kamu, barangkali dia mau bertahan disini, kamu masih punya kesempatan untuk mendekati lagi! Kasihan saya sama kamu, ga laku-laku!"


Jamal berdecak sebal, untung jam kerja, kalau tidak sudah dia jitak kepala Gusti. "Dia itu kabarnya sudah akan nikah, bos mau saya jadi setan karena jadi orang ketiga!"


Gusti membulatkan bibirnya membentuk huruf O, sejauh itu mana dia tahu. Dia sibuk jarang bergibah. Lagipula hal barusan juga sikap impulsif yang hanya merasa simpati pada temannya.


"Serius kamu menyerah? katanya kemarin jalankan janur kuning melengkung, sebelum bendera kuning berkibar kamu ga akan gentar!?"


"Ah... kapan saya lupa!"


Peduli setan, pura-pura bodoh saja. Menghadapi bos yang rada aneh dan setia jadi member budak cinta memang ga akan menang. Lebih baik berhenti mendebat. Jamal sudah membulatkan hati untuk tidak lagi mengharapkan Saras. Selesai sudah perasaannya. Memang ada baiknya Saras pergi, semoga Jamal cepat move on.


Belum selesai Jamal mengatai Gusti dalam hati. Obrolan najis bosnya dengan sang istri mengusik telinganya juga.


"Hallo..."


"Aku kangen kamu!"


"Pengen nambah di cium kamu, hahaha..."


Pengen tak hihhh!


Jamal memilih melipir keluar ruangan, kalau sudah telponan sama istrinya jangan harap sebentar. Itulah mengapa Jamal mengatai kalau Gusti itu budak cinta. Usia sudah bapak-bapak sudah punya tuyul masih saja mirip ABG pacaran.


****


Setelah berpamitan dengan rekan-rekan satu ruangan, Saras keluar gedung mendekap satu kardus kecil berisi beberapa buku dan barang remeh temeh. Oh iya, Saras akui Pak Direktur memang baik hati. Sebelum Saras keluar tadi, dia mendapatkan titipan kenangan-kenangan ekslusif dari pemilik perusahaan itu. Jeans Denim dan jaket Denim ORI. Saras senang dong, kalau disuruh beli sendiri di toko Saras pasti mikir dua kali, harganya cukup fantastik lur.


Langkah Saras semakin ringan saat menemukan wajah Paijo. Pacar yang dia cintai dengan sepenuh hati dan dia perjuangkan dengan mati-matian itu meringis memamerkan giginya yang untung putih dan rata. Ini kali pertama mereka bertemu setelah kepulangan Saras dari rumah Budhe Sri.


"MAS!"


"Hai pacar..." sapa Paijo jenaka.

__ADS_1


"Mas, aku resmi jadi pengangguran sekarang!"


Paijo malah terkekeh, "Gimana perlu dirayakan?"


"Boleh, dimana?" Saras antusias sekali kalau urusan makan.


Paijo berpikir sejenak, meski baru makan soto daging tadi tidak ada salahnya makan lagi. Demi kesejahteraan perut gadis yang tadi dia panggil pacar. "Mie gacoan mau?"


"Mau, mau, cocok mas! lagi pengen makan yang pedes!"


"Aku nanti mau pesen yang iblis level 8"


"Boleh!"


"Mau boncengan apa bawa motor sendiri-sendiri?"


Kebiasaan memang, Saras tadi ke kantor bawa motor sendiri, kalau mau pergi berdua begini agak repot juga. Sedangkan Paijo cepat-cepat menyusul setelah di kabari Saras jika dirinya datang ke kantor untuk resign resmi. Alhasil ada dua motorkan.


"Ini terakhir kali ya mas, aku nitip motor di parkiran kantor, aku mau di bonceng kamu aja, hehe..."


"Yah, asal nanti ga lupa ambil. Besok kamu udah ga berangkat kesini" Paijo terkekeh juga.


Setelah menyimpan kardus kecil itu di motor matic Saras yang dia tinggalkan di parkiran, mereka berboncengan pergi. Hah, bisa jadi memang ini yang terakhir meninggalkan motor di parkiran itu, sementara yang punya ngelayap dulu.


PT. Sandang Abadi, i'm sorry goodbye!


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


like dan komen yang rajin ya kakak😁


__ADS_2