
Siang dan malam Jo berdoa untuk kesembuhan kakeknya. Dia sudah mengabari ibu tirinya, Salma. Dan wanita paruh baya itu mengatakan akan datang bersama suaminya, yang tak lain ayah kandung Paijo.
Paijo melipat sajadah yang baru saja dia gunakan bersujud. Lelah sudah pasti. Dia kembali duduk di kursi di sebelah ranjang, dimana tubuh Cak Sam terbaring hampir satu minggu lebih.
"Mbah kapan bangun?"
"Warung sepi jika bukan Mbah yang jualan."
"Mbah, mau dengar aku bercerita?"
Hanya suara mesin monitor detak jantung yang seperti ikut menjawab berbagai keluh Paijo malam itu.
"Mbah, aku galau. Hari ini Saras mendapatkan pekerjaan. Aku senang untuknya." Paijo menghela nafas. "Tapi jujur aku merasa cemas."
"Cemas karena bisa saja di sana ada pria yang menggoda."
"Mbah pasti setuju, kalau Saras memang gadis yang cantik bukan?"
"Dia juga baik dan naif. Kadang lucu menggemaskan. Kadang juga menyebalkan."
"Aku sayang dia Mbah."
"Tapi apa pantas aku mengharapkan dia?"
"Sepertinya sangat sulit. Sulit sekali."
Paijo menelungkupkan kepalanya di sisi tangan kiri Cah Sam. Pelan-pelan sudut matanya basah. "Mbah, aku merindukan ibuku."
"Apa ibu juga merindukan aku? bahkan dia sudah pergi sejak aku masih kecil."
"Aku merasa... merasa sendiri di dunia ini."
Paijo menangis dalam diam, perih tapi dia tidak ingin Cak Sam mendengar kesedihannya. Dalam keletihan raga dan jiwa, Paijo terlelap dengan posisi terduduk dan kepala masih tertelungkup.
Malam semakin larut, Paijo tidak tahu pukul berapa ketika kepalanya terasa ada yang menyentuh.
Paijo terbangun, masih tak percaya apa ini mimpi atau nyata. Cak Sam menatapnya, matanya terbuka. Paijo sontak berdiri dan memeluk pria tua itu. "Mbah...Mbah...aku tidak mimpikan ini? Mbah sadar?" Paijo meneteskan air mata. Dia merasa akhir-akhir ini sangat cengeng.
"Mbah...hiks... tunggu, biar Jo panggilkan dokter."
Dini hari, jam dua pagi ternyata. Paijo kembali masuk ke ruangan bersama dokter dan satu orang perawat. Beberapa menit dokter itu memeriksa Cak Sam. "Bagus, kondisinya sudah lebih baik. Pasien sudah mampu merespon cukup baik."
"Besok pagi, saya cek lagi. Biarkan kakek anda istirahat lagi."
"Saya permisi dulu,"
"Terimakasih dokter," Paijo menciumi dan menggenggam erat tangan kakeknya. Hatinya sedikit lega.
"Terimakasih Mbah, Mbah sudah berjuang untuk sembuh..."
__ADS_1
Mulut Cak Sam komat kamit, Paijo yakin bukan sedang membaca mantra. Beliau seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi gerakan mulutnya masih sulit di baca. Pelan Paijo memperingatkan agar jangan terlalu memaksakan untuk berbicara. "Mbah, butuh apa?"
"Mbah tenang ya, Mbah istirahat, besok kita bicara lagi. Jangan di paksakan."
Cak Sam menurut. Pria tua itu sekilas mengulas senyum walaupun sangat tipis.
Paijo memastikan Cak Sam kembali tidur. Ingin kembali memejamkan mata. Tapi semesta tak menghendaki. Suara sholawat tarhim menandakan sebentar lagi memasuki waktu subuh. Jika Paijo berbaring kemungkinan besar dia akan melewatkan waktu subuh. Akhirnya dia memutuskan menghubungi Saraswati.
Beberapa kali panggilan tak terjawab. Sudah pasti gadis itu masih terlelap. Sekali lagi pikir Paijo. Lagipula hari ini, hari pertama dia masuk kerja. Sudah seharusnya dia bangun pagi.
Tut...Tut...Tut.... Tersambung. Dan seketika wajah bantal Saras memenuhi layar ponsel Paijo.
"Selamat pagi nyonya Saraswati..."
"Hmmm...ada apa mas?" jawab Saras dengan suara serak khas orang bangun tidur. Matanya bahkan masih lengket tertutup rapat.
Paijo tersenyum melihat wajah alami gadis yang sukses membuat hidupnya berwarna. "ileran ya kamu! di bersihkan dulu ih, jorok. Tuh basah sampai pipi atas!" Jo terkekeh. Biasanya wanita akan langsung sigap jika membahas iler.
Tapi karena ini Saraswati tentu beda. "Biarin," "iler wanita cantik sepertiku ini, baunya wangi khas minyak kasturi" Mata Saras masih terpejam, dia bicara layaknya orang mabuk. Paijo semakin terkekeh.
"Kamu ya, kalau begitu tidak usah bekerja. Tidur saja, produksi iler yang banyak. Lumayan bisa buat pabrik minyak kasturi."
"Hmm, sepuluh menit lagi mas. Bangunin aku..."
Saras terlelap lagi, tapi ponselnya masih menyala. Wajahnya juga masih nampak jelas dari layar ponsel Jo. Paijo menikmati setiap inci wajah Saras yang masih terlihat cantik padahal tidur dengan mulut ternganga.
Hai Saraswati, harusnya kamu simpan dulu gaya tidurmu yang seperti itu. Setidaknya, kalau aku sudah menjadi suamimu nanti, itu bisa menjadi kado terindah untukku.
*****
Jam tujuh pagi dokter kembali memeriksa keadaan Cak Sam. Paijo sangat senang saat dokter mengatakan kondisi kakeknya sudah stabil. Alat medis berupa monitor detak jantung akan di lepas dalam waktu dekat. Tinggal masa pemulihan, dokter bilang kesehatan Cak Sam harus lebih di perhatikan. Mungkin setelah ini sebulan sekali Cak Sam harus check up rutin.
"Jo..." panggil Cak Sam lirih.
"Gimana Mbah? Mbah butuh apa?" Jo merapatkan diri agar bisa mendengar jelas perkataan Cak Sam.
"Mbah... mau minta tolong. Temui Fatimah." Paijo tidak sadar menelan ludah dengan susah payah. Apa dia perempuan yang dulu sempat di sebut Bejo sebagai istri kedua Cak Sam? Tapi apa benar Cak Sam punya istri lain selain neneknya? Paijo diam menyimak.
"Temui dia, mintalah uang pada Bejo. Mbah mau kamu yang mengantarkannya kali ini. Dan tolong sampaikan maaf 'ku padanya..."
Paijo penasaran, namun tidak tega jika harus mencecar Cak Sam dengan berbagai pertanyaan di kepalanya. Jo hanya mengangguk, menyanggupi permintaan pria tua pemilik warung bakso Malang tersohor itu.
****
Sementara itu, di kantor barunya Saras masih sibuk berkutat di depan komputer. Baru jam sepuluh tapi perutnya sudah mulai lapar. Dia beberapa kali terlihat melirik jam di pergelangan tangannya. Semakin dilirik, jarum jam seperti tak bergerak, terasa semakin lama.
Tiba-tiba dari kejauhan suara riuh staf lain menarik perhatian Saras. Ah, ternyata ada asisten bos yang suka tebar pesona sedang beraksi. Dia terlihat sedang mengobrol dengan staf perempuan yang memandangnya dengan takjub. Saras sempat mendengar usianya sudah di atas tiga puluhan. Tapi sangat menjengkelkan dan bikin iri karena wajahnya masih kinclong tanpa ada garis kerutan di sana. Pria matang dengan segenap ketampanan dan posisi jabatan yang tinggi. Pasti banyak wanita yang menggilainya.
Karena Saras tidak mau ikutan gila, jadi dia tidak mau terlalu mengulik. Anggap saja makhluk yang tak kasat mata. Tidak penting jadi tidak perlu mendapat perhatian lebih. Eh penting juga sih, dia itu asisten bos. Saras bersikap biasa dan kembali menekuni pekerjaannya.
__ADS_1
"Hai, Saras. Aku bawa cheesecake buat kamu!"
Saras mendongak, ternyata obyek yang tadi diamati dari kejauhan sudah berdiri di depan mejanya. Entah mengapa perasaan Saras jadi tidak enak. Masih jam kerja, dan apa maksudnya dengan dia membawakan cheesecake. Kenapa tidak di berikan saja pada staf yang lain atau berikan saja pada perempuan yang tadi jelas mantapnya dengan takjub itu. Beberapa detik, Saras hanya bisa melongo bego.
"Heiii, kenapa malah bengong? diterima dong!'
Saras benar-benar tidak enak hati. Dia masih anak kemarin sore. Perhatian dari atasan yang seperti ini yang menjadi peluang bahan ghibah orang-orang. Saras bergidik ngeri. Menolak pun kesannya tidak baik. Bingung Zubaidah.
"Eh, untuk saya Pak?"
Jamal mengangguk dengan tatapan yang bisa di artikan Saras. Tatapan bahagia. "Terima kasih Pak." Walaupun sungkan mau bagaimana lagi. Rejeki nanti bisa di makan berbagi dengan yang lain. Pikiran Saras membenarkan.
"Btw, nanti jam istirahat kita makan di luar yuk!"
"Aku punya hutang traktir kamu bakso babat."
Ah, Saras semakin frustasi. Sebagai seorang gadis yang cantik jelita dia tidak bodoh. Laki-laki jika sudah begitu, pasti ada apa-apanya. Lebih baik langsung pasang pagar yang tinggi, alias di tolak saja.
"Hmm... maaf Pak tapi saya sepertinya tidak bisa. Nanti saya..." berpikir sejenak, mau bilang ada janji makan sama teman, kog ya wagu, dia belum punya teman disini. Ah, sekalian saja berbohongnya.
"Nanti saya ada janji makan siang bareng-- bareng pacar saya." Saras meringis, merasa berdosa karena sudah pasti malaikat Rokib dan Atid sudah mencatat kebohongannya.
"Ogh... begitu. Baiklah, mungkin kapan-kapan saja." Jamal terlihat kecewa, namun dalam hati dia belum mau menyerah. Gadis cantik seperti Saras tidak mungkin belum punya pacar, dia tahu itu. Jika hanya masih status pacar, Jamal tidak akan mundur. Dia berniat memepet terus gadis itu. Lihat saja.
"Sekali lagi, terimakasih Pak." Jamal tersenyum dan melangkah pergi.
Baru keluar ruangan, staf lain yang mejanya dekat dengan meja Saras langsung heboh.
"Cie... cie... anak baru. Langsung jadi kesayangan asisten bos sepertinya."
Entah itu sindiran atau pujian. Saras hanya tersenyum pada wanita yang tadi pagi sempat berkenalan dengannya. "Apaan sih mbak Yuli, cuma cake. Kalau mau silahkan di makan bareng-bareng aja."
Dan tanpa basa-basi mbak Yuli menerimanya. Sudah seperti dia yang berhak menerimanya. Padahal ini cheesecake bukan zakat hlo.
Walaupun lapar Saras tidak akan memakan cake itu. Lagipula kalau ada ewes-ewesnya Saras takut, biarkan orang lain saja yang kena. Saras sudah mentok kena ewes-ewesnya Mas Paijo saja. Hehe...
.
.
.
.
.
.
like, komen, bagi hadiah...
__ADS_1
terimakasih :-)