Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 16: Sama-Sama Tidak Waras


__ADS_3

"Bodoh! Bodoh! aku memang bodoh!"


Paijo merutuki dirinya sendiri. Tadi memang Paijo sudah melarang Saras untuk datang besok, tapi sepertinya Saras tidak menggubris. Besok Paijo harus kembali bekerja karena ada sedikit masalah dengan pengiriman barang. Dia juga merasa tidak enak dengan pak Irwan karena sudah lima hari tidak berangkat.


Bagaimana aku memberi tahu Saras, jika nomor ponselnya saja aku tidak punya.


****


"Kenapa kamu berbohong?"


"Kenapa kamu menghindari 'ku?"


"Siapa laki-laki itu?"


"Apa yang sedang kalian lakukan?"


"Apa dia selingkuhan 'mu?"


Najis, pertanyaan B seperti perumusan pemilihan judul skripsi. Apa harus begini model pertanyaannya? Setidaknya kenapa tidak di ajukan satu persatu. Sambil minum es jeruk, biar tidak langsung Mak jleb di hati.


"Aku bingung harus menjawab yang mana dulu?"


Wajah B masih serius, "Siapa laki-laki itu?"


Saras bingung haruskah dia jujur mengatakan kalau dia adalah mantan calon tunangannya? atau bilang saja dia hanya orang asing. Bukan ide bagus sepertinya jika dia jujur.


"Hmm... begini ceritanya, lima hari yang lalu aku hampir saja terserempet motor, beruntung dia menolong 'ku."


"Singkat cerita aku selamat, dia yang cidera sampai tidak bisa berjalan."


Saras meminum es jeruk di hadapannya dengan sebuah sedotan. Entah mengapa dia merasa sedang di sidang pacar, seperti pasangan yang baru tertangkap basah berselingkuh.


Apa selingkuh? menggelikan sekali, aku bahkan tidak mencintai laki-laki di hadapan 'ku, aku juga tidak menaruh hati pada Paijo.


"Karena itu aku hanya ingin sedikit bertanggung jawab, dan sebagai permohonan maaf aku membantunya membawa pakaian miliknya ke tempat laundry. Itu saja."


"Lalu kenapa berbohong? setelah meninggalkan 'ku terakhir kali, dan bilang akan menghubungi 'ku kembali?"


"Sibuk dengan laki-laki itu?"


"Bicara apa? aku sudah bilang, kemarin-kemarin aku memang sibuk fokus menggarap tugas akhir... okelah, aku minta maaf?"


"Lihat sendiri bukan, aku juga baru pulang dari kampus. Capek, laper, pengen istirahat."


"Aku ngaku salah, aku minta maaf...,"


B tersenyum miring, jelas dia masih jengkel tapi kenapa dia berusaha tersenyum? mengerikan!


Aku merasa sedang di permainan 'kan! kamu hanya main-main dengan hubungan kita. Hah!


Apa kamu pikir aku akan percaya begitu saja?


"Baiklah aku percaya, aku percaya sama kamu. Tapi please...jangan pernah abaikan aku lagi." "Atau aku akan benar-benar marah sama kamu!"


Hihi... aku kira akan sulit membujuk dia, ternyata begitu saja sudah luluh. Baguslah...

__ADS_1


Saras memberikan senyuman termanisnya, "makasih ya mas... aku janji ga akan mengabaikan kamu lagi."


Mereka berdua menghabiskan minumannya. Baguslah, gencatan senjata tidak perlu terjadi sore ini.


Saras membayar minuman mereka, hanya dua gelas es jeruk, dua tusuk sate usus, dan tiga bakwan sayur yang di makan B. Harusnya laki-laki itu malu jika Saras yang membayar. Tapi asal kalian tahu, dia bahkan tidak ada basa-basi menawarkan diri untuk membayar.


Padahal Saras hanya berharap dia bisa basa-basi. Minimal pura-pura mengeluarkan dompet, Saras juga pasti mencegahnya untuk membayar. Bukan Saras juga perhitungan, sikap tidak tahu malunya itu hlo... bikin gemas pengen misuh-misuh.


"Tidak usah diantar, mas langsung pulang saja."


Aku berharap dia memaksa mengantar sampai depan gerbang kos. Mungkin penilaian 'ku akan sedikit menambah poin bagus untuknya.


"Baiklah, aku langsung pulang. Kamu hati-hati!"


"Lagipula kamu pakai motor, tidak etis kalau aku mengantar."


Tidak etis apanya? bedebah! bilang saja kalau kamu mau menghemat bensin. Ga mau repot! Huh... dasar! Padahal andai kata dia mengawal 'ku pulang, menurut 'ku itu cukup romantis.


Mereka berpisah di persimpangan jalan, Saras melajukan motornya pelan memasuki gang perumahan tempat kosnya berada. Hari sudah hampir gelap, mega merah muncul di sela-sela awan di ufuk barat.


Gledekkkkk...!!!


Saras mendorong pagar pintu besi dan memasukan motor matic ke dalam garasi. Saat akan kembali menutup pagar pintu, suara motor yang berisik tertangkap telinganya. Saras melongok dan benar saja ternyata Paijo yang datang.


"Hei, sudah bisa naik motor?"


Paijo meringis menahan sakit saat turun dari motor. Dia kemudian berjalan tertatih-tatih kearah Saras. Sekarang mereka berdiri berhadapan dengan berbatasan pintu pagar. Saya juga tidak tahu kenapa Saras tidak membukakan pintu gerbang. Dia memang tidak galebonan.


"Aku mau bilang kalau besok pagi kamu tidak perlu ke rumah. Besok aku mulai kerja."


Paijo menarik bibirnya untuk tersenyum. "Harus di biasakan, makanya ini juga tes drive sampai sini."


"Masih kelihatan meringis-meringis, pasti masih sakit!" Wajah Saras polos sekali saat mengatakan itu. Kedua tangannya bahkan bertumpu pada pagar pintu besi yang hanya setinggi dadanya.


"Sedikit..."


Dia bahkan tidak mempersilahkan aku masuk. Dasar gadis ini!


"Kenapa tidak menelepon 'ku saja."


"Mana punya aku nomor telepon 'mu!?"


Saras menepuk dahi, "Ckkk... betul juga. Bawa sini hp kamu!"


Paijo mengernyitkan dahi, kemudian meroggoh kantong celananya. Mengambil hp dari sana dan menyerahkan pada Saras. "Untuk apa?"


Saras hanya melirik dan menuliskan nomor ponselnya di sana. "Ini sudah aku save sekalian."


"Besok-besok kamu bisa menghubungi 'ku kalau ada apa-apa?"


"Memang kamu berharap akan ada apa?"


Blasssshhh... Wajah Saras merona, malu rasanya.


Benar juga, kog kesannya aku yang menyodorkan diri.

__ADS_1


"Ah... itu... maksudnya apa ini artinya aku sudah tidak perlu merawat 'mu lagi?"


"Iya, tidak perlu. Aku sudah mengatakannya berkali-kali tadi."


"Kalau begitu hapus saja nomor 'ku!"


Paijo hampir tersenyum lagi. Saras terlihat salah tingkah dan itu lucu sekali.


"Sudah terlanjur,..." jawab Paijo ketus.


Saras melotot, "Bawa sini hpnya biar aku hapus! Sepertinya dak rela sekali menyimpan nomor 'ku!"


Saras kesusahan meraih ponsel di tangan Paijo, dia belum sadar kalau terhalang pagar pintu besi. Seharusnya dia buka dulu itu pagar baru dia bisa merebut hp Paijo. Tidak seperti ini. Dia malah seperti monkey yang dikerangkeng, tangannya meraih-raih saat akan di beri makan.


"Hahahaha... aku pulang. Besok lagi kalau ada tamu di persilahkan masuk, atau setidaknya buka itu pintu. Dasar Saras, lama-lama kamu kelihatan tidak waras!"


Saras meremas udara di depan wajahnya, dia tidak terima di katakan tidak waras. Ingin rasanya mencabik-cabik tubuh Paijo. Mengulitinya, di tepungi, dan di goreng crispy. Tapi siapa juga yang mau makan? Sumanto saja sudah insaf.


"Hei, kamu bilang apa!!! Dasar Paijo Paijan! rak kerjo rak iso jajan! Tidak bekerja tidak bisa jajan."


Paijo berjalan menjauh dan melambaikan tangan. Gerakannya seperti di slow motion, Paijo sedang menunjukkan kharisma yang dia unggulkan. "Kapan-kapan aku traktir jajan, aku sudah bekerja sekarang. Uang 'ku banyak!"


"Aku pulang dulu, jangan kangen. Karena aku ga bisa tanggung jawab kalau kamu kangen!"


"A... Apa?" Jantung Saras berdetak lebih cepat. Tidak bisa menjawab balik omongan absurd Paijo. Yang ada wajahnya merona hebat. Dia tertunduk malu. Aishh... ada apa dengan 'ku?


Sedangkan Paijo? Sama saja, mereka berdua sama-sama tidak waras. Dia Paijo, senyum-senyum tidak jelas. Hatinya berbunga-bunga, dan sepertinya saat ini sudah banyak kupu-kupu berterbangan di sana. Cocok untuk penangkaran kupu-kupu. Jadi kalau mau lihat berbagai macam kupu-kupu cukup datangi Paijo, tidak perlu datang ke Batu secret Malang. Hehe...


Motor berisik milik Paijo pergi menjauh, hingga punggung pemiliknya menghilang di belokan jalan. Saras masih berdiri senyum-senyum pikirannya melayang membayangkan di boncengkan Paijo dan pergi jauh melihat gunung-gunung, sawah-sawah, sungai-sungai dan rumput-rumput.


Ah... sedang apa aku ini!


Saras menepuk jidatnya sekali lagi.


Di seberang sana, B mengamati mereka berdua dari awal hingga akhir. Dia sengaja memberi jeda saat mengikuti Saras pulang.


Kita lihat apa yang akan terjadi besok. Kalian berdua bermain-main di belakang 'ku? Fine, mari kita bermain! Cih, tukang bakso brengsek!!!


.


.


.


.


.


💚💚💚💚💚


Mukherjee: kangen ga?


reader : ga biasa aja😁


Mukherjee: Tapi aku kangen like dan komen kalean

__ADS_1


reader. : masa bodoh🙊


__ADS_2